Tampilkan postingan dengan label BTS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BTS. Tampilkan semua postingan

FF Oneshot : Are you really waiting me?


Oneshoot Fiction : Are you really waiting me?

"Sebelum/Sesudah membaca Fanfiction ini, budayakan share, Like, dan komentar. Terima kasih atas dukungannya"

Author : Ayuna Kusuma

Maincast : V and You

Genre : Randomly

***

Aku jenuh dengan semua rutinitasku, yang tak pernah bisa dihentikan, setiap hari aku harus pergi ke sekolah, siangnya aku harus pergi ke berbagai tempat untuk mengantarkan Kimbap untuk makan siang beberapa pekerja. Malamnya, aku hanya bisa tidur 3 jam, setelah itu aku harus kembali mengerjakan semua tugas, sekaligus pekerjaan sampingan sebagai editor sebuah majalah remaja di Seoul.

Terkadang, saat tengah malam aku sering tak tidur, waktu yang tersisah hanya 3 jam, dan itu cukup sedikit untuk tidur, aku lebih memilih berkeliling kompleks, hingga aku tertidur di taman mawar di taman dekat rumah, seperti biasa.

Malam ini, Ibu tak memasak, aku hanya sendirian di rumah, Ibu meninggalkan sepuluh ribu won diatas lemari es, dengan catatan "belilah makanan di luar, ibu pulang besok pagi, nenekmu minta di temani seharian"

Aku tahu pasti, ketika ibu mengatakan besok, berarti belum pasti besok ia akan pulang. Kurapikan semua pekerjaanku malam ini, lalu dengan jaket dan payung segera kunikmati jalan-jalan malam hari. Seperti biasa.

Malam ini, aku ingin sekali makan sosis balut keju yang dijual di kompleks perumahan sebelah. Kulangkahkan kakiku, berjalan mengitari rumah-rumah yang sudah mulai dimatikan lampunya. Tentu saja mereka sudah mulai tidur, jarum jam di jamtanganku, menunjukkan pukul 10 malam.

Segera kupercepat langkah kakiku, karena perutku yang kelaparan ini tak bisa diajak kompromi lagi. Ditengah jalan, ada seorang pria yang tergeletak ditengah jalan.

Kuhentikan langkahku, pria itu sepertinya tertidur di tengah jalan, atau, ia salah satu korban tabrak lari?, tapi tubuh dan wajahnya sama sekali tak ada luka yang serius.

"Hei..." kataku sambil menggerakkan tangannya. Pria itu tak bergerak sama sekali, kulihat rambutnya yang berwarna pink campur pirang, wajahnya yang berbentuk v sempurna, bibirnya yang seksi, ah... apakah pria ini sedang mabuk?

"Hei...." kucoba lagi menggerakkan bibirnya yang seksi dengan ranting kecil yang kuambil dari pinggir jalan. bibirnya yang tampak lembut tak bergerak sama sekali. Aku takut ia sudah menjadi mayat, dengan penuh rasa takut, akupun menunduk dan melihat apakah ia masih bernafas atau tidak. Leganya perasaanku, ketika kulihat dadanya yang bidang bergerak turun naik.

"hmmmppptt... Hei...Bangun... Kau siapa?" kataku sambil menggerakkan, rambutnya dengan ranting, lalu kumainkan pipinya yang terlihat lembut.

"Hei.... nanti ada mobil yang lewat... kau bisa mati... kajja bangun... apa kau perlu bantuan?" tanyaku lagi dengan nada yang lebih keras.

Pria itu pun membuka matanya yang indah, ia menatapku, detak jantungku tiba-tiba menjadi tak beraturan, tatapannya yang sinis membuatku salah tingkah, keringat tiba-tiba mengucur di dahiku.

"Bisakah kau tak mengganggu orang tidur?" tanya pria itu dengan suaranya yang sungguh istimewa. Baru kali ini aku mendengar pria yang memiliki suara gentle.

"Ah.... Hmmm..." Gumamku, aku tak tahu apa yang bisa kukatakan padanya, dan aku tak berani mengatakan apapun pada pria istimewa yang ada didepanku.

"Aku hanya mencoba tidur di jalan... tak akan ada mobil yang lewat... ini sudah pukul sepuluh lebih, semua jalan ke kompleks ini sudah di tutup. Tak ada mobil yang bisa keluar masuk.."

"hmmm.... " gumamku.

"Apa kau ingin duduk disitu sambil melihatku tidur?..." sindir pria itu, aku langsung berdiri dan membersihkan kaosku yang berdebu.

"Mianhae... mengganggu tidurmu..."

"Aku tidak ingin memaafkanmu begitu saja... Kenalkan..aku Kim Taehyung... aku baru pindah malam ini, kau bisa lihat rumah kecil di atas apartemen itu... itu rumahku..... tolong!!" katanya sambil mengulurkan tangannya padaku. Akupun menariknya hingga ia berdiri tepat di depanku.

"hmmm...."

"Ahhhh!!... rupanya... tidur di jalan kompleks ini lumayan..." kata Taehyung sambil membersihkan punggungnya dari debu.

"Lumayan?"

"Ya... Lumayan menyakitkan hahahahahahahaha" Ia pun tertawa dan memperlihatkan giginya yang tertata rapi padaku.

"Hehe... tentu saja... senang berkenalan denganmu..." kataku sambil berlalu darinya.

Berjalan sebentar mengitari blok, tak kusangka ternyata Taehyung mengikutiku dari belakang.

"Kau mengikutiku?" tanyaku sambil menunggu Taehyung.

"Tentu saja... hobiku jalan-jalan di malam hari... kau masih punya hutang denganku... membangunkan orang tidur adalah kesalahan yang tak bisa dimaafkan... tapi aku akan memaafkanmu kalau kau mau menemaniku jalan-jalan" kata Taehyung mendahuluiku

"Tapi aku harus beli makan malam dulu... bagaimana?"

"Oh!!! Benar-benar sebuah kebetulan... aku juga belum makan malam... Kajja... kita berangkat..." kata Taehyung sambil memimpin lebih dulu.

"Mianhae... tapi kau salah... bukan belok kiri... tapi belok kanan!" teriakku,

"Oh... hahahahahahahahaha" Taehyung pun tertawa lagi, memperlihatkan giginya yang manis padaku.

***

Malam itu, kami menikmati okonomiyaki bersaama, lalu berjalan sampai tengah malam. Banyak yang kami ceritakan, Taehyung banyak menceritakan tentang keluarganya, ia hanya tinggal dengan kakeknya semenjak kecil, Orangtuanya yang tinggal di Jepang, telah menitipkan Taehyung pada kakeknya, dengan alasan tak ingin direpotkan. Taehyung terlihat begitu kesepian dan hanya ada satu keinginan dalam benaknya. Ia ingin bertemu dengan kedua orang tuanya di Jepang.

Malam itu, menjadi permulaan pertemanan kami. Setiap malam aku selalu menunggu Taehyung di seberang apartement, tepat pukul 10 malam, aku selalu tidur di jalan kompleks, merasakan dinginnya malam, dan menatap indahnya bintang gemintang.

Terkadang Taehyung yang menungguku, ketika tugasku belum selesai juga, aku terpaksa datang pada pukul 12 malam. Taehyung tetap tidur di jalan kompleks, hingga suatu hari ia terserang flu karena kebiasaannya itu.

***

Malam ini, tugas sekolah dan kantor sudah kukerjakan dengan cepat, aku ingin mengatakan kalau bulan depan aku akan kuliah di tempat Taehyung, dan kita bisa bertemu di pagi hari, bukan hanya ditengah malam.

Dengan jaket dan sepatu boots, aku berlari menuju jalan kompleks tempat dimana Taehyung menghabiskan malamnya. Tepat sekali, pria istimewa yang sudah menjadi teman baruku itu masih tak lelah tidur di tengah jalan kompleks.

"Taehyung!!! Hehehehe" kataku sambil tidur di sebelahnya,

"Heehehehehehe... sudah makan? Aku membawakan kimbap... berjaga-jaga kalau kau belum makan" kata Taehyung sambil menaruh kotak yang hangat diatas perutku.

"Gomawoyoo...hehehee"

"Hummm hehehe....Bagaimana hari mu?"

"Menyenangkan... ah... Taehyung... aku punya kabar baik untukmu..."

"Aku juga punya kabar baik untukmu..." kata V sambil melirikku.

"Aku diterima di kampusmu... hehehehehe... setiap hari kita bisa bertemu Taehyung.... apa kau senang??"

"Ahmm.... Aku senang akhirnya kau bisa diterima di kampusku... Selamat.... hehehehehe"

"Apa kabar baik darimu Taehyung... cepat katakan padaku...."

"Tidak... itu bukan berita baik..." kata Taehyung tiba-tiba membuat suasana menjadi aneh, ia memandangi langit dengan penuh makna.

"Ada apa Taehyung? Apa ada masalah denganku? atau dirmu?"

"Ibu dan Ayahku...menyuruhku dan kakek untuk pindah ke Jepang, mereka mengatakan kalau sudah mendapatkan rumah yang lebih besar untuk kami berempat. dan Ayahku sudah menjadi komisaris di sebuah perusahaan, Ibuku sudah menjadi koki utama di sebuah hotel... penghasilan mereka sudah lumayan besar... maka dari itu... mereka menyuruhku pindah... Mereka sudah menyiapkan semuanya ternyata..."

"Lalu...."

"Besok pagi... aku harus pindah... ke Jepang... tapi setidaknya aku masih pindah ke Jepang, kita bisa saling berhubungan melalui telephone atau email, atau chat... iya kan?"

"Tapi... aku sudah berhasil masuk ke kampusmu Taehyung... bagaimana denganku?" tanyaku, tak terasa airmataku mengalir begitu deras, dadaku yang sesak menuntutku untuk menangis melepaskan semua rasa khawatir.

"Kau bisa mencari teman yang lain kan? ghehehehehe... yang lebih gila dariku... bagaimana?"

"Tidak akan sama... Taehyung... tidak akan sama...." kataku mulai histeris.

"Ada temanku yang suka tidur di tengah jalan seperti ku... nanti kukenalkan kau dengannya.... bagaimana?"

"Taehyung......Babo.... semua tak akan sama... apa kau tak bisa mengerti hal itu??"

"Sudah... hapus airmatamu... kalau ibumu tahu... aku bisa terkena masalah..." Kata Taehyung sambil menyeka airmataku, lalu mencubit pipiku. "Aku juga tahu semuanya tak akan pernah sama... akupun bingung saat ini... bagaimana aku bisa hidup tanpamu... teman yang selama ini memenuhi pikiranku..."

Kupikirkan lagi, Taehyung sudah lama menunggu saat-saat ini, bisa berkumpul dengan ibu dan ayahnya di Jepang. Aku tak bisa melarangnya begitu saja, mereka terlalu berharga dibanding dengan diriku.

"Taehyung...."

"Hmmm...."

"Pergilah... aku akan menunggumu... disini... asal suatu hari nanti... kau kembali untukku... kita tidur lagi di tengah jalan seperti ini... kita menikmati bintang seperti ini lagi... dan jalan-jalan di tengah malam lagi... dan kau harus berjanji... walaupun banyak gadis yang kau temui... ingatlah aku... arrasseo?"

"Kau yakin mau menungguku?" tanya Taehyung penuh keseriusan.

"Aku yakin bisa melakukannya..."

"Baiklah... kau boleh menungguku... tapi jangan pernah menangisiku... aku akan tinggal di jepang selama 4 tahun... Selama itu... kau harus menungguku... bagaimana? kau masih mau menungguku?"

"Aku akan menunggumu... sampai kau kembali kepadaku" kami pun saling bertatapan, Taehyung kembali memperlihatkan giginya yang indah.

"Hehehehehehe.... kau memang gadis yang pemberani... mau menunggu pria yang tak jelas sepertiku..." kata Taehyung lagi-lagi sambil mencubit pipiku.

"Untuk Taehyung... aku akan menunggu... walaupun hal itu sungguh menyebalkan..." kataku sambil mempermainkan bintang yang ada di hadapanku. Langit begitu indah dimalam yang menyakitkan yang seperti ini.

"Dan... untuk gadis yang selama ini memenuhi pikiranku... untuk gadis yang mau menungguku sampai aku kembali padanya... Aku berjanji... tak akan pernah membiarkan siapapun merebut tempatmu di pikiranku dan hatiku... Gomawoyo...nan jeongmal salang haeyo" gumam Taehyung sambil mencium pipiku yang semakin memerah dibuatnya.

The end

Fanfiction RUHAPPY? Part 1 BTS


Fanfiction : R U Happy Now? Part 2

Author : Ayuna Kusuma

Maincast : Jin and You

Genre : Flash Love

Pria bernama Suga yang memiliki suara paling istimewa yang pernah kudengar, masih tertidur lelap di pundakku. Pelan-pelan kuseka darahnya yang masih mengalir di dahinya. ada beberapa luka pukulan di kepalanya yang membuat pendarahan.

Dengkuran Suga yang halus membuatku tak sanggup membangunkannya. Padahal malam sudah mulai larut. Jarum jam dinding menunjukkan pukul 11 malam. Kereta terakhir sudah lewat. Bodohnya aku yang terus mempertahankan Suga yang tetap tidur di pundakku, daripada mengejar kereta yang terakhir.

Kalau saja kulepaskan pundakku, Suga akan terbangun, dan ia akan membenciku, tapi apa masalahnya kalau dia membenciku?, toh dia juga bukan temanku, dia hanya seorang murid yang berubah menjadi ganas ketika bersama gangnya.

Pikiranku bertempur seperti pertempuran Jin dan Suga tiga jam yang lalu. Jin dan Manji, bisakah mereka mengenaliku?. Kuharap mereka tak pernah mengenaliku. Lagipula aku hanya murid biasa, yang tak pernah punya masalah atau punya prestasi yang menonjol. Sehingga mencariku, mereka tak mungkin bisa.

"Uhmmm...." gumam Suga, ketika aku tak sengaja menyeka luka di kepalanya.

