- - - - . - - | Facebook | Twitter | GPlus |
Tampilkan postingan dengan label SNSD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SNSD. Tampilkan semua postingan

Fanfiction - Jeo-Ju - Part 2 - Series



Author : Ayuna Kusuma

Genre : Mystery, Romance, Action

Maincast :

Hyun Bin : Hyun
Taeyeon SNSD : Taeyeon
Jo Youngmin : Jo Youngmin
Jo Kwangmin : Jo Kwangmin

Location : Seoul, Korea


28 April 2013 12:38 Daedong Highschool 35 Gye-dong, Jongno-gu, Seoul

Di ruangan seni yang begitu luas, ada seorang murid yang sedang sibuk-sibuknya menggoreskan kuas dengan tinta merah di kain kanvas. Ia tak mempedulikan kesendiriannya di ruangan yang begitu luas dan sedikit mengerikan, karena hanya ada satu penerangan saja di dinding samping kirinya.

Drrrt… Drrrt… ada sesuatu yang bordering di tas kain warna hitam yang menggantung di bahu murid laki-laki itu. Ia merogoh tasnya dengan pelan, dilihatnya handphone yang ada ditangannya.
“huh…..” gumamnya, ia membuka handphonenya

“Ye Hyung….. aku sedang melukisnya… hehehe… tadi malam memang begitu menyenangkan… hmmm… aku akan menyertakan lukisanku di pameran Seoul Art… hum… begitukah?... kurang 5 orang lagi?... hmmm siapa ya… aku tidak tahu Hyung… saat ini tak ada orang yang ingin kubunuh… bagaimana denganmu?...hmmm aku juga sempat bingung…” kata murid laki-laki itu.

Ia menelpon sambil terus melukis di kanvas dengan cat merah yang ada dibawahnya.

“Ye.. aku sudah mencampurkan darahnya dengan catku… hehehe… bagus… lukisanku sangat bagus… Hyung… kau sedang dimana? Oh… begitukah?” murid itu membuka korden ruang seni yang besar, ia mengintip sedikit ke luar ruangan.

“Hmmm… aku melihatmu Hyung… kali ini kau harus kalahkan Ilhoon. Ah… Hyung… bagaimana kalau target kita selanjutnya Ilhoon? Eoh??..... hmmm… iya aku tahu… target kita harus yang tak punya hubungan dengan kita…. Baiklah Hyung…hmmm… aku akan menemuimu di lapangan… sebentar lagi… aku selesaikan bagian kepalanya dulu” Murid laki-laki itu berpaling, mendekati lukisannya, mengocok cat yang bercampur darah di bawah kakinya. Lalu membuat lukisan seorang wanita yang mengerikan. Kepalanya hanya setengah.

“huh…. Hyung terlalu cepat…… tapi memang harus ada korban lagi demi kebaikan bersama…” kata murid laki-laki itu pada dirinya sendiri.

***

28 April 2013 13:00 618-1 Ahyeon-dong, Mapo-gu, Seoul, Korea Selatan

Hyun dan Yeon masih sibuk dengan kasus barunya, pembunuhan 20 murid Daedong Highschool yang tak pernah terkuak, dari semua korban cara bunuh dirinya selalu sama, mereka melompat dari kamar apartemennya, dan dari beberapa video cctv ada pantulan bayangan yang menyerupai anak laki-laki kembar.

“Yoboseyo… gyojang seonsaengnim… saya dari kepolisian Seoul, hmm… ye…ah… ye… sebenarnya saya dan detektif Taeyeon akan menyamar sebagai guru bahasa inggris dan olahraga di sekolahmu… hmmm.. ah anni… anni… tidak ada sangkut pautnya dengan gang… anni… ye… kami punya tugas untuk melindungi anak-anak dari kejahatan rasis yang terjadi di sekolahmu… ye… ah… gyojang seonsaengnim… bisakah mulai besok kami masuk?... ye… ah tidak masalah… kami akan jadi guru pendatang yang mengisi kekosongan saja. Hanya saja… khusus nona Taeyeon. Mohon di tempatkan di kelas 12-4… ye… wooah.. gyojang seonsaengnim…daedanhi gamsahabnida. gyojang seonsaengnim… ye ye… kapan-kapan aku akan berkunjung ke rumah anda… ye… daedanhi gamsahabnida. gyojang seonsaengnim…” Hyun menutup telpnya.

