- - - - . - - | Facebook | Twitter | GPlus |
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Drama adalah karya sastra untuk diperankan oleh aktor

Drama adalah karya sastra untuk diperankan oleh aktor

Drama (Yunani Kuno δρᾶμα) adalah satu bentuk karya sastra yang memiliki bagian untuk diperankan oleh aktor. Kosakata ini berasal dari Bahasa Yunani yang berarti “aksi”, “perbuatan”.
Drama bisa diwujudkan dengan berbagai media: di atas panggung, film, dan atau televisi. Drama juga terkadang dikombinasikan dengan musik dan tarian, sebagaimana sebuah opera (lihat melodrama).
________________
MESIN TIK YANG MATI
[seting]
Sebuah ruangan sempit yang hanya berukuran tidak lebih dari 2×2 meter dengan penerangan lampu pijar bekekuatan 15 watt yang tergantung di tengah-tengah ruangan dan jendela kecil yang tampaknya dipaksakan ada mengingat ruangan sempit ini memerlukan sirkulasi udara dan cahaya, sehingga menampakkan bayangan samar diatas lantai semen yang sudah gempur dibeberapa tempat sehingga terlihat tanah yang berada dibawah lapisan semennya. Di sudut ruangan disebrang sisi jendela terdapat meja kayu yang salah satu kakinya harus diganjal dengan batu bata dan tak lupa pula lengkap dengan bangku reotnya yang tampak sedikit mempermanis suasana diruangan dengan tekstur kayunya yang berwarna coklat tua yang tampak mulai memudar, di atas meja terdapat sebuah mesin tik tua berhiaskan ornamen-ornamen dari karat yang dari penampilannya saja rasanya layak mesin tik itu mendapatkan penghargaan “lifetime achievement typewriter Award”  atas jasanya yang sudah menerbitkan ratusan juta lembar naskah demi naskah. Sekilas pemandangan ini rasanya hanya bisa dijumpai di museum-museum yang menampilkan diorama tentang kehidupan dan suasana jaman perang, tapi ruangan sempit ini memang ada dan bahkan teramat nyata untuk kita sadari.
[Adegan]
Sore hari menghantarkan sinarnya yang berwarna kemerahan saat  seorang lelaki tua yang kira-kira berumur tidak kurang dari 70 tahun tampak memasuki ruangan sempit, terdengar derit saat pintu ruangan tersebut dibuka yang terdengar seolah tak rela siapapun memasuki ruangan sempit tersebut. Sesaat lelaki tua itu tampak diam sejenak memperhatikan keadaan sekitar seolah ingin benar-benar memastikan ruangan ini memang siap untuknya. Setelah yakin dengan sigap ia menarik bangku dan duduk disinggasana kebesarannya seperti halnya raja-raja tempo dulu pada masa kejayaan mereka. Ya di ruangan inilah dia menjadi raja bagi dirinya dan rakyatnya yang terdiri dari perabot seadanya turut tunduk kepada dirinya. Sebagaimana raja yang berdaulat maka lelaki tua itu memutuskan untuk mengeluarkan titahnya, perlahan jari tangannya mulai memainkan tuts-tuts mesin tiknya [ctak..ctek… ctak…ctek…ctak..ta..tak….tikkk..tikk takkk tak..ctak….ctik…kreeeeeekkkk…ctek…ctak…tek… tekkk…takk…tikk..tek…takkk…ctakk…kreeekkkkkk].
Tiba tiba terdengar suara yang sangat mengejutkan lelaki tua itu, ia mendapati mesin tik tuanya bergetar tak karuan seakan-akan hilang kendali dan terus menerus seperti itu, ia bingung atas kelakuan mesin tik miliknya yang seolah hendak berbuat makar atas dirinya.
[Dialog]
“Hentikan !!!! sudah cukup, sudah muak aku meladeni kau dan kelakuan konyolmu tiap hari. Sudah cukup aku biarkan diriku mendengarkan celotehan konyolmu, bahkan jarimu saja sudah tak kuasa lagi mengikuti kemauan otakmu yang sudah seharusnya kau kubur puluhan tahun yang lalu. Aku lelah !!!!” jerit suara yang berasal dari mesin tik itu.