"mian..." gumamku. Akupun kembali duduk diam membatu. Memandangi stasiun yang sudah mulai sepi. Lampu di lorong stasiun sudah banyak yang mati. Hanya lampu di atas ku dan di seberang yang masih bertahan menyala.

"Ahhhmmmm...." Suga mengangkat kepalanya dari pundakku, ia memutar badannya ke kiri dan kekanan. Mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Bisa kudengar retakan tulang tangan dan punggung Suga. Ia berpaling kearahku. Melihatku yang sedang sibuk memijat pundakku yang mulai matirasa.

"Gomawo... Ahmmm... pukul berapa sekarang?" Suga kembali duduk di sampingku.

"11 malam... dan kereta terakhir sudah lewat beberapa menit yang lalu..." kataku yang hampir mirip sebuah keluhan.

"Kebetulan sekali... sebagai rasa terima kasihku... kuantarkan kau pulang..."

"Tapi..."

"Hmm??"

"Rumahku... jauh... sekali... hampir 15 km dari sini... kalau kau mengantarku menemaniku sampai ke rumah dengan jalan kaki... kita akan sampai besok pagi..." Kekhawatiran mulai mampir di kepalaku. Mengapa tak terpikir dari tadi?.

"Siapa yang bilang mengantarmu pakai jalan kaki? aku akan mengantarmu pakai itu..." kata Suga sambil menunjuk sebuah mobil Chevrolet terbaru berwarna merah.

"Oh!! benarkah?"

"Tentu saja... kita akan cepat sampai dengan yang satu itu... Kajja... cepat... sebelum kuantar kau pulang... ada yang ingin kubicarakan denganmu" kata Suga sambil menyeretku.

***

Di DomoIce Cafe. Suga membelikan banana split ice cream yang ukurannya lebih besar dari yang kuperkirakan. Suga mengatakan kalau ia akan menemaniku memakan ice creamnya.

Entah mengapa, sepertinya sedari tadi, ia selalu membuatku dag dig dug. Apa sebenarnya yang ingin ia katakan?. Aku masih menunggunya sambil memakan ice cream. Suga mengganti pakaiannya yang penuh dengan darah dengan kaos yang dibelinya di toko seberang cafe.

Tak perlu lama menunggu, Suga muncul di hadapanku, Ia terlihat lebih tampan dengan kaos hitam dan topi yang dikenakannya.

"Okey... to the point... Apa alasanmu berteriak menyelamatkanku tadi?"

"Hmmm?" kebingungan, itulah keadaanku saat ini, dengan sendok ice cream dimulut aku mencoba memikirkan apa alasanku sebenarnya.

"Jangan memakan sendok... menjijikkan" kata Suga sambil melepas sendok dari mulutku. Sungguh memalukan aku hanya bisa menjawabnya dengan "Ye..."

"Jadi sekarang jelaskan padaku... apa maksudmu sebenarnya? apakah Jin menyuruhmu untuk menyelamatkanku? lalu dekat denganku? buktinya aku ingin tidur di pundakmu kau sama sekali tak menolak... apa itu rencana mereka? menjadikanmu mata-mata ? lalu mencari kelemahanku??" Pertanyaan Suga semakin membuatku bingung.

"Eh...?" akupun kembali bertanya padanya "bisa kau ulangi lagi pertanyaannya?"

"hassshhh... intinya... apakah Jin menyuruhmu menyelamatkanku, lalu mendekatiku? lalu mencari kelemahanku? begitukah?"

"Hmmm aku tak tahu..."

"Kau kenal dengan Jin? Manji?"

"Aku tahu Manji... dia murid yang bermasalah di sekolahku... kalau Jin... aku tak pernah tahu... mungkin dia murid baru yang tadi siang masuk ke kelas A"

"Hmmm... Apa kau tahu nama Gang mereka?"

"Anioo.." jawabku sambil menggeleng karna kebingungan.

"Ahhh.... Untung saja... hehehe... kau bukan anggota mereka... hehehe... Kajja... makanlah... ini ice cream kesukaanku.." kata Suga sambil memasukkan satu scup ice cream ke mulutnya.

"Sebenarnya...."

"Mwooo???" Suga membuka mulutnya, hingga ice creamnya meleleh keluar dari mulutnya. "Ada apa? kau anggota Jin dan Manji?" kata Suga sambil menyeka mulutnya.

"Anniya... Sebenarnya... aku lapar... kalau makan ice cream saja... perutku akan sakit... bisakah aku pesan burger?" mendengar pertanyaanku, Suga tertawa lega, hingga matanya yang berbinar itu tenggelam tak nampak lagi.

"Hahahahaha.... kau ini... mengangetkanku saja... HAHAHAHAHA"

"Hehe.... bagaimana? bisakah kau belikan aku burger...? atau aku berhutang dulu padamu...Uang saku hari ini sudah habis hehe.."

"Untuk penyelamatku... apapun akan kubelikan... tunggu sebentar..." kata Suga, ia membawa menu makanan dan meninggalkan aku di meja makan.

Suga, untukku yang kau katakan penyelamatmu, apapun bisa kau belikan. Tapi bisakah kau berikan kesempatan padaku untuk lebih dekat denganmu?. Bibirku hanya tersenyum setelah pikiran itu lewat dikepalaku.

Tok Tok Tok....

Seorang pria memakai jaket hoodie hitam mengetok jendela disampingku. Ia menunjukku dan menyuruhku keluar. Aku sama sekali tak bisa melihat siapa pria itu. Karena diluar begitu gelap.

Pria diluar cafe semakin mendekatkan wajahnya, betapa terkejutnya aku, ketika kusadari pria itu ternyata Jin, anak baru yang pindah ke sekolahku, dan pria yang sama, yang bertempur dengan Suga tiga jam yang lalu.

"Keluarlah... Kemarilah sebentar..." katanya tanpa suara. Lalu senyum sadis itu membuatku semakin ketakutan. bagaimana ini?

To be continue

Fanfiction RUHAPPY? Part 2 BTS


Fanfiction : R U Happy Now? Part 2

Author : Ayuna Kusuma

Maincast : Jin and You

Genre : Flash Love

Pria bernama Suga yang memiliki suara paling istimewa yang pernah kudengar, masih tertidur lelap di pundakku. Pelan-pelan kuseka darahnya yang masih mengalir di dahinya. ada beberapa luka pukulan di kepalanya yang membuat pendarahan.

Dengkuran Suga yang halus membuatku tak sanggup membangunkannya. Padahal malam sudah mulai larut. Jarum jam dinding menunjukkan pukul 11 malam. Kereta terakhir sudah lewat. Bodohnya aku yang terus mempertahankan Suga yang tetap tidur di pundakku, daripada mengejar kereta yang terakhir.

Kalau saja kulepaskan pundakku, Suga akan terbangun, dan ia akan membenciku, tapi apa masalahnya kalau dia membenciku?, toh dia juga bukan temanku, dia hanya seorang murid yang berubah menjadi ganas ketika bersama gangnya.

Pikiranku bertempur seperti pertempuran Jin dan Suga tiga jam yang lalu. Jin dan Manji, bisakah mereka mengenaliku?. Kuharap mereka tak pernah mengenaliku. Lagipula aku hanya murid biasa, yang tak pernah punya masalah atau punya prestasi yang menonjol. Sehingga mencariku, mereka tak mungkin bisa.

"Uhmmm...." gumam Suga, ketika aku tak sengaja menyeka luka di kepalanya.

"mian..." gumamku. Akupun kembali duduk diam membatu. Memandangi stasiun yang sudah mulai sepi. Lampu di lorong stasiun sudah banyak yang mati. Hanya lampu di atas ku dan di seberang yang masih bertahan menyala.

"Ahhhmmmm...." Suga mengangkat kepalanya dari pundakku, ia memutar badannya ke kiri dan kekanan. Mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Bisa kudengar retakan tulang tangan dan punggung Suga. Ia berpaling kearahku. Melihatku yang sedang sibuk memijat pundakku yang mulai matirasa.

"Gomawo... Ahmmm... pukul berapa sekarang?" Suga kembali duduk di sampingku.

"11 malam... dan kereta terakhir sudah lewat beberapa menit yang lalu..." kataku yang hampir mirip sebuah keluhan.

"Kebetulan sekali... sebagai rasa terima kasihku... kuantarkan kau pulang..."

"Tapi..."

"Hmm??"

"Rumahku... jauh... sekali... hampir 15 km dari sini... kalau kau mengantarku menemaniku sampai ke rumah dengan jalan kaki... kita akan sampai besok pagi..." Kekhawatiran mulai mampir di kepalaku. Mengapa tak terpikir dari tadi?.

"Siapa yang bilang mengantarmu pakai jalan kaki? aku akan mengantarmu pakai itu..." kata Suga sambil menunjuk sebuah mobil Chevrolet terbaru berwarna merah.

"Oh!! benarkah?"

"Tentu saja... kita akan cepat sampai dengan yang satu itu... Kajja... cepat... sebelum kuantar kau pulang... ada yang ingin kubicarakan denganmu" kata Suga sambil menyeretku.

***

Di DomoIce Cafe. Suga membelikan banana split ice cream yang ukurannya lebih besar dari yang kuperkirakan. Suga mengatakan kalau ia akan menemaniku memakan ice creamnya.

Entah mengapa, sepertinya sedari tadi, ia selalu membuatku dag dig dug. Apa sebenarnya yang ingin ia katakan?. Aku masih menunggunya sambil memakan ice cream. Suga mengganti pakaiannya yang penuh dengan darah dengan kaos yang dibelinya di toko seberang cafe.

Tak perlu lama menunggu, Suga muncul di hadapanku, Ia terlihat lebih tampan dengan kaos hitam dan topi yang dikenakannya.

"Okey... to the point... Apa alasanmu berteriak menyelamatkanku tadi?"

"Hmmm?" kebingungan, itulah keadaanku saat ini, dengan sendok ice cream dimulut aku mencoba memikirkan apa alasanku sebenarnya.

"Jangan memakan sendok... menjijikkan" kata Suga sambil melepas sendok dari mulutku. Sungguh memalukan aku hanya bisa menjawabnya dengan "Ye..."

"Jadi sekarang jelaskan padaku... apa maksudmu sebenarnya? apakah Jin menyuruhmu untuk menyelamatkanku? lalu dekat denganku? buktinya aku ingin tidur di pundakmu kau sama sekali tak menolak... apa itu rencana mereka? menjadikanmu mata-mata ? lalu mencari kelemahanku??" Pertanyaan Suga semakin membuatku bingung.

"Eh...?" akupun kembali bertanya padanya "bisa kau ulangi lagi pertanyaannya?"

"hassshhh... intinya... apakah Jin menyuruhmu menyelamatkanku, lalu mendekatiku? lalu mencari kelemahanku? begitukah?"

"Hmmm aku tak tahu..."

"Kau kenal dengan Jin? Manji?"

"Aku tahu Manji... dia murid yang bermasalah di sekolahku... kalau Jin... aku tak pernah tahu... mungkin dia murid baru yang tadi siang masuk ke kelas A"

"Hmmm... Apa kau tahu nama Gang mereka?"

"Anioo.." jawabku sambil menggeleng karna kebingungan.

"Ahhh.... Untung saja... hehehe... kau bukan anggota mereka... hehehe... Kajja... makanlah... ini ice cream kesukaanku.." kata Suga sambil memasukkan satu scup ice cream ke mulutnya.

"Sebenarnya...."

"Mwooo???" Suga membuka mulutnya, hingga ice creamnya meleleh keluar dari mulutnya. "Ada apa? kau anggota Jin dan Manji?" kata Suga sambil menyeka mulutnya.

"Anniya... Sebenarnya... aku lapar... kalau makan ice cream saja... perutku akan sakit... bisakah aku pesan burger?" mendengar pertanyaanku, Suga tertawa lega, hingga matanya yang berbinar itu tenggelam tak nampak lagi.

"Hahahahaha.... kau ini... mengangetkanku saja... HAHAHAHAHA"

"Hehe.... bagaimana? bisakah kau belikan aku burger...? atau aku berhutang dulu padamu...Uang saku hari ini sudah habis hehe.."

"Untuk penyelamatku... apapun akan kubelikan... tunggu sebentar..." kata Suga, ia membawa menu makanan dan meninggalkan aku di meja makan.

Suga, untukku yang kau katakan penyelamatmu, apapun bisa kau belikan. Tapi bisakah kau berikan kesempatan padaku untuk lebih dekat denganmu?. Bibirku hanya tersenyum setelah pikiran itu lewat dikepalaku.

Tok Tok Tok....

Seorang pria memakai jaket hoodie hitam mengetok jendela disampingku. Ia menunjukku dan menyuruhku keluar. Aku sama sekali tak bisa melihat siapa pria itu. Karena diluar begitu gelap.

Pria diluar cafe semakin mendekatkan wajahnya, betapa terkejutnya aku, ketika kusadari pria itu ternyata Jin, anak baru yang pindah ke sekolahku, dan pria yang sama, yang bertempur dengan Suga tiga jam yang lalu.

"Keluarlah... Kemarilah sebentar..." katanya tanpa suara. Lalu senyum sadis itu membuatku semakin ketakutan. bagaimana ini?

To be continue

Fanfiction RUHAPPY? PART 3 BTS



Fanfiction : R U Happy Now? Part 3

Author : Ayuna Kusuma

Maincast : Suga, Jin and You

Genre : Flash Love

"Kau.. kemarilah... aku tak akan menyakitimu..." itulah apa yang ia katakan, aku bisa membaca gerakan bibirnya.

Aku ketakutan. dan hanyaa bisa menggelengkan kepala. Tapi sepertinya Jin tak mau mengalah, ia berlari menuju pintu masuk. Akupun tak mau mengalah, kutahan pintu cafe, agar ia tak bisa masuk.

"Keluar Kau!!!" bentaknya. Suaranya menggelegar, mampu membuatku ketakutan setengah mati.

"Andwae.... andwae...." kataku sambil mempertahankan posisi pintu agar tetap tertutup.

Jin menyerah juga akhirnya, ia menggoreskan pisau kecilnya ke lehernya sendiri, seakan-akan ia sedang mengancam akan melukaiku.