“HUAAAAHHAHAHAHAHAHA~~~~!! MULAI BESOK kita akan menjadi guru disana~~~!! WOOOHOOOOOOOOO~~~~!! Kau lihat kan??? Kolega itu begitu berharga hahahaha” Hyun meloncat-loncat sambil membanggakan dirinya.

Taeyeon yang sedari tadi sibuk menulis sesuatu di buku jurnalnya, melihat Hyun sambil tertawa “woooh…wooh… baiklah tuan Hyun… mari kita bekerja lagi… oh. Apakah kau kenal dengan kepala sekolah Daedong?” Tanya Taeyeon sedikit penasaran

“Hum… dia adalah saudara dari saudara teman ayahku” kata Hyun sambil kembali duduk

“Hahahahaha… aku sedikit bingung dengan urutan kolegamu…” sindir Taeyeon sembari meminum kopi yang ada didepannya.

“Haisss… lupakanlah… yang penting besok kau harus masuk pagi arra??... jangan terlambat masuk.. karena kau akan menjadi guru… dan Mr Oh, akan menempatkanmu di kelas 12-4 dimana si kembar Jo belajar disana… oh… Yeon… apakah kau begitu pintar dalam bahasa inggris??”

“what? you doubt my ability??” Tanya Taeyeon sok berbahasa inggris

“Hahahaha… okey… stop… I don’t know anymore” jawab Hyun sambil mengangkat tangannya

“Hahahahahahaha” mereka pun tertawa bersama, melepas kepenatan.

“Hyun… kau jangan sekali-kali menatap mata kedua anak kembar itu. karena kekuatan mereka ada di matanya, kalau kedua anak kembar itu ingin melukai seseorang, mereka akan menggunakan matanya untuk menghipnotis… percayalah padaku… eoh??” kata Taeyeon pada Hyun.

“apa kau sedang bercanda…? Hehehe” Hyun menggoda Taeyeon dengan melebarkan matanya.

“Haiss… aku bicara serius… lalu kau akan mengajar sebagai guru olah raga?” Tanya Taeyeon sembari memasukkan beberapa map ke tas ransel hitam miliknya.

“hum… aku akan mejadi guru olah raga… Yeon… mengapa kau tak menuduh pasangan kembar lainnya?” Tanya Hyun sambil membuka lagi foto anak kembar yang kedua.

“Babo… kau lihat… mereka kembar laki-laki dan perempuan, mereka juga pendek, dan mata mereka seperti mata orang biasa. Coba lihat ini” kata Taeyeon memberikan foto yang sudah di print pada Hyun.

“Coba lihat ini. Bayangan ini dan foto kembar Jo. Mata mereka sama, postur tubuh mereka sama, dan rambut mereka sama. Kau tahu Hyun… aku adalah keturunan Furtuneteller terkenal di Seoul, jadi… aku tahu apa yang terjadi nanti” terang Taeyeon.

“Yeon… bisakah kau ramal aku?? Apakah aku akan mendapatkan wanita yang cantik sebagai istriku eoh?? Haiiisss… mendapatkan wanita yang tidak cinta uang begitu sulit…” kata-kata Hyun membuat Taeyeon menahan tawanya.

Ia memakai jaket hitamnya dan tas ranselnya. “aku tak akan memberitahumu kalau masalah itu, kalau aku beritahu…. Kau akan meninggalkanku sendirian dengan kasus ini… hehehe… bye bye… Hyun…”

“Hya!! Yeon… kalau aku punya kekasih aku akan janji tak akan meninggalkanmu… Hey~!! Jangan tinggalkan aku~!! YEON~!!! Aku tak bawa mobil tadi~~~~!!” Hyun mengejar rekan kerjanya yang sudah jalan lebih dulu.

***

29 April 2013 07:00 Daedong Highschool 35 Gye-dong, Jongno-gu, Seoul

Mobil Hyundai milik Taeyeon sudah terparkir di lapangan parker Daedong Highschool. Mereka berdua, Taeyeon dan Hyun kini berada di ruangan kepala sekolah.

