- - - - . - - | Facebook | Twitter | GPlus |
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

Tenda Pelaminan - Pameran sampai Pernikahan


Tenda adalah satu hal yang paling diperlukan untuk melindungi peserta acara dari panas dan dingin, dari debu bahkan polusi udara, serta berfungsi untuk memperindah suasana dengan dekorasi di setiap sudutnya. Kain warna warni menjuntai dari atap sampai ke bawah menutupi privasi saat acara dimulai.

Sering sekali tenda kami dipesan lengkap dengan kain kebernya yang warna-warni, beserta dekorasi yang memperindah suasana. Kami menyediakan banyak jenis kain untuk memperindah tenda yang dipesan, satu paket dengan kain yang menghiasi kursi tamu, meja hidangan dan bahkan konsep layar, panggung, pelaminan, juga kuade.

Kami melayani pemesanan tenda untuk acara pernikahan, acara sekolah, acara kampus, komunitas, pameran, bazzar, acara di kantor pemerintahan dan acara umum lainnya.

Ingin pesan tenda hubungi kami di wa / sms : 0856 0741 7153

Bagaimana Cara Memaafkan orang Jahil


Kain Batik SERBA 50rb

Bagaimana Cara Memaafkan orang Jahil


Jaahil bukan berarti suka jahil atau usil, tetapi Jaahil artinya orang bodoh yang pintar. pintar karena sudah tahu mana benar mana salah, namun tetap saja dia melakukan kebiasaan salahnya bahkan dia akan marah bila ada orang menasihatinya.

Menurut terjemahan جاهل  artinya bodoh dan bebal.
menurut terjemah bahasa inggris  جاهل jahil artinya : kata benda: blockhead,
kata sifat: ignorant, unaware, unlettered, illiterate, nescient, artless, innocent, rude, raw, primitive.

Bagaimana Cara kita menghadapi orang bebal (jahil/ جاهل)?

khudzil afwa خُذِ الْعَفْوَ (ambil) sifat memaafkan, membiasakan memaaf (pemaaf)
dalam doa saat laitul qadar juga berdoa memaafkan. Jangan ada dendam.

hati kita harus bersih agar mudah memaafkan.
oh betapa nikmatnya, bila mempunyai sifat pemaaf,  hati menjadi lapang dan tenang.
siap menerima perbedaan antara kekurangan orang.

Allah tinggikan derajat orang yg mempraktikkan AlQuran, n sebaliknya Allah rendahkan dan hinakan orang yang meninggalkan Al-Quran.

maka sering2lah kita minta nasihat.
setelah memberi maaf, maka dan perintahkan dengan kebaikan وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ (wa mur bil arf).

mengajak kebaikan bukan hanya tugas ulama/dai, setelah kita memperbaiki diri, maka ajaklah orang, krn bs jadi org-orang bersifat buruk akan mengajak keburukan yang akan mempengaruhi amal dan kebaikan kita.

hidupkan dakwah dan tilawah di rumah2 atau lingkungan kita, bila di lingkungan sulit menjalankan ibadah dan nasihat, maka berpalinglah dari orang2 jahil (bebal)  وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ. kita bisa menjauhi orang jahil dengan memaafkan tanpa dendam atau kita berpindah lingkungan, atau  bila tidak mampu berpindah maka janganlah kita terpengaruh oleh orang jahil tersebut.

Rujukan
“Jadilah engkau pemaaf dan
suruhlah orang mengerjakan yang makruf (perbuatan baik), serta
berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.

Bacalah QS: Al A’raf 199

Ilusi Cinta (lirik)

Ilusi Cinta

Ilusi cinta yang pernah ada
Menyatukan cinta tak bernyawa
Mendambakan cinta yang sejalan
Keinginan samarkan kenyataan
Ku pegang tanganmu
Kuraih senyummu
Tak kumiliki hatimu
Detik berlalu jauhkan harap ini
Percikan kasih tegar kujalani
Walau kutahu kau sulit kumiliki
Namun cintaku terjaga hingga nanti

By Dani Camara

Rautmu


Sekeras apapun
Kumelupakan rautmu
Kau kembali padaku
Menyerang pandanganku

Ingatan tentangmu
Menyuruhku
Agar merindukanmu sekali lagi

Apakah aku harus mati?
Agar kau tak bisa
Mengejarku?

Apakah aku harus membutakan mataku?
Agar rautmu tak pernah lagi ku ingat

Namun...

Bila aku mati,
Terlalu mudah bagimu
Menyakitiku

Namun...
Bila aku buta,
Bagaimana dengan hatiku?
Yang sering sekali
Meminta mataku
Untuk mengingat sekali lagi rautmu.

Malam ini...
Sekali lagi, rautmu itu
Membuatku begitu sesak

Mengapa kala itu,
Kau tak membunuh ragaku
Mengapa saat itu,
Kau hanya membunuh cintaku
Dengan rautmu

By Ayuna Kusuma
2119972013

Kau dan Aku


Wahai putri
Yang lama kutunggu
Kumohon lepaskan rautnya
dan tataplah lihatlah hatiku.

Pangeranmu
Walaupun waktu menahanku
Lalu memperlambat
Semua cerita ini
Aku tetap mencintaimu
dan
Selalu menguntai harap
Agar kau mau menungguku

Tapi...
Aku sudah disini.
Bersama hatiku
Aku tak peduli sebuah raut
Aku tak peduli apa itu rasa
Aku hanya
Peduli pada kebahagiaanmu

Harapan
satu persatu muncul
Putri...
Ketika kau mencoba
Menyelami dasar hati
Yang tak terukur berapa dalamnya

Cita pun
Muncul seketika,
Saat kau melupakan perihmu
Lalu bermain di dalam hatiku
Berkelana bersama cintaku

Senyuman
ya...
Hanya itu yang bisa kuberikan padamu
Putri...
Karna kau sudah melupakan rautnya
Karna kau lebih memilih
Bermain di hati Pangeran barumu

Putri...
Sampai kapan kau ingin bermain?
Katakan padaku.
Aku akan siapkan
Malam yang penuh suka cita
Hanya ada
Kau dan Aku
Di dalam hati

By Ayuna Kusuma
2202972013

Oh... Gadis


Oh... Gadis... mengapa kau berjalan begitu jauh dari hidupmu? apa kau begitu lelah dengan semuanya? Hingga kau meninggalkan masa lalumu?. Lalu kau mengulurkan tali merah darah yang keluar dari tanganmu.

Apakah itu untuk mengingat kembali masa lalumu, semaumu gadis?... Lalu bagaimana dengan kehidupanmu bila kau masih meninggalkan jejak ke masa lalumu?. Apakah kau akan mengukir dan melukis masa depanmu sama seperti masa lalumu?.

Putuskan semua masa lalumu, Aku akan mengantarkanmu membeli tali warna warni yang lebih menggairahkan daripada warna merah yang kau genggam sekarang.

Jadi...

Oh gadis kecil, maukah kau bersamaku membeli tali warna warni?.
Atau haruskah aku yang pergi sendiri?
Aku tak mau pergi sendiri. Sudah lama aku pergi sendiri, hidup sendiri terlalu menyedihkan bagiku. Jadi... mari... kita pergi bersama, akan kuberikan kehidupan yang lebih berwarna untukmu. Seperti rambut pelangimu.

By Ayuna Kusuma .
1623872013

Fanfiction : Sal-In - Part 2

Author : - Kusuma

Maincast :
Kai Exo K : Ryu
Yoona SNSD : Lee Ji-eun

Genre : Romance

Daemyeong, Nam-Gu, Daegu, 11 Februari 2013  10:15

Ryu berhasil mengecoh targetnya, wanita bernama Ji-Eun itu percaya begitu saja pada pria tampan yang akan membunuhnya suatu saat nanti. Mereka berjalan lagi ke arah bukit yang letaknya sekitar dua kilometer dari Daeduk Elementary School

“hey… jangan jauh-jauh dariku… hey… siapa namamu ? kemarilah… katanya kau mau melindungiku” teriak Ji-Eun sambil menunggu Ryu berjalan mendekatinya.

Padahal sebelum wanita itu memanggilnya, Ryu bersiap-siap untuk menembaknya dengan shotgun yang sudah dipasang peredam. Sepertinya berurusan dengan wanita yang satu itu sangat sulit bagi Ryu. Ia mendatangi wanita itu dengan malas.

“Ye… Seonsaengnim… ada apa?” Tanya Ryu sambil sibuk menyembunyikan shotgun miliknya di saku belakang, terlihat di balik jas tebalnya, ia menyiapkan tiga senjata untuk menghabisi Ji-Eun.

“Panggil aku Ji-Eun, ah.. bukankah kau ikut denganku untuk melindungiku?, jangan berjalan terlalu lambat, kalau penjahat itu menembakku, bagaimana? Kau akan mendapatkan hukuman dari atasanmu, lalai menjalankan tugas, lalu kau di penjara karena sudah membuat wanita secantik diriku, anak detektif ternama, dibunuh dengan mudah, hum… berjalanlah di dekatku… Anak-anak… teruskan berjalan” wanita itu terlalu banyak bicara, Ryu menyeka keringat yang deras membasahi wajahnya. Kini mereka berjalan berdampingan, tak ada satupun kesempatan yang pas untuk membunuh Ji-eun saat itu.

“Ah… aku belum tahu namamu…” kata wanita itu sambil berjalan mengikuti murid-muridnya menuju bukit.

“apakah itu perlu? Saat ini aku dalam tugas untuk melindungimu, jadi tak perlu memperkenalkan diri kalau menurutku” kata Ryu dengan nada datar, kedua tangannya dalam posisi di belakang tubuhnya, ia sedang menyiapkan suntikan racun yang bisa membuat target mati di tempat. Dan polisi akan kehilangan bukti forensic karena suntikan racun itu begitu kecil seperti bekas gigitan serangga.

“tentu saja perlu…….. hehhehe… kau sekarang penyelamatku.. aku berterima kasih padamu, jarang sekali ada polisi yang mau melindungi target pembunuhan seorang diri… hmmm jadi aku berterima kasih padamu” tanpa disangka sebelumnya, ji-eun meraih kedua lengan Ryu dan mengayun-ayunkannya. Senjata biologis yang disiapkan Ryu, terjatuh, dan ia tak bisa mengambilnya lagi. Karna Ji-eun sudah mengajaknya berlari ke depan barisan murid-muridnya.

Tampak sekali kekecewaan yang di wajah Ryu, ia tak tahu lagi dengan cara yang bagaimana untuk membunuh wanita cantik dan cerdik bernama Lee Ji-eun.

“Stoopp….. hehehehe” Ji-Eun berdiri didepan barisan murid-muridnya, ia masih menggenggam tangan kiri Ryu. “Anak-anak…. Kita sudah sampai, apakah kalian siap mendaki gunung?” teriak Ji-Eun dengan ekspresi ceria nya yang unik.

“Yeeee…….!! Seonsaengnim ~~~!!” Murid-murid Ji-eun bubar seketika, ada yang duduk, ada yang berlari-lari mengelilingi taman bermain di dekat bukit, ada yang masih berdiri di tempat semula.

“Anak-anak…..!!!!!! Berbaris Lagi~~~~!! CEPAT~~~~!!” Dengan satu teriakan, semua muridnya mengikuti perintah Ji-Eun, mereka berbaris lagi, walaupun tak teratur.

“Siapa yang menyuruh kalian bubar hah?” teriak Ji-Eun, Ryu terlihat mentertawakan tingkah murid Ji-eun.

“Mereka lucu sekali… hihihihi” bisik Ryu pada Ji-eun, sambil menahan tawa. “Nuna… bisakah kau melepas tanganku?” Tanya Ryu

“oh…” Ji-eun pun melepas tangan Ryu yang sedari tadi tak sadar ia genggam. “Mianhae.. hehehe, aku pelupa” Ji-Eun beralasan, wanita itu mengatur semua barisan murid-muridnya begitu cepat.

“Ya…. Berbaris seperti tadi, kita akan naik bukit bersama-sama, saling berpegangan tangan ya, dan… Kenalkan… Dia adalah Ahjussi yang bekerja sebagai Polisi, dia bertugas melindungi kita semua dari penjahat,  Ayo sapan Ahjussi”  perintah Ji-eun pada muridnya.

“Annyeonghaseyo… Ahjussi……….” Semua muridnya berteriak seketika.

“Sssst… perkenalkan namamu… sapa mereka” bisik Ji-Eun. Ryu curiga saat itu, jangan-jangan Ji-Eun sudah mengetahui apa sebenarnya tujuan Ryu mengikutinya. Jangan-jangan ji-eun sudah tahu sedari tadi Ryu sibuk menyiapkan racun biologis khusus untuknya.
Diam, tak ada suara yang keluar dari bibir Ryu, dia hanya memandangi Ji-Eun.

“Hmmm??” Ji-Eun menggoyang-goyangkan tangannya di depan mata Ryu, “Hei.. Ssstt…” Ji-Eun menggoyang-goyang bahu Ryu,

“Hei… perkenalkan dirimu pada mereka, baru kali ini mereka bertemu dengan polisi sepertimu” kata Ji-Eun dengan suara yang lembut.
Itu mampu membangunkan Ryu dari lamunannya yang lama. Ia menghadap semua murid Ji-Eun, berdiri tegap, memberi hormat seperti polisi biasanya, dan berkata dengan lantang

“Annyeonghaseyo. Aku Ryu, Aku akan melindungi kalian semua hari ini. Senang berkenalan dengan kalian semua” Bodohnya Ryu, ia memberikan identitasnya yang asli pada targetnya sendiri.

