- - - - . - - | Facebook | Twitter | GPlus |
Tampilkan postingan dengan label Sunggyu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sunggyu. Tampilkan semua postingan

Fanfiction Diary Part 3



Songfiction "Diary"

Maincast : L Myungsoo and You

Genre : Flash Love

Location : Seoul

***

Aroma sup gurita yang bercitarasa menyerebak ke seluruh rumah, menggantikan bau pengap yang tadi memenuhi rumah. Setelah kutata di meja makan, nasi, sup gurita seadanya, kimchi dan berbagai teman pendamping lainnya. Ini waktunya aku membangunkan Myungsoo. Pria itu pasti akan bangga denganku, hihihi... pendatang baru yang bisa menyesuaikan diri dengan cepat.

Sambil memasak, aku juga membersihkan semua ruangan, mengumpulkan cucian menjadi beberapa bak, hari sudah larut malam, besok aku berjanji pada diriku sendiri akan mencuci semua pakaian Myungsoo yang tergeletak disana sini.

Myungsoo masih tidur di meja balkon, wajahnya yang tirus tampak indah dibawah sinar rembulan. Ia tampak nyaman tidur disana, walaupun udaranya dingin, ia tetap tidur nyenyak.

"Myungsoo.... ssshh.... Myungsoo... bangun..." kataku sambil menggoyang jempol kakinya yang muncul dari lubang kaos kaki yang robek-robek. Myungsoo diam saja tak bergerak.

"Myungsoo... aku sudah memasakkan sup gurita untukmu... ayo bangun... makan dulu baru tidur lagi... ayo..." kataku mulai gelisah. Karena sedari tadi sepertinya ada yang sedang mengawasiku dengan Myungsoo.

"huuuueemmm....." kata Myungsoo sambil membalikkan badannya "Ada apa?" tanya pria itu sambil menggosok matanya.

"Sup gurita... hehe... aku sudah memasakkannya spesial untuk pemilik rumah yang mau menampungku... ayo kita makan..." kataku sambil memberanikan diri membuka selimut Myungsoo.

"AH!!! Apa yang kau lakukan!!! Siapa kau!!!" tanya Myungsoo sambil merebut selimutnya dari tanganku.

"Eeeh...? aku... teman Minjung.... teman dari penjara... kau lupa? kau pusing? atau sakit? hmmm" sontak aku kebingungan. Bagaimana ini? bagaimana bisa Myungsoo secepat itu lupa, padahal hanya 3 jam ia tidur, tatapan matanya pun sudah lain dari sebelumnya. ia menatapku penuh curiga kali ini.

"Minjung... ah.... iya aku lupa.... lalu bagaimana bisa kau masuk ke rumahku?? HAH!!" bentak Myungsoo

"Ah.... Kau tadi memberiku kunci rumah, dan kau sendiri yang bilang... kalau aku boleh tinggal disini... lantai atas itu kamarku... aku sudah membersihkan isi rumahmu... dan memasakkanmu sup yang enak... Myungsoo apa kau lupa?? benar-benar lupa??" tanyaku kebingungan sambil memberikannya kunci rumah.

"Sudah bawa saja kuncinya... aku masih punya cadangannya.. AH!!! Aku lupa... mana celana dalam yang kugantung di situ!!" tanya Myungsoo lagi dengan nada membentak,

"Sudah kurapikan dan kumasukkan ke dalam box itu... supnya akan mendingin... kau tak tertarik untuk makan Myungsoo?" tanyaku sekali lagi.

"Hyaaa... Myungsoo... Myungsoo!! Kau pikir aku adikmu hah!!! panggil aku Oppa!!... Kajja Kita makan" kata Myungsoo sambil masuk ke rumah lebih dulu.

Saat masuk rumah, Myungsoo sepertinya terkejut melihat rumahnya terlihat bersih dari semula, ia tersenyum padaku berkali-kali, dan mengatakan kalau ide Minjung menempatkan aku di rumahnya rupanya ide yang luar biasa.

"Woaaaaah.... sup gurita... ini sup terlezat yang pernah kumakan..hihihi" kata Myungsoo

"Gomawo..."

"Darimana kau belajar memasak?" tanya Myungsoo lagi, sambil melahap kimchi yang ia ambil dari mangkuk.

"Di penjara... aku dan Minjung, sering belajar memasak di kantin penjara..."

"Hmmm... apa Minjung jadi gadis baik-baik disana? aku sempat khawatir ia kesepian disana... tapi setelah mendengar ia memiliki sahabat sepertimu... aku bisa lega..."

"huhuhum..."

"Maafkan kalau aku sempat tak mengenalimu... itu penyakit lamaku... ketika aku tertidur... lalu bangun... beberapa ingatanku terhapus... dan aku harus berusaha mengingatnya lagi..." kata Myungsoo.