“Apa yang kau bicarakan sudah bosankah kau bersenda gurau denganku, bermain kata aksara demi aksara, melihat betapa anggunnya pita karbon yang selalu berputar mengusap lembut setiap helai demi helai kertas yang menjadi buah cinta kita bersama, mengapa kini kau berkata seperti itu kepadaku? ” tanya lelaki tua itu.
“Aku sudah muak denganmu, tidakkah kau sadar dengan dirimu sekarang? “, jawab mesin tik yang dibalas juga dengan tanyanya.
“Memangnya kenapa aku sekarang?”  tanya lelaki tua itu lagi.
“Hah… ternyata kau pun tak sadar, dulu kau memang seorang yang gagah dan berkuasa, setiap orang mendengarkanmu bahkan  akupun merasa senang bisa menemanimu, tapi sekarang… lihatlah dirimu, kau ini sekarang hanyalah seorang raja tua yang sudah kehilangan segalanya, ocehanmu sekarang tak lebih dari sekedar omong kosong belaka, kau tak lagi berguna!”  jawab mesin tik.
“ Apa katamu ? kau pikir hanya karena usiaku yang menua dan keriput sudah memenuhi sekujur badanku, aku tak lagi dapat memberikan arti dari keberadaanku, apakah arti dari keberadaanku ini hanyalah sia-sia belaka… jangan kau pikir aku akan berhenti memberikan makna hidupku ini kepada dunia!”, kata si lelaki tua dengan emosi yang teratahan.
“Dunia? kau katakan makna hidupmu pada dunia ha… ha….ha…ha…ha…” Tawa mesin tik itu.
“Apa yang kau tertawakan?” Tanya lelaki tua dengan perasaan yang terluka.
“Dunia mana yang kau maksud ? dunia mana yang mau menerimamu, menerima seorang lelaki tua yang tak ada artinya”  jawab mesin tik.
“Dunia yang mau menerima dan menghargai setiap hikmah dan nilai-nilai kehidupan mereka yang telah membangunnya, dunia yang menghargai setiap kisah dari seorang tua yang  ingin membagi apa yang ia rasakan dan apa yang ia alami, dunia yang memandang seorang bukan dari siapa orang itu, melainkan apa yang telah ia itu perbuat, dunia yang akan selalu belajar dari masa lalunya. Dunia itulah yang akan selalu mengakui keberadaan seorang lelaki tua sepertiku.” jawab lelaki tua itu dengan pancaran mata penuh dengan harapan dan keyakinan.
“Dunia itu telah lama mati terkubur bersama tulang-belulang orang-orang sepertimu!. Kau terlalu lama hidup dalam kerajaan sempitmu sehingga kau tak lagi menyadari apa yang telah berubah. Duniamu sudah berubah menjadi dunia yang penuh dengan penyakit-penyakit yang membuat setiap orang lupa akan makna dirinya dan darimana ia berasal. Duniamu sudah berubah dimana sekarang kepalsuanlah yang menjadi rajanya, kemunafikan yang menjadi singgasananya dan bahkan sang raja pun sudah mengeluarkan titahnya sehingga kebencian hinggap disetiap hati, tanpa menyisakan sedikitpun nurani dan rasa keadilan dari warisan duniamu, duniamu hanya utopis belaka hanya impian bagi kerajaan konyolmu!.” Balas mesin tik dengan ketus.
“ya.. duniaku sekarang memang hanya utopis bagi jiwa yang telah kehilangan akarnya sepertimu. Tapi di luar sana impianku akan tetap hidup bagi setiap orang yang tahu darimana ia berasal. Dan mimpiku kan menjadi jawaban dari setiap jiwa yang terus menggantungkan harapnnya pada matahari.”
“Ha…ha…ha… betapa naifnya dirimu, bahkan mataharipun ada kalanya tenggelam dan berhenti tuk menerangi dunia, dan orang tua sepertimu sudah saatnya hilang dan punah bersama kenaifanmu.” Jawab kembali mesin tik yang disertai tawanya.
“Berhenti? Bagiku hanya ada 2 titik dalam kehidupanku, yakni saat kelahiranku dan akhir kehidupanku dan selama waktuku belum tiba aku tidak akan pernah berhenti.” Kembali lelaki tua itu berkata.
“kau sudah tamat… KAU SUDAH TAMAT!!!!.”
“Tidak …. Tidak akan pernah!!!” bantah lelaki tua itu.