“Baiklah……. Semuanya…….. Ayo kita mendaki gunung sekarang~~~!!”
“Hey… yang benar saja, itu hanya bukit” kata Ryu

“Kalau kau memandangnya bukit, tapi anak-anak memandangnya sebagai gunung. Hehehe” kata Ji-eun sambil berlalu dari hadapan Ryu. Semua murid mengikuti wanita itu, berjalan dan mendaki.
Ryu tetap berdiri di tempatnya semula, kali ini ia mengisi pistol caliber 32, memenuhi semua dengan peluru yang masih baru.

“aku akan membunuhnya Hyung… aku pasti membunuhnya…” Di selipkannya pistol caliber 32, di saku jasnya.  Lalu dia mengikuti targetnya menuju puncak bukit.

***
Daemyeong, Nam-Gu, Daegu, 11 Februari 2013  11:15

Ryu duduk di atas bukit, sambil mengawasi targetnya, seperti serigala yang mengawasi domba di ladang rumput.

“Ahss… haruskah aku membunuhnya sekarang?...” ia bertanya pada dirinya sendiri. Lalu direbahkan tubuhnya diatas rumput, “Ah… aku lebih suka tidur daripada membunuh wanita itu.. Hyung… mengapa kau menyuruhku membunuh wanita seperti dia… lebih mudah kalau aku membunuh ayahnya…hmmm” kata Ryu, sambil menutupi wajahnya dari sinar matahari yang terlalu menyengat.

Drrrrt… Drrrt…

Ryu dengan cepat membuka jasnya dan melihat layar handphonenya. Ternyata Hyung ketua gang mafia menelponnya. Tak tahu apa yang harus dia katakan, Ryu hanya membiarkan telp itu mati sendiri.

Drrtt… Drrrrrrtt…

Akhirnya Ryu mengangkat sambungan telp itu.

“RYU~!!! Apa yang kau lakukan disana HAH?” suara teriakan Hyung terdengar sangat keras.
“Hyung… aku ? aku sekarang ada di Daemyeong, menjalankan perintahmu” jawab Ryu dengan gugup
“bagaimana kau bisa membunuh wanita itu, kalau kau hanya tidur di atas bukit hah?...”
“Hyung… kau mengawasiku?”
“Hummm… lihatlah di balik pohon, dekat family market, kau bisa melihat mobilku?”
“Haisss…”
“Bunuh dia sekarang, atau kau yang kubunuh”
“tapi hyung… HYUNG~!!” sambungan telp telah terputus, mobil yang terparkir di balik pohon itupun sudah tidak ada lagi.

“Haissssss…. Ssssibbalyoo..!!” kata Ryu, ia meletakkan handphone nya di saku celana, dan ia mulai turun bukit mendatangi wanita itu.

“Aku harus bisa membunuhnya sekarang… haisss..” kata Ryu sambil menyiapkan pistol caliber 32 di tangan kirinya.
Ji-eun masih terlalu asyik bermain dengan murid-muridnya. Wanita itu sedikit takut ketika Ryu mendatanginya dengan pistol di tangan kiri.

“Ada apa?” Tanya Ji-Eun dengan ekspresi ketakutan.

“Kita harus bicara, biarkan anak-anak disini, kau ikut denganku” kata Ryu sambil menyeret Ji-Eun menuju café didepan taman.

“Tapi.. tapi… mereka… apakah tidak berbahaya membiar…” kata Ji-Eun sedikit cemas, ia berpaling melihat murid-muridnya yang sedang bermain di taman.

“Sssstt… ikut saja denganku, mereka akan baik-baik saja” Ryu tetap saja menyeret Ji-Eun, mereka tidak masuk ke dalam café, melainkan berjalan terus menuju belakang café dan berbelok ke gang sempit, Ryu sibuk mencari tempat yang paling aman untuk menghabisi targetnya.

“Ada apa ini? Bisakah kau melepaskan lenganku? Kita terlalu jauh, muridku akan mencariku, Ryu… hei..” dihempaskannya tubuh Ji-Eun ke dinding, di sana tak ada siapapun yang bisa melihat mereka berdua, di gang sempit itu, tempat yang pas untuk membunuh Ji-Eun.

Ia pertahankan tubuh Ji-Eun dengan tangan kanannya yang kekar, agar tak bergerak dari tempat semula.

“Hyaaaakkk… apa yang akan kau lakukan hah? Ryu??” Sekuat tenaga Ji-Eun memukuli Ryu agar bisa melepaskannya

“Sssttt… sekali lagi kau berteriak, aku akan menembak kepalamu” Ryu kembali mengawasi sekelilingnya, ia tak mau membunuh wanita itu ditempat yang tidak aman,
Setelah merasa aman, dia kembali kepada Ji-Eun, di tatapnya wanita itu.

“Lee… Ji..Eun… sebenarnya aku bukan polisi, aku bukan mengikutimu untuk melindungimu, aku adalah orang yang akan membunuhmu” Ryu menyiapkan pistolnya, ia letakkan pistol pas di kepala Ji-Eun.

“Apa… mengapa kau membunuhku?, kita tak pernah bertemu sebelumnya” kata Ji-Eun, dari matanya terlihat sekali ketakutan, ia menatap Ryu, dan mulai dengan aksinya, ditendangnya perut Ryu. Tapi pria itu tak bergerak sama sekali.

“Tendanglah terus, sampai kau lelah… aku sudah terbiasa… Nuna… apakah aku harus bertemu denganmu dulu, lalu ada alasan untukku membunuhmu?... aku hanya pembunuh bayaran, kali ini aku akan membebaskanmu… aku tak tega bila membunuh wanita tak bersalah sepertimu, aku akan membebaskanmu, tapi dengan syarat, pergilah dari Korea, kalau kau tetap ada di Korea, aku akan cepat mengetahuinya, dan keputusanku yang terakhir adalah membunuhmu… jadi… bekerjasamalah denganku. Eoh…?”

“Apa… maksudmu HAH????!!” Teriak Ji-Eun. Ryu menampar wajahnya yang cantik, wanita itupun menangis sambil menahan suaranya.

“Sudah kubilang, jangan berteriak, mengapa kau tak mau bekerjasama denganku hah?.. aku ingin membebaskanmu… pikirkan hal itu, aku tak ingin membunuhku, tapi kau… terus berteriak, diluar sana… banyak orang yang sedang mengincarmu, mereka semua akan membunuhmu… aku sudah membebaskanmu, bagaimana kalau mereka mendengarmu, lalu datang kemari dan membunuhmu hah?”

“Andwae…. Kau sedang bercanda kan? Hah?” Tanya Ji-Eun, ia menatap pria yang akan membunuhnya dengan seksama.
“Lihat peluru ini, apakah ini palsu?” kata Ryu sambil menjatuhkan beberapa peluru yang ada disaku jasnya. Peluru itu berdenting ketika
menyentuh lantai kramik.

“Lalu… apa maumu sekarang.?... membunuhku?” tanya Ji-Eun

“Sudah kujelaskan sebelumnya Nuna… Aku tak akan melakukan itu, aku tak mau membunuh wanita yang tak bersalah sepertimu, Nuna… bisakah kau pergi dari sini? Aku akan berpura-pura telah membunuhmu, pakailah baju yang telah kubawakan untukmu… aku minta bajumu, aku akan melumuri bajumu dengan darahku, agar mereka tahu kalau aku telah membunuhmu. Cepatt……..”

“tapi…”
“Haisss… apa kau tak sayang dengan nyawamu sendiri hah?”
“bagaimana dengan muridku? Mereka akan mencariku…”

“Tenang saja, aku akan mengantarkan mereka kembali ke sekolah, cepat lakukan… sekarang….sebelum pembunuh yang lain mencarimu” kata Ryu, ia masih menahan Ji-Eun agar tetap bersandar di dinding.

“tapi….”

“Haissssss…. Ssssibbalyoo..!! cepat ganti.” Kata Ryu, ia melepaskan tangan kanannya yang sedari tadi menahan bahu Ji-Eun. Ji-Eun membuka tas yang di berikan Ryu, dan mengambil baju yang telah disiapkan pembunuh bayaran itu untuknya.

“Haruskah… aku mengganti pakaianku disini? didepanmu?”
“Hum…” kata Ryu datar, sambil menodongkan pistol kearah Ji-Eun.
“Bisakah… kau menutup matamu…” pinta Ji-Eun, ia masih sempat-sempatnya memperagakan Aegyo disaat genting seperti ini.

“Hyak… lakukan sekarang, atau haruskan aku membunuhmu saja Nuna?”

“Ryu… aku akan bekerjasama denganmu… tapi tutup matamu… juseyoo… Ryu…”

“hum baiklah” kata Ryu. Ia tetap menodongkan pistol kea rah Ji-Eun yang sedang sibuk berganti pakaian.

“Ryu… buka matamu… aku sudah menganti pakaianku, apa lagi yang harus kulakukan eoh?”

“Pakai kacamata ini” kata Ryu sambil memakaikan kacamata ke wajah Ji-Eun, “Dengan begini, tak ada yang tahu kalau kau Ji-Eun.
Pulanglah, aku sudah menolongmu, kau juga harus menolongku Nuna, jangan mengatakan pada siapapun kalau ada orang yang menjadikanmu target pembunuhan. Jangan mengatakan pada siapapun kalau aku akan membunuhmu, dan jangan membongkar identitasku. Aku tak membunuhmu, tapi banyak anggota mafia yang akan mengejarmu, jangan bekerja di sekolah itu lagi, pindahlah ke luar negeri, jangan tinggal di korea lagi kalau kau masih sayang dengan nyawamu, mengerti Nuna” kata Ryu, kali ini ia tak lagi menodong pistol keaarah targetnya, mereka berdua mulai bisa saling mempercayai. Ryu menggores lengannya sendiri dengan pisau, dan menumpahkan darah di baju milik Ji-Eun.

Wanita itu berdiri di hadapannya, matanya tak lagi mengeluarkan air mata, ia hanya tersenyum melihat Ryu yang sibuk menyiapkan barang bukti. 

“Ryu… terima kasih… kau memang penyelamatku”

“Nuna… pergilah sekarang, pulanglah, jangan kembali ke sekolah, kemungkinan beberapa pembunuh sudah mengintaimu di sekolah” kata Ryu sambil mengemasi barang bukti.

“Ryu…”

“Larilah… jeppallii…” JI-Eun pun berlari meninggalkan Ryu, tapi sesekali ia berpaling dan melihat pria yang telah menyelamatkan hidupnya.

“Aiiigooo… susah sekali bekerjasama dengan wanita itu… Hyung…. Sekarang aku akan menelponmu hahahaha… Aku sudah membunuhnya Hyung~~~!!” kata Ryu sambil mengotak-atik handphonenya.

Tak menunggu lama sambungan itu diterima “RYU~!! Kau dimana? Hah?” suara Hyung menggelegar hampir saja membuat Ryu gugup.
“Hyung~!! Aku sudah membunuhnya~!! Hahahahaha…”
“Yaaaaaa… Itu baru adikku… temui aku di bar”

“Baik Hyung” Ryu sang pembunuh bayaran yang melepaskan targetnya, tertawa lepas, akhirnya ia bisa menyelesaikan masalah tanpa membunuh wanita tak bersalah. Ia melangkah pergi meninggalkan gang sempit, bukti kematian Ji-Eun sudah ada di tangannya, sekarang dia bebas dari tugas yang mengusik hatinya itu.

Murid-murid Ji-Eun masih ada di taman, mereka seperti malaikat kecil yang belum mengerti bahwa dunia ini penuh dengan kejahatan, hampir saja guru mereka yang cantik itu dibunuh oleh Ryu.
Pria itu menghampiri murid Ji-Eun dan menyuruh mereka segera berbaris.

“Ya…. Berkumpul semuanya~!!! Ayo… Ayo… Ahjussi akan mengantarkan kalian pulang ke sekolah. Ibu guru kalian sudah pulang ke sekolah, karena sakit perut, jadi kalian pulang bersama Ahjussi yaaa”

“YEEEEEE AHJUSSI~~~~~!!” Anak-anak itu terlalu polos, mereka mengikuti Ryu dengan riang gembira, tanpa mencari tahu dimanakah sebenarnya guru mereka yang cantik berada saat ini.
Bisakah Lee Ji-Eun lolos dari percobaan pembunuhan yang akan dilakukan oleh pembunuh bayaran lainnya? Bagaimana reaksi Hyung setelah tahu kalau Ryu tak pernah membunuh targetnya?

To Be Continue 

Fanfiction : Sal-In - Part 1



Author : - Kusuma

Maincast :
Kai Exo K : Ryu
Yoona SNSD : Lee Ji-eun

Genre : Romance

8 Mei 2013 – Daegu

Seorang pria berlari menembus banyak pejalan kaki, menghindari mobil yang hampir saja menabraknya. Tak banyak orang yang tahu, di tangan kiri pria itu menggenggam pistol berkaliber 32. Ia berlari begitu cepat, mengejar waktu.

Sampai di depan sebuah rumah sakit, ia membuka handphone dan berbicara pada orang yang dihubunginya “Jangan… Jangan kau bunuh dia… aku saja yang membunuhnya.. tahan tembakanmu…” Pria itu berlari menuju lift, tapi banyak orang yang bisa mendengar pembicaraannya yang begitu privat dan rahasia.

Tangga darurat adalah pilihan utama, “DIAM~!!! Sudah kukatakan aku lah yang pantas membunuhnya, kalau kau membunuhnya, aku akan menghabisi semua anak buahmu” Pria itu menutup handphone nya dan melanjutkan larinya.