"neunde munjega eobsgun-yo" gumamku sedikit malu.

"setidaknya... kau sudah tahu bagaimana harus hidup serumah dengan orang yang tiba-tiba menjadi amnesia sepertiku hehehe... Gurita ini enak sekali...kau dapat gurita darimana??" tanya Myungsoo sambil melahap gurita yang sudah matang.

"Dari lemari es..." jawabku merasa tersanjung

"WRRRRRRRROOOAAAH!!!" Myungsoo berhasil memuntahkan semua isi mulutnya di depanku. "KAU MEMASAK GURITA BASI!!! YAAAAAAA!!! BABO!!! Kau tahu itu BASI!!! kenapa kau masak juga hah!!!"

"Basi??"

"BASI!!! Kau bisa kau cium!! Gurita itu sudah di lemari es selama 1 bulan... ahsss!!!" kata Myungsoo sambil mengulurkan lidahnya lalu di cucinya dengan air soda.

Kucoba untuk merasakan lagi sup yang sudah kuhasilkan, rasanya tak ada bedanya dengan sup biasanya, daging guritanya juga tak ada anehnya.

"Sssshh... Oppa... rasakan lagi... tak ada bedanya antara gurita basi dan gurita masih segar... rasanya sama saja..."

"Oh....benarkah!!" tanya Myungsoo

"Hum!!... tak ada bedanya.... cobalah..."

"KAU SAJA YANG COBA!!!... Ah... Jjankanman... hmmm gurita basi... murah harganya...dan kau bisa membuat sup dengan rasa gurita segar... Ara!!... Araseo.... terima kasih supnya... aku akan membagikannya ke teman-temanku... kalau besok mereka tidak sakit... dan kau tidak sakit. berarti sup gurita basi ini bisa kita jual hahahaha... ah... aku lupa... siapa namamu?" tanya Myungsoo sambil menuangkan satu panci sup gurita ke container kecil.

"Ara..." jawabku sambil terus menyaksikan apa saja yang dilakukan Myungsoo. Pria itu bila memikirkan uang, cepat sekali ingatnya.

"Hmm??" tanya Myungsoo sambil melepaskan kaosnya di depanku, apakah aku harus menutup mataku? atau aku harus menyaksikan abs yang begitu sempurna di depanku. Tapi terlambat, Myungsoo cepat-cepat memakai kaos yang baru, yang diambil dari bak cucian kotor.

"Hmmm?" tanyaku bingung.

"Siapa namamu?" tanya Myungsoo lagi.

"Ara... Namaku Bo Ara..."

"Oh... iya... Ara.... Oppa... akan kembali besok pagi... kalau sup ini laku malam ini... besok siang kita akan belanja gurita basi di pasar.... Annyeong... jangan lupa kunci pintunya...jangan sampai ada orang asing masuk ke rumah saat aku tak ada di rumah" kata Myungsoo sambil menggosok kepalaku. mengacaukan rambutku.

"Ye... Oppa..." kataku sambil melirik sosok pria tampan bernama Myungsoo yang langsung menghilang dari balik pintu.

Aku terdiam selama beberapa menit.
Tiba-tiba ada yang mengalir keluar dari hidungku.
Warna merah...
Ya...
Darah...

"AAAAAAAAAAAH!!!!!! MINJUNG!!!!!!!! Aku...... tak sengaja melihatnya Minjung.... Minjung... maafkan aku... aku suka Abs kakakmu hahahaha..... Oh... Abs.... hahahahaha!!!! AHHHH!!!! naneun salang-e ppajyeoissge!!!" Teriakku kegirangan.

To be continue

Fanfiction Diary Part 4


Songfiction "Diary"

Maincast : L Myungsoo and You

Genre : Flash Love

Location : Seoul



***

Abs Myungsoo masih terbayang di benakku, dan malam ini aku begitu gelisah, tak bisa tidur, tenagaku masih terlalu banyak untuk diajak tidur. Maka kuputuskan untuk mencuci semua baju Myungsoo malam ini juga. Karena aku yakin, sup gurita basi satu container kecil yang dibawa Myungsoo pasti laku, dan besok kami berdua akan membeli gurita basi sebanyak-banyaknya di pasar.

Woah... aku hebat kalau memprediksi ya? hihihi. Kutendang-tendang jaket Myungsoo yang sudah bau di bak. Kutambahkan lagi detergen dan menginjaknya lagi dengan senang hati.

"Ssstt... hei..." panggil seseorang di belakangku. Berbalik dan melihat siapa malam-malam seperti ini yang masih bangun dan iseng menyapaku. Ternyata Ahjumma tadi siang. Wanita itu tampak ramah, ia berjalan ke meja dekat balkon, lalu meletakkan satu kotak berwarna ungu.