“Seribu kalipun kau mengatakan tidak keadaan akan tetap berubah. Lihatlah keluar jendela, lihatlah bagaimana mataharipun perlahan tenggelam dan hilang ditelan malam.” Kembali mesin tik itu berkata.
“hentikan !!!.” kemarahan lelaki tua itupun memuncak dan dengan kemarahan yang teramat sangat dilemparkannya mesin tik itu sehingga jatuh kelantai yang keras, mesin tik itu pun terkapar tiada daya dan mati menjemput ajalnya, meninggalkan segala kepicikan dan kebodohannya yang membunuhnya sendiri.
Lelaki tua itu bingung, tersentak ia dalam pikiran nanarnya, yang ia pikir selama ini bahwa sahabat setianya adalah mesin tik itu, disaat anak dan istrinya perlahan meninggalkannya, tapi sekarang ia mendapati sahabat setianya kinipun telah meninggalkannya, menghianatinya. Kini dalam kesedihan dan kemarahannya yang bercampur menjadi satu, ia bagaikan partikel kecil yang terhempas ke kanan dan ke kiri, ke atas dan ke bawah, ke depan dan ke belakang dalam dunia yang kini tak lagi menerima keberadaan dirinya. Ia merasa perlahan dirinya terhisap ke dalam pusaran lubang hitam dimana setiap materi tak lagi terukur dalam satuan massa-nya lagi, dan tak lagi menjadi milik konstelasi dunia.
Hening sesaat mewarnai suasana sore itu, bahkan lelaki tua itupun masih duduk termangu tanpa tahu apalagi yang harus ia lakukan. Kesedihan masih mewarnai langit senjanya. Perlahan ia bangkit dari lamunannya, berdiri dan menatap sesaat ke arah jendela kecil ruangan itu, memandangi langit senja di cakrawala. Yah matahari kini mulai meninggalkan dunianya dan melepaskan dirinya ke dalam pelukan malam dan membiarkan bulan menuntunya sebagaimana bulan
kan memberikan setitik harapan bagi jiwa lelah yang menantikan sinar matahari. Kini sudah saatnya bagi dirinya pikir lelaki tua itu, ia membalikkan tubuhnya dan melangkahkan langkah kakinya yang mulai gontai menuju sisi lantai dimana mesin tik-nya yang tak lain sudah menjadi seonggok besi tua yang tak lagi berguna. Perlahan ia mengangkat mesin tik itu, sangat pelan sekali, dengan lembut ia letakkan mesin tik itu dalam pelukannya, ingatan demi ingatan terlintas dalam benaknya, terbayang ia saat ia menggendong anaknya saat masih bayi dulu, dan seperti halnya anaknya ia tahu bahwa ia juga harus berpisah dengan mesin tik miliknya. Dalam keharuan dan air mata yang bergulir diatas pipi keriputnya ia letakkan kembali mesin tik itu keatas meja kayunya dan memandang untuk terakhir kalinya. Perlahan lelaki tua itu membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar ruangan sempit itu dan pergi tanpa pernah kembali lagi, meninggalkan kerajaannya, meninggalkan semuanya.
Ruangan sempit itu tak lagi sama, sekarang ruangan itu hanyalah kerajaan tanpa raja yang duduk di singgasana kebesarannya, tanpa ada lagi titah yang dulu mewarnai hari-hari dalam ruangan itu. Sang raja kini sudah menemukan kerajaannya sendiri, di dalam kerajaan hatinya yang takkan pernah meninggalkannya bersama kebijaksanaannya dan dalam pelukan malam yang menjadi singgasananya serta angin malam yang kan selalu meniupkan dan membawa titahnya mengarungi angkasa, memasuki mimpi-mimpi malam setiap insan yang terlelap dalam mimpi hari esok mereka hingga mereka terbangun dan menjadi raja bagi diri mereka sendiri, raja bagi setiap harapan mereka sendiri. Tamat.
Dari buku sekolah.
________________
Terima kasih kepada: Okrek (Produk Busana Muslim)Duta Pulsa (All Operator Pulsa Elektrik)Mode (Belajar Mendesan Busana)Persewaan Alat Pesta / Tenda,   Permata Martapura di FacebookGamis Modern di Facebook