Nafasnya begitu memburu ketika ia berhenti di depan sebuah kamar inap. Di lihatnya papan nama pasien yang ada dihadapannya. Lee Ji-Eun. Pria itu mengatur nafasnya sebentar, setelah nafasnya kembali normal, ia sembunyikan pistol yang digenggamnya tadi.

“Ryu…. Kemana saja kau…? Aku menunggumu… “ Wanita yang bernama Lee Ji-Eun tersenyum pada Ryu, pelari terhebat hari itu.
“Ji-Eun… aku juga menunggumu…” kata Ryu sambil mengarahkan pistol berkaliber 32 pada Lee Ji-Eun. Sontak wanita itu melihat Ryu dengan tatapan heran dan terkejut.

“A…Apa yang akan kau lakukan Ryu?...Jangan bermain dengan itu… kau akan menyesal kalau kau…”

“Ssssst…. Ssst…” kata pria bernama Ryu, air matanya mengalir begitu deras, tangannya bergetar ketika menggenggam pistol, “Sssstt… aku… menunggumu terlalu lama, Ji-Eun… aku akan buat kau lebih bahagia… aku menunggu untuk bisa membunuhmu… saat inilah waktu yang tepat untuk kita berpisah Ji-Eun… maafkan aku” pria itu mencoba untuk fokus dengan sasarannya.

“Ryu….”

***

10 Februari 2013

Langit Daegu hari itu begitu kelam, tiga mobil Chevrolet berwarna hitam berjejer memasuki parkir bawah tanah sebuah apartemen. Orang-orang yang berada di kawasan apartemen itupun merasa ketakutan, pemilik ketiga mobil itu adalah komplotan mafia yang terkenal di daerah Daegu, mereka menyebut diri mereka The ShadowMan. Mungkin karena mereka semua memakai setelan jas serba hitam.

Gerombolan The ShadowMan masuk ke dalam apartemen, kali ini mereka tak menjarah tapi hanya menghampiri sebuah kamar yang letaknya paling atas di pojok kiri.

“Ryu~!! Buka pintunya~!!! Hyung mengunjungimu~!! CEPAT BUKA atau kuhancurkan pintumu” seorang pria yang lebih pendek dari temannya maju dan menggedor pintu.

“ChongBong… pelanlah sedikit… kita sedang mengunjungi teman, bukan merampok, hmmm? Bagaimana kalau ada tetangga Ryu yang melaporkan kita?” kata pria tinggi besar yang bersandar di balkon apartemen.

“Ye.. Hyung. Jeongmal Mianhae..” pria yang dipanggil ChongBong itu menunduk begitu rendah pada atasannya.
Tak menunggu lama, pintu kamar apartemen yang letaknya paling atas itu dibuka, seorang pria tampan muncul dari balik pintu, ia masih memakai piyama hitam dan selop hitam. Wajahnya yang layu menandakan kalau ia masih tak bisa melupakan tidurnya.

“Wae…” kata pria itu sambil mengusap matanya, dan mencoba melihat dengan jelas siapa yang ada didepannya. “Oh! Hyung… silahkan… masuk. Masuk…” kata pria itu sambil membuka lebar-lebar pintu kamarnya.

Segerombolan The ShadowMan masuk satu persatu ke dalam kamar pria tampan itu. hanya pria yang dipanggil Hyung saja yang duduk di sofa, sedangkan yang lainnya berdiri di belakangnya. Layaknya sang raja, ada yang menyalakan cerutu untuknya, dan menuangkan vodka ke gelas yang di bawah salah satu anggotanya.

“Hyung, apa yang membuatmu mendatangiku seperti ini, kalau aku ada perlu denganku, kau bisa menelponku” kata pria pemilik kamar itu sambil duduk di atas tumpukkan buku yang ia tata rapi sebagai bangku.

“Apakah kau tak suka kalau aku ke rumahmu?”
“Bukan seperti itu Hyung… hanya saja, aku…”
“Sudahlah… aku kemari hanya ingin memberikanmu tugas yang bisa membuat hidupmu berubah” kata Hyung sambil melempar satu amplop tebal keatas meja.

Pria pemilik kamar tanpa aba-aba langsung membuka amplop yang ada didepannya. Wajahnya tampat berkerut ketika membolak balik kertas yang ada didalam amplop.

“Siapa dia?” Tanya pria pemilik kamar sambil mengacak rambutnya.
“Dia targetmu, tugasnya mudah saja, kau harus mencari dimana dia berada, dan membunuhnya” kata Hyung sambil menghembuskan asap cerutunya.

“Sepertinya dia gadis biasa, dan tidak ada hubungannya dengan bisnis kita” pria pemilik kamar itu masih tertarik membuka lembar demi lembar, mengulangi lagi, lagi dan lagi.

“Memang, tapi ayah gadis itu adalah musuh besar kakak iparku”
“Ayahnya seorang mafia?”

“Bukan, Ayahnya seorang polisi ternama, dan ayah gadis itu telah membunuh keponakanku, kau harus membunuh gadis itu untuk kakak iparku, bayaran yang akan kau dapatkan 5.000.000 won. Bagaimana? Deal?”

“Hmm…” pria pemilik kamar itupun berpikir sekali lagi. “Hyung… bukankah yang berurusan dengan kakak iparmu hanya ayah gadis
ini, mengapa kau tak menyuruhku membunuh ayahnya saja?”

“hmm..hehe.. hehehe… hahahahaa….” Pria yang dipanggil Hyung itu tertawa lalu di ikuti semua pengawalnya “apakah kau mulai menyukai gadis itu?... hmmm… CongDong berikan uang nya pada Ryu”
ChongDong, pria pendek berjas hitam itu memberikan satu amplop berisi uang pada Ryu, pria tampan pemilik kamar.

“Jangan pernah tertarik apalagi jatuh cinta pada target yang harus kau bunuh, atau kau bisa kehilangan pekerjaanmu, bahkan nyawamu. Hmmm… ternyata rumahmu begitu nyaman… “ kata Hyung sambil menjulurkan kakinya diatas meja. Semua kertas dan uang yang ada diatas meja terjatuh begitu saja ditendangnya.

“Ryu… kakakku, ingin membuat polisi itu merasakan bagaimana bila kehilangan anak yang dicintainya. Hmmm.. kau tahu maksudku kan? Balas dendam memang begitu aneh, tapi kita harus bersyukur banyak orang yang ingin membalas dendam hahaha… dengan begitu kita masih punya pekerjaan… Ryu… uang itu hanya setengahnya, kabari aku kalau kau sudah membunuh gadis itu, aku akan melunasi pembayarannya”

“Baik Hyung… akan ku usahakan” kata Ryu

“Okey… pekerjaanku sudah selesai, ayo… semuanya, kita bekerja lagi.. Ryu, aku senang istirahat di rumahmu, kapan-kapan aku akan kemari lagi, untuk tidur di sofamu hahahaha” kata Hyung sambil tertawa, ia keluar rumah diikuti oleh semua pengawalnya termasuk pria kecil ChongDong.

“Ah.. Hyung… terima kasih sudah memberiku pekerjaan…” Ryu mengantarkan bossnya sampai di lift.

“bye bye… Ryu… ingat kata-kataku, membunuh pakai otak, jangan pakai hati hahahahahaha” pintu lift pun tertutup. Ryu masih di balkon apartemen, ia melihat bosnya yang terus tertawa walaupun sudah masuk ke dalam mobil.

Ryu melangkah dengan gontai, ia masih terlalu mengantuk untuk mengurusi pekerjaannya sebagai pembunuh bayaran. Setelah duduk lagi di tempat semula, ia membuka salah satu foto targetnya.

“hmmm…Lee Ji-Eun…” Ryu juga membuka beberapa kertas yang ada dihadapannya. “oh… kau bekerja sebagai guru? Ah… usiamu 8 tahun lebih tua dariku… Hey… Lee Ji-Eun, apakah aku harus membunuhmu?” kata Ryu sambil mengguncang-guncang foto targetnya.

Ryu berlari ke dalam kamarnya dan meloncat lalu menghempaskan tubuhnya keatas ranjang.

“Ahh…. Lee… Ji.. Eun… kau tinggal di dekat sini, tapi mengapa aku tak pernah melihatmu… hmmm… Hyung~~~~~~~!! Mengapa kau tega sekali denganku. Haruskan aku membunuh gadis secantik ini…. Ah~~~~~!! Molla…” Dilanjutkannya tidur yang sempat terputus.

***

11 Februari 2013

“Anak-anak…… Ayo… siapkan perlengkapan kalian, hari ini kita akan naik gunung bersama~~~~!!” kata seorang wanita yang berdiri tegap di depan kelas, ia memakai baju berwarna hijau dan topi piknik, 

“Ye….. seonsaengnim” semua murid nya serentak menjawab dengan semangat.
Wanita itu memandu semua muridnya keluar dari kelas, berbaris dan berjalan meninggalkan sekolah.

“Ayo…… kita bernyanyi one two three…”
“ye……. Seonsaengnim”

“hana , dul, ses , naneun wol-yoil joh-a
hana , dul, ses , naega yeonguleul joh-a
hana , dul, ses , naega haggyo leul joh-ahanda. nananana ..” mereka pun bernyanyi bersama, sambil berjalan menuju gunung di belakang sekolah.

Wanita itu tak menyadari ada seorang pria yang sedari tadi mengikutinya dari belakang, bersembunyi di balik pohon, ketika dia berbalik melihat muridnya, pria itu kembali mengikuti rombongan guru dan murid dengan penuh hati-hati.

“Anak-anak… ayo istirahat sebentar… “ kata wanita itu sambil mengatur murid-muridnya duduk di trotoar, ia pun membagikan cookies dan susu kotak kepada muridnya. “Ini untukmu…”

“terima kasih seonsaengnim…” kata semua murid,
“seonsaengnim~~!! Ada YAKUZA~~~~!! Dari tadi kulihat dia mengikuti kita..” salah satu murid menunjuk pria yang bersembunyi dibalik tiang listrik di ujung jalan, wanita itupun melihat apa yang di
tunjuk muridnya.

“Mwwoo… Yakuza? Hehehe… hanya halusinasi saja… ayo makan kuenya… sebelum terkena debu” kata wanita itu dengan lembut.

“Ah.. Andweeee seonsaengnim… aku melihat seorang pria membawa pistol… dia ingin membunuhmu seonsaengnim… apa kau tak takut?” kata anak itu jujur.

“hehehe… okey… aku akan memeriksanya” Wanita itupun tertarik untuk memeriksa siapa sebenarnya yang dilihat muridnya.
Pria yang berdiri dibalik tiang listrik merasa gelisah saat itu, ia segera menyembunyikan pistolnya di saku jas.

“Mellong…” tiba-tiba wanita itu mengejutkannya dengan kata dan reaksi yang menggemaskan. “Ah… maaf, aku kira tidak ada siapa-siapa disini, hehehe… apa yang kau lakukan disini? Apakah kau mengikuti kami? Ah….. apakah kau berniat buruk pada kami?” Tanya wanita itu sambil memasang kuda-kuda.

“Ah… hehehe… aku… tidak… tidak… aku hanya berdiri disini saja” kata pria yang ternyata Ryu sang pembunuh bayaran itu.
“hmmm… kau mencurigakan, siapa kau sebenarnya? Apa maksudmu mengikuti kami semua? Apa kau membawa pistol?” wanita itu masih menyiapkan kuda-kudanya bersiap untuk menendang Ryu.

“ya… Ah… tidak.. tidak…” tiba-tiba pistol yang di selipkan di saku jas pria itu terjatuh, Cling… pistol itu terjatuh, Ryu dengan sigap mengambil pistolnya dan bersiap melepas pelatuknya.

“Nuna… aku… aku anggota polisi, aku mengejar penjahat yang tadi mengikutimu, jadi aku harus melindungimu” kata Ryu, wajahnya penuh dengan keringat.

“Ah……. Kau suruhan ayahku?... ah….. aku mengerti sekarang.. sebentar…” wanita itu pun berbalik “Hey…. Anak-anak dia bukan Yakuza… dia temanku hehehe, ayo… habiskan susu dan kue kalian, 5 menit lagi kita akan berjalan ke Gunung~~~~~~!!” teriak wanita itu dengan nada ceria.

“Yeeeeeee~~!! Seonsaengnim” Balas semua muridnya.
“hehehe… muridku tadi mengira kau seorang Yakuza, hehehe ternyata kau suruhan Ayahku” kata wanita itu sambil memukul dengan halus dada Ryu.

“Ya..Yakuza? ah… aku bukan pria seperti itu…” kata Ryu sedikit gugup.

“Kau mau susu dan kue?” tawar wanita itu pada Ryu

“No.. thanks..” tolak Ryu, ia menyimpan pistolnya dengan baik di saku celananya, sepertinya Ryu tak bisa membunuh wanita itu saat ini, terlalu bahaya, banyak anak-anak yang sudah melihat wajahnya. Banyak yang bisa menjadi saksi.

“Kau polisi baru?”
“hmmm ya.. sepertinya begitu”

“hehehehe… kau lucu sekali… baiklah, sampai bertemu lagi di kantor ayahku, tak usah lagi mengawalku, aku baik-baik saja” kata wanita itu sambil berlalu dari hadapan Ryu.

Dengan cepat Ryu meraih tangan Lee Ji-Eun. “Nuna… Lee Ji-Eun, aku harus tetap bersamamu, ada orang yang akan membunuhmu, kepolisian pusat menyuruhku untuk melindungimu Nuna. aku harus melindungimu… ssssttt… jangan sampai ada yang tahu, apalagi ayahmu, aku akan melindungimu, sebenarnya aku bukan utusan dari ayahmu, tapi dari kepolisian pusat, kau sedang menjadi target pembunuhan sekarang, jadi ikuti kata-kataku, aku akan melindungimu…. Arra?” bisik Ryu.