“hmmm… aku sebenarnya juga khawatir dengan maraknya bunuh diri yang dilakukan murid Daedong… jadi menurut kalian berdua ini bukan bunuh diri? Tapi pembunuhan?” Tanya Kepala sekolah pada Taeyeon dan Hyun yang duduk di hadapannya.

“gyojang seonsaengnim… itu analisis kami sementara ini, dan kedua anak ini adalah tersangka utama kami, tapi… kita tidak bisa langsung menangkapnya. Aku dan Taeyeon akan menyelidiki bagaimana kehidupan mereka, dan semua tentang kedua anak kembar ini” kata Hyun sambil memberikan foto Jo Kembar kepada kepala sekolah.

“Hmmm… Kwangmin… dan Youngmin… mereka adalah siswa terbaik yang kami miliki… Youngmin adalah atlit soccer ternama dari sekolah kami, ia mendapatkan banyak piala selama bersekolah disini… dan Kwangmin… anak ini begitu jenius dalam hal seni. Berkali-kali dia di undang Seoul art untuk menampilkan semua karyanya… tak mungkin mereka yang melakukan semua ini… tak mungkin…” kata kepala sekolah sembari membenarkan kacamatanya.

“gyojang seonsaengnim… untuk itu… kami harus menyelidikinya terlebih dahulu… kami tak ingin asal tangkap saja… bagaimana? Apakah kita bisa masuk hari ini?” Tanya Hyun.

“Humm… baiklah… kalian bisa masuk mulai hari ini… semoga saja bukan mereka berdua yang dibalik semua pembunuhan ini” kata kepala sekolah sambil menyelipkan foto di lacinya.

“Nona Sora… masuklah…” kepala sekolah memanggil seseorang untuk masuk ke dalam ruangannya. Seorang wanita yang memakai baju pink dan kacamata pink masuk, ia tampak kaget ketika melihat Hyun yang terlihat tampan dengan setelan olah raga.

“Sora… apakah pak Min dan Nona Jung tak masuk hari ini?” Tanya Kepala sekolah pada wanita yang bernama Sora.

“Ah..hehe… iya mereka sedang menjalani training dan seminar di Busan… ada apa gyojang seonsaengnim?” Tanya Sora, matanya tak lepas dari Hyun.

Hyun merasa wanita itu sedang melihatnya, dengan malu-malu ia menyembunyikan wajahnya di balik jaket Taeyeon.

“Oh… baiklah… Nona Sora… kenalkan. Dia Hyun. Guru olahraga pengganti Pak Min, dan Nona Taeyeon pengganti Nona Jung guru bahasa inggris kelas 12-4. Tolong antarkan mereka ke kelasnya masing-masing” kata kepala sekolah sembari bangkit dari duduknya.

“Hyun… selamat berjuang… dan jangan membuat semua orang tahu siapa kau.. Nona Taeyeon selamat bekerja” kata kepala sekolah,
mereka saling berjabat tangan, tanda kerjasama sudah dimulai.

“Ye… gyojang seonsaengnim… daedanhi gamsahabnida” Kata Taeyeon. Sedangkan Hyun masih saja menempel pada rekan kerjanya, menjauhkan wajahnya dari pandangan Nona Sora.

“Yeon pakai ini… aku juga memakainya. Kita akan berhubungan melalui walkie talkie nano ini… okey.” Kata Hyun sambil memberikan sesuatu pada Taeyeon. Mereka berdua memakainya dan mulai keluar ruangan.

“Ssstt… Yeon wanita itu mengapa memandangku terus … aku merasa ketakutan” bisik Hyun pada Taeyeon.

“ssstt… aku bisa merasakan ia jatuh cinta padamu hihihi” bisik Taeyeon

“haissss… Jinjja??” bisik Hyun lagi. Mereka berjalan berdempetan mengikuti Nona Sora yang berjalan lebih dulu.

“Ye… ssstt… dia tipe wanita yang tak suka uang… cocok dengan tipemu hihihi” bisik Taeyeon lagi.

“Nona Taeyeon… ini ruang kelas 12-4. Pelajaran pertama hari ini Bahasa inggris jadi anda bisa masuk lebih dulu… maaf anak-anak belum masuk karena jam masuk sekolah masih 1 jam lagi… Tuan Hyun… ayo kuantar ke ruang olah raga” kata Nona Sora sambil mencoba menggapai tangan Hyun

“Gomawo… Sora…” kata Taeyeon sambil menahan tawa, melihat rekan kerjanya ketakutan di sebelah wanita berkacamata pink itu.

