- - - - . - - | Facebook | Twitter | GPlus |
Tampilkan postingan dengan label Fanfiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fanfiction. Tampilkan semua postingan

Cerita yang Coming SOON

Fanfiction Somun S2 Part 1


Fanfiction Somun Series 2

"Budayakan setelah dan sebelum membaca klik SHARE/Bagikan, Arraseo? Gomawoyo"

Author : Ayuna Kusuma

Maincast :

D.O EXO K
XIUMIN EXO M
Han YunHi : You

Genre : Emotional Love, Mystery,

Location : Daegu, Incheon.

***

Samantha99, itu yang tertulis di pintu masuk sebuah cafe, kode yang ditulis dengan tinta emas menghiasi tulisan-tulisan dari pengunjung lainnya. Kubuka saja pintu yang terbuat dari kayu mahoni itu, aroma kopi bercampur kue karamel menyeruak keluar dari dalam cafe, sekitar 20 orang sedang duduk menikmati hidangan mereka masing-masing.

Di email, Samantha99 mengatakan ia memakai baju coklat, jaket ungu, dan topi baseball hitam. Mataku melihat satu persatu pengunjung cafe, sampai akhirnya kudapatkan pria yang memakai kemeja coklat, jaket ungu dan topi baseball hitam. Kukira orang dengan kode Samantha99 adalah wanita, tapi kali ini aku salah sangka.

"Cinta telah hilang di laut senja" kubuka kata sandi sesuai perjanjian semula, pria yang memakai initial Samantha meletakkan majalahnya, membuka topinya, dan menyuruhku duduk di hadapannya.

"Terima kasih, sudah mau datang... aku.. Kyung Soo.." ia menjulurkan tangannya di depanku, akupun menyambutnya dengan jabat tangan yang hangat.

"Xiumin..." kuambil pena dan buku catatan dari tasku, berharap ada yang bisa kucatat dari pembicaraan dengan Kyung Soo nantinya. "Jadi... apa masalahnya? sampai kau mau membayarku 20 kali lipat dari tarifku semula"

"Gadis ini... dia menghancurkanku dengan perlahan... aku ingin kau menghancurkannya... dengan perlahan seperti yang dia lakukan padaku... buatlah ia menderita" Kupandangi foto gadis berwajah polos yang diberikan Kyung Soo. Tak mengerti, mengapa gadis dengan wajah sepolos ini bisa menyakiti pria elite yang sekarang berdiri di hadapanku.

"Han Yunhi, itu namanya... dia berulang kali mempermainkanku, ah... aku tak perlu membeberkan masalah pribadiku padamu..." Kyung Soo memakai lagi topinya.

"Hehe... aku juga tak tertarik pada masalahmu... aku harus bagaimana tuan Kyung Soo? Langsung membunuhnya? atau?"

"Buatlah ia menderita... kau lukai beberapa anggota badannya... atau kau perkosa... lalu campakkan... itu aku lebih suka hahahahaha"

"Maafkan aku... aku pembunuh bayaran... bukan pemerkosa..." kataku sedikit tersinggung melihat tawanya yang terdengar congkak.

"Hehe... terserah kau saja... Oh.. sebentar.. aku harus ke toilet... dan. Ini untukmu... Down Payment di muka... hmmm? hehehehe" Kyung Soo menggeser kursinya lalu melangkah menuju toilet, kubuka bungkusan hitam yang terletak diatas meja.

Pria itu memang benar-benar sakit hati pada Yunhi, buktinya ia sudah membayarku di muka, lebih dari tarif yang kusediakan. Cepat-cepat kumasukkan bungkusan hitam itu ke tas ranselku. Berharap tak ada polisi atau detektif yang melihatku melakukan transaksi lagi, setelah 3 bulan vakum.

"Bagaimana? kau sudah menghitungnya?" tanya Kyung Soo, ia kembali dengan pakaian yang berbeda, kali ini ia berpenampilan seperti layaknya tuan muda, atau eksekutif muda.

"Tidak perlu kuhitung... kau sudah memberiku lebih..."

"Jangan khawatir... setelah kau selesai dengan misimu... aku akan menambahkan komisimu lagi... gadis itu... harganya begitu mahal... kalau kau bisa membunuhnya pelan-pelan... aku akan sangat bahagia... dan kau akan mendapatkan uang yang pantas... karena kau telah bisa membunuh gadisku yang mahal... hehehe" bisik Kyung Soo.

"hehe..."

"Okey!! Aku harus segera kembali ke kantor... ambillah ini!" kata Kyung Soo sambil melemparkan tas butik ke wajahku. "Aku baru saja membelinya... dan hanya sekali kupakai... aku tak suka mode nya... terlalu kuno! Kau pakai saja! kurasa postur kita sama!"

"Ah... Ye..." gumamku, Kyung Soo berlalu dari hadapanku, sebuah mobil limousin berhenti di depannya, pintu mobil yang sangat panjang itu terbuka, dan ia pun masuk kedalamnya.