“Benarkah?” Tanya Ji-eun sambil mengedipkan matanya tak percaya

“Ya… ada tiga pria yang mengintaimu dari tadi, aku harus bersamamu, melindungimu dan murid-muridmu, tolong bekerjasamalah… kali ini saja…”

“Benarkah?” Tanya Ji-eun lagi seakan dia masih tak percaya.

“hum aku jujur padamu…” kata Ryu sambil menepuk dadanya

“Mana mereka? Aku bisa mengatasi mereka dengan sekali dua kali tendangan, bilang padaku mana mereka?”

“Sssssssssssttttt……. Mereka pembunuh yang paling berbahaya di korea” kata Ryu sambil membungkam mulut Ji-eun

“haisss… lalu apa untungnya mereka membunuhku hah?” Ji-eun berhasil melepaskan bungkaman tangan Ryu.

“Kau…. Ahss… aku juga tak tahu, turuti semua kata-kataku ini demi kebaikanmu Nuna…” kata Ryu sambil berpura-pura melihat ke segala arah. “Aku harus ikut denganmu, mereka akan selalu mengintaimu, apa kau tak sayang dengan nyawamu Nuna?”

“Baiklah, kau boleh ikut bersamaku, kalau kau tak bisa menjagaku, jagalah murid-muridku, dia tanggung jawabmu sekarang” kata Ji-eun sambil melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Ryu.

Ryu akhirnya bisa memperbaiki keadaan, apakah ia akan berhasil membunuh Lee Ji-eun di gunung tanpa sepengetahuan murid-murid Lee Ji-eun??

To be CONTINUE

Please. Penilaiannya ya...... komentar, like jangan lupa share........

Fanfiction # Summer Of Love # Part 3 # Series




Author : Ayuna Kusuma

Gendre : romance,

main cast:
Boram : Ahreum T-Ara
Yeol : SungYeol Infinite
DayLim : Hwa Young 


Sudah 3 hari, aku di rumah sakit, menunggu Boram tersadar, Dokter berkali-kali mengucapkan kegembiraannya padaku, dia bilang, keadaan kekasihku sudah semakin membaik, selama aku menunggunya, beberapa bagian tubuhnya bergerak. Dari mata, tangan, hingga bibirnya yang sedikit demi sedikit berfungsi kembali.

Hari ke 4. Daylim nuna mengajakku menemui Ayah dan ibu. Aku sedikit gugup, karena semua barangku tertinggal di kamar hotel, dan dari 3 hari yang lalu aku hanya memakai baju yang sama. Walaupun aku mandi berkali-kali dan memakai colonge tentunya akan menimbulkan ketidaknyamanan.

Siang ini, aku menyeka wajah Boram, dengan air dingin, aku melihat beberapa kerutan didahinya. Ya. Dia telah merasakannya.

“Boram... bagaimana, apakah nyaman? Hum??... kau tahu Boram.. aku sangat beruntung bisa menjadi orang yang special untukmu. Dan kau juga beruntung bisa mendapatkan calon suami seperti diriku ini. Hehehe... Woah.. kukumu masih terlihat cantik, Daylim memang aneh, dia bilang kau buruk rupa. Mana? Hum?... aku tidak melihatnya... Aku hanya melihat kecantikan, hanya kecantikan dari dirimu Boram... Aku mencintaimu gadis semangka“ Kataku. Kucium keningnya yang semakin berkerut.

Saat kerutnya menghilang, betapa terkejutnya aku, air mata Boram menetes sedikit demi sedikit dari matanya. 
“Boram... apa yang kau rasakan? Hum?... tak ada yang menyedihkan disini, kau seharusnya tersenyum. Karena aku sudah ada disisimu, Boram... apakah kau bisa melihatku? Boram... apakah kau mendengarku?“ kataku sambil menggenggam tangannya yang semakin terasa dingin.

Ada apa ini? Apakah Boram akan pergi meninggalkanku? Aku merasakan dahinya juga terasa sangat dingin. Lalu dokter dan para suster masuk kedalam ruangan dengan sangat tergesa. Daylim,. Ia terlihat sangat khawatir dan bingung seperti aku.

“Yeol... apa yang terjadi?“
“Aku hanya menyeka wajahnya yang penuh keringat lalu dia menangis Nuna... aku tak tahu. Bagaimana Boram dok?“ Kami berdua sangat bingung dengan situasi ini.
“Mohon tenang dan tunggulah didepan, biar kami yang mengurus semua ini“

“Dok... apakah adikku akan meninggal?“ Daylim mulai menangis dan tubuhnya melemas, aku membopongnya
“Tolong tunggulah diluar“

Kami menunggu diluar, sesekali Daylim melihat keadaan di dalam ruangan melalui jendela.
“Boram... kuatkanlah dirimu... adikku... aku tak ingin kehilanganmu...“ Daylim menutup wajahnya lalu suara tangisan yang semakin menyayat hatiku kembali terdengar.
“Nuna... duduklah sebentar, Kita doakan saja, tidak terjadi apa-apa“
“Yeol... apakah adikku tadi menangis? Aku membaca di beberapa artikel, kalau seorang pasien koma bisa menangis, tidak lama lagi ia akan sadar... ya... aku yakin Boram akan sadar“
“Hummm...“ 

Dokter keluar dari ruangan dengan tergesa.
“Dok, bagaimana keadaan adik saya? Apakah ia akan sadar?“
“Perkembangannya sangat cepat sekali, ketika Yeol menemaninya sampai saat ini. Boram, keadaannya masih baik-baik saja, hanya saja tadi jantungnya berdetak lebih cepat dan tidak normal, tapi sudah kami atasi. Kemungkinan Boram merasakan suatu hal yang membuat dirinya merasa sedih, dan itulah yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat“
„“Aku hanya bilang kalau aku mencintainya... apakah itu salah? Kalau salah aku tak akan berkata seperti itu lagi“ Kataku sambil melihat keadaan Boram didalam, nafasnya sudah normal, dan dia terlihat lebih segar sekarang.
“Ah. Tidak... tetaplah berkata seperti itu, gejolak emosional akan membuat Boram cepat tersadar“

“Dok, apakah kalau setelah adikku tersadar nanti, oprasi plastiknya bisa cepat dilaksanakan? Karena Yeol dan Boram akan menikah secepatnya.“
“Nuna...“ kataku gelisah, Bisakah Boram menjalani operasi plastik yang sangat lama, setelah ia begitu lama mendekam di ruang rawat, aku rasa operasi plastik itu akan membuat Boram semakin tak percaya diri.
“Sebaiknya, jangan dulu, Nona Daylim, Biarkan Boram menikmati keadaannya dulu setelah sadar nanti, kalau sudah berselang beberapa bulan, dan perasaannya sudah membaik, baru, dia bisa menjalani rangkaian oprasi plastik“

„“Nuna... jangan fokus ke masalah oprasi plastik dulu, karena sampai sekarang Boram belum sadar“
“Hmmm.. terima kasih dokter“
“Baik. Aku tinggalkan kalian dulu, ada pasien yang memerlukanku“
“Oh silahkan dok“ Kataku, „“Nuna haruskah aku pergi menemui Ibu dan Ayah Boram sekarang? Aku tidak punya ganti, dan bauku sudah seperti kotoran saja“

“Hehehe... aku baru saja membelikanmu kemeja dan sepasang jas, kalau kau mau, aku ambilkan di mobil sebentar.“
“Wah... kau sangat perhatian sekali terhadap adik iparmu hhihihi, baiklah aku mau, mana kunci mobilmu, biar aku ambil sendiri“
“Jangan, kau disini saja, temani Boram. Aku akan segera kembali“

Daylim berlalu meninggalkanku, baru kali ini aku menemukan seorang kakak yang begitu perhatian dengan kehidupan adiknya, aku sudah memaafkan kebohongannya tentang pernikahan Boram. Karna aku tahu pasti, di posisi Daylim sungguh sangat sulit. Ia pasti tak mau ada satupun yang menyakiti adiknya, mungkin karena alasan itu. Daylim sering membicarakan mengenai oprasi plastik.

Kalau menurutku, Boram masih cantik, dan luka-lukanya akan sembuh dengan sendirinya. Yang diperlukan Boram sekarang adalah Aku dan keluarganya. Boram masih tertidur pulas, nafasnya sudah normal kembali. Saat kugenggam tangannya, matanya kembali bergerak-gerak dan aku tahu pasti ia melihat kearahku

“Gadis semangka... kau nakal sekali, sampai kapan kau harus tidur seperti ini, hum? Kau tahu... kami semua sangat merindukanmu, aku, kakakmu, ibu dan ayahmu,  kami sangat ingin kau cepat sadar. Cepat kembali Boram...“ Tak terasa air mataku jatuh begitu saja “Boram... bangunlah, dan akan kubuat kau merasa bahagia, aku sangat mencintaimu Boram“

Suasana hatiku begitu campur aduk hari ini. Bagaimana aku menghadapi Ayah dan ibu Boram?, apakah pantas kalau aku langsung meminta untuk menikah dengan Boram? Padahal mereka belum pernah bertemu denganku.

Lalu aku dikagetkan oleh belaian lembut tangan Daylim. Ia memamerkan jas dan kemeja yang sudah dibeli untukku.
“Ssst... lihatlah, bagus kan. Ayo cepat ganti bajumu, aku tunggu kau di mobil“ Kata Daylim lirih.
“Baik Nuna... Boram, aku akan menemui orang tuamu,  Doakan semoga usahaku berhasil dan kita bisa menikah ya“
“Sudahlah Yeol. Ayo cepat... waktu kita sangat sedikit“ kata Daylim sambil menyeretku keluar dari ruangan.

***

Di perjalanan menuju rumah orang tua Boram, Daylim terlihat sangat bahagia. Aku semakin penasaran, mengapa ia tampak begitu berbeda dari hari-hari sebelumnya

“Hey... Nuna... sepertinya ada yang membuatmu bahagia, hehehe  apa itu, kalau aku boleh tahu“
“Kau tahu saja Yeol, aku bahagia karena akhirnya ada perkembangan dalam kesehatan Boram, dan aku bahagia karena aku bisa membelikanmu Sepasang jas juga kemeja“
“Ah.. iya iya... tapi mengapa membelikanku jas saja, bisa membuatmu bahagia? Hehehe kau aneh Nuna“
“Dulu, aku sering sekali membelikan sepasang jas buat suamiku, tapi, setelah kami berpisah, aku menjadi...“
“hummm... kalau begitu, setelah aku menjadi suami Boram, kau bisa membelikanku berapapun yang kau mau“

“Kau baik Yeol... tapi kalau seperti itu caranya, kau membuat Boram semakin membenciku“
“Ah... Boram tak mungkin membenci kakaknya sendiri.“
“Ya, Yeol... kau harus tahu kenyataan tentang kami berdua, kami saling membenci, Aku tak bisa mendapatkan yang adikku dapatkan, dan adikku tak bisa mendapatkan yang ia dapatkan“
“Huh... dasar wanita..“
“Kami berdua seperti orang bodoh kan? Hehehe saling membenci“
“Tapi aku yakin Nuna, sebenarnya memiliki cinta yang begitu besar pada Boram, ya kan?“

“Humm... setelah peristiwa itu, aku selalu menyalahkan diriku sendiri, mengapa aku tidak bisa melindungi adikku, dan aku berjanji akan melupakan masalah kamu yang dulu“
“Yup... kau harus memaafkan Boram dan dirimu sendiri Nuna. Ah Nuna, apakah aku sudah tampan?“
“Sudah... Ayo turun, kita sudah sampai“
“Nuna... apa yang harus aku lakukan ? ahss... aku bingung nuna...“

“Kau ingin cepat menikahi Boram kan? Kau ingin membuatnya Bahagia kan?, kuatkan hatimu, Ayah dan ibuku orang yang baik, tenang saja, rapikan dulu kemejamu“
“mana ?“ tanyaku, Refleks Daylim mendekat kearahku dan membenarkan letak krah kemejaku, Aku merasakan ada yang aneh saat itu. Wajah kami begitu dekat, Aku melihat senyum Daylim yang begitu manis, seperti senyum Boram, wajahnya memerah dan Langsung saja aku membuyarkan pandanganku.
“Biar aku benarkan sendiri Nuna“ aku menjauhkan tangannya dari krah kemejaku.
“Oh.. maaf Yeol, maafkan aku ya“
“Maaf tentang apa?“ aku memancingnya berbicara
“Tidak... Ayo masuk“ Aku bisa merasakan Daylim sangat malu saat aku menolaknya untuk membantu membenarkan kemejaku, Ah... mengapa dia bisa menjadi seperti itu. Membingungkan.