Jin menghilang dalam kegelapan malam. Sedangkan tanganku yang masih bergetar, mempertahankan pintu cafe agar tak bisa terbuka. Aku takut ia akan kembali menerobos masuk ke cafe, lalu pertengkaran antara Jin dan Suga akan terjadi lagi.

"Hei... aku sudah belikan kau burger... kau ingin pulang?" aku meloncat ketika suga menyentuh bahuku.

"AIGO!!... fuuuh...." aku lega Suga sudah bersamaku lagi, mungkin Jin menghindariku karena melihat suga di belakangku, syukurlah kalau begitu keadaannya. Aku tak ingin masalah ini menjadi berlarut-larut, besok aku akan meminta maaf pada Manji dan Jin.

"Kau kenapa?" tanya Suga sambil membantuku yang masih gemetaran untuk duduk di sofa cafe.

"Andwae... aku hanya demam... gomawo... sudah mau membelikanku burger..."

"Hmmm.. ye... jeonhyeo munje eobs-seubnida... makanlah... aku juga sepertinya kelaparan sekarang..." Suga mulai melahap burger king nya yang super besar.

Sedangkan aku masih tak bisa mengakhiri rasa takutku, Jin, jangan sampai pria itu masuk ke cafe dan membuat keributan semakin rumit. Kalau saja aku terkait dengan pertengkaran lebih jauh, aku akan mendapat blacklist dari sekolah. Dan ayahku terpaksa mengembalikan aku pada ibu yang sudah tak bisa kupercaya.

"Hmm... enak sekali huhuhumm" gumam Suga sambil mengunyah burgernya.

Kriiing.... Suara pintu terbuka. Ingin sekali aku membalikkan badan dan melihat siapa yang masuk cafe. Tapi ketakutan itu melarangku.

Seorang pria memakai hoodie hitam yang sama seperti milik Jin, duduk di seberangku. Saat Suga asyik dengan makanannya, Pria yang duduk diseberangku membuka hoodienya, ternyata memang benar dia Jin.

Pria yang mengancamku beberapa menit yang lalu. Berani sekali ia masuk ke cafe, apakah dendamnya padaku begitu besar?.

Kurapatkan tanganku dan kucoba meminta maaf padanya dari jauh, seperti seorang gadis thailand yang memberikan salam bagi semua orang yang ditemunya.

Tapi Jin malah memberikanku sebuah kepalan tangan dan tatapan penuh emosi.

"Suga... setelah ini... maukah kau antarkan aku pulang?"

"Tentu saja..."

"Bagaimana kalau kita pulang sekarang saja?"

"Hum??... ice cream kita belum habis... burgermu belum kau makan... nanti saja... habiskan semua dulu... baru kuantar kau pulang... arraseo?"

"Tapi kau sudah bayar semua kan?"

"tentu saja... hehehe"

Aku memasukkan burgerku ke tas, dan melahap ice cream yang masih tersisa dengan kecepatan penuh.

"Hhoho.. kau suka ice cream ternyata..." gumam Suga.

Di belakang Suga, Jin masih saja menatapku, entah apa yang dia pikirkan. Apakah ia sedang memeriksa apa saja yang nanti bisa ia lakukan untuk menyakitiku?. Asal tahu saja, aku tak akan pernah membiarkan dia menyakitiku. Tak akan bisa.

"Suga... Kajja... antarkan aku sekarang..." kataku sambil menyeret tangan Suga.

"Ommo!!" hampir saja kubuat Suga tersedak burger. Suga sepertinya tahu posisiku saat ini, ia langsung meminum cola miliknya dan mengikutiku.

"Apa kau sudah mengantuk? ah... tentu saja... aku lupa... kau hanya anak regular... iya kan?" tanya Suga sambil membukakan aku pintu mobilnya.

"Iya... hmm kau benar... aku sangat mengantuk... bisakah kau cepat bergerak... hmm? aku mengantuk sekali... aku ingin segera pulang" kataku setelah melihat Jin juga keluar mengikuti kami.

Suga berlari masuk ke dalam mobil melalui pintu yang lain, beberapa detik kemudian chevrolet merah sudah membawa kami menjauh dari kejaran Jin.

Melalui kaca spion aku bisa melihat Jin mengejar mobil Suga. tapi ia menyerah ditengah jalan. Kecepatannya tak bisa mengalahkan kecepatan chevrolet yang sudah teruji.

Suga menyanyi sambil menikmati perjalanan menuju rumahku. Dengan GPRS dia bisa mendapatkan alamatku dengan cepat, tanpa harus bertanya apa-apa padaku.

Selama di mobil Suga yang mewah, aku hanya bisa pura-pura tidur. Yang kupikirkan saat ini, bagaimana caranya menghadapi Minji dan Jin keesokan hari, aku satu sekolah dengannya. Bagaimana kalau Jin benar-benar balas dendam denganku?. Bagaimana kalau ia tega menyakitiku? Ahss.... babo... kenapa aku harus berteriak tadi..? Tapi kalau aku diam saja. Suga, Pria yang sudah ditakdirkan menjadi jodohku, akan mati sebelum kami dekat dan mengenal satu sama lain.

Kulirik Suga yang masih menyanyi sambil menyetir. Ia menghentikan mobilnya ditengah pinggir jalan. Tersirat sebuah pemikiran kotor di otakku. Jangan-jangan Suga ingin melakukan tindakan asusila padaku? BAGAIMANA INI!!!!.

Suga mengambil sesuatu di jok belakang, dan ternyata hanya selimut yang ia ambil. dengan hati-hati, ia menyelimutiku dengan selimut bulu miliknya.

"Ssssttt... tidurlah... aku akan mengantarkanmu pulang... jangan khawatir... bidadari penyelamatku..." gumamnya lembut.

'Bidadari?? Dia menyebutku Bidadari??? Hahahahahaaaaaaaa' tak bisa berteriak kegirangan, aku hanya bisa berteriak dalam hati. Tapi bayangan kemarahan Jin menghapuskan kebahagiaanku seketika. Apa gunanya menjadi bidadari, kalau besok ia akan menjadikanku daging panggang??. Ahsss.... nae insaeng geuleohge wiheom

To be continue

Fanfiction RUHAPPY? Part 4 BTS


Fanfiction : R U Happy Now? Part 4

Author : Ayuna Kusuma

Maincast : Suga, Jin and You

Genre : Flash Love


Konser Hip hop di mimpiku bubar seketika, saat angin besar menerpa tubuhku, dan gempa membuat tubuhku berguncang.

"Hei... Nuna...sudah sampai... Ayo bangun..." kubuka kelopak mataku yang masih menempel karena kotoran mata, nyaman sekali rasanya tidur di mobil Suga dengan selimut bulunya. Suga tepat di sampingku, mencoba membangunkanku, dan setengah kepalaku keluar dari jendela. Pantas saja aku merasa kedinginan. Angin malam rupanya telah meniup rambutku.

"Uhmm..." segera kuangkat kepalaku dan melihat kesekitar. Ternyata Suga berhasil menemukan rumahku. Rumah kecil dengan kebun bunga dan peternakan madu, diantara permukiman yang sudah padat meninggi.

"Itu rumahmu kan?"

"ye... gomawo..."

"Aku akan selalu mengingat jalannya... sekarang... pulanglah... sampai bertemu besok.." kata Suga sambil melipat selimut bulunya lalu menyimpannya di jok belakang.

"Eh?" tanyaku kebingungan.

"Besok kau akan kujemput... sekolah kita hanya berselisih satu blok... rumahku juga tak jauh dari sini. hanya selisih 4 km"

"Eh? jangan... merepotkanmu saja... Jangan... terima kasih..." kataku, Suga tak tahu betapa bahagianya aku ketika ia menawarkan untuk menjemputku besok.

"Anak baru yang bernama Jin, besok ia akan mengikutimu lagi... dan aku khawatir... baiklah.. pulanglah... aku juga akan segera pulang. Bila denganku, dia tak akan pernah bisa menyakitimu..."

"Suga...."

"Hehe jangan menatapku seperti itu... aku bisa malu..."

"Apa kau tak ingin tahu namaku?" bodoh sekali, mengapa aku menanyakan hal konyol itu.

"Aku tak perlu namamu... bagiku... kau hanyalah satu... penyelamatku... kajja... keluarlah... sampai jumpa besok.." Akupun keluar dari mobil, karna Suga sudah mengusirku, padahal aku masih ingin menatap wajahnya yang aneh, tapi menghangatkan hatiku. Matanya selalu hilang ketika ia tersenyum.

Suga melambaikan tangannya, lalu melaju, menghilang ditengah gelapnya malam. Melihat sekitar yang sudah gelap, aku mulai ketakutan lagi, jangan sampai Jin muncul lagi. Pria yang seperti hantu itu berhasil membuatku sedikit paranoid.

Berlari kedalam rumah tanpa melepas sepatu, aku langsung menuju kamar, Ayah rupanya masih sibuk melihat pertandingan baseball yang sedang digemarinya seminggu ini.

Ia sama sekali tak peduli padaku semenjak, seminggu yang lalu bertemu dengan atlit baseball idolanya. Menurutku tak masalah ia tak mempedulikanku, asal ia tak mengganti posisi ibu dengan wanita lain, seperti yang dilakukan ibu. Teganya ia mengganti posisi lama ayah dengan pria sok tampan yang bernama Seok Jung. Hasssh... ingat masalah itu, ingin sekali ku robek mulut ahjussi yang banyak bicara itu.

Akupun tertidur dengan bayangan tiga pria, Suga, jodohku yang baru kutemukan hari ini, Jin pria yang hampir saja membunuhku, dan Ahjussi yang hampir saja merebut ibuku dari pengaruhku.

***

Teriakan Ayah, berhasil membangunkanku dengan meninggalkan sakit kepala akut.

"ARMY!!!!!!!!!!!!!!!! TURUN!!!!!!! MAKANANMU SUDAH SIAP!!!!!!!!!!" Ayah meneriakkan kalimat itu berkali-kali, hingga kepalaku terasa pening.

Setelah mandi dan mengganti pakaianku, aku tertarik melihat di depan rumah dari jendela kamar. Ada sesuatu yang sepertinya menyuruhku untuk melihat ke bawah. Dan ternyata Suga bersama mobil chevrolet merahnya sudah berada dibawah. Ia melambaikan tangannya padaku.

Kusambar tas dan beberapa jurnal yang harus kubawa kesekolah. Secepatnya pergi ke dapur dan mengambil bekal yang sudah disiapkan ayah.

"Appa... aku berangkat... salanghaeyoo" kataku sambil mencium pipinya yang berbulu.

"Yaaaaaa!! Kuantarkan kau... tunggu sebentar..."

"AnDWAE!!! Andwae ... Appa... Tak perlu...hehehe... Aku akan berangkat dengan seorang teman... hehe... Annyeong... Appa... Salanghaeeeeyooooo" teriakku.

Kubuka pintu dan berlari ke tempat Suga memarkirkan mobilnya. Tak banyak bicara, kami pun masuk ke dalam mobil dan mulai perjalanan ke sekolah.

"Bagaimana?" tanya Suga. mengejutkanku, yang sedari tadi sibuk memandangi kulitnya yang bersinar, lebih bersinar dari kulitku, dan bibirnya yang tak ada yang bisa mengalahkan.

"Eh...?"

"Bagaimana...? Kau sudah makan burger yang kubelikan semalam?"

"Ah.... burger... aku simpan di frezzer hehee..."

"Ommo!!... Jinjja?? HAHAHAHA Waeyoo?"

"Hmm...makan ice cream yang kau belikan saja sudah membuatku kenyang... mungkin burgernya akan kumakan lain kali..."

"Ah....ye..." jawab Suga.

"Suga... apa yang membuatmu ingin menjemputku? selain ingin melindungiku dari Gang Manji?"

"Oh..."

"Ah!!... Lupakan... heehehe... lupakan apa yang kutanyakan tadi..." Suga berpaling ke arahku, ia tersenyum dan entah mengapa, mobil langsung dihentikannya.

Ia mengambil sebuah majalah dari balik jok yang didudukinya. Sambil memandangiku, ia membolak balik majalah, seperti hafal dimana halaman yang akan dicarinya.

"Ini..." kata Suga sambil memperlihatkan majalahnya padaku. "Ramalan ini... aku selalu mempercayainya... disini dikatakan... kalau kemarin aku akan bertemu dengan seorang gadis yang memakai baju kuning... gadis itu akan menyelamatkanku dari marabahaya. dan angka keberuntunganku adalah 4 dan 8. Kemarin kau memakai hoodie warna kuning... dan kau menyelamatkanku dengan teriakanmu .. lalu kau duduk di bangku deretan empat baris ke empat. dan aku tidur di pundakmu tepat pukul 8 malam... Hey... kau adalah jodohku..." kata Suga, ia memandangku dengan penuh keseriusan, suasana diantara kami semakin memanas. Aku hanya menganga... tak percaya, mengapa Suga juga bisa mempercayai ramalan di majalah itu.

"A...aku.. aku juga mempercayai ramalan itu... Kau... dimajalah itu... kau adalah Jodohku... Suga..."

"hehehe... tapi kita perlu membuktikan... apakah benar kita berdua adalah cinta sejati..." kata Suga sambil kembali menyetir.

"Tapi ada yang aneh..."

"Oh!!" Suga sepertinya terkejut mendengar prasangkaku.

"Mengapa seorang gangster sepertimu suka majalah seperti itu hahahaha"

"Ahss... aku juga remaja normal... yang perlu update mengenai duniaku.. hehehe..."

"Hmmm... benar juga.... kau juga remaja... sama sepertiku" kataku sambil memandangi langit cerah yang sepertinya ingin mendekatiku, ketika mobil dilajukan secepat mungkin oleh Suga. Jodoh yang sudah diramalkan untukku. "Tapi Suga... apa kau tak mau menanyakan siapa namaku?"

"Haruskah seperti itu?"

"Hmmm mollayo..."

"Sebelumnya... aku banyak mengenal nama gadis yang dekat denganku... dan mereka mengecewakanku... kali ini... aku tak ingin tahu namamu... sampai aku tahu pasti... kau bisa mencintaiku... dan sampai aku tahu pasti... kau bisa menjadi bagian hidupku suatu hari nanti..."