Seperti yang kuduga. Samantha99 atau Kyung Soo adalah seorang tuan muda, lihat saja mobilnya yang begitu panjang.

"Dasar! pria sombong... kau sakit hati karena gadis secantik ini menolakmu? huh! tanpa kau ceritakan aku sudah tahu apa yang terjadi padamu!! Auh... Memangnya aku sampah!! Tssskk!!" Kulemparkan tas butik ternama itu ke kursi yang tadi di tempati Kyung Soo, sebuah buku terhempas ke meja makan.

Ternyata Kyung Soo menuliskan semua data pribadi Han Yunhi di buku diary yang sekarang aman di tanganku.

Kutinggalkan cafe, dan melanjutkan perjalananku ke apartement yang baru saja kusewa. Han Yunhi, gadis berusia 20 tahun, kelahiran Daegu, yang lama tinggal di Incheon. Ia bekerja sebagai guru di galeri balet yang letaknya kebetulan tak terlalu jauh dari apartementku. Sebuah kebetulan yang menguntungkan.

Yunhi rupanya suka menghabiskan waktunya di perpustakaan Incheon, ia lebih suka buah daripada coklat, ia lebih suka gunung daripada pantai, ia lebih suka malam daripada siang, ia lebih suka ungu daripada pink. Dan banyak sekali catatan tentang Yunhi yang disusun Kyung Soo untukku.

Sekarang timbul pertanyaan di benakku. Apa Kyung Soo menyuruhku membuat Yunhi jatuh cinta padaku lalu aku harus meninggalkannya dan membuatnya menderita? Begitukah?.

"Begitukah?" gumamku sambil membuka lagi foto Han Yunhi yang terlihat menawan dengan kepolosannya.

"Hmmm... baiklah... akan kupelajari apa saja yang kau sukai Yunhi... Jatuh cintalah padaku... dan kumohon maafkan aku... harus menyakitimu demi kehidupanku.."

To be continue

Fanfiction Somun S2 Part 2


Fanfiction Somun Series 2

"Budayakan setelah dan sebelum membaca klik SHARE/Bagikan, Arraseo? Gomawoyo"

Author : Ayuna Kusuma

Maincast :

D.O EXO K
XIUMIN EXO M
Han YunHi : You

Genre : Emotional Love, Mystery,

Location : Daegu, Incheon.



Part 2 :

Terselip sebuah pesan penting di handphoneku, diantara pesan dari klien. Kuhentikan langkahku sejenak, dan membaca isi pesan dari Luhan.

"Bisakah kau datang hari ini? aku menunggumu sampai pukul 4 sore... kalau kau tak datang... kau akan kehilanganku lagi" Luhan, lebih tua dariku 2 tahun, tapi dalam dunia nyata ia sangat kekanakkan.

Saat ini ia tinggal di rumah sakit demi menjalani pengobatan dan terapi bebas obat terlarang, setiap hari ia harus berada di rumah sakit sendirian. Ia selalu mengatakan padaku ingin bebas dari ketergantungan narkoba, tapi beberapa saat kemudian ia memaksaku membelikan obat yang sering ia konsumsi disaat tak ada pengawas yang melihatnya.

Tapi kali ini, aku tak akan terpengaruh oleh tangisannya, demi kesehatan Luhan, bila harus kutampar untuk menyadarkannya, aku akan lakukan hal itu.

Jarum jam menunjukkan pukul dua lebih lima belas menit, masih banyak waktu untuk menuju rumah sakit.

Bis berhiaskan iklan kecantikkan berhenti didepanku. Setelah semua penumpang masuk, aku pun masuk memilih kursi paling belakang yang tak pernah disukai semua penumpang.

Kurebahkan tubuhku di kursi yang lenggang, sambil membaca buku Kyung Soo. Disini aku bisa membayangkan sosok Yunhi yang sebenarnya, ia lebih banyak diam daripada bicara, ia lebih suka mendengarkan musik daripada bernyanyi, lagu yang ia sukai. Exo K - Lucky. Aha... aku juga suka itu. Kurasa ada beberapa kesamaan diantara kami.

Salah satunya aku lebih suka dingin daripada harus kepanasan. Yunhi gemar menonton film horror daripada komedi, ah... sepertinya ia gadis yang selama kucari.

Kupukul wajahku dengan buku Kyung Soo. secepatnya kusadarkan pikiranku yang kurang jernih, gara-gara membaca sekaligus memandangi wajah Yunhi.

"Sadarlah... dia targetmu... selesaikan... lalu ajak Luhan pindah ke Singapore... ya... selesaikan dan pindah... Arraseo!!." Sekilas kulihat gedung rumah sakit yang menjulang tinggi. Akupun bangkit dan menunggu bis berhenti di halte selanjutnya.