"Ye.. Ahjumma" kataku sambil mencuci tanganku lalu kulihat apa yang dibawa ahjumma.

"Jangan dibuka!!... itu khusus buat Myungsoo" teriak Ahjumma sambil memukul tanganku.

"Oh... baiklah..."

"itu Kimchi buatanku, Myungsoo selalu memesannya... kalau kau membuka tutupnya.. bagaimana bisa berfermentasi dengan sempurna? eoh...? auh... !!" kata Ahjumma kali ini sambil memukul kepalaku dengan lembut.

"Ehehe... iya Ahjumma.. mianhae..." kataku sambil membawa kotak ungu ke dalam rumah.

"Bagaimana?!! Myungsoo sudah menerimamu!!" tanya Ahjumma sambil berteriak dari luar, aku pun bergegas keluar rumah, agar Ahjumma tak teriak-teriak di tengah malam, hanya untuk membicarakan hal yang sepele.

"Yee.. Ahjumma... Minjung... juga sudah membolehkan aku tinggal sementara disini..." kataku sambil melanjutkan menginjak-injak baju Myungsoo.

"Auh.... tinggal satu rumah dengan seorang pria... ahss... apa kau tak takut? dia menodaimu?" tanya Ahjumma terlalu usil.

"hehehe... aku bukan wanita seperti itu Ahjumma... ah... terima kasih telah mengkhawatirkanku.." kataku sambil menundukkan badan tanda terima kasih pada orang yang lebih tua.

"Aigooo... aku khawatir Myungsoo melukaimu atau memperlakukanmu dengan kasar... anak itu mulai agak-agak gila setelah setengah tahun yang lalu ia mengalami kecelakaan..... ia sering lupa ingatan... sering bertindak kasar... tapi lebih sering bersikap baik... sudahlah... aku pulang dulu... bilang pada Myungsoo... kimchinya 14.600 won... ah siapa namamu?"

"Ara.... akan kubayar Kimchinya ahjumma..." kataku sambil memberikan lembaran uang 15.000 Won pada Ahjumma yang sedari tadi selalu menelisikku.

"Aigoo... terima kasih... tapi aku tak punya uang kembalian" kata Ahjumma sambil merogoh kantongnya.

"Sisahnya untuk Ahjumma saja... "

"Benarkah??"

"Yee... Ahjumma... tapi katakan padaku... Myungsoo... kapan ia mengalami kecelakaan itu... ? bisakah kau ceritakan padaku?"

"Hmmm... apa kau tertarik pada Myungsoo? hingga mau mendengar semua tentangnya? ah... sudah kukira... hahaha" kata Ahjumma sambil menampar wajahku.

"Setengah tahun yang lalu... Minjung masuk penjara... dan ahjumma bilang Myungsoo mengalami kecelakaan.. apakah itu kejadian yang sama?" Wajah Ahjumma yang tadi ceria, kini berubah menjadi sedikit sendu, ia hapus airmatanya yang tak sedikit keluar dari kelopak matanya.

"Hmmmm... Ahjumma... apa aku salah menanyakan sesuatu?" tanyaku lagi, salah tingkah.

"Hari itu... Myungsoo bersama suamiku dan adiknya Minjung... akan pergi ke pasar membeli peralatan baru untuk rumah seni mereka. Myungsoo... dan Minjung sudah kuanggap sebagai anakku sendiri... mereka sering menghabiskan waktu di rumahku. Hari itu peristiwa itu terjadi... mobil yang mereka pakai mengalami kecelakaan beruntun, dan Minjung menjadi tersangka utama. Karena saat itu ia lah yang mengendarai mobilnya... Suamiku sudah meninggal... dan selama 2 bulan aku susah payah merawat Myungsoo..."

"Ahjumma...."

"Sudah... aku harus kembali... jangan lupa matikan lampunya kalau kau selesai mencuci... pompanya juga jangan lupa di tutup. tagihan akan semakin melunjak saat kau lupa menutup pompanya... Ara..." kata Ahjumma sambil bangkit dari tempat duduknya.

"Ahjumma... kalau kau menganggap Myungsoo dan Minjung... adalah anakmu...mau kah kau juga menganggapku sebagai anakmu?... karena saat ini aku juga tak punya orang tua... mereka semua meninggal... mereka meninggalkan aku sendirian di dunia ini Ahjumma... padahal... aku masih ingin bersama mereka...."

Tak terasa Ahjumma memelukku, lalu berlalu meninggalkan aku yang masih menangisi nasibku sendiri. Myungsoo, Minjung... rupanya kalian sama sepertiku, kehidupan kita memang harus seperti ini, dan entah mengapa... aku senang bertemu dengan kalian semua di keadaan kehidupanku yang seperti ini.