Mobil chevrolet pun melaju cepat, seperti jantungku yang berdegub bak roket yang ingin meluncur ke luar angkasa. Pagi ini, Suga berhasil membuatku merasa begitu istimewa.

To be continue

Fanfiction RUHAPPY? Part 5 BTS

Fanfiction : R U Happy Now? Part 5

Author : Ayuna Kusuma

Maincast : Suga, Jin and You

Genre : Flash Love


"Annyeong Nuna...." kata suga sambil melambaikan tangannya. Pagi ini, ia berhasil membuatku melambung tinggi layaknya seorang bidadari yang ingin kembali kekayangan. Dengan kata-katanya itu dia berhasil membuatku melayang. Berpisah dengannya membuatku kembali berpikir mengenai Jin dan Manji.

Sesegera mungkin aku masuk ke dalam sekolah, untung saja banyak guru yang berjaga di depan gerbang sekolah. Setidaknya mereka bisa menghalangi murid berotak kriminal bertindak seenaknya sendiri di sekolah.

"Nuna!!......" sepertinya aku kenal suara itu, tapi aku tak berani berpaling ke belakang. Kupercepat langkahku

"Hei... kau dipanggil temanmu..." kata seorang guru yang berpapasan denganku.

"Ye..." gumamku, aku terus saja berjalan, tak peduli dengan orang yang memanggil-manggilku sedari tadi.

"NUNAAAAAAAA!!!!!! YAAAAAA!!! Apa kau tuli HAH!!" seseorang menarikku ke belakang, hampir saja aku terjatuh, tapi pria yang ternyata Jin, malaikat mautku itu menahanku agar tak terjatuh.

"Apa kau tuli HAH!! Berhenti membuatku seperti pabo... Hass..." kata Jin, ia melemparkan tanganku begitu keras hingga aku terjatuh ke belakang. Dasar pria aneh, semenit yang lalu ia menahanku agar tak jatuh, sekarang ia menjatuhkanku.

"AuWWW...." keluhku, telapak tanganku tergores batu taman yang ditata rapi disebelah jalan setapak.

"Auww... auwww... Huh... Jangan berpura-pura... jatuh seperti itu saja kau sudah mengeluh..." Jin berjongkok, dan mendekatkan wajahnya yang seram padaku. Tatapannya yang penuh ancaman, bisa membuatku menangis ketakutan saat ini. Tapi aku tak mau menunjukkan kalau sebenarnya aku lemah.

"YAAAA!! Nuna Ya..... Semalam... kau benar-benar membuatku marah... haaah... Bukannya kau membela teman yang satu sekolah denganmu... tapi kau malah membela Suga dan para pecundang itu... Kau tau... Suga dan teman-temannya tiga hari yang lalu sudah membuat Bunchong teman sekelasmu masuk rumah sakit... apa kau tahu itu?? APA KAU TAK PUNYA HATI HAH!!!"

"Andwae.... aku tak tahu masalah itu... Mianhae... Tapi kalian akan membunuh Suga... kalian akan mendapatkan hukuman yang..."

"YANG APA!! HAH!!! Kau pikir kau selalu benar HAH!!... haisss.... kalau saja waktu itu... aku bisa menusuk Suga... dan membuatnya masuk rumah sakit... semuanya akan impas..."

"Tapi bagaimana kalau dia mati hah?!!" bentakku penuh emosi, tak akan kubiarkan Jin melukai Suga yang sudah menjadi bagian dari ceritaku.

"MWOO!! AKU TAK MUNGKIN MAU membunuhnya.... hass....kau memang bodoh Nuna... kau satu tahun diatasku... tapi kau lebih bodoh dariku...Aku sudah bilang pada Manji kalau aku yang akan memberikanmu hukuman..."

"WAE!!!! gangster pabo.. kalian bisanya menghukum yang lemah... apa sebenarnya dasarnya menghukumku hah??" Jin yang semula sudah mereda, mendengar kata-kataku ia kembali meluapkan emosinya.

Tangannya mencengkram pipiku, sakit sekali rasanya, pipiku semakin memerah, dan Jin pun tertawa melihat wajahku yang dia mainkan.

"Heehe... Nuna... kau harusnya berterima kasih aku tak bersikap buruk padamu... Ah... aku ingat sekarang... semalam... apa saja yang kau bicarakan dengan Suga?"

"Ahmmmdwe..."

"Hah?"

"hyaaaaaa... leepassskan..." kataku sambil mencoba mencubit lengan Jin. merasa kesakitan ia pun melepaskan cengkramannya di pipiku.

"Aigooo... tega sekali kau... aigoo... pipiku sakit... Yaaa... Jin... Apa urusanmu ingin tahu apa yang kubicarakan dengan Suga hah?? Ha?? HAAAAAA?? Dasar pria penyiksa!!" tak mau kalah, akupun memukuli jin dengan tasku yang penuh dengan buku.

"YAAAAAAAAAA!!!!!!!! PABO NUNA!!!!!!!... KAU INGIN MATI HAH!!!" bentak Jin. Tangannya sudah mecengkram tanganku, kucoba memukul wajahnya, tapi tangannya yang satu lagi menghalangi tanganku.

"Nuna... aku juga merasa aneh... sebenarnya apa yang kau inginkan dengan memukulku seperti tadi??"

"Kau!!... berani-beraninya melukai pipiku!!.. dan kau berani mengancam akan melukai Suga!!... aku tak akan biarkan itu!!"

"Nuna... apa Suga sudah membuatmu tertarik dengannya? Kalau kau tertarik dengannya... kau salah orang Nuna... Suga jauh dari apa yang kau pikirkan... Aku akan tetap mengawasimu... kalau kau tetap membela pria brengsek itu... siapkan dirimu untuk terluka karenanya" Jin melepaskan cengkramannya, dan berlalu meninggalkanku yang masih terluka, baik pipiku, juga hatiku.

***

Pelajaran terakhir hari ini adalah melukis. sepuluh menit lagi sekolah akan berakhir. Hari ini tak ada kelas malam, guru kami terkena flu akut, jadi kami bebas setengah hari. Tidak seperti biasanya, murid-murid di kelas sebelah berteriak-teriak histeris.

"OMMOOONAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!" Teriak Boojung yang duduk di samping jendela. "YAAAAAAAA SIAPA DIA!! EOH!! tampan sekaliiiiiiiiii!!" teriaknya sekali lagi. Beberapa murid mencoba mendekati Boojung dan mereka saling berteriak-teriak.

"YAAAAAAA... NUNA!!! Dia memanggil NUNA!!! Yaaaaaaaa Siapa yang kenal dengan pria itu EOH!!!"

"OMMOOOOOO!!! NUNA SALANGHAE!!???? YAAAAAA Boojung kau kenal dengannya??"

"Annioo... aku belum pernah melihat pria setampan itu.

Penasaran dengan pembicaraan mereka, aku mencoba mendekati jendela. Suga, sudah berada di taman pasir. Ia menuliskan NUNA SALANGHAE. dan melambaikan tangan ke seluruh penjuru.

Kata-kata Jin ada benarnya juga, Suga tak ingin tahu namaku, karena ia tak ingin hanya mengingat satu nama, ia tak ingin tahu namaku, karena takut salah memanggilku, karena itu ia memanggilku Nuna.

Tingggg Tooong Tinggg Tooonggg.... suara bel berbunyi berkali-kali menandakan sekolah sudah berakhir. Semua murid bergegas keluar dari ruangan. murid perempuan rupa-rupanya berlomba berlari menuju halaman pasir mendatangi suga yang berteriak-teriak tak jelas.

Kubuka jendela kelas, dan kuamati apa yang ia inginkan.

"nuna jib-e gat-i gaja .!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! NUNA!!!!! nuna jib-e gat-i gaja .!!!!!!!!!" Teriaknya sambil tertawa. Dari kejauhan aku bisa melihat senyumnya yang semanis coklat. Tapi mengingat kata-kata Jin, aku tak ingin terlalu merasakan bahagia.

Suga memang sepertinya ada bibit pria brengsek. Buktinya kemarin, mengapa secepat itu memepercayakan kepalanya tidur dipundakku?, dan mengapa secepat itu mau mengantarkanku ke sekolah, menjemputku. Hasss... pikiranku semakin kacau.

Murid perempuan sudah mengelilingi Suga yang berteriak-teriak, pria tampan itu mengelilingi lingkaran murid perempuan, dan sepertinya ia sedang mencariku. Tapi ia tak menemukanku.

"NUNAAAAAAAA!!! DIMANA KAU!!!!!! nuna jib-e gat-i gaja .!!!! EOH!!"

"YAAAAAAAA!!! KAU!!! Berani sekali kau berteriak di sekolahku HAH!!!" Teriak Jin dari seberang halaman. Kulihat ia bersama Manji dan beberapa temannya menghampiri suga.

Kilauan cahaya yang dipantulkan pisau Manji, menyadarkanku kalau Suga sedang dalam masalah besar. Lalu siapa kini yang bisa kupercaya? Suga atau Jin? Tapi Suga... aku tak ingin ia terluka seperti kemarin. Bisakah seorang pria menghentikan hasratnya untuk berkelahi?.

To be continue

Fanfiction RUHAPPY? Part 6 BTS


Fanfiction : R U Happy Now? Part 6

Author : Ayuna Kusuma

Maincast : Suga, Jin and You

Genre : Flash Love


Angin berhembus kencang seiring dengan teriakan kencang para murid perempuan. Mereka yang tadinya begitu tertarik mengelilingi Suga yang bertindak gila, kini kabur masing-masing, menyelamatkan diri dari Manji juga Jin. Sedangkan Suga masih tetap berdiri di tempat sambil mencari dimana diriku sebenarnya, untung saja ia tak menemukanku sedang mengawasinya di jendela kelas yang terhalang dedaunan.

Kilauan pisau Manji membuatku khawatir akan keselamatan Suga. Guru-guru, kulihat tak ada yang berani melawan mereka. Manji yang terkenal sebagai anak komisaris sekolah, rupanya bisa menjadi pihak terkuat di sekolah. Apapun yang ia lakukan, tak ada guru yang melarangnya. Walaupun terkadang orang tua siswa yang dilukai Manji melaporkannya ke kepolisian. Esoknya ia akan pulang dari kantor polisi tanpa rasa bersalah.

"SUGA!! Beraninya KAU HAH!!" teriak Manji sambil melepaskan jaket almamaternya. "Kau ingin meneruskan pertempuran kita semalam hah??" lanjutnya kali ini ia mengepal tangannya yang berotot di hadapan Suga.

Suga, hanya tersenyum sambil melihat otot Manji yang mulai membesar.

"Anniya... aku kemari hanya ingin menjemput Nuna..."

"Huh... NUNA!!?" tak kusangka Jin mulai membuat masalah. Ia melemparkan kepalan ke wajah Suga. Tapi entah mengapa pria itu hanya diam saja, saat ia ingin membalas pukulan Jin, ia urungkan niatnya.

"Terima kasih... telah memukulku... tapi aku tak tertarik bertempur denganmu gadis cantik...." lalu senyuman sinis itu kembali kulihat dari wajah Suga.

"MWOOO!!!!!!!" Jin kembali memukul Suga, kali ini tangan Suga yang kekar itu menghalangi pukulan demi pukulan.

"Semakin kau marah... semakin kau mirip dengan wanita pemarah HAHAHAHAHA!!!" Entah aku harus tertawa, atau prihatin dengan keadaan reputasi Jin yang dihancurkan begitu saja oleh Suga.

Manji berlari ke belakang Suga.

"SUGAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!! ANDWAEEEEEE!!!!!!" Aku berteriak dan refleks Suga menendang kebelakang, sepatu bootnya melukai wajah Manji, pisau yang hampir menusuk lambung Suga terlempar jauh. Sedangkan Jin masih tetap saja memukul Suga hingga ia pun terjatuh.

Aku tak akan membiarkan ini berlangsung lama. murid-murid yang sedari tadi menonton dari kelas, keluar lalu melihatku yang mempercepat lariku, kadang melompat agar cepat sampai dilapangan. Jin tak boleh menyiksa Suga seperti ini. Kalaupun diantara mereka ada perebutan kekuasaan gang, itu satu hal yang konyol, yang harus diakhiri.

"JIN!!!!! HENTIKAN!!!!!" teriakku, sambil meloncat dan menendang pinggang Jin.

"Nuna.... kau bisa taekwondo?" tanya Suga dengan tatapan yang berkaca-kaca.

"Dasar!! kau bilang kau gang... tapi dipukul begitu saja langsung jatuh... Kajja!!! Pulang!" kataku sambil menarik tangannya.

"YAAAAAAAA!!! KAU!!! Beraninya kau menendangku HAH!!!" Teriak Jin sambil memijat pinggangnya.

"Mianhae... tapi kau sudah keterlaluan Jin... lagipula... Suga ke sekolah ingin menjemputku... bukan ingin berkelahi denganmu..."

"huh... urus saja temanmu... Bye Jin... sampai bertemu lain kali... aku memang sengaja mengalah... kalau tidak... Nuna tak akan pernah muncul untukku... chhee... eung... bye bye..." kata Suga sambil melambaikan tangannya yang berdarah pada Jin.

"KAU!!!" Kulihat Jin mengangkat tubuh Manji yang tergeletak pingsan ditengah lapangan, karena tendangan Suga tepat di wajahnya.

Murid-murid perempuan melihatku dan Suga yang pelan tapi pasti meninggalkan lapangan sekolah. aku merasa, Suga sesekali melirikku.

"Nuna... tendanganmu tadi... hebat... hehehe..."

"Ada apa mencariku di sekolah?"

"Aku mendapat kabar kalau murid di sekolahmu akan dipulangkan setengah hari... aku ingin mengajakmu ke suatu tempat... kau mau?"

"Huh... baru semalam kita bertemu... mengapa kau begitu cepat...? sekarang kau ingin mengajakku kemana?" tanyaku sedikit sinis, aku masih lebih percaya pada Jin, walaupun ia sama gilanya dengan Suga.

"Kau masih ingat? majalah itu... aku jodohmu... apa kau masih lupa?"