Satu... dua... tiga... pintu bis pun terbuka, tak sabar bertemu dengan Luhan, aku pun memilih meloncat turun dari bis.

"KAU!!! Ahss...Ck!! Keterlaluan! Lihatlah bajuku!!" teriak seorang gadis yang sedang sibuk menghilangkan bercak kopi yang melekat di kemejanya.

"Mianhae..... aku tak sengaja... mianhae..." akupun memohon, dan mencoba menghindar darinya, tapi sepertinya terlambat, gadis itu menyambar tanganku.

"Kau sudah menabrakku! menumpahkan kopi di kemejaku! sekarang... kau harus bertanggung jawab!" Entah mataku yang rusak, atau ingatanku yang selalu tertuju pada Yunhi, kulihat gadis yang mencengkram tanganku, punya wajah yang sama dengan Yunhi.

"oh..." gumamku sambil mencari pembenaran atas pandanganku, lalu kugeser mataku ke bawah, dan benar rupanya, gadis yang kutabrak tadi adalah Han Yunhi. Ah... Sesaange.... terima kasih kau selalu membantuku... sebuah kebetulan yang membuatku semakin beruntung.

"Hei!... sekarang bagaimana?? Ah.... sudahlah.. pergilah!" kata Yunhi, ia lepaskan cengkraman tangannya.

"Hmm... Nona.. mianhae... aku tak punya banyak waktu... bisa berikan aku alamatmu... aku akan membelikanmu kemeja yang baru... berikan juga keterangan ukuranmu... nanti malam... aku akan menggantinya..."

Yunhi terdiam sebentar, ia memalingkan wajahnya dariku, lalu menatapku dengan senyuman penuh godaan.

"Kau serius?"

"Ye! Aku akan menggantinya... tuliskan juga merk yang sama... aku akan mengantinya.." kataku mencoba menyakinkannya.

"Arraseo... sebenarnya... aku hanya ingin mendengar kata maaf darimu... tapi kalau kau mau menggantinya... boleh juga... jjamkanmannyo..." Yunhi membuka tasnya, yang kulihat isinya baju balet dan buku catatan kecil. Lalu ia keluarkan buku itu dan mencatatkan sebuah alamat beserta ukuran dan merk kemeja yang telah kunodai.

"Ini... mianhae... bukan aku yang meminta... tapi kau yang memberiku..." kata Yunhi, tangannya begitu dingin ketika aku tak sengaja menyentuhnya.

"Ye... no problem.. nanti malam aku akan ke rumahmu.." kataku.

"Ah..! Annie.. itu alamat kantorku.. kau bisa menungguku disana... dan itu no handphoneku... kau bisa menghubungiku kalau kau sudah sampai dikantor..."

"Hmm... okey... Yunhi.." gumamku, aku hampir tertawa melihat tulisan gadis itu yang terlihat begitu menggoda.

"Siapa namamu?" tanya Yunhi yang mencoba memandangku dari rambut sampai kaki.

"Bismu sudah datang... kau akan tahu namaku nanti malam... Yunhi" gumamku.

"Heehe... gomawo... annyeong..." Yunhi melambaikan tangannya padaku sebelum ia masuk ke dalam bis.

Sekarang, aku sudah mendapat kejelasan dari perkara Kyung Soo dan Yunhi. Heh! Walaupun Yunhi punya wajah polos, tapi wanita itu tak sepolos yang kuduga. Kurasa, akan sulit berhadapan dengan playgirl seperti dia. Mengapa aku menyebutnya playgirl?, karena sudah bisa kulihat dari matanya yang mencoba mengunci hatiku.

"Kau tak bisa mempengaruhiku Yunhi... haha... hahahahaha!!"

BRUUUKK!!

Seseorang memukul kepalaku dari belakang, ketika aku berbalik dan ingin menendangnya, ternyata Luhan lah yang memukul kepalaku dengan novelnya yang tebal.

"Yunhi! Yunhi!! PEREMPUAN SAJA YANG KAU URUS!! Kau berjanji akan menemuiku kemarin! tapi kau tak muncul! aku hampir mati karnamu!! AUH!!!"

BRUKKK!! Ia menghempaskan bukunya lagi ke kepalaku.

"Hyung! Bukannya baru hari ini kau mengirimkan pesan??"

Luhan ingin memukulkan bukunya lagi kekepalaku, tapi tanganku berhasil menangkisnya.

"Kalau bodoh... jangan kelewatan... lihatlah.. ahsss.. sudahlah... jangan membahas hal itu... kau membuatku kesal saja!! Auhhhsss.. dingin sekali disini..." gumam Luhan sambil duduk di halte bis.

"Kau ingin kabur lagi?" tanyaku sambil memberikan sebatang rokok pada Luhan, lalu menyalakan api untuknya.

"Tentu saja... harus berapa lama lagi aku akan ditahan disana?"