Paragraf Berpola Umum-Khusus


 Baby Hanbok 3 warna

Paragraf Berpola Umum-Khusus

Bacalah paragraf berikut ini!
Kepedulian kepada sesama harus ditumbuhkan kembali dalam kehidupan bermasyarakat. Hal itu diwujudkan melalui adanya perasaan senasib sepenanggungan dengan sesama. Jika ada tetangga atau kerabat mengalami kesulitan, maka segeralah ulurkan bantuan. Kesulitan akan terasa mudah jika ada kebersamaan antara kita. Berikan bantuan tanpa harus diminta. Jangan biarkan ada penderitaan sementara kita nyenyak dengan kebahagiaan.
Paragraf tersebut diawali dengan sebuah kalimat bermakna sangat umum, yaitu Kepedulian kepada sesama harus ditumbuhkan kembali dalam kehidupan bermasyarakat. Kalimat-kalimat berikutnya ternyata memberikan penjelasan terhadap kalimat pertama tersebut. Ada lima kalimat yang berupaya menjelaskan kalimat pertama. Kelima kalimat penjelas itu hanya cocok untuk menjelaskan kalimat pertama pada paragraf tersebut karena kalimat-kalimat itu memiliki makna khusus yaitu khusus menjelaskan kalimat pertama. Sebaliknya, kalimat pertama maknanya masih sangat umum. Kalimat itu dapat dijelaskan dengan kalimat lain selain kelima kalimat di bawahnya itu.

Paragraf yang disusun atau dikembangkan dengan cara semacam itu, disebut paragraf berpola umum-khusus, yaitu sebuah paragraf yang dimulai dengan pernyataan yang bersifat umum kemudian diikuti dengan pernyataan yang bersifat khusus. Paragraf umum-khusus boleh juga disebut paragraf deduktif karena ide pokok paragrafnya berada pada awal paragraf.
Dari Buku PR, TUGAS, dan Catatan Sekolah

Angle (Sudut Pandang) Photografi dan Cinematografi

Angle (Sudut Pandang) Photografi dan Cinematografi

Disalin dari: http://phoci.bukupr.com/2012/09/angle-sudut-pandang.html
Angle atau dalam istilah lain disebut sebagai posisi/sudut bidik mempunyai peranan penting dalam photography, karena dengan mengetahui berbagai angel dalam photography maka konsepyang ingin kita capai,atau pesan yang ingin kita sampaikan dalam menghasilkan sebuah karya photo akan lebih mudah.

Definisi Komposisi 
Komposisi secara sederhana diartikan sebagai cara menata elemen-elemen dalam gambar, elemen-elemen ini mencakup garis, bentuk, warna, terang dan gelap. Yang paling utama dari aspek komposisi adalah menghasilkan visual impact (sebuah kemampuan untuk menyampaikan perasaan yang anda inginkan untuk berekspresi dalam foto). Dengan komposisi, foto akan tampak lebih menarik dan enak dipandang  dengan pengaturan letak dan perbandaingan objek-objek yang mendukung dalam suatu foto. Dengan demikian perlu menata sedemikian rupa agar tujuan dapat tercapai, apakah itu untuk menyampaikan kesan statis dan diam atau sesuatu mengejutkan. Dalam komposisi selalu ada satu titik perhatian yang pertama menarik perhatian.

Jenis-Jenis Komposisi :
- Garis 
Komposisi ini terbentuk dari pengemasan garis secara dinamis baik garis lurus, melingkar / melengkung. Biasanya komposisi ini bisa menimbulkan kesan kedalaman dan kesan gerak pada sebuah objek foto. Ketika garis-garis itu digunakan sebagai subjek, yang terjadi adalah foto menjadi menarik perhatian. Tidak penting apakah garis itu lurus, melingkar atau melengkung, membawa mata keluar dari gambar. Yang penting garis-garis itu menjadi dinamis.
- Bentuk
Komposisi ini biasanya dipakai fotografer untuk memberikan penekanan secara visual kualitas abstrak terhadap sebuah objek foto. Biasanya bentuk yang paling sering dijadikan sebagai komposisi adalah kotak dan lingkaran.
Warna
Warna memberikan sebuah kesan yang elegan dan dinamis pada sebuah foto apabila dikomposisikan dengan baik. Kadang kala komposisi warna dapat pula memberikan kesan anggun serta mampu dengan sempurna memunculkan “mood color” (keserasian warna) sebuah foto terutama pada foto – foto “pictorial” (Foto yang menonjolkan unsur keindahan)
- Gelap dan Terang Komposisi ini sebenarnya dipakai oleh fotografer pada era fotografi analog masih berkembang pesat terutama pada pemotretan hitam putih. Namun, sekarang ini, ditengah – tengah era digital komposisi ini mulai diterapkan kembali. Kini pengkomposisian gelap dan terang digunakan sebagai penekanan visualitas sebuah objek. Kita dapat menggunakan komposisi ini dengan baik apabila kita mampu memperhatikan kontras sebuah objek dan harus memperhatikanlingkungan sekitar objek yang dirasa mengganggu yang sekiranya menjadikan permainan gelap terang sebuah foto akan hilang.
- Tekstur  Yaitu tatanan yang memberikan ksan tentang keadaan prmukaan suatu benda (halus, kasar, beraturan, tidak beraturan, tajam, lembut,dsb). Tekstur akan tampak dari gelap terang atau bayangan dan kontras yang timbul dari pencahayaan pada saat pemotretan.