“YEOON~~~~~~!! ANDWAEEEEEEEEE” teriak Hyun tanpa suara, Sora telah menyeretnya menjauh dari kelas 12-4.

“Bye bye… Hyun Hahahahaha… aigoo… pria itu sungguh aneh…” gumam Taeyeon sambil masuk kedalam kelas 12-4.

“Youngmin… kau duduk disini hah?” kata Taeyeon sambil memeriksa kursi dan meja yang berada di pojok ruangan dekat jendela.

“Hummm… webtoon… itu kesukaanmu? hmmm” gumam Taeyeon lagi

Kemudian ia berpindah ke tempat duduk yang ada di depan, juga dekat dengan jendela “Kwangmin… jadi disini kau duduk heh… coba apa yang ada dilacimu” Yaeyeon membuka laci, dan ia hanya menemukan catatan pelajaran disana.

“hmmm… tak ada yang mencurigakan… Jo… kalian akan kutangkap… lihat saja nanti… semuanya akan tahu siapa kalian sebenarnya” kata Taeyeon sambil menyiapkan pelajarannya di meja guru.

To be continue

Fanfiction - Jeo-Ju - Part 1 - Series



Author : Ayuna Kusuma

Genre : Mystery, Romance, Action

Maincast :

Hyun Bin : Hyun
Taeyeon SNSD : Taeyeon
Jo Youngmin : Jo Youngmin
Jo Kwangmin : Jo Kwangmin

Location : Seoul, Korea

28 April 2013 08:00 618-1 Ahyeon-dong, Mapo-gu, Seoul, Korea Selatan

Hari minggu merupakan hari istimewa di Seoul, banyak orang yang menghabiskan waktunya di pusat hiburan keluarga, atau sekedar mendaki gunung, di hari minggu juga banyak sekali remaja yang menyelenggarakan acara, dari hiburan sampai acara yang serius seperti pagelaran galeri teknologi di pusat kesenian Seoul.

Tapi sepertinya hari minggu sama saja bagi setiap polisi. Hari minggu mereka harus bertugas bahkan lebih ketat lagi tugas mereka.

Seperti ketiga orang yang duduk di ruang rapat tertutup, di kantor polisi Mapogu. Mereka bertiga sangat konsentrasi melihat adegan-adegan yang ditampilkan di layar besar di depan mereka.

“Lihatlah… bagaimana gadis itu meloncat dari gedung lantai 15, ia seperti sedang berbicara dengan orang lain disana, padahal di rekaman itu tak ada siapapun kecuali gadis itu… coba lihat dia, hmmm” kata seorang petinggi kepolisian, mengarahkan kedua anak buahnya untuk melihat tayangan yang ia berikan.

Wanita yang ada di sebelah kanannya, mendekatkan wajahnya untuk melihat lebih jelas.

“Oh… sepertinya ada orang lain yang menyuruhnya untuk meloncat dari balkon… Komisaris… adakah rekaman lainnya? Dari sisi yang lain?... mungkin saja ada anak lain yang bersembunyi di suatu tempat lalu membuatnya takut dan akhirnya melakukan bunuh diri?” wanita yang memakai label detektif seoul itu mulai tertarik dengan kasus yang di paparkan komisaris polisi.

“tidak ada…. Hanya ini saja…. Tapi aku mendapatkan banyak rekaman yang sama dengan ini, rekaman dari tempat lain, lokasi yang lain, tapi ke semuanya, semua tempat ke jadian masih di sekitar Seoul. Dan semua korban adalah murid Daedong Highschool Seoul. Ah… aku lupa… coba lihat ini… aku sudah merubahnya menjadi pict jpg… sebentar… Hyun… Taeyeon… silahkan nikmati dulu Americano yang sudah kubeli hehehe… aku merasa bersalah karena menyuruh kalian bekerja di hari minggu” kata pria yang memiliki jabatan komisaris itu.

“ah… terima kasih…sebenarnya aku juga senang bekerja di hari minggu hehehe… aku sedang single saat ini, jadi hari minggu sangat kubenci” kata pria yang dipanggil Hyun oleh komisaris.