"Hyung... percayalah padaku... jangan pernah memakai obat itu lagi... hiduplah dengan normal... hanya kau keluargaku.. eoh... aku tak ingin kau menderita.." kataku sambil melingkarkan lenganku ke leher Luhan.

"Haiss!!" Luhan dengan kasar menyingkirkan lenganku "Kau pikir semudah itu? kalau kau bisa mengatakan itu... aku juga bisa mengatakan... XIUMIN! berhenti jadi pembunuh! Hiduplah tanpa membunuh! cari pekerjaan lain! hiduplah dengan normal!! apa itu mudah??? lihatlah wajahmu yang mulai mengeriput... apa yang kukatakan tadi sangat sulit bagimu kan?? sama saja denganku... apa yang kau katakan tadi BULLSHIT! itu sulit bagiku... fuuuuhh" Luhan mengakhiri kata-katanya dengan hembusan asap rokok dari mulutnya.

"Mianhae..." bisikku.

"Siapa selanjutnya yang akan kau bunuh? mungkin aku bisa membantumu"

"tak perlu... ini.. uang pengobatanmu... bulan kemarin dan bulan ini... aku susah payah bekerja.. kumohon kau bisa menghargai hasil jerih payahku... dengan tak menyentuh obat-obatan itu lagi..." kulemparkan sekantong uang ke Luhan, ia membukanya lalu sibuk menghitungnya, tanpa mempedulikan aku yang sudah meninggalkannya.

Luhan, aku melakukan ini semua hanya untukmu, hanya kau yang kumiliki, kuharap kau mau mengerti.

to be continue

Fanfiction Diary Part 3



Songfiction "Diary"

Maincast : L Myungsoo and You

Genre : Flash Love

Location : Seoul

***

Aroma sup gurita yang bercitarasa menyerebak ke seluruh rumah, menggantikan bau pengap yang tadi memenuhi rumah. Setelah kutata di meja makan, nasi, sup gurita seadanya, kimchi dan berbagai teman pendamping lainnya. Ini waktunya aku membangunkan Myungsoo. Pria itu pasti akan bangga denganku, hihihi... pendatang baru yang bisa menyesuaikan diri dengan cepat.

Sambil memasak, aku juga membersihkan semua ruangan, mengumpulkan cucian menjadi beberapa bak, hari sudah larut malam, besok aku berjanji pada diriku sendiri akan mencuci semua pakaian Myungsoo yang tergeletak disana sini.

Myungsoo masih tidur di meja balkon, wajahnya yang tirus tampak indah dibawah sinar rembulan. Ia tampak nyaman tidur disana, walaupun udaranya dingin, ia tetap tidur nyenyak.

"Myungsoo.... ssshh.... Myungsoo... bangun..." kataku sambil menggoyang jempol kakinya yang muncul dari lubang kaos kaki yang robek-robek. Myungsoo diam saja tak bergerak.

"Myungsoo... aku sudah memasakkan sup gurita untukmu... ayo bangun... makan dulu baru tidur lagi... ayo..." kataku mulai gelisah. Karena sedari tadi sepertinya ada yang sedang mengawasiku dengan Myungsoo.

"huuuueemmm....." kata Myungsoo sambil membalikkan badannya "Ada apa?" tanya pria itu sambil menggosok matanya.

"Sup gurita... hehe... aku sudah memasakkannya spesial untuk pemilik rumah yang mau menampungku... ayo kita makan..." kataku sambil memberanikan diri membuka selimut Myungsoo.

"AH!!! Apa yang kau lakukan!!! Siapa kau!!!" tanya Myungsoo sambil merebut selimutnya dari tanganku.

"Eeeh...? aku... teman Minjung.... teman dari penjara... kau lupa? kau pusing? atau sakit? hmmm" sontak aku kebingungan. Bagaimana ini? bagaimana bisa Myungsoo secepat itu lupa, padahal hanya 3 jam ia tidur, tatapan matanya pun sudah lain dari sebelumnya. ia menatapku penuh curiga kali ini.

"Minjung... ah.... iya aku lupa.... lalu bagaimana bisa kau masuk ke rumahku?? HAH!!" bentak Myungsoo

"Ah.... Kau tadi memberiku kunci rumah, dan kau sendiri yang bilang... kalau aku boleh tinggal disini... lantai atas itu kamarku... aku sudah membersihkan isi rumahmu... dan memasakkanmu sup yang enak... Myungsoo apa kau lupa?? benar-benar lupa??" tanyaku kebingungan sambil memberikannya kunci rumah.

"Sudah bawa saja kuncinya... aku masih punya cadangannya.. AH!!! Aku lupa... mana celana dalam yang kugantung di situ!!" tanya Myungsoo lagi dengan nada membentak,

"Sudah kurapikan dan kumasukkan ke dalam box itu... supnya akan mendingin... kau tak tertarik untuk makan Myungsoo?" tanyaku sekali lagi.