Sudut Pengambilan (Angle ) dalam Fotografi 
a. High Angle (Bird View)
Posisi pengambilan gambar ditempatkan jauh diatas objek utama. Sifat dari
Angle Bird View ini memperkecilkan objek utama, memberikan kesan luas, dan
menyudutkan objek utama. Bird View Angle juga mempunyai sifat menekan objek
utama.
b. Eye Angle
Posisi pengambilan gambar ditempatkan sejajar dengan mata objek utama. Posisi
pengambilan ini biasa digunakan untuk wawancara dan pengambilan gambar secara
portrait.
c. Low Angle ( Frog Angle)
Posisi pengambilan gambar ditempatkan pada bagian bawah objek. Sifat dari angle
ini memperbesar objek utama dan memberi kesan besar pada objek tersebut. Jika
ingin membuat kesan sombong pada foto, low angle ini bisa di pergunakan.
Ukuran gambar biasanya dikaitkan dengan tujuan pengambilan gambar, tingkat
emosi, situasi dan kodisi objek.

Selengkapnya tentang Photografi dan Cinematografi klik disini

Lupa Ladang Pahalanya Sendiri


Untaian kata ini mari kita awali dengan sebuah pertanyaan. Berapa banyak lading untuk mencari pahala? Apakah lading untuk mencari pahala begitu minim hingga sedikit orang yang memilih untuk menggarapnya? Lalu kebanyakan orang memilih untuk menggarap lading lainnya yang berkenaan dengan dunia?. Sayangnya kenyataan tidak seperti itu.

Seperti seorang ibu dan seorang istri. Mereka memilii banyak lading untuk mencari pahala. Namun karena nafsu telah lebih dulu meminta hak untuk dipenuhi, mereka lupa menggarap ladang pahala yang sudah di depan mata.

Seorang istri dan ibu sebut saja M. Ia dulu terlahir di keluarga biasa-biasa saja, dengan tingkat ekonomi yang biasa saja, pengetahuan agama yang bisa saja, hingga hidupnya menjadi terlalu biasa, tak punya greget untuk mencetak sesuatu yang luar biasa.

Di pertengahan misinya menjadi istri dan seorang ibu. Ia menyerah. Nafsu menghadangnya meminta untuk dituruti, dipenuhi haknya. Ia menyerah begitu saja meninggalkan kewajibannya menjadi insan mulia yang harusnya mendidik suami dan anak-anaknya.

M menyerah begitu saja meninggalkan orang yang mencintainya, untuk mengejar orang yang di cintainya. Pria yang ia sebut sebagai kekasih hati tak bisa terganti. Perpisahan itu memang menyakitkan, namun sang mantan suami dan anak-anaknya merelakan M untuk mengejar kebahagiaannya sendiri.

Sebenarnya cukup sederhana kata kebanyakan orang. Suami yang ditinggalkan bisa menikah lagi dengan perempuan manapun yang mencintainya atau bahkan sebaliknya menikah dengan perempuan manapun dengan wanita yang mau dengannya. Anaknya pun sama, mereka bisa memilih tinggal dengan siapa saja yang mencintai mereka, mereka harus bersyukur karena orang tua mereka bertambah.

