Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Bagaimana Cara Memaafkan orang Jahil


Kain Batik SERBA 50rb

Bagaimana Cara Memaafkan orang Jahil


Jaahil bukan berarti suka jahil atau usil, tetapi Jaahil artinya orang bodoh yang pintar. pintar karena sudah tahu mana benar mana salah, namun tetap saja dia melakukan kebiasaan salahnya bahkan dia akan marah bila ada orang menasihatinya.

Menurut terjemahan جاهل  artinya bodoh dan bebal.
menurut terjemah bahasa inggris  جاهل jahil artinya : kata benda: blockhead,
kata sifat: ignorant, unaware, unlettered, illiterate, nescient, artless, innocent, rude, raw, primitive.

Bagaimana Cara kita menghadapi orang bebal (jahil/ جاهل)?

khudzil afwa خُذِ الْعَفْوَ (ambil) sifat memaafkan, membiasakan memaaf (pemaaf)
dalam doa saat laitul qadar juga berdoa memaafkan. Jangan ada dendam.

hati kita harus bersih agar mudah memaafkan.
oh betapa nikmatnya, bila mempunyai sifat pemaaf,  hati menjadi lapang dan tenang.
siap menerima perbedaan antara kekurangan orang.

Allah tinggikan derajat orang yg mempraktikkan AlQuran, n sebaliknya Allah rendahkan dan hinakan orang yang meninggalkan Al-Quran.

maka sering2lah kita minta nasihat.
setelah memberi maaf, maka dan perintahkan dengan kebaikan وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ (wa mur bil arf).

mengajak kebaikan bukan hanya tugas ulama/dai, setelah kita memperbaiki diri, maka ajaklah orang, krn bs jadi org-orang bersifat buruk akan mengajak keburukan yang akan mempengaruhi amal dan kebaikan kita.

hidupkan dakwah dan tilawah di rumah2 atau lingkungan kita, bila di lingkungan sulit menjalankan ibadah dan nasihat, maka berpalinglah dari orang2 jahil (bebal)  وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ. kita bisa menjauhi orang jahil dengan memaafkan tanpa dendam atau kita berpindah lingkungan, atau  bila tidak mampu berpindah maka janganlah kita terpengaruh oleh orang jahil tersebut.

Rujukan
“Jadilah engkau pemaaf dan
suruhlah orang mengerjakan yang makruf (perbuatan baik), serta
berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.

Bacalah QS: Al A’raf 199

Bumi itu luas, maka carilah rejeki di bumi dengan tanpa mengorbankan akidah dan keimanan

Bumi itu luas

Bumi itu luas, maka carilah rejeki di bumi dengan tanpa mengorbankan akidah dan keimanan kita. Lingkungan yang memberikan kesempatan pada kita untuk lebih leluasa berkarya dan tetap dalam takwa terbuka lebar di bumi yang luas ini.
Bumi bukan hanya tempat kita bekerja sekarang.
Allah yang menanggung rejeki orang-orang yang bertakwa, maka janganlah kita merasa takut kekurangan dan kesempitan, saat memulai meninggalkan lingkungan kita untuk mencari lingkungan baru yang bisa membuat kita lebih tenang berkarya dan beribadah, menjemput rejeki yang telah disediakan di bumi yang luas ini.
Allah, jadikan kami termasuk golongan orang yang membuka banyak pintu rejeki bagi banyak orang di bumi-Mu yang luas ini.
-___________________________-
“Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?.”
(Q.S.4:97)
“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak.” (Q.S.4:100)
“Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, sesungguhnya bumi-Ku luas” (Q.S.29:56)
“Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Q.39:10)

Mencari bapak yang pergi sejak saya masih dalam kandungan

Selama 28 tahun tidak Pernah merasakan Kasih Sayang dari Seorang Bapak

Ian Madara
Selama 28 tahun saya tidak pernah tau wajahnya seorang bapak. Tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang bapak. Sejak saya ada di kandungan selama 6 bulan, bapak menghilang tanpa jejak, dan tak kembali sampai saat ini. Saya mohon kepada warga Gresik siapakah yang tahu dan kenal dengan bapak saya, namanya Sudarto atau Sugiarto, dia kerja sebagai supir dan dia punya saudara namanya Karomin.Om karomin sempat berkata dulu, katanya bapak tinggal di Kecamatan Bungah, Gresik. Saya minta tolong infonya, kepada semuanya! 
 
 Ian Madara
Oya nama saya sugianto. Saya pernah bertanya sebelum ibu meninggal. “Kenapa bapak sampai ninggalin kita bu, apa salah kami?” Ibu bilang, “Bapak kamu tidak salah nak, keluarga kami yang salah. Bapak pergi bukan kemauannya sendiri. Bapak pergi karena diusir oleh kerabat-kerabat ibu.” Karena keluarga saya tidak mau ada darah jawa. Aku sangat berharap bisa bertemu bapak. Aku sangat merindukan bapak. Dan sebelum ibu meninggal, ibu pernah berpesan, waktu saya di kandungan 5 bulan bapak pengen punya anak laki-laki. Bahkan waktu saya masih di kandungan, saya dikasih nama Sugianto oleh bapak. Dan ibu pernah bilang kalau bapak sayang banget sama aku.