Di dalam, Aku melihat sepasang suami istri sedang sibuk bercengkrama.
“Annyeong... Eoma, Appa.. Lihat siapa yang kubawa, hehehe, Dia Yeol, kekasih Boram“
“Annyeonghaseyo...“ Sapaku,
“Ah... kau yang bernama Yeol, wah tampan sekali, Daylim sering membicarakan tentang dirimu, Ya... kau menjaga Boram dengan baik selama 3 hari ini“
“Terma kasih, Tuan“
“Ah... kenapa kau memanggilnya tuan? Heehe panggil dia Appa, dan aku Eomma, okey?“
“Baik, Eomma“
“Kau sudah makan?“
“Sudah Eomma“

“Ah... Yeol, kau pasti bertanya-tanya mengapa kita tak menjaga Boram selama kau ada disana, Kami hanya memberikanmu kesempatan bersama Boram, karena kami semua tahu, Boram akan sadar kalau hanya kau yang ada disampingnya“

“Iya Appa, Sebenarnya aku datang kesini, ingin bertemu dengan kalian dan memperkenalkan diriku, tapi sepertinya Nuna sudah banyak bercerita tentang diriku. Jadi aku akan langsung ke pokok pembicaraan, Appa, Eomma, Aku ingin menikahi Boram secepatnya. Melihat keadaan Boram yang semakin membaik, Aku kira, kalau kami berdua menikah, aku akan punya waktu yang banyak dan alasan untuk melindungi Boram“

Ibu Boram menangis seketika, lalu suaminya menyeka air matanya

“Oh... Tuhan, terima kasih kau berikan Yeol ditengah keluarga kami, Yeol... Aku dan Eomma menyetujui kalian menikah, kapan sebaiknya pernikahan diadakan?“
“Besok“
“Baik Yeol, aku akan mengurus surat untuk Boram, Adikku sangat beruntung memilikimu“ Kata Daylim,
“Besok aku akan menyiapkan surat-suratnya“
“Aku akan datangkan Tuan Kim ke rumah sakit, Beliau pendeta terbaik disini, Ohohohoho besok anakku akan menikah... Terima kasih Tuhan, Berikan keberkahan pada kami semua“

“Yeol, kau akan tidur dimana malam ini? Menginaplah sekali-kali disini“ Kata Eomma
“Tidak bisa Eomma, aku harus tetap menunggu Boram, Ia akan merasa sendirian bila aku tak berada disisinya“
“Hemmm. Kau benar Yeol, Daylim, berikan kunci mobilmu ke Yeol, besok kau pergi bekerja pakai mobilku saja“ Kata Appa antusias

“Baiklah Appa, Eomma, aku kembali kerumah sakit dulu“
“Kesinilah sebentar Yeol, aku ingin sekali memelukmu“ Kata Appa.
Aku mendekat padanya dan ia pun memelukku sangat erat, Appa menangis tertahan, tapi aku bisa merasakan air matanya yang panas menyentuh jas ku dan menembus ke kulitku.
“Apa yang harus aku lakukan untuk membalas kebaikanmu kepada putriku? Hum??“
“Aku tidak meminta apapun Appa, membuat Boram bahagia aku sudah merasa sempurna“ Kataku sambil memberikan senyum pada calon mertuaku, Matanya yang penuh dengan air mata terlihat begitu puas dengan pertemuan kami malam ini
“Baiklah, pergilah, Daylim, antarkan calon menantuku keluar“

***

Daylim mengantarkanku ke mobil dan memberikan kuncinya.
„“Pakailah mobilku, bagaimana ? hum?? Pertemuan yang singkat dan memuaskan kan?“ Tanya Daylim diiringi tawa kecilnya
„“Iya, orang tuamu sangat baik, aku sangat beruntung kalau bisa memiliki mertua seperti mereka“
„“humm ya...“ katanya.
Aku sangat terkejut saat ia menggenggam tanganku, segera aku hempaskan tangannya, aku tak ingin jiwa Boram yang masih lepas melihat kami berdua dalam keadaan yang seperti ini.
Aku menunda masuk ke mobil dan ku tatap wajah Daylim yang kini berubah menjadi begitu penuh penyesalan

“Yeol... kau pasti mengira, aku kakak yang nakal, dan jahat kan? Hum? Aku hanya iri pada Boram.... mengapa ia selalu memiliki hal yang aku inginkan“
“Apa maksudmu Nuna? Kau menginginkan aku?“
“Kau pria yang baik Yeol, aku sangat iri pada adikku, Mengapa dengan keadaannya yang cacat seperti itu kau masih mencintainya? Mengapa kau tidak berpaling padaku?“
“Sejak kapan kau punya pemikiran seperti itu? Dia adikmu NUNA~!!!... Oh.. tidak... apakah kau begitu iri dengannya? Apakah kau ingin memilikiku? Hah?? Aku tak tahu bagaimana jalan pemikiranmu Nuna. Kau terlalu kekanak-kanakan. Dan kau harus tahu, aku tak bisa mencintai siapapun kecuali Boram. Kalaupun Boram meninggal, aku tak akan pernah mau mencintai siapapun, apalagi mencintai kakak yang jahat sepertimu. Ini kunci mobilnya“ Kulemparkan kunci mobilnya pas ke muka Daylim.
Untung saja aku membawa bajuku yang aku pakai dirumah sakit kemarin. Aku lepas jas dan kemeja yang diberikan Daylim. Kupakai bajuku yang bau, tak peduli, asal aku tidak memakai pemberian seorang wanita yang haus cinta.

“Ini jasmu, dan kemejamu, kalau kau memberiku, agar aku tertarik padamu, lupakan hal itu, aku tidak akan tertarik sekalipun untuk berpaling dari Boram. Aku sudah menghargaimu Nuna, tapi kau tak menghargaiku“

Aku berjalan menjauh dari rumah Boram, masih bisa kudengar tangisan Daylim yang begitu menyayat hati. Tapi jujur aku tak bisa menjadi seperti yang dia inginkan. Aku tak akan memberikan kesempatan pada diriku untuk mengkhianati Boram.

Kepalaku tiba-tiba terasa pening, Apa yang barusan aku lakukan? Bagaimana kalau Daylim membicarakan hal ini ke orang tuanya? Dan mereka semua akan menentang habis-habisan pernikahanku dengan Boram... Aaaah... Aku telah merusak rencanaku sendiri. Harusnya aku bisa menolak Daylim lebih halus lagi, dan memperhatikan perasaannya.

To be Continue

Fanfiction # Lover Boy # Part 1 # Series



Author : Ayuna Kusuma (Yun)

Genre : Romance. Parody. Sadly 

maincast : 
Woohyun : Woohyun INFINITE 
Dokter Joungho : Hoya INFINITE 

Sudah 3 bulan aku bolak-balik ke psikiater, sebenarnya yang sakit hanya jantungku, dan pernafasanku, tapi dokter rumah sakit pusat merekomendasikanku periksa ke seorang psikiater bernama Dokter Joungho. Ya, tidak masalah sebenarnya, tapi apakah psikiater itu bisa menyembuhkan penyakit jantungku?.

Pertama periksa ke psikiater aku kira, ada banyak sekali pertanyaan yang dia tanyakan padaku. Tapi Dokter Joungho malah tidak melakukan apa-apa. Ia hanya mengajakku minum kopi di beberapa café. Dan meluangkan waktu untuk melihatku bekerja di berbagai show. Ya aku bekerja sebagai fotografer, aku harus loncat sana dan loncat sini, untuk mengejar jadwal.

Periklanan korea selatan sekarang sangat maju pesat, pemotretan pun hamper terjadi setiap hari. Pertama kali aku merasakan sakit, semenjak aku berpisah dengan Yoona. Aku merasakan jantungku sangat sakit dan nafasku sesak, lalu aku memuntahkan semua yang ada diperutku. Saat banyak orang didekatku, pasti penyakitku kambuh.

Tadi malam, tepat pukul 12 malam. Dokter Joungho menelponku, ia bilang ada pesta ditempatnya, dan ia mengundangku. Tentunya aku sangat ingin menghadirinya. Dengan gerak cepat aku mengganti penampilanku.
Mobilku meluncur dijalanan yang semakin ramai. Seoul semakin malam semakin ramai.
Setelah sampai KangNam. Di rumah Dokter Joungho. Penyakitku kambuh, kali ini aku sudah tak bisa bernafas lagi. Keringat dingin pun mengalir membasahi jas dan kemejaku. Aku telp saja Dokter Joungho.
Aku bilang padanya aku punya banyak pekerjaan dan tidak bisa menghadiri pestanya. Lalu aku kembali kerumah dan tertudur pulas. Saat bangun jarum jam sudah menunjukkan pukul 11. Untung saja tidak ada pekerjaan hari ini. Kalau ada aku akan diblack list oleh beberapa konsumen.
Kuterima sms dari Dokter Joungho. “Woohyun, datanglah ke kantorku sekarang juga”

***

Aku memasuki ruang psikiater, dia ingin memberitahukan hasilnya padaku. Hasil pemeriksaan kejiwaan selama 3 bulan yang kujalani.

"Silahkan duduk Woohyun. Santai saja dulu, aku cari dulu hasilnya" Psikiater itu lalu sibuk membolak balik tumpukkan kertas yang ada didepannya. "Nah ini dia... Baik perhatikan baik-baik, karena ini demi kehidupanmu dan masa depanmu"

"Aiiishh... sepertinya aku akan dapat masalah" keluhku,
"Hehehe... tenangkan dirimu, tidak apa, setiap orang punya masalah. Jadi selama pemeriksaan kita selama 3 bulan, Kami mendapat kesimpulan bahwa, kau Woohyun, kini terjangkit penyakit kejiwaan Caligynephobia, caligynephobia diciptakan oleh pikiran bawah sadar sebagai mekanisme perlindungan. Hal ini mungkin disebabkan oleh peristiwa masa lalu yang menghubungkan wanita cantik dengan trauma emosional. Jadi dibawah sadar kau sangat takut dengan wanita cantik. Apakah dulu kau kenal dengan wanita cantik dan bisa membuatmu trauma?"

"Benarkah? aku sakit apa tadi?"
"Caligynephobia, phobia dengan wanita cantik, Kami sarankan kau untuk menjauhi wanita cantik dan mengambil cuti panjang untuk berlibur, refreshkan pikiranmu. Aku takut kalau kau tetap bekerja di kelas fotografi kau akan bertemu banyak wanita cantik, dan jantungmu akan tidak terselamatkan lagi"

"Artinya aku akan mati karena wanita cantik??? begitukah? omo... aku begitu sial"

"Tenanglah..."
"Apa ada obat untuk penyakitku ?"
"Tidak ada"
"Ah......... yang benar saja... kau pasti menipuku."

Lalu psikiater itu keluar dan membawa sekertarisnya yang cantik masuk dan berdiri didepanku, dia cantik, tapi senyumnya membuat jantungku berdegub kencang, aku merasakan sesak, dan.. dan... aku muntah didepannya.

Lalu sekertaris itu keluar, ia mungkin merasa jijik dengan orang sepertiku. Ahh... sial.

"belum ada obat yang pernah dikembangkan secara khusus untuk mengobati fobia wanita cantik, obat-obatan yang ada hanya mampu menekan ketakutan untuk sementara waktu. Ini aku berikan resep obat penenang dan obat jantung. Ah. Aku punya ide. Aku punya keponakan, dia bisa dibilang sedikit cantik, dia wanita yang sangat baik, ia tak akan bisa mempermalukanmu seperti wanita lain hehehehe. apakah kau mau pergi ke sana? Keponakanku tinggal di Pohang, dia punya rumah penampungan anak terlantar, kau bisa bekerja disana, menjadi pengasuh anak-anak dan belajarlah mencintai wanita cantik"

"Bukannya kau tadi melarangku bertemu wanita cantik???"
"Iya memang, tapi kalau satu wanita cantik masih lumayan daripada 10 wanita cantik ditempat kerjamu sekarang. Bagaimana? mau?"

"Ah... baiklah aku mau, aku minta alamatnya, aku ingin sembuh dari phobia ini dok"
"Iya iya... aku tahu, kau pria tampan, harus menyukai wanita cantik, ini alamatnya, kalau kau sudah diterima dan tinggal disana, hubungi aku ya"
"Baik dok, kau memang dokter psikater terbaik yang kupunya hehehe" Lalu kami ber High FIVE.
“Ya. Dan kau pasien paling aneh yang kupunya HAHAHAHA” mendengar dia tertawa ingin sekali aku memasukkan obat-obat ditanganku ini ke mulutnya.
“Aisssh… ah apakah aku harus berangkat sekarang juga?”
“Tentu saja, semakin cepat, lebih baik, kalau kau mengulur waktu, penyakit ini akan menjadi lebih parah. Melihat wanita dimanapun kau akan merasa sakit”

“walaupun di TV? Aku bisa merasa sakit?”
“Iya. “
“Ommoooooooooooooooo…. Apa salahku…”
“kau mungkin pernah mengalami situasi yang sangat membuat trauma.”
“YA… aku pernah mengalaminya, tapi aku tak tahu mengapa bisa seperti ini”
“Baiklah aku masih punya banyak tamu, jadi keluarlah sekarang, berangkatlah sekarang.”
“Aisssh… kau mengusirku lagi, ah, aku belum tahu nama keponakanmu dok, siapa namanya? Aku akan mencatatnya”
“Sung Ji Roh”
“Sung Ji. Ji sung. Ah….. apakah dulu dia seorang pria???” tanyaku sambil menahan tawaku
“Aisssh… kau ini” Dokter Joungho melempar memo kecil, mengenai kepalaku.
“hmm… baiklah. Aku akan bertemu dengan si cantik Ji SUNG”
“Kalau kau panggil keponakanku Jisung. Sekali lagi. Kulempar kursi ini kemukamu”
“Bwahahahahaa bai bai… “ aku berlari keluar, karena Dokter Joungho sudah bersiap-siap mengangkat kursinya.