"Hyaaa... Myungsoo... Myungsoo!! Kau pikir aku adikmu hah!!! panggil aku Oppa!!... Kajja Kita makan" kata Myungsoo sambil masuk ke rumah lebih dulu.

Saat masuk rumah, Myungsoo sepertinya terkejut melihat rumahnya terlihat bersih dari semula, ia tersenyum padaku berkali-kali, dan mengatakan kalau ide Minjung menempatkan aku di rumahnya rupanya ide yang luar biasa.

"Woaaaaah.... sup gurita... ini sup terlezat yang pernah kumakan..hihihi" kata Myungsoo

"Gomawo..."

"Darimana kau belajar memasak?" tanya Myungsoo lagi, sambil melahap kimchi yang ia ambil dari mangkuk.

"Di penjara... aku dan Minjung, sering belajar memasak di kantin penjara..."

"Hmmm... apa Minjung jadi gadis baik-baik disana? aku sempat khawatir ia kesepian disana... tapi setelah mendengar ia memiliki sahabat sepertimu... aku bisa lega..."

"huhuhum..."

"Maafkan kalau aku sempat tak mengenalimu... itu penyakit lamaku... ketika aku tertidur... lalu bangun... beberapa ingatanku terhapus... dan aku harus berusaha mengingatnya lagi..." kata Myungsoo.

"neunde munjega eobsgun-yo" gumamku sedikit malu.

"setidaknya... kau sudah tahu bagaimana harus hidup serumah dengan orang yang tiba-tiba menjadi amnesia sepertiku hehehe... Gurita ini enak sekali...kau dapat gurita darimana??" tanya Myungsoo sambil melahap gurita yang sudah matang.

"Dari lemari es..." jawabku merasa tersanjung

"WRRRRRRRROOOAAAH!!!" Myungsoo berhasil memuntahkan semua isi mulutnya di depanku. "KAU MEMASAK GURITA BASI!!! YAAAAAAA!!! BABO!!! Kau tahu itu BASI!!! kenapa kau masak juga hah!!!"

"Basi??"

"BASI!!! Kau bisa kau cium!! Gurita itu sudah di lemari es selama 1 bulan... ahsss!!!" kata Myungsoo sambil mengulurkan lidahnya lalu di cucinya dengan air soda.

Kucoba untuk merasakan lagi sup yang sudah kuhasilkan, rasanya tak ada bedanya dengan sup biasanya, daging guritanya juga tak ada anehnya.

"Sssshh... Oppa... rasakan lagi... tak ada bedanya antara gurita basi dan gurita masih segar... rasanya sama saja..."

"Oh....benarkah!!" tanya Myungsoo

"Hum!!... tak ada bedanya.... cobalah..."

"KAU SAJA YANG COBA!!!... Ah... Jjankanman... hmmm gurita basi... murah harganya...dan kau bisa membuat sup dengan rasa gurita segar... Ara!!... Araseo.... terima kasih supnya... aku akan membagikannya ke teman-temanku... kalau besok mereka tidak sakit... dan kau tidak sakit. berarti sup gurita basi ini bisa kita jual hahahaha... ah... aku lupa... siapa namamu?" tanya Myungsoo sambil menuangkan satu panci sup gurita ke container kecil.

"Ara..." jawabku sambil terus menyaksikan apa saja yang dilakukan Myungsoo. Pria itu bila memikirkan uang, cepat sekali ingatnya.

"Hmm??" tanya Myungsoo sambil melepaskan kaosnya di depanku, apakah aku harus menutup mataku? atau aku harus menyaksikan abs yang begitu sempurna di depanku. Tapi terlambat, Myungsoo cepat-cepat memakai kaos yang baru, yang diambil dari bak cucian kotor.

"Hmmm?" tanyaku bingung.

"Siapa namamu?" tanya Myungsoo lagi.

"Ara... Namaku Bo Ara..."

"Oh... iya... Ara.... Oppa... akan kembali besok pagi... kalau sup ini laku malam ini... besok siang kita akan belanja gurita basi di pasar.... Annyeong... jangan lupa kunci pintunya...jangan sampai ada orang asing masuk ke rumah saat aku tak ada di rumah" kata Myungsoo sambil menggosok kepalaku. mengacaukan rambutku.

"Ye... Oppa..." kataku sambil melirik sosok pria tampan bernama Myungsoo yang langsung menghilang dari balik pintu.

Aku terdiam selama beberapa menit.
Tiba-tiba ada yang mengalir keluar dari hidungku.
Warna merah...
Ya...
Darah...

"AAAAAAAAAAAH!!!!!! MINJUNG!!!!!!!! Aku...... tak sengaja melihatnya Minjung.... Minjung... maafkan aku... aku suka Abs kakakmu hahahaha..... Oh... Abs.... hahahahaha!!!! AHHHH!!!! naneun salang-e ppajyeoissge!!!" Teriakku kegirangan.