[ SELENGKAPNYA ]
Afandi Kusuma
oh ya, Ian Madara  buatlah akun facebook twitter dll, yang sesuai nama asli, agar jika Bapak kamu tahu, bisa langsung menemui kamu,Buat grup, atau website, atau halaman mengenai daerah kamu,
misalnya nama desa,
Karena bapak kamu pasti ingat nama-nama keluarganya, dan daerahnya dan juga nama yang pernah diberikan kepada anaknya yang saat itu belum lahir. Dan yang terpenting, mulai saat ini, selalu gunakan tulisan yang standar, jangan disingkat, dan jangan menggunakan huruf-huruf yang tidak semestinya dalam kata.
Di akun-akun yang kamu buat itu, sertakan juga foto ibumu,
mungkin bapakmu tidak mengenali wajahmu, karena juga belum pernah melihat kamu, tapi tentu bapakmu mengenali wajah ibumu.

Lupa Ladang Pahalanya Sendiri


Untaian kata ini mari kita awali dengan sebuah pertanyaan. Berapa banyak lading untuk mencari pahala? Apakah lading untuk mencari pahala begitu minim hingga sedikit orang yang memilih untuk menggarapnya? Lalu kebanyakan orang memilih untuk menggarap lading lainnya yang berkenaan dengan dunia?. Sayangnya kenyataan tidak seperti itu.

Seperti seorang ibu dan seorang istri. Mereka memilii banyak lading untuk mencari pahala. Namun karena nafsu telah lebih dulu meminta hak untuk dipenuhi, mereka lupa menggarap ladang pahala yang sudah di depan mata.

Seorang istri dan ibu sebut saja M. Ia dulu terlahir di keluarga biasa-biasa saja, dengan tingkat ekonomi yang biasa saja, pengetahuan agama yang bisa saja, hingga hidupnya menjadi terlalu biasa, tak punya greget untuk mencetak sesuatu yang luar biasa.

Di pertengahan misinya menjadi istri dan seorang ibu. Ia menyerah. Nafsu menghadangnya meminta untuk dituruti, dipenuhi haknya. Ia menyerah begitu saja meninggalkan kewajibannya menjadi insan mulia yang harusnya mendidik suami dan anak-anaknya.

M menyerah begitu saja meninggalkan orang yang mencintainya, untuk mengejar orang yang di cintainya. Pria yang ia sebut sebagai kekasih hati tak bisa terganti. Perpisahan itu memang menyakitkan, namun sang mantan suami dan anak-anaknya merelakan M untuk mengejar kebahagiaannya sendiri.

Sebenarnya cukup sederhana kata kebanyakan orang. Suami yang ditinggalkan bisa menikah lagi dengan perempuan manapun yang mencintainya atau bahkan sebaliknya menikah dengan perempuan manapun dengan wanita yang mau dengannya. Anaknya pun sama, mereka bisa memilih tinggal dengan siapa saja yang mencintai mereka, mereka harus bersyukur karena orang tua mereka bertambah.

Namun hidup tak sesimple itu. Kenyataan lebih pelik dari yang kita pikirkan.
Ketika itu anak-anaknya memilih tinggal bersama dirinya. Sedangkan mantan suami M memutuskan untuk menikah lagi. Dengan seorang wanita yang berat hati untuk menerima anak-anak dari M.

Mulailah masalah datang silih berganti, membuat M semakin melupakan ladang beramal yang ia miliki, Ia membiarkan ladang itu kering kerontang hingga hancur menjadi debu sia-sia.
M melupakan pendidikan anak-anaknya, karena ia sibuk mengejar lelaki yang dicintainya yang rupanya juga memiliki seorang istri yang mencintainya. M melupakan pengawasan ketat anak-anaknya dari serangan media pembunuh, hingga anak-anaknya tenggelam dalam kesibukan menikmati media yang suatu saat bisa membunuh mereka. M melupakan kewajiban sebagai muslimah, sebagai seorang ibu yang harusnya mendekatkan anak-anaknya kepada sang pencipta. M seakan tak peduli kalau anak-anaknya nanti hidup jauh dari sang pencipta.

M lebih peduli pada berapa rupiah yang masuk kekantongnya untuk membayar hidupnya yang penuh hutang, M lebih memilih untuk lari kesana kemari mengikuti gerak lelaki yang ia cintai, meninggalkan anaknya sendiri di dunia temaram.  Menikmati dunia sendiri dan melupakan jati dirinya sebagai seorang muslimah.

Betapa sia-sianya hidup M. Ia melupakan ladang pahala yang ia miliki, padahal ladang itu begitu luas. Mulai dari yang kecil sampai ladang yang besar pahalanya. Ketika ia memilih bercerai dan memilih pria yang belum tentu bisa mencintainya seperti mantan suaminya, ia menghanguskan ladang itu dengan api cintanya. Ketika ia memilih mengejar cinta pria lain dan melupakan mendidik anak-anaknya ia menghanguskan lagi ladang pahala yang ia miliki karena jebakan dunia. Lihatlah. Betapa dunia begitu menjebak, hingga melupakan manusia dari ladang pahala yang ia miliki. Kalau saja sang M tahu betul ladang pahala yang ia miliki. Ia tak akan pernah melirik lelaki lain, ia tak akan pernah meninggalkan anak-anaknya demi segenggam uang. Ia akan tetap menjadi istri yang terus belajar memuaskan suaminya, mendidik suami dan anaknya, ia akan menjadi wanita yang bersabar dan terus bersabar menghadapi gelombang rumah tangga yang berkecamuk mencabik jiwanya dan merindukan Surga yang dijanjikan Allah Azza wa Jalla

To be continue 




By Ayuna Kusuma
 
Layanan untuk Anda: x Cerita dari Kusuma | - | dari - | Lihat dalam Versi Seluler