To be continue

Fanfiction Diary Part 5

Songfiction "Diary"

Maincast : L Myungsoo and You

Genre : Flash Love

Location : Seoul


***

Sayup-sayup terdengar suara pria bernyanyi, karena keadaanku sangat lelah, semalaman mencuci 4 bak berisi baju kotor milik Myungsoo, kubiarkan saja siapa saja yang menyanyi di depanku. Suaranya yang lembut mampu membuatku tenang dan kembali tidur.

Tak berapa lama, ada yang mencoba mengangkat selimutku, kucoba tak bangun, hanya mengintip siapa yang begitu perhatian mau membenarkan letak selimutku.

"onjong-il geudaega nae meoli sog-eseo hwanhage naleul bomyeo usgo issneyo geudaedo gakkeumssig nal saeng-gaghaneunji oneulbam geudae saeng-gag jam mos ilujyo" Myungsoo lah yang menyanyi di pagi buta, Myungsoo lah yang membenarkan letak selimutku, dan ia lah yang ingin membelai rambutku tapi cepat-cepat ia urungkan niatnya.

Ia tak tahu aku sudah terjaga oleh nyanyiannya yang merdu. Myungsoo terlihat sibuk mengumpulkan cucian yang sudah kering, lalu ia timbun diatas tubuhku yang hanya berselimutkan bad cover tipis. Aku memang sengaja tidur di meja bawah jemuran, di tempat Myungsoo tidur. Menggunakan kamar Myungsoo tanpa izin terlebih dulu mungkin saja bisa membuat dirinya sebal. Apalagi keadaan Myungsoo yang sering lupa ingatan, bisa-bisa aku harus menjelaskan lagi kronologi dari awal.

Ia akhirnya menumpuk semua cucian diatas tubuhku, lalu ia tata seperti selimut. Rasanya semakin hangat, dan berat.

"Hehehe... kalau seperti ini kau tak akan kedinginan.... tidurlah... aku juga akan tidur setengah jam saja... setelah itu kita akan belanja gurita basi di pasar..." kata Myungsoo sambil menutupi leherku dengan kaos miliknya.

Myungsoo pun melakukan hal yang sama pada dirinya, ia timbun cucian kering lainnya di atas tubuhnya, Myungsoo memilih berbaring di teras rumah yang tak kalah dinginnya.

Sup gurita basi, berjanjilah... kau harus laku nanti siang, bantulah Myungsoo mengumpulkan uang, agar ia bisa membayar denda ke Pengadilan, lalu Minjung bisa dibebaskan tanpa syarat.

Sejenak, aku lupa bagaimana keadaanku sebenarnya. Pembunuh keluargaku yang sebenarnya, siapa mereka? apakah aku harus mencarinya? bagaimana caranya? aku sama sekali tak tahu masalah apa yang terjadi pada keluargaku, hingga ada orang yang tega membunuh semua keluargaku.

Selama ini, aku terlalu egois dengan duniaku sendiri, hingga aku tak mau peduli apa yang terjadi di rumah. Kembali ke rumah, tempat pembunuhan itu, mungkin kunci utama, bagaimana aku bisa menemukan pembunuh sebenarnya.

Tapi aku terlalu takut kembali ke sana, kunci rumah masih kubawa, rumah itupun masih milikku, tapi aku tak bisa kembali ke sana dan berpikir tak pernah terjadi apa-apa. Ini terlalu berat untukku.

"AAAAAAAAHHHSSS!!!!!" Tiba-tiba Myungsoo bangun dan berteriak sambil memegangi kepalanya. "Yaaaaa!!! Bagaimana aku bisa lupa!!! Handphoneku... dimana kutaruh tadi ya??!!" Ia pun mulai mencari-cari handphonenya di semua tempat, termasuk di timbunan baju yang berada diatasku.

"Hasssh!!!! Handphoneku.... hmmmm... mianhae.... aku harus mencari handphoneku... kuharap kau mengerti" kata Myungsoo sambil merogoh ke dalam tumpukkan baju.

"Mungkin handphoneku jatuh disini.... ssssttt... kau tidur saja... jangan bangun arra..." kata Myungsoo sambil membolak balik baju diatasku.

"AAAAAAA!!!!!!!!!!!!" teriakku ketika tangan Myungsoo hampir saja menyentuh daerah terlarang yang terhalangi selimut, walaupun begitu aku tetap shock. "YAAAAA!!! Kau sengaja HAH!??!!?" bentakku, sambil bangun dan menjauh dari Myungsoo.