To be continue

Fanfiction Diary Part 4


Songfiction "Diary"

Maincast : L Myungsoo and You

Genre : Flash Love

Location : Seoul



***

Abs Myungsoo masih terbayang di benakku, dan malam ini aku begitu gelisah, tak bisa tidur, tenagaku masih terlalu banyak untuk diajak tidur. Maka kuputuskan untuk mencuci semua baju Myungsoo malam ini juga. Karena aku yakin, sup gurita basi satu container kecil yang dibawa Myungsoo pasti laku, dan besok kami berdua akan membeli gurita basi sebanyak-banyaknya di pasar.

Woah... aku hebat kalau memprediksi ya? hihihi. Kutendang-tendang jaket Myungsoo yang sudah bau di bak. Kutambahkan lagi detergen dan menginjaknya lagi dengan senang hati.

"Ssstt... hei..." panggil seseorang di belakangku. Berbalik dan melihat siapa malam-malam seperti ini yang masih bangun dan iseng menyapaku. Ternyata Ahjumma tadi siang. Wanita itu tampak ramah, ia berjalan ke meja dekat balkon, lalu meletakkan satu kotak berwarna ungu.

"Ye.. Ahjumma" kataku sambil mencuci tanganku lalu kulihat apa yang dibawa ahjumma.

"Jangan dibuka!!... itu khusus buat Myungsoo" teriak Ahjumma sambil memukul tanganku.

"Oh... baiklah..."

"itu Kimchi buatanku, Myungsoo selalu memesannya... kalau kau membuka tutupnya.. bagaimana bisa berfermentasi dengan sempurna? eoh...? auh... !!" kata Ahjumma kali ini sambil memukul kepalaku dengan lembut.

"Ehehe... iya Ahjumma.. mianhae..." kataku sambil membawa kotak ungu ke dalam rumah.

"Bagaimana?!! Myungsoo sudah menerimamu!!" tanya Ahjumma sambil berteriak dari luar, aku pun bergegas keluar rumah, agar Ahjumma tak teriak-teriak di tengah malam, hanya untuk membicarakan hal yang sepele.

"Yee.. Ahjumma... Minjung... juga sudah membolehkan aku tinggal sementara disini..." kataku sambil melanjutkan menginjak-injak baju Myungsoo.

"Auh.... tinggal satu rumah dengan seorang pria... ahss... apa kau tak takut? dia menodaimu?" tanya Ahjumma terlalu usil.

"hehehe... aku bukan wanita seperti itu Ahjumma... ah... terima kasih telah mengkhawatirkanku.." kataku sambil menundukkan badan tanda terima kasih pada orang yang lebih tua.

"Aigooo... aku khawatir Myungsoo melukaimu atau memperlakukanmu dengan kasar... anak itu mulai agak-agak gila setelah setengah tahun yang lalu ia mengalami kecelakaan..... ia sering lupa ingatan... sering bertindak kasar... tapi lebih sering bersikap baik... sudahlah... aku pulang dulu... bilang pada Myungsoo... kimchinya 14.600 won... ah siapa namamu?"

"Ara.... akan kubayar Kimchinya ahjumma..." kataku sambil memberikan lembaran uang 15.000 Won pada Ahjumma yang sedari tadi selalu menelisikku.

"Aigoo... terima kasih... tapi aku tak punya uang kembalian" kata Ahjumma sambil merogoh kantongnya.

"Sisahnya untuk Ahjumma saja... "

"Benarkah??"

"Yee... Ahjumma... tapi katakan padaku... Myungsoo... kapan ia mengalami kecelakaan itu... ? bisakah kau ceritakan padaku?"

"Hmmm... apa kau tertarik pada Myungsoo? hingga mau mendengar semua tentangnya? ah... sudah kukira... hahaha" kata Ahjumma sambil menampar wajahku.

"Setengah tahun yang lalu... Minjung masuk penjara... dan ahjumma bilang Myungsoo mengalami kecelakaan.. apakah itu kejadian yang sama?" Wajah Ahjumma yang tadi ceria, kini berubah menjadi sedikit sendu, ia hapus airmatanya yang tak sedikit keluar dari kelopak matanya.

"Hmmmm... Ahjumma... apa aku salah menanyakan sesuatu?" tanyaku lagi, salah tingkah.

"Hari itu... Myungsoo bersama suamiku dan adiknya Minjung... akan pergi ke pasar membeli peralatan baru untuk rumah seni mereka. Myungsoo... dan Minjung sudah kuanggap sebagai anakku sendiri... mereka sering menghabiskan waktu di rumahku. Hari itu peristiwa itu terjadi... mobil yang mereka pakai mengalami kecelakaan beruntun, dan Minjung menjadi tersangka utama. Karena saat itu ia lah yang mengendarai mobilnya... Suamiku sudah meninggal... dan selama 2 bulan aku susah payah merawat Myungsoo..."

"Ahjumma...."