“Hehehehee…. Kau bisa saja, kenapa tak kau tembak saja taeyeon… dia juga sedang single iya kan?” goda komisaris sambil mengotak atik laptopnya.

“Hahaha.. ha… Komisaris kau bisa saja… aku tak mungkin kencan dengannya, komisaris… apa kau tahu? Hyun pria yang suka buang gas sembarangan, aku tak mau bila kita kencan dia buang gas ketika kita sedang romantic hahahahaha” kata-kata Taeyeon membuat mereka semua tertawa dan melupakan sedikit ketegangan di ruangan itu.

“Nah… sudah… coba lihat ini” kata Komisaris sambil mengklik mouse laptopnya. Beberapa foto terpampang di layar. Di setiap foto itu ada dua bayangan pria yang tampak di kaca. Satu lagi foto yang dilihatkan komisaris, membuat Taeyeon bergidik.

“Oh… mereka terlihat masih muda… tapi mereka hanya tampak di kaca saja… oh… apakah pembunuhnya hantu?” kata Taeyeon

“kalau menurutku mereka manusia… hanya saja mereka memanipulasi kamera cctv” kata Hyun sambil mencatat sesuatu di kertasnya. “Yeon… bisakah kau lihat?? Wajah mereka sama… iya kan? Seperti anak kembar… hmmm dan lihatlah… seragam mereka sama dengan seragam siswa Daedong Highschool… kemungkinan mereka adalah salah satu siswa Daedong” Hyun kembali menuliskan sesuatu di catatannya dan memasukkannya ke jas.

“Aku ingin kalian menyelidiki siapa mereka, dan segera menangkap kedua pria itu, agar kita semua bisa melakukan investigasi lebih lanjut. karena peristiwa bunuh diri yang sama, sudah terjadi 20 kali dan menewaskan 20 murid Daedong Highschool. Apakah kalian bisa menerima tugas ini?” Tanya Komisaris dengan tegas.

"Ommo... 20 murid??" mata Taeyeon membelalak seakan ingin keluar karena terkejut.

"Hummm 20 murid" tegas komisaris.

“Ya… aku akan mengatasi masalah ini” jawab Hyun

“Hyun… aku rasa target kita kali ini bukan orang biasa, buktinya mereka bisa membunuh 20 anak dibawah umur dengan tipuan cctv seperti itu… Ya.. aku mau mengatasi masalah ini”

“Baiklah… ini semua beberapa catatan mengenai korban, dan aku sudah mencatat kode masuk ke motherboard sekolah itu. kalian berdua bisa melihat siapa saja yang berpeluang besar menjadi tersangka utama, okey… aku harus menemani Nari mendaki gunung dulu… hehehehe… dia terlalu merindukan Appanya…” kata
Komisaris sambil bersiap-siap memakai jaket sport.

“Bye bye… Hyun… Taeyeon… sampai jumpa hari senin depan” kata Komisaris sambil berjalan keluar ruangan.

"Bye bye.... hati-hati dijalan..." balas Taeyeon

“Oh… Nari… anak komisaris itu tahun kemarin baru masuk Daedong Highschool kan? Aigoo… mungkin itu sebabnya komisaris membuka kasus ini” kata Hyun sambil membuka file-file korban di depannya.

“Humm… Hyun… coba buka lagi file ini… foto ini.. mereka terlihat seperti kembar… iya kan?” kata Taeyeon sambil membuka beberapa foto di laptop.

“Hmmm… sebentar aku akan cari datanya di motherboard Daedong highschool… hmmm…. “ kata Hyun sambil membuka laptopnya lalu memecahkan beberapa password, tanpa menunggu lama Hyun sudah memasuki bank data sekolah itu. Disana ia mencari pasangan kembar yang sekolah atau mengajar di sekolah itu. Akhirnya dia mendapatkan 2 pasangan kembar.

“Woaaaaaah… Taeyeon… coba lihat kesini” panggil Hyun, Taeyeon meloncat dan mendekati Hyun, ia lihat di layar ada dua pasangan kembar, sama-sama anak lelaki, tapi Taeyeon menunjuk salah satu pasangan kembar yang ada di kiri layar.