"Mianhae... aku... aku hanya mencari handphoneku... mianhae... mianhae Ara..." kata Myungsoo sambil berlutut di depanku.

"Ya...... kau sengaja eoh!!..."

"Andwae.... andwae... mianhae..."

"Handphonemu... ya... Oppa... kau bodoh eoh...!! handphonemu ada di dadamu... tundukkan kepalamu!!!" Myungsoo memang sudah kelewatan pelupa, handphone yang selama ini ia cari sebenarnya tergantung aman di lehernya.

"OH!!! hahaha.... akhirnya aku menemukannya..." kata Myungsoo sambil mengotak-atik handphonenya tanpa mempedulikan kemarahanku.

Sambil membereskan cucian bersih yang berantakan di lantai. Aku melihat Myungsoo yang tampak serius dengan handphonenya.

"Sebenarnya siapa yang kau hubungi sekarang oppa??" tanyaku pada Myungsoo yang sedang menunggu panggilan tersambung.

"Temanku akan meminjamkan mobilnya... untuk kita berjualan sup gurita.... aku harus mengambilnya... sekarang... agar kita bisa belanja gurita dan bahan yang lainnya... di pasar"

"Oppa... kau serius?? apa semalam sup guritanya laku?" tanyaku penasaran.

"LAKU!!! HAHAHAHA!!!" tawa Myungsoo "Ada sekitar 9 orang yang memakan sup guritamu. kutunggu sampai mereka tidur... kutunggu sampai mereka bangun lagi pagi tadi... mereka sama sekali tak muntah... mual... atau pusing... mereka masih sehat... rupanya sup guritamu lezat dan sehat, walaupun memakai gurita basi hahahaha"

"Jadi hari ini kita berjualan sup gurita?"

"Iya... maukah kau bekerja bersamaku?" tanya Myungsoo

"Humm... tapi ada syaratnya..."

"Apa itu?"

"Jangan pernah melakukan hal aneh seperti tadi... kalau kau lupa... kau harus mencoba mengingat-ingatnya lagi... bukan mencari barang di tempat yang sama sekali tak mungkin... ARRA!!!"

"Araaa... Araseo... hehehe" kata Myungsoo, sekilas aku sadar ia menatapku dengan cara yang lain "Yoboseyo... ah... Sunny... bisakah aku pinjam mobilmu? hmmm" Myungsoo pun berlalu dariku, sepertinya ada pembicaraan yang aku tak boleh tahu.

Tapi siapakah Sunny?.

Fanfiction Diary Part 6


Songfiction "Diary" Part 6

Maincast : Sunggyu, L Myungsoo and You

Genre : Flash Love

Location : Seoul

***

Tak tahu berapa lama lagi aku harus duduk berhadapan dengan Myungsoo tanpa sepatah kata keluar dari bibir kami berdua. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan untuk memulai sebuah pembicaraan. Karena suasana seperti ini selalu membuatku kebingungan, salah tingkah dan satu cara untuk mengakhiri suasana yang kaku, aku harus berdiri dan beranjak dari sini. Kulihat di belakang Myungsoo duduk, cucian bersih menumpuk. Ya.. aku harus merapikannya, daripada aku tidak punya pekerjaan dan diam berdua dengan Myungsoo seperti ini.

"Ah!!... Duduklah Ara..."

"Eh?" Myungsoo tiba-tiba menyuruhku duduk kembali, ia sepertinya kebingungan dengan apa saja yang ada di pikirannya.

"Iya... duduklah aku ingin bicara... tapi aku lupa... sebentar aku ingat-ingat dulu... sementara itu duduklah..." kata Myungsoo sambil memegangi kepalanya.

"Kau lupa sesuatu? Kau lupa kalau kita akan kepasar membeli gurita basi?" tanyaku

"Bukan... bukan itu... aku mengingat-ingat apa yang dikatakan Minjung setengah bulan yang lalu" kata Myungsoo sambil mengguncang-guncang kepalanya.

"Huh... hehe... kejadian satu jam yang lalu saja kau belum tentu ingat.. apalagi kejadian dua minggu yang lalu... sudahlah... selagi kau mengingat-ingat... aku akan membereskan bajumu" kataku sambil menggeser duduk Myungsoo. "bajumu ini harus selalu rapi Oppa... kalau tidak.. dewa keberuntungan tak pernah mau menemuimu" kataku sambil mulai melipat kemeja Myungsoo.

"Hmmmm...." Myungsoo masih berpikir keras sambil menatap lantai.

"Oppa... kalau boleh aku membantu...Dua minggu yang lalu Minjung mengatakan padaku... kalau kau mau membantuku menemukan orang yang membunuh Keluargaku... kata Minjung, temanmu itu... punya banyak koneksi di kepolisian... apa kau ingin mengingat hal itu???' Myungsoo berpaling kearahku, matanya berbinar, sambil memukul kepalanya.