"Sudah... aku harus kembali... jangan lupa matikan lampunya kalau kau selesai mencuci... pompanya juga jangan lupa di tutup. tagihan akan semakin melunjak saat kau lupa menutup pompanya... Ara..." kata Ahjumma sambil bangkit dari tempat duduknya.

"Ahjumma... kalau kau menganggap Myungsoo dan Minjung... adalah anakmu...mau kah kau juga menganggapku sebagai anakmu?... karena saat ini aku juga tak punya orang tua... mereka semua meninggal... mereka meninggalkan aku sendirian di dunia ini Ahjumma... padahal... aku masih ingin bersama mereka...."

Tak terasa Ahjumma memelukku, lalu berlalu meninggalkan aku yang masih menangisi nasibku sendiri. Myungsoo, Minjung... rupanya kalian sama sepertiku, kehidupan kita memang harus seperti ini, dan entah mengapa... aku senang bertemu dengan kalian semua di keadaan kehidupanku yang seperti ini.

To be continue

Fanfiction Tomorrow Part 7


Fanfiction TOMORROW

Author : AyunaKusuma

Genre : Drama, Romance.

Maincast :

Minji : You
Micky Yoochun : Yochun
Jaejoong : Jae
Cheska Fiestar : Cheska
Jei Fiestar : Jei
Jang Geun Suk : Geun

Location : LA + Seoul


Yang belum pernah baca... Ayo baca mulai dari awal ^_____^

***


Little Italy masih seperti dulu, ramai dengan pengunjung yang ingin berbelanja, toko dan butik mulai berkembang pesat, Butik milik Jae pun seperti itu, cafe yang letaknya di sebelah butik, telah dibelinya dan dirubah menjadi butik cafe yang bersinergi.

Hari ini, Jae akan pulang ke Korea, tiket pesawat, ia masukkan ke dalam jas. Secangkir kopi ia teguk perlahan. Dua wanita duduk dengan tergesa-gesa di hadapannya.

"Oppa.... pokoknya aku harus ikut denganmu..." kata wanita yang berambut panjang.

"Jei... kau sudah memutuskan untuk membantuku di LA, berarti kau sudah berniat menggantikanku disini kan? aku ingin kembali... kau ikut kembali... dasar kau ini!!" bentak Jae sambil pura-pura memukul wanita muda yang cemberut di hadapannya.

"Jae.... sudah... jangan membentak adikmu... Kau juga... minggu kemarin kau baru saja datang... sekarang merengek ingin pulang lagi... apa sebenarnya maumu hah? apa kau mau menguras uang ibumu ini hah? auh..." tanya Wanita tua yang masih cantik, yang ternyata ibu Jae dan Jei.

"Aaaa... Eomma.... aku masih merindukan kakakku... apa salah kalau sebelum Jae menikah, aku ingin selalu bersamanya? eoh... kapan lagi aku bisa tidur sekamar dengannya? eoh? kalau dia sudah menikah... pasti dia tidur dengan istrinya..."

"Ommo!!! YAAAAAAA!!!" pukul ibu Jei. "Kau ini!!! Memalukan...!! Apa kau menderita sister complex hah?? Jangan Jae... jangan ajak dia bersamamu... bahaya... Eomma akan memeriksakannya ke rumah sakit besok... hehehehe"

"EOMMA!!!!!! Usiaku masih 17 tahun... masih pantas tidur sekamar dengan Jae!!... Aigoo!!! lagipula... kekasihku lebih tampan... MAX lebih tampan darimu!!!" teriak Jei tak mau kalah, ulahnya semakin membuat ibu dan kakaknya semakin terhibur.

"Hmmmm... tinggallah disini... Jei... temani Eomma... aku akan kembali secepatnya membawa kakak iparmu..." celetuk Jae sambil menahan senyum

"Eomma... lihatlah... anakmu yang satu itu rupanya sudah jatuh cinta... hahaha.. apa kau setuju Jae mendapatkan istri orang Korea Eomma?... awas Oppa... kalau calon istrimu kurang cantik... aku dan eomma... tidak akan terima..." kata Jei sambil bergelayut di pundak ibunya.

"Sssttt..." kata ibu Jei sambil membungkam bibir tipis anak perempuannya. "Jaga bicaramu... hummm... Biarlah kakakmu memilih sesukanya... asal calon istrinya bisa bersikap baik padaku dan dirimu... itu sudah cukup... cantik itu relatif... iya kan Jae? kapan kau akan berangkat? bukankah ini sudah pukul 1 siang?"

"Pesawatnya di undur dua jam lagi... jadi masih banyak waktu untuk mengobrol dengan kalian berdua... Ah... Jei... kau tak perlu khawatir... gadis yang membuatku jatuh cinta... ia memiliki wajah yang cantik... tak kalah cantiknya dengan kalian berdua... Minji... selama di Korea... aku akan berusaha membuatnya jatuh cinta padaku... karena malam itu... dia sudah membuatku mengingatnya sampai hari ini" kata Jae sambil menatap jalanan Little Italy yang sudah tampak ramai kembali. "Aku berjanji pada diriku sendiri... aku akan menikahinya dan membawanya ke Little Italy... dan kita berempat... bisa hidup bahagia disini..."