"Ya.... Sugaa.... lebih baik kita lupakan hal itu... tiga bulan lagi aku harus mengikuti tes universitas..."

"Tapi Nuna... bagaimana denganku? Nuna... apakah mereka... menganggumu?"

"Anni... aku bisa mengatasi mereka... aku tak ingin banyak berurusan dengan hati... Suga... bisakah kau tak menjemputku dan mengantarkanku...? aku bisa mengatasi Jin dan Manji sendirian..."

"Nuna...."

"Aku perlu banyak waktu untuk belajar Suga... Aku harus masuk Universitas yang dibanggakan Ayahku... kalau kau ingin menemukan Jodohmu... temukan ditempat lain... mungkin ada banyak gadis yang lebih cantik dariku... hummm Annyeong.."

"Nuna..... Jjamkanman.... Nuna...." Kuhindari dia, dan mencoba berjalan lebih cepat darinya. Selesai sudah urusanku dengan Suga. Kalau aku tetap berurusan dengannya, ia akan semakin membuatku malu dengan datang ke sekolahan lalu bertindak konyol seperti tadi. Untung saja ia berurusan dengan Manji, kalau ia berurusan dengan anak lain, aku akan mendapat masalah dengan dewan guru.

"NUNAAAAA!!!!!! SALANGHAEYOOOOOO!!!!!!!" Teriak Suga jauh dibelakang.

Aku pun melambaikan tanganku padanya.

"Annyeonggggg Suga...........!! FIGHTING!!!"

Dan, bisa kulihat dengan jelas wajahnya yang menunduk teratur. Suga, apakah begitu cepat kau merasakan cinta? atau ini hanyalah caramu untuk mempermainkanku?

Fanfiction RUHAPPY? Part 7 BTS


Fanfiction : R U Happy Now? Part 7

Author : Ayuna Kusuma

Maincast : Suga, Jin and You

Genre : Flash Love


Sudah tiga hari, aku tak pernah bertemu dengan Suga, ia pun sama sekali tak pernah pergi ke sekolah, membuat keributan, dan Jin juga sepertinya tak pernah terlihat bertempur lagi dengan gang sekolah Suga.

Aku sering bertemu dengan Jin, tapi ia tak pernah menyapaku, padahal kami pernah beberapa kali bertengkar, aku pernah menendangnya, ia pun pernah menyentuh pipiku. Jin yang sekarang rupanya berbeda dengan Jin yang tiga hari yang lalu.
Malam ini, ibu mengundangku dengan sedikit pemaksaan. Katanya ada tamu dari jauh yang ingin bertemu denganku, sekaligus acara pertunangan dirinya dengan kekasih barunya.

Sebenarnya aku tak ingin datang, tapi Ayah terus memaksaku.

"Pakailah ini..." kata Ayah sambil menjulurkan hanbok hadiah chuseok tahun lalu.

"ANDWAE!!" bentakku, sambil melanjutkan menulis laporan penelitian biologi bulan ini.

"Army... haruskah kau bersikap seperti ini... dia masih Ibumu..." Ayah pun meninggalkan hanbok di punggungku.

"Baiklah... aku akan hadir disana... tapi tidak dengan pakaian ini..." Ayah yang tadinya ingin pergi dari kamarku dengan wajahnya yang pura-pura murung, setelah mendengar kalau aku setuju berangkat ke rumah ibu, ia pun berlari memelukku dari belakang.

"Nah... itu... baru anakku... jangan mempersulit ayahmu ini... hmmm.. kalau kau tak kesana... mereka akan mencabut hak asuhku"

"Hehe... kau pikir aku bisa kau tipu Ayah? hak asuh tidak akan ada artinya bila usiaku sudah 17 tahun... ck ck ck... kau harus merubah cara menipuku..." kataku sambil mencium pipi Ayahku yang sudah mulai keriput.

"Anakku memang cerdas... baiklah... lalu kau pakai apa ke acara ibumu?"

"Pakai itu saja..." kataku sambil menunjuk jaket BTS yang tergantung di lemari.

"Omo!!... kau mau mempermalukanku? pakai hanbok ini..." kata Ayah sambil melemparkan chima dan jeogori ke wajahku.

"Andwae!!!" kulemparkan kembali.

"PAKAI!!!"

"ANDWAEEE!!!!!"

"PAKAI!!!!!"

"Andwae........ aku sudah bilang NO WAY!!!" kataku bersikeras.

"Pakai saja Nuna... kau tampak cantik dengan hanbok itu..." kata seseorang.

"Mwoo??" aku dan Ayahku kebingungan mencari dimana suara itu berasal. Setelah membuka korden jendela yang sedikit terbuka. Aku bisa menemukan Suga sedang duduk diatas besi yang melindungi mesin ac.

"SUGA!!!" Sontak aku berteriak, membuka jendela, dan menariknya masuk ke kamar. Besi pelindung AC tak sekuat yang ia kira. Kalau ia jatuh dari lantai 3, akulah yang harus bertanggung jawab.

"ARMY!! SIAPA DIA!!?!... KAU!!! KAU MENGINTIP ANAKKU SELAMA INI!!" Ayah terlihat marah, ketika ada seorang pria yang sengaja naik ke lantai tiga dan mengintip anaknya dengan bertahan duduk diatas pelindung AC.

"Hehehe... Mianhae Ahjussi... aku teman Army... tapi ia tak mau bertemu denganku.. padahal aku harus mendapatkan rangkuman pelajaran darinya... kalau tidak mendapatkannya bagaimana aku bisa belajar hehehe... tolong ahjussi... lepaskan tangan anda... aku sudah merasa sesak" kata Suga sambil pelan-pelan melepaskan cengkraman tangan Ayahku.

"ANDWAE!!... Dia bohong AYAH..!! Dia bersekolah di tempat lain... bukan sekolahku!!"

"KAU...............!! Beraninya berbohong denganku HAH!!" Ayah semakin mencengkramnya sambil mengangkat tubuh Suga yang lebih kecil darinya.

"Andwae... Mianhae.. Ahjussi... Army mungkin tak tahu... mulai hari ini... aku pindah ke sekolah anakmu... lihatlah kartu pelajarku..." Suga menyerahkan kartu pelajarnya pada Ayahku, kulihat ternyata benar, Suga telah pindah ke sekolahku. Bagaimana ini, apa sebenarnya yang dia inginkan?, selisih tiga hari kutinggalkan dia, sekarang malah pindah ke sekolahku.

"Baiklah... kali ini kubebaskan kau... kalau mengintip Army sekali lagi... aku tak akan segan-segan melaporkanmu ke polisi... Army... hati-hati dengan pria ini... baiklah... Ayah harus kembali ke kantor..."

"Ayah... jangan pergi..." kataku sambil menahan Ayah tetap dikamarku.

"Kau sudah punya teman... selesaikan tugasmu dulu... baru pergi ke tempat ibumu... masih ada waktu 3 jam lagi... dan kau Suga... lain kali lewat pintu depan... aku akan menerimamu dengan senang hati..."

"Yeee... Ahjussi.." Suga menundukkan kepalanya begitu hormat pada Ayahku. Kulihat tak ada yang berbeda dari dirinya, hanya saja kegilaannya kini bertambah.

"Fiuuuuh... kamarmu nyaman sekali..." kata Suga, sambil menghempaskan tubuhnya di tempat tidurku.

"Jelaskan... apa maksudmu pindah ke sekolahku?"

"Oww... kau cepat tanggap rupanya... tak ada alasan lain... selain... aku tak ingin orang lain merebut Jodohku... yang bernama ARMY... namamu aneh ya... apa kau ingin menjadi tentara nanti setelah lulus sekolah hahahahahaha" kusumpal mulut Suga dengan eggcake.

"Tak kusangka... pria sepertimu begitu percaya dengan ramalan.."

"Hmmm... begitulah... itulah aku... pria yang cepat percaya... maka dari itu... kau jangan pernah membohongiku..."

"Ah... aku baru ingat... aku baca di majalah lain... jodohku punya nama yang berawalan J ... dan itu bukan kau..."

"Hahahaha... benarkah?? aku ingin membaca majalahnya... mana? tunjukkan padaku!"

"waee?..." aku kehilangan akal kali ini. "Ah... majalahnya dipinjam tetanggaku..."

"Kalau begitu... ambilkan.. aku akan menunggu disini..." kata Suga sedikit menantang.

"Hmmm aku tak ingin mengganggunya... hehee.."

"Sudah kukatakan... jangan pernah membohongiku... tapi barusan kau membohongiku... jangan kau ulangi lagi... arra..."

"YAAA!!!! Siapa kau ?? Eoh?? melarang-melarang seenaknya!!"

"Aku Suga... dan aku pria yang sedang jatuh cinta denganmu..." Sekilas kulihat keseriusan Suga, tapi aku tak ingin ia lama-lama di kamarku.

"KELUAR KAU!!! DAN JANGAN PERNAH KE KAMARKU LAGI !!!! ARRASEOOOOO!!!" Kuseret ia keluar dari kamarku.

"Nuna... kau akan tahu... seberapa besar kepercayaanku padamu.."

BRAKKK!!! Akhirnya aku bisa mengeluarkan Suga dari kamarku. Tapi Ia masih di ruang tengah, itu artinya ia masih di rumahku? Hass... Bagaimana ini???

To be continue

Fanfiction RUHAPPY? Part 8


Fanfiction : R U Happy Now? Part 8

Author : Ayuna Kusuma

Maincast : Suga, Jin and You

Genre : Flash Love



Setelah selesai mengganti baju tidurku dengan kaos, jaket BTS, Syal, dan topi CRIB. ini saatnya memeriksa keadaan diluar kamar, Ayah sepertinya sudah berangkat kekantornya untuk tugas malam. mungkinkah Suga masih ada didalam rumah?. Kucoba untuk mendengarkan suara-suara diluar kamar, dengan menyandarkan telingaku di pintu.

Sepi, itu artinya Suga sudah pulang ke rumahnya. Kuambil tas ku, yang berisi hadiah untuk ibuku. Sebenarnya yang membelikan hadiah ini adalah Ayahku, Ia begitu mencintai Ibuku, itulah alasannya membiarkan Ibu bercerai dengannya.

Selesai mengunci pintu kamar, aku melanjutkan langkah pergi ke luar, betapa terkejutnya aku, Suga ternyata masih ada di rumah, kali ini ia lancang membuka lemari es. Memakan kue bulan kesukaan Ayahku.

"SUGA!!!" kutarik telinganya, hingga ia menjauh dari lemari es. "Kau keterlaluan!!... itu makanan Ayahku.. Kalau dia tahu.. aku yang akan dapat masalah..."

"Tenang saja... nanti kita belikan kue bulan untuk ayahmu... 2 pak.. hehehe" Suga masih melanjutkan melahap kue bulan yang masih tersisah di tangan kanannya.

"Yaaa...kau...!! jangan terbiasa meremehkan semua masalah... hmmmm" karena kesal, aku menarik telinganya lagi.

"AWW!!! SAkit!! Geumanne... aku hanya memakan kue bulan ayahmu... nanti kubelikan... Sebelum itu... Kuantarkan kau ke rumah ibumu.."

"MWOO!!!... huh... siapa yang membolehkanmu mengantarku!! EOH!!"

"Aku..... aku yang membolehkanmu hhihihi"

"SUGAAAAAAA!!!" Suga menarikku, mengajakku berlari, ia tak tahu kalau aku sedang memakai highheels, dan rasanya berlari dengan highheels seperti mati tapi tidak jadi mati.

Aku terpaksa memakai highheels, Ibuku akan marah kalau melihatku memakai sepatu pria. Padahal kalau ia marah, akupun tak pernah peduli.

"Kajja Masuklah...!! Hehe... aku sudah menambahkan aksesoris tempat duduk untukmu... kau suka BTS kan?"

Suga membukakan pintu chevrolet merahnya untukku, dan memang benar, ada bantal leher berhiaskan logo BTS, bulletproof merah yang paling kusukai.

"Hmmm" aku hanya bisa bergumam seperti itu sambil masuk ke mobil Suga. Ada rasa bersalah yang menggeliat di hati. dan beribu pertanyaan muncul di otak, salah satunya, mengapa Suga begitu memperhatikanku?. Kalau ingin menghancurkan Jin rivalnya. mengapa serumit ini ingin mendapatkan perhatianku.

"Kajja... tuliskan disini... alamat ibumu... secepatnya aku akan mengantarmu kesana"

"Yee..."

"Okey... kita berangkat..."

"Hmmm Suga... Gomawo..."

***

Seperti malam yang lalu, empat hari yang lalu, mobil chevrolet Suga begitu cepat melaju, hingga tak perlu menunggu lama di dalam mobil, sehingga aku tak perlu mencari bahan pembicaraan untuk Suga. Lagipula selama di mobil, Suga selalu bernyanyi dengan iringan musik yang ia putar di compact disk nya.

"Suga... jangan pulang... temani aku dulu... diatas... mungkin mereka menyediakan banyak makanan... anggap saja aku sedang mentraktirmu..." kataku sebelum turun dari mobil.

"Oh... memangnya ibumu mengadakan acara apa?"

"Ibuku akan bertunangan dengan kekasihnya..."

"oh...!! Mianhae..."

"Mianhae? hehe... ibuku bertunangan itu bukan sebuah masalah bagiku... Kajja Ikut denganku..."

"Kalau begitu... turunlah disini... aku akan mencari tempat parkir dulu"

"Okey... aku tunggu di pintu gerbang ndee.."

"Arraseo..." entah angin apa yang merubah suasana kami berdua, aku tak lagi marah pada pria yang seenaknya mengintipku dari luar jendela, aku tak lagi marah pada pria yang bernama Suga, yang lancang memakan kue kesukaan Ayahku.

"Hmmm... everybody say no..." gumamku menyanyikan lagu BTS yang saat ini sedang terkenal.

"Army??" sapa seseorang di belakangku.

"Yee?" rupanya Jin dan Manji yang menyapaku dari belakang. Mereka berdua memakai jaket BTS yang sama dengan yang kupakai. Tapi mengapa kedua pria itu berjalan bersama di malam seperti ini?