"BAGAIMANA KAU INGAT!!??" teriaknya. "Hahaha... Iya... masalah itu... Sunny... dia bisa membantumu... sekaligus dia bisa membantuku meminjamkan mobilnya padaku untuk berjualan sup gurita di taman kota.. Sebentar lagi Sunny akan datang... kau katakan semuanya padanya ya... tentang masalahmu..."

"Tapi Oppa...."

"Ada apa?? Kau tak mau kubantu? Kau takut? Kau harus mencari pembunuh sebenarnya dan memenjarakannya... Enak sekali mereka!!! Memenjarakan keluarga korban!!! bukannya menangkap pembunuh yang sebenarnya!! Kau harus mencari keadilan Ara!!" kata Myungsoo berapi-api

"Yaaa... Oppa... aku tak mau berurusan lagi dengan polisi, mereka menakutkan dan licik... Aku hanya ingin tahu siapa yang membunuh keluargaku... itu saja..."

"Lalu?"

"Ya... hanya itu saja..."

"Ara... kau tak ingin balas dendam? Ibu dan Ayahmu... Juga adikmu mereka bunuh sesadis itu...kau tak punya rasa untuk balas dendam??" Airmataku jatuh seketika. Ingatan itu kembali memenuhi pikiranku.

Bagaimana Ayah dan Ibu tergeletak kehabisan darah, sedangkan adikku tergantung di pintu kamar. Benar... Myungsoo benar, aku harus balas dendam. Tapi... apakah aku bisa? Aku hanya gadis kecil yang tak tahu harus kemana?. Dan yang kuinginkan hanya kehidupan normal, bukan balas dendam. Kalaupun aku ingin mencari pembunuh sebenarnya, Aku ingin orang itu mengaku kepada dunia, kalau ia lah pembunuh sebenarnya. Aku hanya ingin membersihkan namaku dan nama keluargaku. Hanya itu.

"Ara..." panggil Myungsoo, ia nampak salah tingkah setelah mengetahui aku menangis pilu di hadapannya. "Jeongmal Mianhae... Ara..."

Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku.

"munjeeobs-eoyo..." gumamku.

"Ara... Mianhae... aku tak tahu... kalau..." Myungsoo menghentikan perkataannya, ketika seorang pria berlari dengan riang. Ia menghentikan langkahnya dihadapan kami berdua.

"Haaaaahh.... Fuuuuh.... Hampir saja aku dibunuh Ayahku... Ini... kunci mobilnya... kembalikan nanti jam 4 Sore" kata pria itu sambil melemparkan kunci ke arah Myungsoo.

Myungsoo hanya diam saja, ia kembali tertarik untuk menenangkanku.

"Ada apa ini? Myungsoo!! Siapa dia? Hei Yeoja... kenapa kau menangis ?" tanya Pria itu sambil berjongkok melihatku.

"Dia yang kuceritakan semalam" kata Myungsoo

"Ah... Ara.... teman Minjung di penjara... hei... jangan menangis... Aku bisa membantumu... Myungsoo sudah menceritakan semuanya padaku... kenalkan... aku Sunny... itu nama panggilanku... sebenarnya namaku Sunggyu...Aku akan membantumu"

"Ara...." Kami pun berjabat tangan, matanya hampir tenggelam ketika ia tersenyum padaku. Pria yang manis dan bersahabat, semoga saja ia tak pelupa seperti Myungsoo, akan hancur rencana semuanya ketika ada dua pria pelupa seperti Myungsoo yang membantuku. Pikiran itu membuatku tersenyum.

"Ah... Myungsoo... lihatlah... Ara sudah tersenyum hihihi... kau cantik kalau tersenyum... jangan menangis lagi Ara... Okey... kita jadi ke pasar membeli Gurita Basi?" tanya Sunny yang bersemangat.

"Arraaaaaaseooo" Kata Myungsoo "Ayo kita berangkat" Myungsoo pun menyambar tanganku, dan kami bertiga berangkat ke pasar, mencari gurita yang tak laku di jual. Semoga saja banyak gurita yang tak laku dijual hari ini.

"Ah.. Oppa... bagaimana dengan mencari pembunuh?" tanyaku pada Myungsoo yang masih mengenggam tanganku.

Ia mempercepat menuruni tangga, hingga aku hampir jatuh mengikutinya dibelakang.

"Nanti saja... sekarang kita selesaikan urusan gurita basi dulu... Arraseo?"