Ya… selama 3 bulan, hubungan dokter dan pasien yang kami jalani berganti dengan hubungan sepasang sahabat. Hari ini, aku harus menyelesaikan pekerjaanku dengan para wanita cantik di salon kecantikan. Semangat. Ya aku harus semangat.
Semangat mengatur detak jantungku, dan menahan muntahanku tentunya. Aku tak mau semua wanita cantik itu menganggap aku seorang Moron. Ah… kenapa kehidupanku begitu menyedihkan setelah Yoona meninggalkanku. Ternyata wanita cantik juga bisa membunuh kalau keadaannya seperti ini.
***
Sepulang kerja, aku mengemasi barangku dan bersiap berangkat. Sedari tadi, ibu melihatku sibuk sendiri di kamar.
“Wooh. Mau kemana kau? Membawa barang begitu banyak?”
“Ah… aku akan pindah sementara ke Pohang”
“Apa??? Kau kerja di Posco???? Lalu bagaimana dengan studio mu? Siapa yang mengurusnya?”

“Ibu… aku tidak akan kerja di Posco, aku punya proyek fotografi di Pohang, tapi untuk waktu begitu lama, jadi aku harus pindah, biaya akan semakin banyak kalau bolak-balik Pohang Seoul”
“Ah…. Aku mengerti sekarang, baiklah hati-hati dijalan. Sampai kapan kau di Pohang? Kalau pulang kau harus dapat gadis Pohang, mereka semua cantik-cantik..” kata ibu sambil tersenyum padaku. Oh tidak…ibu tidak boleh tahu kalau aku punya penyakit phobia terhadap wanita.
“I..iya bu… kalau tidak bisa, ibu jangan marah ya…”
“Huh buat apa ibu marah, eh kau sudah membawa bekal ? ibu buatkan dulu?”

“Tidak perlu bu, aku akan beli di stasiun saja.”
“Hmm… baik lah… selamat bekerja dan jangan lupa bawa calon istri ya…..”

Apakah ini takdir??... Ya ini Takdir yang begitu buruk bagiku. Ketika aku sangat takut dengan wanita cantik, ibuku malah request wanita cantik untuk menjadi calon istri. Ah…. Aku pusing dengan semua ini.

Selama perjalanan ke stasiun, aku berpapasan dengan banyak wanita, beberapa dari mereka tidak begitu cantik, tapi banyak yang membuatku mual, dan beberapa kali aku harus muntah di trotoar. Saat muntah semua orang melihatku seperti orang gila saja. Aku berlari sebisaku, menghilangkan rasa malu. Untung saja detak jantungku masih normal, aku tak ingin mati ditrotoar. Sebelum bertemu Sung Ji, aku tak ingin mati.

Saat di stasiun, banyak wanita yang melihatku, aku mendengar beberapa dari mereka berkata kepada temannya “Lihatlah pria itu, tampan ya?”

Lalu temannya yang lain menyambut kata-kata itu dengan sangat antusias “Ah… iya sangat tampan, apakah ia masih single. Oh sepertinya dia pergi ke Pohang seperti kita, ayo kita berkenalan dengannya”

“Kau saja. Hihihi” kata temannya yang lain

Dan…

Beberapa menit kemudian, salah satu wanita cantik yang melihatku tadi, mendatangiku. Dia berkata dengan suara yang halus “Hallo hallo… namaku Sora, kau mau ke Pohang?”

Aku… jantungku… serasa sangat sakit dan tenggorokanku kering seketika. Sialnya wanita yang bernama Sora itu duduk disebelahku, ia menatapku, seperti rubah sedang menatap mangsanya.

“Ah.. iya aku ke Pohang… sebentar, aku harus kesana” Kataku sambil sibuk menggosok dadaku. Tubuhku bergetar, oh tidak… semua wanita itu pasti menganggapku aneh. Lalu kuberanikan diri melihat Sora. Ia sedang berkomunikasi dengan temannya diseberang “Moron” aku tahu dia menyebutku seperti itu, karena aku melihat sendiri bibirnya yang merah mengucapkan itu.

Ah… aku langsung ke toilet dan memuntahkan semua sarapanku. Aku tak bisa seperti ini terus. Ayo berjuang Woohyun. Lawan penyakitmu


Aku harus tetap hidup… dengan wanita cantik. Kalau aku bisa. Dan harus bisa. Harus kupaksakan.

To Be continue 

Fanfiction # Summer Of Love # Part 3 # Series


Author : Ayuna Kusuma

Gendre : romance,

main cast:
Boram : Ahreum T-Ara
Yeol : SungYeol Infinite
DayLim : Hwa Young

Part 1 Author Web : http://ayuna.ok-rek.com/2013/04/fanfiction-summer-of-love-part-2-series.html


Daylim sedari tadi menyetir sambil sibuk menghapus air matanya. Ia pasti begitu mencintai adiknya, aku tak bisa membayangkan sudah berapa liter air mata yang ia habiskan. Humm, aku sendiri saja sempat bingung, apa yang harus kulakukan, apakah aku harus menangis seperti Daylim, kalau aku menangis tidak akan ada yang bisa menguatkan keluarga Boram. Maka aku putuskan tak menangis apapun yang terjadi.

Aku tak pernah bisa berpikir bila jalan kehidupanku akan seperti ini. Mengapa aku tak punya kesempatan untuk mengetahui kejadian ini lebih cepat, misalkan lebih cepat aku ke Berlin, lebih cepat pula aku bisa membantu Boram dan keluarganya.

“Nuna... mengapa kau tak mengabariku saat Boram kecelakaan? Sedangkan kau tahu Boram sedang menjalin hubungan denganku?“ kumulai pembicaraan di dalam mobil, pembicaraan yang membuat kami berdua merasa sesak.

“Soal itu, maafkan aku, aku tak berpikir tentangmu sebelumnya“ kata Daylim sambil mencoba mengeluarkan ingusnya yang membuat ia susah bernafas.

“Ah... aku mengerti, apakah kau menerima emailku? Kau sekarang menggunakan ipad Boram kan? Ah iya apakah semua teman Boram sudah kau beri tahu?“ Tanyaku dengan nada tenang, aku tak ingin suasana menjadi semakin larut dalam kesedihan

“Selama ini hanya kau teman Boram, dan hehehe... aku lelah menerima emailmu, kau mengirimiku 189 email, itu yang membuatku tak tahu apa seharusnya yang aku katakan“ Aku bersyukur suasana hati Daylim sudah membaik sekarang, jadi ia bisa menyetir dengan tenang.

“hmmm... Boram gadis yang manis, mengapa hanya aku saja temannya, dan kau Nuna... kau hampir membuatku membenci Boram karena kebohonganmu. Kalau Boram sadar kau harus meminta maaf padanya“

“Tapi nyatanya kau tak pernah membenci Boram kan? Humm... aku iri pada kalian berdua, Yeol, kita sudah sampai, kau janji akan mencintai adikku selamanya? Dalam keadaannya seperti sekarang?“
“Janji, dan kau Nuna, janji tidak membuat adikmu lebih menderita lagi?“
“Iya janji.“

“Baik. Kita sudah impas. Bentar tunggu aku“ Kulihat didepan rumah sakit ada toko bunga, Aku ingin membelikan bunga matahari kesukaan Boram. Aku harap Boram merasakan dan mencium baunya yang segar.

Kulangkahkan kakiku, kurapikan perasaanku, kukuatkan hatiku, Daylim berjalan didepanku, sesekali ia masih menyapu air matanya dengan tisu. Memasuki ruangan rawat Boram, kami memakai baju dan masker, dan beberapa suster menyemprot kami dengan cairan pembersih. Boram, Aku datang padamu, mari kita bersenang-senang di sisa musim panas ini.

„“Boram.... coba tebak siapa yang datang? Humm?“ kata Daylim dengan nada ceria, tapi aku tahu pasti ia sangat sulit menahan air matanya di saat seperti ini.

Aku masih terdiam, bersandar di pintu masuk. Melihat kekasihku dengan keadaan seperti itu, aku menjadi sangat lemah. Lalu entah mengapa aku keluar begitu saja meninggalkan kekasihku dan Daylim.
Tubuhku sangat lemas, kakiku yang kuat kini lemah dan menjatuhkanku. Badanku gemetar. Boram, aku tak sanggup melihatmu seperti ini. Aku sungguh tak berguna, mengapa baru sekarang aku tahu keadaanmu seperti ini.

Mengapa tidak tiga bulan yang lalu aku datang ke Berlin, saat kau bilang, kau sedang sibuk dengan wisuda, saat kau sibuk dengan mencoba membuka stand di Berlin,saat kau bilang kau ingin aku berada di sisimu secepatnya, saat kau bilang kau sangat merindukanku, saat semuanya baik-baik saja, mengapa aku tak mendatangimu saat itu juga.

Lalu kurasakan tamparan keras, aku tersadar, Daylim yang telah menamparku, ia berdiri di depanku, menangis sebisanya

“Yeol... apa kubilang.... Kau tak akan bisa menerima keadaan ini, iya kan? Kau tidak bisa menerima Boram dengan keadaan seperti itu kan? Hah??? Apakah kau takut melihat wajahnya? Apakah kau malu, memiliki kekasih seperti dia?? HUH ??? Jawab pertanyaanku...“ kurasakan tamparan lagi ditempat yang sama, tamparan Daylim tak pernah membuatku sakit, kali ini yang sakit hanya hatiku.
“Ya... Nuna.....Iya aku tak bisa menerima semua ini. Kekasih seperti apa aku ini, saat kekasihku dalam situasi yang parah seperti itu aku tak pernah tahu dan tak pernah ingin mencari tahu. Dan KAKAK seperti apa kau ini HAH???... Sudahlah Nuna... Tak perlu khawatir, Aku masih tetap mencintai Boram. Jangan pernah kau meragukan yang kurasakan“ 

“Boram.......“ Kata Daylim sambil beranjak melangkah ke jendela kaca yang menghubungkan lorong rumah sakit dengan ruangan Boram, “Boram... kalau dia sadar, dia akan menjalani oprasi plastik, dan dokter akan membuatkan kaki palsu untuknya. Jadi kau tak perlu khawatir, ia akan kembali cantik seperti dulu, dan kau tak akan malu menjadi kekasih bahkan suaminya“

“Hmmm... Aku baru sadar, ternyata pemikiranmu begitu picik Nuna... Aku tak pernah mencintai adikmu karena penampilannya, aku mencintainya, karena aku yakin dia juga mencintaiku. Sudahlah Nuna, jangan pernah lagi berpikir seperti itu. Sekarang mari kita membantu Boram untuk kembali sadar“

“Yeol... maafkan aku. Aku terlalu...“ Daylim kembali menangis, Aku bangkit dari dudukku, dan menghapus air matanya.
“Ayo masuk Nuna... Boram pasti menunggu kita“

“Humm...“
Kami berdua masuk lagi dengan hati yang lebih tenang. Situasi Boram saat ini memang membuat siapapun yang melihatnya merasa sedih. Kedua kakinya telah diamputasi, lengannya penuh dengan balutan perban, kemungkinan luka yang sangat parah, dan wajahnya masih terlalu cantik, walaupun banyak goresan dan jahitan di pelipis sebelah kanan.

Selang oksigen, dan infus masih lengkap terpasang, alat pengatur jantungnya pun masih berfungsi. Boram pasti berada di sebuah tempat, sedikit bermain-main di alam bawah sadarnya, atau bahkan ia sudah memiliki stand jus sendiri di alam bawah sadarnya. Hehehe. Aku sedikit bahagia, karena sekarang Boram sudah berada di sisiku.

“Hey... Gadis semangka~!!!“ Aku berteriak ditelinganya
“Aisshh... apa yang kau lakukan Yeol???“ Daylim melihat aku dengan wajah kaget
“Tidak apa Nuna, aku sering membentaknya seperti itu, dan Boramku ini sangat suka kalau aku membentaknya iya kan Boram??“ aku menggerakkan lengan Boram, „“Boram... kemana saja kau hah? Aku sudah menunggumu di Korea, kau tahu berapa gelas jus semangka yang aku habiskan tiap hari? 5 gelas Boram~~~!! Aku kira kalau aku menghabiskan gelas ke 5 kau akan datang di hadapanku. Tapi kau sama sekali tak datang. Gadis semangka...... jangan diam saja, aku gerakkan matamu, ayo bangunlah“
“Yeol, aku pergi dulu, aku harus kembali bekerja, aku titip Boram, jangan berteriak lagi ya“
“Terima kasih Nuna. Kau memang Nuna yang baik. Maafkan aku kalau membuatmu terluka ya?“
“Aish... tenang saja, jaga Boramku okey?“

“Aja..“
Kulihat lagi Boram yang masih tidur dengan nyenyak,
“Gadis semangka...“ Kupeluk kekasihku, mungkin ini pelukan yang begitu menyedihkan, aku tak bisa menahan lagi, akhirnya air mataku menetes, sedikit membasahi baju Boram.
“Gadis... Semangka... pangeranmu sudah disini, memelukmu, kau tak perlu lagi merindukanku, aku sudah ada disini, sedang memelukmu, apakah kau bisa melihatku? Humm?? Bangunlah Boram... Ayo bangun, ikut denganku kemana saja aku pergi, agar aku bisa selalu melindungimu... Boram... atau kau ingin ke suatu tempat? Kau ingin ke California? Atau Vegas? Kau ingin kesana? Aku akan mengantarkanmu kesana.. atau kau ingin makan tteokbokki masakan bibiku? Mau? Aku akan mengantarkanmu kesana, dan kita akan memakan tteokbokki sebanyak-banyaknya... hmmm Atau kau ingin kita menikah?“ Aku sangat terkejut, mata Boram yang sedari tadi tak ada gerakan, sekarang bergerak ke kiri dan ke kanan, lalu bola matanya yang terhalangi pelupuk mata bergerak ke arah kanan, ia memandangiku, aku tahu itu. Walaupun matanya masih tertutup. Aku merasa ia melihatku dan menyambutku.