"Oh... Jin... Manji... sedang apa kalian berada disini?"

"Justru aku yang harus menanyakan itu... huh... aku baru ingat... kau berhutang satu tendangan..." kata Jin sambil memijat punggungnya "semenjak kau tendang... punggungku sering sakit... kau harus bertanggung jawab!" lanjut Jin.

"Mianhae... mianhae... mianhae... aku tak tahu bagaimana menyembuhkannya... tapi jangan tendang aku... arraseo..." kataku mencoba membuat Jin melupakan masalahnya.

"Hyung... jangan menyakiti wanita..."

"Humm.... tapi aku akan pastikan kau merasakan sakit yang sama ARMY!... Annyeong..." Jin dan Manji berlalu meninggalkan aku yang setengah mati ketakutan. Baru saja ketua gang di sekolahku mengancam akan menyakitiku. AHHHHHHHHH!!!! ANDWAEEEEEE

"Nuna!!... Tadi Jin dan Manji??" Suga berlari mendekatiku, memeriksa tubuhku dengan memutarnya. "Apakah mereka menyakitmu??"

"Aaa...andwae...." jawabku

"Tenang saja... aku sudah pindah ke sekolahmu... kita satu kelas...aku akan selalu melindungimu Nuna... jangan khawatir lagi Nuna... lupakan saja... hmmm apa kau sudah siap? Mungkin Ibumu sedang menunggu anaknya yang cantik ini... hehehe"

"Ye..."

"Kajja..." kubiarkan saja Suga menggenggam tanganku, telapaknya yang hangat bisa menghilangkan ketakutanku.

***

Di dalam gedung pertemuan, Ibu terlihat cantik dengan gaun merah muda nya, dan pria yang mencoba merebutnya itu terlihat tampan dengan kemeja abu-abunya. Ia lebih tampan dari Ayahku, mungkin itu satu alasan, ibuku berhenti mencintai Ayah.

"Appa..!!" Panggilan itu keluar dari mulut Manji, ketua gang yang sangat ditakuti di sekolahku, entah mengapa malam ini menjadi anak penurut, tapi CALON SUAMI IBUKU ADALAH AYAH MANJI!!!??? ANDWAEEEEE!!!!!!

"Manji... jangan ganggu Appa... Kajja... aku punya game baru!" tak lama kemudian, aku kembali dikejutkan oleh sesuatu yang aku tak mau menghadapinya. Jin memanggil pria itu dengan sebutan Appa.

"Nuna...." kata Suga sambil menopang tubuhku yang mulai lemas. "Nuna... kau sakit??" Ia pun menyeretku dan mendudukkanku dibangku dibalik poster.

"Kau lihat tadi.?? Jin... dan Manji... ia anak pria itu..." kataku mencoba menghela nafas panjang.

"Mwo?? maksudnya?"

"Jin... dan Manji... anak dari calon suami Ibuku... Suga... bagaimana ini??"

"Tenang saja Nuna... ini berarti aku harus menjadi Istrimu, agar bisa menjagamu... tak hanya di Sekolah... tapi juga di rumah"

"MBWOOOOO!!!!!!" tak sadar kutampar wajah Suga yang semakin membuatku kesal.

Kuberanikan diri berjalan ke arah Ibu yang sedang bercanda dengan Manji dan Jin, juga calon suaminya.

"Annyeong... Eomma..." sapaku. Seperti yang kusangka, Jin dan Manji sama terkejutnya denganku.

"Annyeonghaseyoo Army... kau dengan Ayahmu?" tanya Ibu sambil mencium pipku.

"Andwae... Bu... siapa mereka?" tanyaku pura-pura tak kenal, sambil menunjuk kearah Jin dan Manji.

"Annyeonghaseyo Army..." Pria calon suami ibuku mencoba mencium pipiku tapi aku berhasil menghindarinya "Hehe... mereka anak-anakku... kenalkan... ini anakku yang pertama... Jin... dan ini adiknya yang paling pintar... Jimin..."

"aaa..... Yee... Army..." kataku sambil berjabat tangan dengan Jin dan Jimin. Tangannya menggenggam tanganku begitu keras, hingga bisa terlihat tanganku yang meradang merah.

"Army... siapa pria yang dibelakangmu..?" tanya Ibu.

"Aaaa?" aku tak bisa konsen, antara ketakutan dan berbagai perasaan membuat otakku sedikit kacau.

"Ahjumma... kenalkan Aku Suga... Calon suami Anakmu..." mendengar kata itu sontak kuahlikan perhatianku pada Suga, yang sedang tersenyum nakal.

"MWOOOOOOOOO!!!!!!!!" tas ku melayang bebas ke wajah Suga, rasanya menamparnya dengan tasku saja tak cukup untuk menyelesaikan rasa maluku.

To be continue

Fanfiction RUHAPPY? Part 9 BTS

Fanfiction : R U Happy Now? Part 9

Author : Ayuna Kusuma

Maincast : Suga, Jin and You

Genre : Flash Love


"ANDWAEEEEEEEE!!!!!!!!!!" teriakku, sambil menghempaskan tanganku ke wajah Suga yang masih mempertahankan senyumnya, lalu menghilang seperti kabut asap. Sadar, aku telah bermimpi. Peristiwa memalukan itu masih bisa kuingat, saat Suga menyatakan didepan Ibuku kalau ia calon suamiku, lalu saat mengerikan dimana Jin dan Jimin mentertawakanku. Sebenarnya ingin sekali aku menampar Jin dan Jimin, tapi aku tak kuasa, Hanya Suga yang bisa menjadi pelampiasan malunya diriku.

"Pulanglah... Army... terima kasih sudah memberikan lelucon di hari pertunangan kami... antarkan calon suamimu pulang... kasihan dia kau tampar berkali-kali... HAHAHAHAHAHAHA" itulah kata pengusiran yang sangat menyinggung hatiku, dan kata-kata itu keluar dari mulut ibuku sendiri.

Suga yang kedua pipinya memerah, kutuntun langkahnya, ia terlalu pusing malam itu, bagaimana tidak, ia sudah menerima dua pukulan tepat di pipinya, pukulan yang super menyakitkan dari tasku.

Mulai malam itu, perasaanku bercampur aduk, aku tak ingin bertemu lagi dengan ibuku, apapun alasannya, aku tak ingin mengetuk hatiku untuk menemuinya.

Kedua, aku memikirkan, bagaimana statusku? bagaimana nasibku nanti kalau Jin dan Manji atau Jimin yang berandalan itu jadi suadara tiriku?. Aku akan menjadi orang yang paling tersiksa disaat itu datang.

Lalu... apakah aku harus menjadikan Suga yang mengaku benar-benar cinta padaku, untuk menjadi suamiku? Agar ia bisa melindungiku?, Suga, pria itu, mungkin otaknya sudah error karena banyak membaca ramalan tak jelas. Yang pasti aku tak mau punya kekasih apalagi menikah dengan pria seperti Suga.

"SUGAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!.. awas kau kalau bertemu denganku... akan ku.."

"Annyeonghaseyoo... kau mencariku? hehee" kupikir aku masih bermimpi, barusan kudengar suara Suga.

"OMMO!!" Segera kubuka jendela dan menyeret suga masuk ke dalam kamar. Ternyata ia memang nyata, berada di sampingku, aku tak sedang bermimpi kali ini, haruskah kutampar ia sekali lagi?.

"Gomawoo hehe... kau sudah siap pergi ke sekolah bersamaku?"

"Yaaaaaa... Suga ya.... kau bodoh atau tolol hah!! Pelindung mesin ac punyaku akan jadi rongsokkan kalau kau selalu mendudukinya seperti itu!!... lagipula... huh... bagaimana caramu naik kesitu?"

"Sudah pukul enam... kau harus bersiap-siap... mandilah... kutunggu disini..."

"MWOO!!! Kau pikir kau ini siapa hah!! Keluar!! Akan kuadukan pada Ayahku!!"

"Weeekss... aku tahu... Ayahmu tak ada dirumah... sepuluh menit yang lalu beliau pergi ke kantor hihihi.... sekarang hanya aku yang bisa melindungimu... Kajja!!! Aku akan menunggumu disini..."

"Ya.... Sugaaaaaaaaaa......!!! JANGAN MEMBUATKU PUSING EOH!!!"

"Ah... kalau ke dapur jangan lupa bawa ini... aku sudah membelikan kue bulan 3 pak..." kata Suga sambil memberikan satu kantong plastik yang disembunyikannya di tasnya.

"Hmmm..."

"Kenapa? kau merasa bersalah karena memarahiku? karena menamparku berkali-kali semalam? hehe..." benar yang dikatakan Suga, saat ini aku sangat merasa bersalah padanya.

"Ye.... Mianhae... kau ternyata bisa memegang janjimu... gomawo untuk kue bulannya..."

"Kajja... mandilah... aku tak akan mengganggumu..." Suga mendekati meja belajarku, lalu membuka tasku, ia memasukkan buku-buku yang harus kubawa pagi ini, sepertinya ia tahu apa yang sebenarnya aku perlukan.

"Suga... apa yang kau lakukan?"

"Bisa kau lihat kan? Aku memasukkan bukumu ke tas..." jawab Suga, sambil memamerkan senyumannya padaku. Entah mengapa, jawabannya itu membuatku sedikit percaya, kalau ia memang jodohku yang sebenarnya.

***

Jin, Manji dan beberapa teman se gang nya menunggu aku dan Suga di pintu gerbang. Mereka kulihat lebih sadis dari sekedar guru. Ada pemukul kasti di setiap tangan kiri mereka.

Aku menunggu Suga memparkirkan mobilnya, Suga tampak biasa saja melihat ancaman Jin dan Manji. Ia mengambil tanganku yang mulai melemas dan melingkarkannya ke lengannya.

"Jangan takut... aku akan melindungimu..." kata Suga sambil memulai langkahnya bersamaku di sampingnya.

"SUGA!!!! BERANI KAU MAJU SELANGKAH!! AKU akan memukulmu satu kali!!" teriak Jin.

"Terserah kau saja..." Balas Suga, kami masih berjalan mendekati gerbang, Jin dan Manji mungkin bisa melihat kakiku yang gemetaran kali ini.

"TOTAL kau melangkah 20 langkah!... PPALLIWAAAA!!!" Teriak Manji. Sekitar lima orang berlari menuju kami, dan secepat kilat Suga memelukku, dan menundukkan tubuhku, lalu melindungiku dari pukulan mereka yang membabi buta.

"GEUMANNE!!! Sudah 20 Kali... Tapi kami beri bonus 30 kali AHAHAHAHAHAHA! Jangan harap kau akan aman sekolah di tempatku SUGA!! Dan kau ARMY!! Aku tak akan rela bersaudara denganmu!!! dasar gadis aneh!! HAHAHAHAHA......" tawa Jin kulihat begitu memperlihatkan kepuasan. Manji menyusul kakaknya masuk ke sekolah.

Sedangkan Suga, walaupun kepalanya berdarah, aku masih bisa melihat senyumannya secerah tadi pagi.

"Suga...." gumamku, ada secercah kekhawatiran yang mengusik hatiku, setelah darah dari kepala Suga menetes di pipiku.

"Kajja... bangun... kau tak terluka kan?..." kata Suga, membantu aku untuk bangkit.

"Suga... kau berdarah... bagaimana ini?"

"Kekhawatiranmu... bisa menyembuhkan lukaku... Army... Salanghaeyo... di sekolah... jangan pernah pedulikan mereka... kita harus lulus dengan nilai terbaik... sehingga kau dan aku bisa cepat menggapai apa yang kita inginkan... Jangan takut pada mereka... karena ada aku di sisimu... apakah kau bahagia sekarang? Army?" kata Suga sambil menuntunku masuk ke dalam sekolah, padahal harusnya aku yang melakukan hal itu padanya. Bodohnya aku...

To be continue

Fanfiction RUHAPPY? Part 10 BTS


Fanfiction : R U Happy Now? Part 10

Author : Ayuna Kusuma

Maincast : Suga, Jin and You

Genre : Flash Love


Suga benar-benar pindah ke sekolahku, kami satu kelas sekarang, bahkan sebangku, dengan sedikit paksaan akhirnya ia bisa menyingkirkan Sungmin, pria yang dulunya sebangku denganku. Akhirnya sekarang Suga bisa bernafas lega bisa berdua denganku.

Tapi tidak denganku, di kelas masih ada Manji, atau yang sering dipanggil Jimin oleh ayahnya. Manji sekelas denganku, Sedangkan Jin kakaknya malah satu kelas dibawah Manji. Banyak orang yang menceritakan padaku, kalau Manji lebih cerdas dibanding Jin, sedangkan Jin lebih brutal dibanding Manji, maka dari itu ia sering tidak naik kelas, harusnya saat ini Jin sudah kuliah di universitas, tapi karena kebodohannya, ia malah satu tahun dibawah Manji. Sungguh memalukan.

Manji sering menengok kebelakang, melihat kami berdua dengan tatapan sinis, sesekali ia mengepalkan tangannya lalu menunjukkan ototnya kearahku. Suga tak mau diam saja, ia pura-pura memukul tangan manji dengan penggaris. Mereka sepertinya tak ada hentinya saling genjat senjata. Walaupun ada guru yang sedang menerangkan, Manji selalu menyempatkan menoleh kebelakang untuk mengancam kami.

Aku masih Ingat Suga mengatakan padaku tadi pagi, 'Jangan pedulikan mereka' tapi sekarang dia lah yang selalu mempedulikan ancaman dari Jimin.

"Suga.... hentikan... jangan dipedulikan... katamu jangan pedulikan mereka..." kataku sambil menurunkan lengan Suga.

"Hehe... aku hanya bercanda dengannya..." kata Suga, kembali mengerjakan proyek ilmiahnya.

"Kau pikir mereka bercanda??? Aigoo... lihatlah luka di kepalamu belum sembuh... bagaimana kalau mereka memukulmu lagi?"

"Biarkan saja... mereka akan lelah suatu hari nanti... sssstt... Mr Jungkook berjalan ke arah kita..." Kulihat lagi Manji yang mengancamku dengan pisau lipatnya, dibelakang guru ia masih bisa melakukan ancaman itu, tapi aku tak bisa melaporkannya, ia punya kedudukan yang tinggi saat ini. Apapun laporan yang masuk, akan dibersihkan oleh ayahnya. yang nanti juga akan menjadi Ayahku.