"Arra!!" teriakku

To be continue

Fanfiction Diary Part 7

 


Songfiction "Diary" Part 7

Maincast : Sunggyu, L Myungsoo and You

Genre : Flash Love

Location : Seoul

***

Selama di mobil, Sunny lebih banyak mengobrol dengan Myungsoo, dan aku sepertinya terpojokkan di jok paling belakang. Beberapa kali mereka tertawa terbahak-bahak, ingin sekali aku ikut tertawa, tapi ketika kucoba tertawa, Sunny menatapku dengan tatapan sinis yang tak semestinya. Atau aku saja yang terlalu sensitif ya?.

"Ara... apa saja yang kau perlukan tulis disini... nanti aku yang akan membelikannya untukmu..." kata Myungsoo sambil melemparkan note kecil dan pensil ke jok belakang. Dengan refleks yang cepat aku bisa menghindari lemparan note yang hampir saja mengenai wajahku.

"Maksudnya? yang kuperlukan?" tanyaku

"Iya... yang kau perlukan untuk memasak sup gurita... tulis semuanya..." kata Myungsoo, saat aku ingin menjawab, Oke siap!, Myungsoo terlanjur mengobrol lagi dengan Sunny yang menyetir di sebelahnya.

"Baiklah..." gumamku sambil menuliskan semua bumbu yang kuperlukan untuk membuat sup gurita basi, tanpa rasa basi.

Tak menunggu lama, Sunny menghentikan mobilnya, Kami sudah sampai di pasar ikan tradisional yang terkenal di Seoul. Myungsoo segera membuka pintu jok belakang. Ia menengadahkan tangannya didepanku.

"hah?" tanyaku sedikit kebingungan, dan kagum menatap wajah Myungsoo yang semakin hari semakin tampan.

"Mana... catatan bahan yang kau perlukan?"

"Oh... ini..." kataku sambil memberikan catatan diatas tangan Myungsoo. Ia menahan tubuhku saat aku ingin keluar dari mobil.

"Kau... tunggu saja disini... didalam bau amis... aku tak ingin gadis secantik dirimu bau amis... temani Sunny disini... ia sering merasa bosan, ajak ia bicara agar ia tak bosan... kalau bosan ia sering mengerikan... Arra...?" Jelas Myungsoo

Ia berlari masuk ke dalam pasar ikan, lalu pandanganku pindah ke arah Sunny yang duduk di jok depan, matanya kembali hilang saat ia tersenyum padaku.


"Ara... kajja... pindah ke depan... jangan duduk disana... sepertinya kita tidak berteman saja hehehe" Aku pun meloncat ke jok depan.

"Gomawo..." kataku.

"Untuk apa?"

"Kau mau membantuku... mencari pembunuh keluargaku... Sunny... apa kau bekerja di kepolisian?"

"Ayahku bekerja sebagai kepala detektif di Seoul, aku bisa mengajukan kasusmu padanya... hmmm... Myungsoo menceritakan padaku tadi... kalau kau gadis yang rajin... Ia juga menceritakan, kalau kau membersihkan semua bajunya... wah... benarkah?"

"Hummm iya..." kataku sedikit malu

"Kau sebuah keberuntungan bagi Myungsoo... aku yakin itu... sebelum kau datang... rumahnya hampir seperti tong sampah... tapi tadi kulihat begitu bersih dan mirip rumah"

"Hahahha... mirip rumah?... hmmm... Sunny... apa kau sudah lama mengenal Myungsoo?"

"Aku... sudah mengenalnya semenjak highschool, ia pria yang cerdas, tapi semenjak kecelakaan itu, kecerdasannya sedikit terganggu"

"Hmmm... benar... Ia sering lupa... Sunny... apakah Myungsoo sudah punya kekasih?"

"Hahahahahaha..... kau menyukainya?"

"Ah....... hahaha... andwae... hanya saja... aku khawatir, jangan-jangan ia melupakan kekasihnya saat bertemu ahahahaha"

"Ya...... itu tak mungkin... Kekasihnya sekarang ada dihadapanmu, ia tak akan lupa" kata Sunny membuatku bingung, dimana? apakah gadis itu bekerja di pasar ini? pantas Myungsoo tak mau aku ikut dengannya.

"Mana? apakah gadis itu bekerja di pasar ini Sunny?" tanyaku sambil melihat ke kanan dan kiri.

"Andwae... nal bwa bwa... aku kekasih Myungsoo..." kata Sunny sambil menyombongkan diri di depanku.

"WAAAAAE!!!" Teriakku shock.

"Maka dari itu... jangan sampai kau tertarik pada Myungsoo, atau aku tak akan membantumu..." ancam Sunny membuatku ketakutan

To be continue
 

Fanfiction Diary Part 8

Songfiction "Diary" Part 8

Maincast : Sunggyu, L Myungsoo and You

Genre : Flash Love

Location : Seoul


***

"Kau yakin?" tanyaku pada Sunny yang mulai terlihat menahan senyumnya. "Sunny... jangan membuatku bingung... benarkah kalian pernah melakukannya?" tanyaku sambil memperagakan ciuman ala kedua tangan.