“Boram... apakah kau ingin menikah denganku?“ Mata Boram kembali bergerak-gerak cepat.

“Kalau kau sadar... aku akan menikah denganmu, aku akan membuatmu bahagia, hehehe... kau harus bahagia memiliki suami sepertiku... Ah.. Mulai sekarang aku harus belajar memasak, aku akan memasakkan untukmu, setiap pagi, siang, dan malam. Aku akan pulang kerja lebih cepat untuk membawamu jalan-jalan, dan aku harus memberimu makanan sehat, aku tak mau wanita yang akan melahirkan anakku nanti ternyata kurang gizi hehehe. Hmm... kalau kita sudah menikah nanti, kau ingin tinggal dimana? Pankow? Seoul? Atau Wakatobi? Beberapa temanku pernah wisata ke Wakatobi. Mereka bilang pemandangan disana seperti surga, kau pasti ingin menikmati surga setiap hari denganku kan? Boram..... hei... gadis semangkaku... ayo bangunlah... bangun... aku menunggumu“ kataku sambil membelai tangan Boram yang lembut.

“bolehkah aku tidur menemanimu disini? Sebentar saja... aku sangat lelah... kau juga tidak mau bangun... hummm... aku harap kau bisa mendengarku Boram... Aku sangat mencintaimu. Kau masih tetap memilikiku, jadi bangunlah...“

Aku sama sekali tak ingin terlihat bersedih dihadapan Boram, cukup sekali saja. Aku harus membuat diriku semakin tegar dan membuat Boram yakin. Aku tetap pantas menjadi pangerannya yang bisa menjaganya sampai kapanpun. Apa yang terjadi besok? Akupun tak pernah tahu, asalkan Boram di sisiku akan selalu kupastikan masa depan kami harus lebih bahagia.

Aku harus menemui keluarga Boram, dan merencanakan pernikahan. Aku sangat yakin kalau kami berdua menikah. Keadaan Boram akan membaik dan cepat sadar. Boram... menikahlah denganku

To Be Continue

Fanfiction # Summer Of Love # Part 2 # Series


 

Author : - Kusuma

Gendre : romance,

main cast:
Boram : Ahreum T-Ara
Yeol : SungYeol Infinite  

DayLim

Mencoba. Ya aku terus mencoba untuk menghalangi hatiku untuk marah tak jelas. Aku tak boleh berputus asa seperti tahun lalu. Membiarkan Hiemi menikah dengan pria yang telah dipilihkan ibunya. Dan membiarkan semua menghilang begitu saja, dan aku berpikir aku akan mendapatkan yang lebih baik dari Hiemi.

Memang, aku mendapatkannya, dan itu kau Boram. Lalu sekarang kau ingin bertindak yang sama seperti Hiemi. Apakah kau sudah melupakan ceritaku dan kata-kataku dulu? Aku sudah mengatakan padamu kalau aku membenci wanita seperti Hiemi. Apa kau lupa Janjimu? Saat kuliahmu sudah selesai kau akan pulang ke korea tahun ini, dan akan menetap disini.

Berkali-kali kau pun sudah memastikan padaku kalau kau akan membuatku lebih bahagia. Daripada aku bersama gadis lain. Apakah kau melupakan semuanya itu.

Malam ini aku terbang ke Berlin, untuk memastikan apakah kau benar-benar akan melupakan semuanya dan meninggalkanku? Atau ada masalah lain yang membuatmu seperti ini. Asal kau tahu Boram. Aku tak pernah menolak untuk membantumu dalam hal apapun.

Konyolnya aku, dalam perjalanan ke Berlin aku memikirkan banyak kemungkinan apa yang terjadi denganmu sebenarnya.

Apakah orang tuamu terlibat hutang? Lalu mereka tak bisa membayarnya? Ha? Begitukah? Kalau benar seperti itu, aku akan menjual beberapa asset perusahaanku dan membayarnya. Dan kau akan kunikahi saat itu juga. Lalu kubawa kau dan orang tuamu ke Korea, ah sepertinya jangan ke Korea karena pemerintah sekarang sedang panas-panasnya ingin perang. Jangan… terlalu bahaya untuk keluarga kita. Aku akan membawamu ke India, atau ke Negara yang penuh dengan senyuman yaitu Indonesia. Atau tempat yang paling aman, di hatiku.

Kau tahu Boram, orang yang duduk di sebelahku, mengira aku gila, karena sedari tadi aku tertawa, murung, menangis, berteriak, itu gara-gara kau.

Aku berpikir lagi, Boram, Mengapa kau begitu cepat mengatakan akan menikah, padahal dua bulan sebelum musim panas, kau dan aku masih terlalu romantic untuk dipisahkan. Bahkan aku ke kamar mandi saja kau mau aku membawa ipadku, dan kita masih mengobrol. Kita masih bisa bercanda seperti layaknya suami istri.
Apakah kau terlanjur hamil dengan orang Jerman? Hah?... Aku sedikit merenung sebentar.
Sepertinya tak mungkin kalau kau hamil diluar nikah dengan seorang pria Jerman, selama kau denganku saja, kau tak mau kucium. Kau gadis yang bersih, walaupun sangat genit. Ah……. Aku pusing, aku tidur saja.
Berlin… aku datang… Boram… Tunggu aku disana.

***

Turun dari bandara, aku sempat bingung dengan tempat ini. Untung saja ada taxi berjejer diluar bandara.
Aku langsung menyapa salah satu supir taxi
“Guten Morgen, Sir“ sapaku
“Guten Morgen. Kann ich Ihnen helfen?“ pria itu bertanya kepadaku. Tubuhnya lebih tinggi 5 cm dariku. Dia berkata Selamat pagi, ada yang bisa dibantu?. Ya tentu saja ada. Tolong antarkan aku ke Boram kekasihku dan bantu aku merebutnya kembali, itu kata hatiku hehehe.
“Ja, können Sie mich im Hotel Brownman in Pankow?“ tanyaku
“Ja. natürlich. lass uns gehen“ Kata pria itu sambil membuka pintu taksinya

Setelah barangku dimuat dijok belakang, aku duduk dengan nyaman. Taksi ini sangat nyaman. Ini saatnya menelpon Boram. Nada sambung yang membuat hatiku bersemangat hari ini.  Aku menunggu Boram mengangkat telpnya.

Dan
‚‘Halo,‘ suara wanita menyambutku, aku yakin Boram tak mau menerima telp dariku
“Ah, Hallo.. Aku Yeol, bisa aku bicara dengan Boram?“
‚‘maaf, sepertinya tidak bisa, hmmm, Adikku tidak mau menerima telp darimu‘
“Maaf sekarang aku bicara dengan siapa?“
‚‘Aku Daylim, kakak Boram, sudah ya, aku harus...‘
“Ah sebentar... sebentar... aku sangat perlu berbicara dengan boram, karena sekarang aku sudah di Pankow, Apakah Boram bersamamu? Berikanlah telpon ini sebentar saja padanya“
‚‘ooooooh... no... benarkah kau  di Pankow sekarang?‘
“Iya tentu saja, aku tak akan biarkan kalian semua membuat Boram tidak bahagia, aku tahu menikah itu adalah rencana kalian semua kan??? Padahal Boram pernah bicara denganmu kalau aku adalah pria satu-satunya yang dia cintai. Sekarang berikan telpnya ke Boram, Aku akan menginap di hotel brownman, kalau kau tak ingin memberikannya, aku akan menemui boram dirumahnya, aku masih menyimpan alamatnya“
‚‘Yeol... Kau tak akan bertemu Boram di rumah‘ kata Daylim
“Hallo... Daylim, apakah kau masih disana? Hey. Bicaralah“
‚‘Begini saja, kalau kau sudah di Hotel Brownman telp aku lagi, aku akan menemuimu, mari kita bicara‘
“Wah... apa yang kau pikirkan? Aku ingin bertemu dengan Boram, bukan denganmu“
‚‘Iya aku tahu... aku tahu cintamu begitu besar pada Boram, tapi saat ini kau hanya bisa bertemu denganku‘
“Baik, kutunggu kau di Lobi Hotel“
‚‘Terima kasih Yeol, maafkan kami‘

Telp ditutup. Dan aku punya kesempatan menikmati pemandangan kota Berlin yang sangat menawan hati. Akhirnya aku menemukan jalan, jalan yang menurutku akan menemukanku denganmu lagi, Gadis semangkaku.

Aku bayangkan kau akan tersenyum padaku, kalau kau tahu aku sudah di Pankow, kau pasti akan teriak bahagia saat kau tahu aku akan membawamu pergi jauh dan memberikanmu kebahagiaan. Cincin ini, yang aku beli tahun lalu, yang sangat kau inginkan. Akan melingkar di jari manismu sebentar lagi. Karena kita akan menikah. Bukan pria Jerman yang kau bilang kau cintai yang akan menjadi suamimu. Tapi aku. Yang benar-benar kau cintai dengan jiwamu.

“Sir. Es a Brownman Hotel. Okey“ Supir taksi membangunkanku dari lamunan yang panjang
“ Oh. Vielen Dank. Sir. Dies ist eure Tipps“ Aku memberinya uang lebih dari yang ia minta. Ia dengan gesit membawakan semua barangku ke lobi hotel. Dan kembali ke taxinya sebelumnya dia berteriak padaku
“ Vielen Dank Handsome Man“ hehehe itu membuat semua gadis melihat kearahku.
Aku menuju lobi dan memesan kamar untukku. Akhirnya aku mendapatkan kamar di lantai satu. Aku paling suka kamar di lantai satu, karena dekat dengan bumi.

Kutelpon Boram sekali lagi, aku harap kali ini Boram lah yang menerimanya.
‚‘Hallo...‘ Suara wanita itu lagi. DayLim kakak Boram.
“Hei.. aku sudah di Hotel, kau ada dimana? Bisakah kau kesini sekarang? Bersama Boram?“
‚‘Aku ada dibelakangmu, tapi Boram tak bersamaku‘ Aku melihat dibelakang. Seorang wanita melambaikan tangannya. Wajahnya mirip dengan Boram, namun ia lebih tinggi dan rambutnya keriting seperti ramyun.
“Hi... Aku Daylim“ sapanya sambil menyalamiku. Aku balas dengan senyuman yang sedikit dipaksakan
“Bagaimana kabarmu Yeol? Apakah penerbangannya lancar saja? Duduklah, mari kita bicara“ Ia menyuruhku duduk, perlakuannya padaku sangat manis, namun aku masih sebal dengan keadaan ini. Mana
Boram, sepertinya tidak ada masalah, tapi mengapa aku tak boleh bertemu dengan gadis semangkaku?.
“Sekarang dimana Boram? Bagaimana dia bisa bilang akan menikah dengan orang lain? Padahal dua bulan yang lalu ia begitu antusias merencanakan kencan dan pernikahan kami“

“Boram... hmmm sebentar aku akan memesankanmu Jus,“ kata Daylim sedikit bingung
“Tidak, tidak perlu. aku sudah minum banyak tadi, kau jelaskan saja apa yang terjadi“
“Boram... Tidak akan menikah dengan siapapun...“ Katanya, lalu dia menangis, airmatanya deras sekali mengalir, suara sesak bisa aku dengar, ada apa ini sebenarnya.

“Apa maksudmu? Sebenarnya ada apa?“

“Boram, tak akan menikah dengan siapapun.... aku kira, dengan mengirimi email, kau akan merasa kecewa dan bisa melupakan Boram dengan mudah, membenci Boram dengan lebih mudah, tapi mengapa seperti ini... Aigoo...oh...Aigoo...“ Daylim mulai memukul-mukul dadanya. Aku berganti posisi duduk, aku pegang lengannya, agar ia tak lagi memukul dadanya dengan keras.

“Apa yang terjadi hah??“ tanyaku, aku tak bisa menahan air mataku „“Ada apa dengan Boramku? Apa yang terjadi padanya, sampai-sampai kau ingin aku membencinya? HAH??“ Bentakku, aku sungguh tak sanggup lagi menahan emosiku.

Semua orang di hotel melihat kami berdua, dan aku tak peduli.

“Satu bulan lalu, saat Boram sedang berbelanja... di pusat perbelanjaan... setelah pulang dari sana.... Ia mengalami kecelakaan... Sampai sekarang, Boram masih di rumah sakit, Boram sekarang mengalami koma, Yeol, ia tak bisa bicara, ia tak bisa tersenyum, ia hanya bisa tidur saja... aigoo... aigoo... Dokter mengatakan kalau akan sulit sekali menyadarkan Boram, kalau semua bantuan pernafasan dan infus dicabut... Boram akan meninggal... Yeol... adikku akan meninggal..... Dan aku tak ingin kau merasakan kesedihan kami...“ kata-kata Daylim membuatku lemas. Ya aku tak bisa apa-apa lagi. Aku hanya bisa menatapnya dengan air mata yang tak bisa kutahan.