Baru saja terpikirkan satu hal yang membuatku sedikit mendapat harapan, bisa bebas dari ancaman Jin dan Jimin yang terkadang keterlaluan.

"JANGAN MELAMUN!!! KERJAKAN TUGAS KALIAN!!" Mr Jungkook membentakku sambil memukulkan penggarisnya ke meja Suga.

"Yee... seonsaengnim.." gumamku. Ketika Mr Jungkook kembali ke kursinya lalu keluar untuk merokok. Aku mencolek tangan Suga.

"Hmmm?" Tanya Suga sambil meneruskan menyelesaikan tugasnya.

"Suga... kalau Ibuku menikah dengan Ayah Manji... itu berarti aku kakak Manji kan?"

"Tentu saja... tergantung siapa dulu yang lahir... hehe..."

"Aku lahir lebih dulu... selisih tiga bulan... dengan Manji... itu berarti aku calon kakak Manji kan?"

"Hmmm mungkin... kalau kau setuju ibumu menikah dengan ayah mereka..."

"AKU SETUJU!... Ya... Aku setuju Suga..."

"ya..... Nuna.... jangan melihatku seperti itu hoh... kau tampak menakutkan..."

"Mianhae... mianhae..." kataku sambil mengembalikan pandangan Suga ke tugasnya. "Mianhae mengganggumu.... hehehe... aku terlalu senang kali ini... Lihat saja kau Manji... kau akan kubuat Sengsara..."

"ya... Nuna... bisakah kau kembali menjadi gadis yang polos? kalau kau berani seperti ini... apa gunanya diriku?"

"eh?"

Suga melepaskan tanganku dari wajahnya, lalu menaruh tanganku di meja, kini giliran dia memainkan pipiku yang mulai memerah.

"Nuna... kumohon... jadilah Nuna yang seperti seminggu yang lalu... Nuna yang polos dan tak pernah berani mengungkapkan perasaannya..."

"Mwooo??"

"Ahsss... mungkin ini salahku... yang terlalu dekat denganmu... kau tertular kebiasaanku yang pemarah..."

"Yaaaaaa....! Kau bicara apa? Aku bingung memikirkannya??"

"KALIAN BERDUA!!! DIAM!!!! SUDAH KUBILANG!!! KERJAKAN!!! Ahhh.... Arraseooo... Arraseooo kalian tak mau mendengarkan aku... sekarang buka halaman 90... kerjakan tugas itu setelah tugas kalian selesai...." rupanya sedari tadi MR. Jungkook mengawasi kami dari jendela. Suga dan aku hanya tersenyum saja, baiklah, tidak masalah mengerjakan tugas berapapun, asal Suga masih bersamaku. Karena walaupun ia selalu membuatku bingung, aku bisa merasakan nyaman berada disisinya.

"HAHAHAHAHAHAAAAAAAA!!! RASAKAN ITU!!! MATI KALIAN!!!" Teriak Jimin. MR Jungkook terkejut hampir meloncat ke dalam kelas, karena terkejut.

"JIMIN!!! KAU!!! KAU JUGA KERJAKAN TUGAS HALAMAN 90!! BERANINYA KAU MEMBUATKU JANTUNGAN!!!" balas Mr Jungkook

"YAAA!! seonsaengnim!!!" keluh Jimin.

"APA!!!?? Kau mau melaporkan aku pada Ayahmu!!!??"

"AKU AKAN MEMECATMU LANGSUNG seonsaengnim!!"

"EEEHH!!! KAU BERANI PADAKU!!! KERJAKAN TUGAS HALAMAN 110 juga!!! Aku tunggu hasilnya...!! Asal kau tahu saja... Ayahmu sudah menitipkan dirimu padaku... Dasar ANAK KECIL TAK TAHU DIRI!!! KERJAKAN!!!" Teriak Mr Jungkook, Jimin yang tak terima dengan pelecehan itu langsung membanting mejanya ke samping.

Semua murid di kelas gempar melihat aksi Jimin yang keterlaluan. Setelah ia merusak mejanya sendiri. Ia menghampiri aku dan Suga. Inginnya melempar meja Suga, tapi ia kalah kuat dengan Suga, Meja disampingku masih berada di tempatnya semula, walaupun Jimin berusaha menghancurkannya. Suga terlihat kuat di moment seperti ini.

Tak ingin menyerah, Jimin mengambil kotak pensil besi milik murid lain dan mencoba memukulkannya ke wajah Suga. Tapi aku berhasil mencegahnya. Kucengkram Lengan Jimin yang keras dan berat seperti besi.

"Jimin... Jangan selalu menyalahkan orang lain atas kebodohanmu sendiri ... ARRASEO!!!??"

"Huh... dasar gadis murahan!!... masih sekolah kau sudah berpikiran untuk menikah!!... BUKANKAN ITU MURAHAN!!! AKU MUAK MELIHATMU DISINI!! AKU MUAK MELIHAT KALIAN BERDUA MENGOTORI SEKOLAHKU!!! Bukankah kau hamil dengannya?? Berandal dari sekolah miskin!!??"

Suga bangkit dari tempat duduknya dan melayangkan pukulan ke wajah Jimin.

"kau boleh menghancurkanku...tapi jangan pernah kau menyakiti Nuna... Jaga bicaramu.!!!"

"KAU!!!!" Jimin menyeka darah yang keluar dari bibirnya.

"Jimin... sebentar lagi orang tua kita akan menikah... dan kau akan menjadi adikku... Kuharap kau bisa menjaga perkataanmu... Aku tak pernah melakukan hal itu... aku tak pernah mau menghancurkan hidupku dengan melakukan hal menjijikkan yang sempat terpikirkan oleh otakmu.... Kalau kau melakukan hal ini lagi... aku tak segan-segan membuatmu sengsara... lebih dari sekedar pukulan..."

"Ah.... Kau mengancamku sekarang??... baiklah... terserah kalian... tapi aku tak bisa menerimamu disini Suga... satu sahabatku meninggal karena kau... aku... aku tak akan biarkan kau bahagia Suga... sampai kapanpun... Dan KAU ARMY!!! Ibumu... tak akan pernah menjadi IBUKU!!! CAMKAN ITU!!" Jimin kembali ke tempat duduknya, semua murid masih melihat kami dengan pandangan sinis.

Suga mengembalikan mejanya seperti semula, lalu melanjutkan tugasnya. Hyura yang duduk didepanku berpaling kebelakang.

"Army... apakah benar kau sedang hamil?" tanya Hyura sambil berbisik.

"Dia akan mengandung anakku kalau kami sudah lulus, dan sudah menikah... jadi kau jangan pernah membahas hal itu lagi!!" Bentak Suga, Hyura langsung berbalik dan sepertinya kecewa telah menanyakan hal itu padaku, karena ia hanya mendapatkan bentakan dari Suga.

Suga, apakah benar ia telah membunuh salah satu teman Jimin? Kulihat wajah Suga yang tampak serius dengan tugasnya, ia sama sekali tak punya perawakan seperti seorang pembunuh, apakah mungkin ia menyembunyikan hal itu padaku?, lalu membunuh atau tidak itu sama sekali tidak ada hubungannya denganku, karena aku hanya temannya.

Jimin masih menyeka darah di bibirnya, kulihat ia sedang menghubungi seseorang, apakah ia menghubungi Ibuku? Ayahnya? atau malah Jin?

To be continue

Fanfiction RUHAPPY? Part 11 BTS

Fanfiction : R U Happy Now? Part 11

Author : Ayuna Kusuma

Maincast : Suga, Jin and You

Genre : Flash Love


Bel sekolah berdering berkali-kali, seakan mengusir semua murid untuk keluar dari kelas. Aku dan Suga memilih taman belakang sekolah untuk tempat makan yang paling spesial, sambil melupakan peristiwa di kelas yang sempat menghancurkan penilaianku pada Suga.

Suga, seperti tadi, ia masih duduk disampingku, bersandar di bawah pohon maple yang katanya sudah tumbuh ratusan tahun. Angin lembut menerbangkan dedaunan pelan-pelan, membuat suasana yang sunyi semakin mengagumkan.

"Suga...." gumamku, karena sedari tadi ia tak memulai sebuah pembicaraan, hanya menikmati makanannya dan membawa komik yang dibawa nya dari rumah.

"Hmmm..." jawabnya tak peduli.

"Ya.... Suga ya..."

"Waeee?" mendengar keluhanku, ia menoleh ke arahku, senyumannya masih seperti biasa, hanya saja matanya kembali ke komiknya, begitu cepat ia melihatku, lalu melupakanku hanya untuk komiknya.

"Suga....." gumamku sambil menggoyang lengannya, hingga kimbab yang hampir saja ia lahap terjatuh ke kotak makannya.

"Nuna... wae geulae?" tanya Suga, akhirnya ia tahu juga, saat ini aku sedang gelisah.

"Mianhae..." kuambil kimbab yang jatuh di kotak makan, dan memasukkannya ke mulut Suga yang terbuka ketika menguap.

"humm wihae mueos-inga?" sambil mengunyah ia menunggu aku menjawab pertanyaannya.

"mollayo..." itulah jawabanku, seakan aku sudah menyerah, tak tahu apa sebenarnya yang kupikirkan saat ini.

"gwaenchanh-euseyo?" Suga tampak khawatir sekarang, ia menutup kotak makanannya, lalu menyandarkan kepalanya seperti lima hari yang lalu. Setelah ia begitu lelah bertempur dengan Jin.

"Suga... aku masih ingat kata-kata Jimin... apakah kau benar-benar telah membunuh sahabatnya?" Suga menghembuskan nafas panjang, lalu suasana kembali sunyi. Angin tampak semakin nakal, beberapa kali meniup dedaunan keatas kotak makanan kami berdua. Kulihat Suga sudah terlelap di pundakku, sedangkan waktu istirahat kami masih tersisah sepuluh menit lagi.

"Mianhae..." Bisikku, sambil mengambil dedaunan yang mengotori rambut Suga yang ikal.

"Itu bukan aku..." bisik Suga.

"Eeeh?"

"Yang membunuh orang itu bukan aku... malam itu... seperti biasanya... kakak kelasku di sekolah sebelumnya, selalu mengajakku ke berbagai tempat untuk berlatih breakdance... tapi sialnya... orang yang dibicarakan Jimin, datang... membuat masalah, kurasa ia sedang mabuk... tapi kakak kelasku tak mau tahu... dengan pisau lipat yang dibawa sahabat Jimin... ia membunuhnya... Setelah membunuh orang itu... ia pergi meninggalkanku sendiri, saat itu... aku tak tahu harus melakukan apa... aku hanya duduk melihat mayat didepanku... sambil berharap ia bisa hidup kembali... tapi Jin dan Jimin tiba-tiba datang... mereka membawaku ke kantor polisi... karena masalah itu... aku ditahan 3 bulan... dan hampir saja mendapat black list dari semua sekolah...tapi Tuhan tak tidur Nuna... pengadilan berjalan lancar... hakim menetapkan aku bebas dari tuduhan... dan saat ini... pembunuh yang sebenarnya sudah dipenjara... Ia harus menjalani masa hukuman selama 12 tahun... tapi sayang sekali... Jin dan Jimin... masih menganggapku sebagai pembunuh yang sebenarnya... karena mereka pula... di sekolahku yang dulu... semua murid takut padaku.. dan akhirnya aku terpilih menjadi ketua gang mereka... padahal... aku sama sekali tak suka berkelahi... apa yang kulakukan selama ini... hanya sebuah keterpaksaan... Malam itu... ketika kau berteriak demi melindungiku... aku tahu... kau adalah warna lain dalam hidupku... yang bisa memudarkan kelamnya hidupku yang dulu..."

"Suga....... mianhae...." air mataku entah mengapa begitu mudahnya meluncur membasahi wajahku.

"gwaenchana Nuna... saat bersamamu... aku hanya bisa merasakan kebahagiaan..."

"Walaupun kau dihantam pemukul kasti? aigoo... Suga ya... lukamu masih memar... bagaimana ini? eoh?"

"Nuna... aku pria... pantas bila memiliki luka... Kajja... kita kembali ke kelas..." Suga bangkit berdiri. Memandangnya seperti ini, membuatku berterima kasih pada nasib dan ramalan itu. Kini keyakinan itu kembali pada hatiku. Aku yakin Suga lah jodohku yang sebenarnya.

"Suga... gomawo..."

"humm wihae mueos-inga?"

"kau telah menjelaskan semuanya... padaku... "

"Nuna... apa sekarang kau percaya padaku? buku ramalan itu tak salah kan?"

"Hmmm... tak salah..." kataku sambil menyambut tangan Suga, lalu berdiri dan membersihkan celana trainingku dari dedaunan.

"Oh... !! ANDWAE!!" teriakan itu mengejutkanku, Jimin rupanya sedari tadi menguping kami di balik pohon.

"Jimin???" pria itu tersenyum sinis padaku. Ia melemparkan majalah baru ke arahku. "Oh... Andwae... kalian berdua tidak akan bisa bahagia... dan kau suga... ramalan mengatakan kalau kau harus membayar semua kesalahan yang telah kau perbuat... HYAAAAAAAAA!!!!!" Jimin berlari ke arah kami, kilauan cahaya dari pisau yang dibawanya, tiba-tiba menusukku.

Jimin menusukkan pisaunya lebih dalam, hingga darahku mengalir keluar begitu deras, aku sadar, aku sedang melindungi Suga, dan mendapatkan tusukan yang begitu menyakitkan dari pisau Jimin.

"ARMY!!!" Teriak Suga, ia memelukku yang terjatuh kesakitan. Bisa kulihat wajah Jimin yang mulai panik. Ia memegang kepalanya dan kabur entah kemana. Sedangkan Suga yang memelukku, bibirnya mengucapkan sesuatu, tapi aku tak bisa mendengarnya, terlalu sakit untukku mendengar apa yang ia katakan. Hanya saja, airmatanya membuatku bisa melupakan rasa sakit itu, lalu akhirnya... aku berada di tempat yang tak pernah ingin ku kunjungi sebelumnya.