"Melakukannya??? apa maksudmu hahahahahahahhaa" Sunny pun tertawa, matanya menghilang, tubuhnya berguncang-guncang, lalu ia pukul-pukul setir, melompat lompat, memegang perutnya. Kurasa ia sudah berhasil membodohiku.

"Sunny... kau baik-baik saja?" tanyaku sedikit khawatir.

"Hahahahahahahahaaaaaaaaaa. Aigooo... perutku sakit.... hahahahaha.... Ya.... Ara... kau mudah sekali kubodohi... lihat wajahmu... lucu sekali kalau terkejut hahaha... Anniya.... aku tak akan pernah mau melakukan itu dengan Myungsoo... dan aku tak akan pernah mau memiliki kekasih yang baunya seperti sampah... hahahahahaha" Sepertinya ada besi pemberat yang diangkat dari kepalaku, aku lega ternyata Sunny hanya bercanda denganku.

"Yaaaaa... kau jahat Sunny... hampir saja... hahahahaha" aku pun ikut tertawa dengannya.

"Mianhae... Ara... itu kebiasaanku... aku pria yang Jahil kan? dan perlu di ingat... aku pria yang normal... sebentar lagi aku akan menikah dengan kekasihku... wanita... bukan pria... kami akan menikah 2 bulan lagi..."

"Woaaaah... Chukae...." kataku sambil menyeka airmata bahagia yang tiba-tiba keluar karena banyak tertawa.

"Myungsoo... ia tak pernah tertarik untuk berurusan dengan cinta... Ia ingin membebaskan adiknya dulu... sebenarnya Myungsoo bekerja setiap hari hanya tidur beberapa jam saja, untuk mengumpulkan uang... agar cukup membayar denda ke pengadilan lalu membebaskan adiknya...Minjung"

"Hmmm... aku juga sudah bisa menduga hal itu.."

"Myungsoo sangat senang kau bisa tinggal di rumahnya. Ia bilang padaku, semenjak ada dirimu, ia sepertinya memiliki keluarga... dan Gurita basi yang kau hasilkan itu... ia bilang... ia bisa kaya kalau hidup denganmu..."

"Oh? begitukah?..."

"Hummm benar... seperti itu..." kata Sunny sambil memberikan jus apel dalam kemasan untukku.

"Namamu Sunggyu... tapi mengapa Myungsoo memanggilmu Sunny?"

"Myungsoo memanggilku Sunny setelah kecelakaan itu... ia selalu lupa namaku, lalu ia mengganti namaku menjadi Sunny, katanya, aku cerah seperti matahari... maka dari itu sekarang namaku Sunny... aku suka nama itu..."

"Aku juga mulai suka dengan Sunny... kau hampir membuatku shock tadi hehehe"

"Jaga dirimu... Ara... aku akan lebih jahil nanti... hehehehe"

"Hahahahaha.... aku akan berjaga-jaga mulai dari sekarang..." kataku, Sunny semakin tertawa setelah mendengar kataku.

"SUNNY!!!!!! Bantu aku!!!!!!" Teriak Myungsoo dari arah pasar, ia mendapatkan sekarung besar gurita basi, dan bahan segar lainnya.

"Okeeeey!!!" Teriak Sunny sambil turun dari mobilnya, mereka berdua memang sahabat yang aneh, si pelupa dan si jahil. Kehidupanku yang kelam sudah berlalu, dan semoga saja berganti dengan kehidupan yang penuh canda tawa diantara Sunny dan Myungsoo. Minjung... aku akan membantu Myungsoo mengumpulkan banyak uang untukmu. Kalau kau bebas, aku akan semakin bahagia, tak peduli dengan pembunuh keluargaku, hidup di tengah kalian semuanya... aku akan merasa begitu bahagia.

"BOOGH!! Jangan melamun Ara... pindah kebelakang..." perintah Myungsoo, akupun meloncat ke jok belakang tanpa turun dari mobil.

"YAAAAA!!! Bau sekali disini!!!"

"Gurita basi sebanyak itu tentu saja bau hahahahahaha" tawa Myungsoo, tawa yang menyejukkan hatiku, bau gurita basi yang menyengat tiba-tiba hilang seketika saat kupandangi wajah Myungsoo yang luar biasa tampan, walaupun wajahnya kotor dan penuh debu, aku masih bisa menikmati ketampanannya.
 
Layanan untuk Anda: x Cerita dari Kusuma | - | dari - | Lihat dalam Versi Seluler