Namun hidup tak sesimple itu. Kenyataan lebih pelik dari yang kita pikirkan.
Ketika itu anak-anaknya memilih tinggal bersama dirinya. Sedangkan mantan suami M memutuskan untuk menikah lagi. Dengan seorang wanita yang berat hati untuk menerima anak-anak dari M.

Mulailah masalah datang silih berganti, membuat M semakin melupakan ladang beramal yang ia miliki, Ia membiarkan ladang itu kering kerontang hingga hancur menjadi debu sia-sia.
M melupakan pendidikan anak-anaknya, karena ia sibuk mengejar lelaki yang dicintainya yang rupanya juga memiliki seorang istri yang mencintainya. M melupakan pengawasan ketat anak-anaknya dari serangan media pembunuh, hingga anak-anaknya tenggelam dalam kesibukan menikmati media yang suatu saat bisa membunuh mereka. M melupakan kewajiban sebagai muslimah, sebagai seorang ibu yang harusnya mendekatkan anak-anaknya kepada sang pencipta. M seakan tak peduli kalau anak-anaknya nanti hidup jauh dari sang pencipta.

M lebih peduli pada berapa rupiah yang masuk kekantongnya untuk membayar hidupnya yang penuh hutang, M lebih memilih untuk lari kesana kemari mengikuti gerak lelaki yang ia cintai, meninggalkan anaknya sendiri di dunia temaram.  Menikmati dunia sendiri dan melupakan jati dirinya sebagai seorang muslimah.

Betapa sia-sianya hidup M. Ia melupakan ladang pahala yang ia miliki, padahal ladang itu begitu luas. Mulai dari yang kecil sampai ladang yang besar pahalanya. Ketika ia memilih bercerai dan memilih pria yang belum tentu bisa mencintainya seperti mantan suaminya, ia menghanguskan ladang itu dengan api cintanya. Ketika ia memilih mengejar cinta pria lain dan melupakan mendidik anak-anaknya ia menghanguskan lagi ladang pahala yang ia miliki karena jebakan dunia. Lihatlah. Betapa dunia begitu menjebak, hingga melupakan manusia dari ladang pahala yang ia miliki. Kalau saja sang M tahu betul ladang pahala yang ia miliki. Ia tak akan pernah melirik lelaki lain, ia tak akan pernah meninggalkan anak-anaknya demi segenggam uang. Ia akan tetap menjadi istri yang terus belajar memuaskan suaminya, mendidik suami dan anaknya, ia akan menjadi wanita yang bersabar dan terus bersabar menghadapi gelombang rumah tangga yang berkecamuk mencabik jiwanya dan merindukan Surga yang dijanjikan Allah Azza wa Jalla

To be continue 




By Ayuna Kusuma

Normal ? atau Tidak ? (Masih Masalah Anak-anak)

Add caption
Ada anak SMP bernama yyy yang bertanya pada saya "Mbak.. kalau saya sekolah, lalu hanya berkomunikasi dengan guru, belajar, mengerjakan lks, dan mengerjakan pr saja, lalu pulang tanpa berkomunikasi dengan seorang murid pun bagaimana? apakah saya normal? apakah saya murid yang normal? karena ibu saya berkata, jangan sampai terpengaruh dengan teman-teman, tetap belajarlah karena hanya kamu yang bisa menggantikan ayahmu dalam keluarga ini. Ayah saya sudah meninggal mbak.... bagaimana mbak? apakah bisa rutinitas itu saya lakukan??"

Saya sengaja menyimpan pertanyaan ini untuk teman-teman sekalian, bagaimana??? apa pendapat kalian semuanya??......

Lalu besok paginya setelah saya cek akun saya, ada pula anak SMP yang bertanya pada saya "Saya xxx... masih kelas 2 SMP, tapi saya sudah punya pacar 3, 2 di sekolah yang sama, dan satu di sekolah yang berbeda, apakah saya normal mbak? saya ganteng sih... makanya banyak yang suka. dan kalau ga pacaran sepertinya sepi..... saya ga pernah seks diluar nikah.... tapi cuma ciuman aja..... apakah saya normal mbak???"

Nah bagaimana pendapat kalian mengenai pertanyaan dari xxx dan yyy ???.......

mohon bantuannya.....
 
Layanan untuk Anda: x Cerita dari Kusuma | - | dari - | Lihat dalam Versi Seluler