To be continue

Fanfiction RUHAPPY? Part 12 BTS

Fanfiction : R U Happy Now? Part 12

Author : Ayuna Kusuma

Maincast : Suga, Jin and You

Genre : Flash Love

Lingkaran putih menarik tubuhku, hingga aku mati rasa, ada Suga disana, di ujung pandangan mataku, Ia duduk di depan mayat yang berlumuran darah. Ia urungkan mencabut pisau yang masih menancap di perut mayat itu. Lalu ia kembali duduk, dan menatap lagi mayat itu lekat-lekat.

Lalu kulihat di tempat yang lain, Jin, Manji dan beberapa temannya berjalan ke arah Suga. Berselang beberapa menit mereka menghajar Suga tanpa ampun, lalu Jimin menyeret Suga yang sudah pingsan masuk ke mobilnya. Aku bisa melihat peristiwa itu dari jauh, seakan saat ini aku pergi ke masa lalu.

Mobil Jimin menghilang dalam kabut putih. Jin masih menunggu mayat temannya sambil menghubungi seseorang melalui handphonenya, tak menunggu lama. Mobil ambulance dan polisi datang, mereka membawa mayat dan Jimin pergi. Sedangkan polisi sibuk mencatat dan mencari bukti pembunuhan, tak lupa mereka memasang police line di sekitar tempat kejadian perkara, agar tak ada yang mengganggu penyelidikan.

Anehnya, aku melihat diriku sendiri, berjalan ke arah kejadian perkara, lalu aku menunduk dan memungut sesuatu di dekat kejadian perkara. Sebuah cincin amnesthy warna hitam. Bodohnya aku tak memberikan cincin itu pada polisi, aku langsung memakainya dan pergi meninggalkan tempat.

Benar, aku hampir saja lupa, kalau harus mengembalikan cincin ini pada pemiliknya, cincin itu masih kupakai di jari manisku, ada initial MY di cincin hitam yang kupakai. Ya... aku harus mengembalikannya.

Lingkaran putih menarik tubuhku lagi, kini, tubuhku tak lagi mati rasa, ada rasa sakit yang menusuk-nusuk di perutku. Tanganku terasa hangat, ketika ku buka mata.

Suga berada di sampingku, ia menggosok-gosokkan tangannya ke telapak tanganku.

"Nuna... gwaenchanh-euseyo?" tanya Suga sambil menyeka keringatku.

"Ye" jawabku singkat, perutku masih terasa sakit bila aku menggerakkan tubuhku, begitu juga bila aku bicara.

"Barusan saja, Ayahmu pulang... ada urusan kantor yang harus segera di selesaikan... Dia... menunggumu semalaman..."

"hmmmm...."

"Nuna... mengapa harus selalu kau yang melindungiku? Aku... pria yang begitu bodoh... harusnya aku yang menerima tusukan dari Jimin... bukan kau..."

"Hehe... aa... anniee... jeongmal... aku sudah baikan sekarang" kucoba untuk menjelaskan keadaanku, walaupun rasanya sakit sekali.

"Nuna.... Aku berjanji... kali ini... aku akan melindungimu... biarkan aku melindungimu Nuna!!" Kata Suga sambil memelukku, tangannya menekan punggungku, membuat lukaku yang terbalut obat terasa tertekan.

"Yaaaa!!!" bentakku sambil menyingkirkannya. "berjanjilah... tapi jangan tambah menyakitiku seperti ini...aw...aw..." ketika aku kembali ke posisi tidur seperti sebelumnya. kulihat Jin mengintip di jendela kamar.

"Suga... ada tamu... suruh dia masuk.."

"Kau yakin?... bagaimana kalau dia mau menusukku? hmmm? atau mau melanjutkan aksi adiknya... dengan menusuk perutmu yang sebelah kanan? hmmm?"

"Ya.... Suga... percayalah padaku... ia tak akan pernah melakukan itu..."

"Kau yakin? aku tak ingin membukakan pintu kalau kau tak yakin"

"Arraseo... aku yakin... bukakan pintu untuknya... firasatku mengatakan kalau Jin sedang merasa bersalah"

Suga mengambil kunci kamar di desk sebelahku, ia melangkah ke arah pintu dan membukakan pintu, Dihalanginya Jin untuk masuk, Suga membisikkan sesuatu yang membuat Jin menatapku, sepertinya Suga mengancam Jin agar tidak bertindak macam-macam padaku.

"Annyeong..." Sapa Jin terlihat canggung.

"hmmm"

"Aku mengunjungimu... karena ingin menyampaikan rasa maaf yang sedalam-dalamnya atas kebodohan adikku... Army... Bisakah kau memaafkan Jimin? dan membebaskan dia dari hukuman penjara selama satu tahun?"

"wae?" tanyaku sedikit kesal, bagaimana bisa aku memaafkan pria yang sudah mengancamku berkali-kali, lalu berani menusukku.

Jin terdiam sesaat, air matanya kemudian mengalir sedikit demi sedikit, wajahnya yang putih cemerlang, kini berubah memerah. Disekanya airmata yang membasahi pipi.

"Maafkan adikku Army... maafkan kami berdua Suga... Kami terlalu mengikuti kebodohan kami...Adikku... kau tahu sendiri Army... dia satu-satunya murid yang mendapatkan beasiswa terbaik disekolah kita... aku tak mau karena masalah ini, ia tersendat dan menjadi pria bodoh sepertiku... Army... kalau kau ingin menghukum Jimin... anggaplah aku Jimin.. dan katakan pada polisi... kalau yang menusukmu itu... aku... bukan pria yang mereka tahan sekarang... katakan pada mereka Army..."

"Aku tak bisa... Jin... hukum harus ditegakkan... yang salah harus menanggung hukumannya..."

"Nuna..." Suga ikut bicara, dari pandangannya aku bisa mengerti, ia sedang ingin mempengaruhiku untuk mengikuti kata-kata Jin.

"Army... kumohon... kali ini saja... bebaskan Jimin... sebelum hidupnya rusak seperti hidupku.... Kalau kau ingin menghukum... hukumlah aku..." kata Jin yang masih terisak tangisnya.

"Arraseo... aku akan membebaskan Jimin dari penjara... aku akan mengaku kalau itu hanya kecelakaan. bukan sebuah kesengajaan... tapi kau harus berjanji... dan Jimin harus berjanji... Janji untuk memaafkan Suga... atas kesalahan yang tak pernah dibuatnya... Yang membunuh sahabat kalian bukan Suga... bagaimana bisa kalian selama ini menghukum Suga dengan berbagai ancaman? menghukum Suga, atas kesalahan yang tak pernah ia lakukan... Aku... yang ditusuk secara sengaja saja... bisa membebaskan adikmu... harusnya kau bisa memaafkan Suga yang tak pernah membunuh sahabatmu..."

Hening seketika, Jin dan Suga saling berhadapan, mereka berdua saling mendekat dan berjabat tangan, lalu entah kenapa Suga begitu leluasa memeluk Jin, dan menenangkan pria itu yang mulai menangis histeris.

Baru kali ini aku tahu seorang pria bisa juga menangis, dan baru kali ini aku memahami seburuk-buruknya tingkah laku Jin, ia masih menyimpan cinta untuk adiknya, dengan mau berkorban demi masa depan adiknya.

To be continue

Fanfiction RUHAPPY? Part 13 BTS


Fanfiction : R U Happy Now? Part 13

Author : Ayuna Kusuma

Maincast : Suga, Jin and You

Genre : Flash Love


Seminggu lamanya aku tak kembali ke sekolah, seminggu pula Suga selalu menghabiskan waktunya setelah pulang sekolah, hanya untuk menemaniku, ia melupakan kegiatan yang ia sukai.

Suga mengaku, kalau sudah menyelesaikan tugas rumah yang diberikan guru di kelas, saat waktu istirahat, jadi setelah pulang sekolah, ia tak punya banyak tanggungan. Maka dari itu, ia selalu ada untukku.

Hari senin, sekarang ini, aku harus kembali masuk ke sekolah. Ayah juga mengabarkan kalau Jimin sudah dikeluarkan dari penjara. Ayah Jimin, yang akan menikah dengan ibuku dua minggu lagi. Berterima kasih padaku, kata Ayahku, ia memberikan paket daging super mahal, tapi sayangnya Ayah lupa, sehingga hanya dia yang menghabiskannya. Tapi tak masalah bagiku, karena Ayah sudah menggantinya dengan mengganti pelindung AC dengan besi yang lebih kuat, hingga aku tak lagi mengkhawatirkan Suga. Pagi ini ia akan datang ke kamarku, melalui jendela, sengaja kubuka korden dan jendela, juga pintu kamar, agar ia tahu putrinya aman bersamanya.

"Hana... deul.... set..." bisikku sambil menyisir rambutku. Suga meloncat ke pelindung AC milikku, dan aku bisa tahu ia senang mendaki.

"Annyeong..." sapaku lebih dulu.

"OMMO!!!" Suga terlihat terkejut ketika melihat aku di hadapannya "Bagaimana kau tahu aku akan datang?" tanya Suga sambil meloncat masuk.

"Hanya kau pria gila yang selalu menungguku di depan jendelaku... di jam yang sama... dan aku sudah mengganti pelindung ACku... Ayah yang menggantinya... ia khawatir padamu... mengapa tidak lewat pintu saja?"

"Hehehe...dulu... ketika aku masih punya kekasih... bila kerumahnya... aku selalu lewat pintu... dan ketika kami punya masalah... ia membanting pintunya di depan wajahku... sekarang aku tak mau itu terjadi lagi... dan kebetulan di samping jendelamu ada tangga tanaman... aku bisa mendakinya... hehehe..."

"Lalu?"

"Dan aku yakin bila kita punya masalah... kau tak akan pernah tega melemparku keluar dari jendela..."

"Yaaaaaaa Suga.... hahahaha.... kau pabo... hahaha"

"Tapi kau sudah bisa tersenyum kan? berarti lukamu sudah sembuh... Kajja... kita berangkat,..."

***

Chevrolet merah terparkir di sebelah mobil yang lainnya, Suga membukakan pintu untukku, ia juga membawakan tasku lalu menuntunku masuk ke dalam sekolah. Sebelumnya aku tak mau, tapi ia tetap memaksa, aku tak bisa menolak kebaikannya yang membuatku semakin mencintainya.

Jimin, dan Jin menunggu kami berdua di gerbang sekolah. seperti biasa beberapa murid ketakutan ketika melihat Jimin dan Jin. Padahal mereka tak melakukan apapun. Mereka hanya bersandar di gerbang sambil menunggu kami berdua.

"Hei!! Army!!" Teriak Jimin sambil melambaikan tangannya padaku.

"Hei..." balasku. Kami berempat pun akhirnya berhadap-hadapan dengan suasana yang baru.

"Bagaimana lukamu Army?" tanya Jin.

"Membaik... sudah tak terasa sakit lagi..." jawabku. Suga hanya tersenyum manis melihatku bisa menyesuaikan diri dengan Jimin dan Jin. "Kudengar kau sudah kembali sekolah Jimin... sejak kapan?"

"Humm... sejak kemarin lusa... Itu semua karena kebaikanmu Army... kalau kau tak memberikan pernyataan itu..." Jimin menghentikan kata-katanya.

"Kau juga baik Jimin... kau bisa melepaskan dendam pada Suga..."

"Hum.... aku sudah menjadi sahabatnya sekarang... benarkan Suga?" tanya Jimin sambil memukul pundak Suga.

"Wae? Nugu? Nado?"

"Yaaaaaa hehehehehe" Jimin dan Suga pun pura-pura berkelahi didepanku dan Jin.

"Sudah... biarkan mereka bermain... lama tak pernah kulihat Jimin sebahagia itu...Apakah perlu kutuntun? Army?" Tanya Jin yang berjalan di sampingku.

"Oh... Andwae... aku bisa sendiri..."

"Hmm... hanya suga yang boleh membantumu kan? hehehe"

"Ya.... Jin ah... bukan seperti itu..."

"Kau tak ingin membuatnya cemburu kan? hehehe"

"Kau ini.... Bagaimana kabar Ayahmu?"

"Kau dan Suga... pasangan yang serasi... Tentang Ayahku... dia sudah menetapkan dua minggu lagi akan menikah dengan ibumu..."

"Oh... tentang itu aku sudah mendapat kabar dari Ayahku..."

"Hmmm... Army... Terima kasih telah membuat semuanya menjadi lebih baik... aku tak bisa membayangkan kalau kita bertiga menjadi saudara dengan kemarahan dan dendam seperti kemarin..." kata Jin, sambil membukakan pintu kelas untukku.

Kelas masih terlalu sepi, aku duduk di bangku Suga, dan Jin duduk di seberangku. Ia seperti menunggu kata-kataku selanjutnya.

Kubuka sedikit korden yang menutupi jendela kelas, dari jendela aku bisa melihat Suga dan Jimin masih berlari-larian kesana kemari, bercanda tanpa ada dendam seperti dulu.

"Jin... berterima kasihlah pada Jimin... kalau ia tak menusukku... semua akan berbeda ceritanya.... Dan berterima kasihlah pada dirimu sendiri... karena kau mau mengalah dan meminta maaf padaku... Aku sebenarnya tak punya andil apa-apa dalam hal ini..."

"Hmmm... begitukah?" tanya Jin yang sedari tadi melirikku.

"Army...."

"Hmm??"

"Aku pastikan... kau tak akan rugi mendapat kakak sepertiku, dan adik seperti Jimin... kami akan selalu menjagamu... walaupun kau sudah memiliki malaikat penjaga yang begitu tampan..."

"Hmm?"

"Suga... kami bertiga... akan selalu berterima kasih padamu... kalau tak ada kau di malam itu... Suga akan mati di tangan kami, Jimin akan terpenjara, dan aku menjadi pria bodoh untuk kedua kalinya..."

"Gomawoyo..."

To be continue.
 
Layanan untuk Anda: x Cerita dari Kusuma | - | dari - | Lihat dalam Versi Seluler