***

"Minji!!!! cepat!!! kita harus berangkat sekarang!!" teriak Yochun sambil mendobrak pintu kamar mandi Minji.

"Sebentar!!!!!!!!!" teriak Minji dari kamar mandi.

"Apa sebenarnya yang kau lakukan hah.... Aigooo... Beberapa tallent pasti menunggu kita sekarang!!!"

Pintu kamar mandi pun terbuka, Minji muncul dengan wajah yang penuh warna, bibirnya memerah, matanya tampak lebih berwarna dengan eyeshadow pelangi. Yochun pun sontak tertawa melihat kekasihnya tiba-tiba berdandan seperti itu.

"Ya.... hahahaha... Minji?"

"Kenapa? ada apa? apa aku terlihat konyol?"

"Hahahaha... humm... kau terlihat konyol... ada apa denganmu? hum?" tanya Yochun sambil menyeka make up Minji dengaan sapu tangannya.

"Aku ingin terlihat cantik di hadapan para talent..." kata Minji membiarkan kekasihnya menghapus make upnya.

"Aku tahu... kau ingin terllihat cantik dihadapan Jae... Dia akan datang malam ini... kalau kau ingin terlihat cantik... bukan seperti ini caranya... jadilah Minji yang seperti biasanya... humm..."

"Yochun.... aku berjanji tak akan berpaling darimu... aku... aku ingin terlihat cantik di hadapan talent... bukan Jae..."

"Tak perlu menyangkal seperti itu... kau seperti gadis bodoh kalau menyangkal... jujurlah padaku... Minji... suatu saat aku akan melepaskanmu... demi kebahagiaanmu... selama kita menjadi sepasang kekasih... aku tahu... kau sangat memaksakan perasaanmu... mungkin inilah saatnya aku melepaskanmu... Jae mungkin kembali untukmu"

"Huh....!! Yaaaaaaaaaa.. Yochun... kau ingin membuatku menangis hah??? jangan bodoh... kau ingin melepaskanku!!! tak akan kubiarkan!!! hahahaha" kata Minji sambil naik ke atas punggung Yochun.

"Oppaaaa!!! berangkat sekarang!!!"

"Ommoo... berat sekali... besok kau harus mulai diet... arra?"

"Yeeee... Arraseo Oppa...." kata Minji sambil menyandarkan kepalanya ke kepala Yochun.

"Oppa...." bisik Minji

"Humm?"
"Jangan pernah lepaskan aku.... karena... aku mulai tak ingin kehilanganmu... cintaku mulai menumpuk di hati... cinta untukmu... bukan untuk yang lainnya" bisik Minji

***

"AWAS KAU NUNA!!!!!!!!!!!!!! Kau harus menerima pembalasanku.!!!" Teriak Geun ketika ia menikmati makan siangnya sendirian di atap perusahaan.

"Mwooo??... Geun... Nuna? siapa yang kau maksud? Minji Nuna?" tanya Cheska sambil duduk di sebelah Geun, sahabatnya di dunia game.

"Hum... dia sudah membuatku malu... aku tak sanggup bersosialita sekarang... semua orang tahu wajahku... mereka bilang... oh... kau pria cabul yang di fashion show kan? huaaaaaaaaa...... bahkan... ibuku tak mau mengakui aku sebagai anaknya..."

"Kau ingin membalas Nuna??... aku beritahu caranya... buat hubungannya dengan YOCHUN dan JAE semakin rumit... hihihihi... ah... jangan lupa... buat ia putus dengan Yochun... karna aku sudah lama tertarik pada oppa... humm.. hum... bagaimana?"

"Okey... aku setuju... tapi.... ada tarifnya... 400.000 won... bagaimana..? kau dapatkan Yochun... dan aku dapat 400.000 won darimu...? uhmm?" tawar Geun.

"KAU INGIN MERAMPOK ATAU MINTA BAYARAN HAH!!! HAH!!! DASAR GEUN!!! Tidak jadi... aku tidak mau bekerjasama denganmu... AUH!!!!!" Bentak Cheska sambil memukuli Geun dengan bungkusan isi kimbab yang dibawanya, lalu berlari menjauhi Geun yang kesakitan.

"CHESKAAAAAAAA!!! 300.000WON!!!!! AH... 200.000 WON SAJA!!!!!! Diskon 10% BAGAIMANA!!!!!!!!!"

"YAAAAAAA JUGULEEE!!!!!!!" Teriak Cheska sambil melempar sepatunya ke arah Geun
 
Layanan untuk Anda: x Cerita dari Kusuma | - | dari - | Lihat dalam Versi Seluler