“Aku tak ingin kau begitu kehilangan Boram, Yeol... Aku tahu kalian adalah pasangan yang sangat serasi, takdir telah mempertemukan kalian, tapi takdir pula yang akan memisahkan kalian, Kami semua tak ingin merepotkanmu“

Aku menghapus air mataku, “Apakah kau seorang kakak huh? Seharusnya kau tahu... bagaimana cara menyembuhkan adikmu, bagaimana kau bisa bersikap seperti ini HAH???... kau mengirimiku beberapa email dan membuatku menganggap bahwa Boram adalah gadis brengsek yang melupakan kekasihnya demi pria lain. HAH???? Itukah tindakan seorang kakak???... Aku.... Aku percaya, Boram akan hidup, Boram akan sadar....“

“Dokter sudah menyatakan Boram tidak akan sadar Yeol... pertahanan hidupnya hanya selang makanan, infus, dan oksigen, kalau semua dicabut, ia akan mati Yeol... dan kau akan sakit, seperti kami bila kehilangan dia“
“Dokter... kau bilang dia menetapkan umur Boram??? BULLSHIT... Kau tahu? Aku tak percaya dengan apa yang doktermu bicarakan. Dia bukan tuhan kak. Antarkan aku menemui Boram. Akan aku buat Boram hidup kembali. Ayo antarkan aku. Sekarang...“
“Tapi...“
“Tapi apa lagi?... adakah rahasia yang lain yang kau sembunyikan?“
“Aigoo... aku tak kuat menahan ini semua. Yeol... Boram sudah tak seperti yang dulu, wajahnya rusak, dokter mengamputasi kedua kakinya, dan kau akan membencinya“

“Asal kau tahu. Daylim... Seperti apa bentuk Boram, apakah dia buta, tidak punya kaki, hanya kepala, atau hanya rambut saja. Aku akan tetap mencintainya“

Daylim pun beranjak dari duduknya, ia menghapus air mata dan merapikan penampilannya. “Ayo... aku antarkan kau ke Belahan hatimu, Boram beruntung memiliki pria yang mencintainya seperti ini“

Kamipun berangkat ke Rumah Sakit Pankow. Oh Tuhan, aku tak mengira seperti ini keadaan sebenarnya. Bagaimana kalau aku percaya begitu saja, dan menganggap semuanya telah berakhir. Bagaimana dengan Boramku kalau aku egois dan meninggalkannya. Boram, aku tak bisa meninggalkanmu, apalagi setelah kakakmu membeberkan semua masalah. Mulai saat ini aku akan berjanji padamu juga pada Tuhan. Tak akan sekalipun meninggalkanmu.

To Be Continue

Fanfiction #Jill and B #part 6 #series

Author : - Kusuma

Gendre : romance, 

Main cast:
Jessica SNSD : Jill
Joo Won : B
Chemi C-Real : Minna
Ji Chang Wook : Hong


Review part 5
Kami melompat dan bersalaman, Dia Hong, temanku semasa SMA, aku berencana menghubungi dia saat di rumah nanti, tapi takdir telah menemukan kami lebih cepat.

"Oh... Bill, kau sudah semakin tampan hehehe, ah...... Nuna... Aku Hong, kau masih ingat kan?" kata Hong, sambil mengambil tangan Jill yang sibuk menyuapkan daging besar ke mulut. Hong menggenggam tangan Jill dengan lembut dan ia cium "Selamat bertemu kembali Nuna... "

"He...... " Jill menatap Hong dengan tatapan terpesona, berbeda bila ia menatapku, ia tak pernah menatapku seperti itu, hmmm apakah sekarang aku cemburu???

***
Jill masih memandang Hong lekat-lekat, ia kagumi setiap jengkal wajahnya. Hong pun sepertinya menikmati kekaguman Jill, ia tersenyum dan mengambil kursi tanpa merubah posisi wajahnya yang memandangi wajah Jill. Lalu ia duduk di sebelah Jill.

“Nuna… Kau makan banyak sekali, apa tidak takut berat badanmu bertambah? Nuna secantik dirimu harus memiliki badan yang sempurna, untuk menandingi kecantikanmu. Ya kan Bill?”
“Benarkah???” Tanya Jill sambil mengedipkan matanya berkali-kali.
“Hm??? Hong, apakah kau sales kecantikan? Atau sales rumah penurunan berat badan? Dari tadi kau bilang Jill cantik, cantik, cantik… huh”
“Dasar kau ini… panggil kakakmu dengan panggilan Nuna.” Kata Hong sambil memukul kepalaku dengan sumpit

“Aish… kau ini baru bertemu saja sudah menyakiti, Hong, wajahmu licin sekali, tampan, kau pasti sudah operasi plastik. Dimana? Ha?” tanyaku dengan nada sebal.

Hong dan Jill menatapku dengan sebal, mata mereka melotot padaku, kutengadahkan kepala dan bernafas panjang “Huah….. Kenapa kalian melotot seperti itu hah?”

“Hehehe. Aku tak pernah oprasi plastik, aku kan tampan alami, iya kan Nuna? Nuna, apakah kau ingat saat SMA dulu kita pernah bertemu dan belajar bersama di perpustakaan sekolah? Apa kau ingat? Ah… kau ingat saat aku memberimu sekotak pensil? Karena kau mengeluh kalau pensilmu selalu direbut B?”
“Ah…. Iya, ya, ya….. aku ingat…” Kata Jill sambil melanjutkan makannya.
“Nuna… apakah B tetap menyebalkan seperti dulu?” Tanya Hong sambil melirikku.
“Ahhhh pasti… sekarang dia lebih menyebalkan, makanya aku usir dia dari apartementku, apakah kau mau menerima B untuk tinggal di apartemenmu??”

“Ha???” Hong kaget mendengar pertanyaan Jill, ia menatapku dan Jill bergantian.

“Iya,  aku sebenarnya ingin menghubungimu saat di rumah nanti, tapi sekarang kita sudah bertemu, sebuah kebetulan kan? Aku ingin kau membantuku, saat ini aku tak punya pekerjaan, dan aku harus pindah apartemen, apakah kau mau menerimaku, tinggal di Apartemenmu? Aku akan bayar setengah sewanya, bagaimana?”

“Kalian… hanya karena alasan menyebalkan, harus pindah apartemen???”
“Iya dia sangat menyebalkan, aku tak ingin melihatnya lagi” kata Jill sambil sibuk melahap daging bakar porsi besar.
“Gila… Nuna.. walaupun menyebalkan dia tetap adikmu, kalian tidak boleh berpisah.”
“Huh… kau mendramatisir masalah saja Hong, ada banyak alasan, jadi bolehkah aku menginap di rumahmu malam ini juga? Aku akan bayar setengah sewanya, tenang saja.”
“Ya boleh… karena kau adik Nuna ku yang cantik ini” katanya dengan senyum menawan “Nuna… jangan khawatir, akan kujaga adik nuna yang menyebalkan ini”

“Hum… ya. Aku percayakan dia padamu” Jill menatap Hong dengan tatapan konyol penuh harap, lalu menggenggam tangan Hong dan mengedipkan mata berkali-kali. Hehehe aku hampir tertawa melihatnya.
Tapi aku tak terima, saat Hong menghapus noda saus di bibir Jill, Apa ini??? Sungguh keterlaluan.
Jill memegang tangan Hong dan berkata dengan tegas “Jangan sentuh bibirku lagi, kalau kau mengulanginya, akan aku patahkan tanganmu ini”

“Ah… maaf Nuna, aku tidak bermaksud” kata Hong dengan nada ketakutan.
Hong kembali ke tempat duduknya yang tadi, dia mengambil tas dan meninggalkan uang di meja untuk kopi yang dia beli. Dia menghampiriku, dan memberikan kartu nama.
“Kau bisa tinggal di apartemenku mulai nanti malam, ini alamatnya, tapi ada syaratnya, jangan membawa banyak barang, karena buku-buku milikku sudah banyak, dan jangan lupa bayar setengah sewanya malam ini juga”
“hmm”
“okey?”
“Baik, tuan Hong yang tampan” ujarku.

“Nuna, aku pergi dulu, selamat menikmati sisa waktumu dengan orang paling menyebalkan ya Nuna… ini nomor ku, kau bisa menghubungiku kapan saja” kata Hong sambil memberikan secarik kertas ke Jill.
“Ya…” Jill sibuk dengan makanan penutupnya, pudding pisang jadi ia tak begitu tertarik dengan kertas yang diberikan Hong, ya aku sedikit merasa lega. Setelah Hong berlalu keluar restoran, aku sibuk memandangi Jill.

Aku mencoba menyelami dirinya, Jill sekarang ini cepat sekali berganti mood, dari senyum ke wajah yang penuh emosi, dari senang berubah menjadi sedih, bahkan hal yang biasa seperti tadi pagi saat aku menggendong Minna. Jill mengaku cemburu dan sempat menangis. Aku mencoba menyelami jati diri gadis yang kucintai itu.

“Kau lihat apa B? apakah di bibirku ada noda? Mana? Bisakah kau bersihkan?” kata Jill, dia ambil tanganku yang sedang memegang tisu dan diusap-usapkannya di bibirnya.
“Tidak ada noda, sudah dibersihkan Hong” kataku.
“Hum… Padahal aku ingin kau yang membersihkannya, padahal aku sudah susah payah membuat mukaku penuh dengan noda, kenapa orang itu yang melakukannya, menyebalkan.”
“Itu sebabnya kau mengancamnya hehehe, dasar… dia sepertinya takut padamu.”
“Hehehe, iya… biar saja, B, apakah aku cantik? Hum?”
“Cantik… kaulah yang paling cantik bagiku, kalau aku, apakah aku tampan?”
“Hmmm menurutku, Hong lebih tampan”

“Kenapa?”
“Tenang saja, aku tidak suka orang tampan, karena aku suka pada B, bukan pada orang tampan hehehe.”
“Bisa saja… Aku akan pindah malam ini juga, Jill, apakah aku benar-benar menyebalkan selama ini?”
“Selama menjadi adikku, kau sangat menyebalkan, tapi semakin kau menyebalkan, semakin aku tahu kau bukan adikku, dan aku semakin mencintaimu, kau mau?” kata Jill sambil menyuapiku pudding pisang.
“Hum enak ya… Aku minta maaf kalau kau sempat ku buat susah ya…”
“Tidak… Aku tidak pernah merasakan susah hidup denganmu. Hehehe.”
“Jill, kita kembali ke rumah sakit menjenguk Minna atau, bagaimana?”
“Aku ingin kita pulang, aku ingin berdua saja denganmu, bagaimana?”
“Aku suka itu.”

***

Di ruang keluarga, kami memainkan semua game milik Jill, setelah lelah, kami memutuskan untuk menonton stasiun televisi lokal, Drama My Queen kesukaan Jill tayang sore itu. Saat Jill sibuk dengan drama korea yang ditontonnya, aku beranjak untuk mengemasi barangku.

Yang kubawa hanya baju, jas untuk interview dan beberapa data yang kuperlukan untuk melamar kerja. Kuambil juga satu foto Jill yang paling menawan. Kusempatkan untuk melihat lagi foto kami berdua di album-album foto keluarga.

Jill dari dulu memang cantik, seperti ibu angkat kami, ah, apakah ini sebuah takdir? Aku mengaku dari dulu aku sangat mencintai Jill, lebih dari kakakku, dan aku tahu Jill pun begitu. Aku sangat menghargai dirinya karena selama kami memiliki status menjadi kakak adik, dia tak pernah melanggar norma susila.
Dan dia tetap mencintaiku, mempertahankan cintanya tanpa melukaiku. Selama kami masih berstatus menjadi adik kakak, aku tak pernah menemui Jill berkencan dengan seorang pria, surat-surat cinta, dan yang lainnya.

“B~~!! Kau dimana?” Jill teriak dari ruang keluarga, kudengar langkahnya, ia mencariku kemana-mana, hehehe padahal aku sedang ada di kamarnya.

Greeek…. Pintu terbuka

“Akhirnya kau temukan aku…”

“Sedang apa kau di sini? Aku sudah menunggumu, ceritanya tragis sekali, coba kau lihat, ayo… lihat drama denganku.” katanya manja, ia melingkarkan lengannya di lenganku, lalu menarik-narikku paksa.
Aku balas menariknya, dan yang kuatlah yang menang, Jill rebah di atas tubuhku, “Lihatlah… kalau kau ada di dekatku, aku tak bisa mengontrol diriku untuk menciummu.”
“Cium saja kalau kau mau.”
“Tidak mau, mulutmu bau pizza.” Jill memukul wajahku dengan lembut.
“Nuna.. Bisakah kau berjanji?” kataku sambil menahan tangannya agar tak memukul wajahku lagi.
“Janji apa?” Tanya Jill sambil sibuk menatap mataku.
“Janji jangan mencintai siapapun kecuali aku, mau? Bisa?”
“Hum… Aku mau dan pasti bisa, kau juga harus seperti itu.”

“Ya… aku tak akan mencintai orang lain, tapi bisakah kau berdiri sebentar, dadaku sesak, badanmu berat sekali. Auuuh…” kataku mengejeknya, bukannya berdiri, ia malah semakin menekanku, dan kami mulai perang di atas ranjang, saling memukul, saling menampar, saling menendang.

Kami bertengkar di atas ranjang seperti anak kecil saja, semua jurus kami keluarkan, dari kamehameha sampai sharingan.

Jill menggerakan tangannya dengan cepat “KAMEHAMEHA~~~~~!!!” teriaknya
“AAAAAAAAA~~~!!!” Aku berpura-pura terkena dan terkapar di atas ranjangnya.

Kami pun tertawa menikmati perpisahan sore itu, waktu akan semakin cepat berlalu, dan keadaan akan berubah. Jill bukan kakakku lagi saat ini, dia adalah wanita yang sangat kucintai, dan calon istriku. Jadi kami perlu menyiapkan diri serta mengenal diri masing-masing, karena untuk menikah tak hanya cinta yang diperlukan.

To Be Continue
 
Layanan untuk Anda: x Cerita dari Kusuma | - | dari - | Lihat dalam Versi Seluler