“Hyun… aku rasa mereka orangnya… lihat dari postur tubuh, bentuk wajah dan style rambut, ya mereka orangnya… coba lihat identitas mereka..” pinta Taeyeon, tangan gadis itu kemudian bergetar ketika melihat kedua nama murid kembar itu

“Jo…? Jo Twins…? Ommo…. Lihatlah mereka… mata mereka sepertinya saling memiliki pertautan energy yang luar biasa… Hyun… mereka lah pembunuhnya” kata Taeyeon, ia duduk di samping Hyun dan terus melihat ke layar laptop yang menampilkan kedua murid kembar.

“haisss… Jjamkkanman… Yeon… kau tak bisa seperti itu, kita belum punya bukti yang pasti mengenai tersangka utama, dan kelihatannya mereka berdua hanya murid biasa. Mungkin saja ada orang yang menggunakan refleksi foto mereka dan memantulkannya ke jendela kaca, pembunuh utamanya pasti ingin kita menangkap mereka berdua”

“Andwae!!!... Hyun… Andwae!!” Yeon memundurkan kursi kerjanya dan berteriak begitu keras.

“Yeon… ada apa denganmu?” Tanya Hyun sambil menenangkan teman kerjanya yang terlihat ketakutan

“Hyun… ayahku adalah Fortuneteller, dia pernah mengatakan padaku, kalau suatu saat nanti, akan ada saudara kembar bermarga Jo, yang akan membawa kerusakan, dan bila misi marga Jo itu selesai, dunia ini akan hancur” kata Yeon, ia memejamkan matanya mengingat-ingat lagi apa yang dikatakan ayahnya.

“HAHAHAHAHAHAHAHA…….. apakah kau terlalu banyak melihat kartun? Atau karena kau sudah mulai menjadi webtoon addict?? Hahahaha… Yeon… mereka hanya anak-anak..” Hyun mentertawakan temannya sambil memegang perutnya yang kram.

“HYUN~!! AKU HARUS MENGHADAPI MEREKA SENDIRI!! EOH!! Kirim aku ke sekolah itu… harus aku yang menangkap mereka… Hyun!!”
Taeyeon berlutut di depan Hyun yang sedang duduk sambil tertawa.

“Hahahaha… Yeon… jangan bercanda lagi. Perutku sangat sakit.. woaa ekspresimu sangat mengagumkan… kau harus menjadi artis”

PLAAAZZZZ….

Taeyeon menampar wajah teman kerjanya dengan kesadaran penuh “eotteohge!!! Aku serius HYUN!! Bisakah kau melihat keseriusan dalam diriku? Eoh? Dari wajahku?”

Menerima tamparan dan makian Taeyeon, tawa Hyun semakin lepas. “HAHAHAHAHHAHAHAHAHA….. Okey…. Kita tunggu saja satu hari ini, apakah ada yang mereka bunuh lagi atau tidak”

PLAAAAZZZZ…….

“Hyun… apakah semurah itu nyawa manusia?? Kirim aku sebagai guru pendatang di Daedong Highschool, setelah itu aku akan tunjukkan padamu kalau mereka berdua. Jo Youngmin dan Jo Kwangmin… mereka adalah Jeoju… yang akan membunuh semua orang sesuka hati mereka, eolmana? Kau setuju?”

“Hahahahahaha…… baiklah… kau akan ku kirim ke sekolah itu untuk menyelidiki siapa tersangka utama dalam kasus ini, tapi kau jangan terlalu berpegang teguh dengan khayalanmu… tidak ada yang namanya kutukan, dan kau harus hidup dalam sebuah kenyataan” kata Hyun sambil menyuruh temannya duduk di tempat semula.

“Kita lihat saja nanti… apa yang dikatakan ayahku adalah benar… dan kalau benar, kita harus membunuh anak kembar itu, agar ia
tak lagi membuat kerusakan di bumi ini”

“hum… apakah harus membunuhnya?” Tanya Hyun mulai serius

“Harus… mereka adalah pasangan yang menakutkan… aku bisa merasakan dari tatapan matanya… tak heran kalau banyak korban yang ketakutan dan memilih untuk bunuh diri… tapi aku tak tahu apa yang alasan mereka membunuh semua korban…” kata Taeyeon sambil membuka lagi semua file korban yang diberikan komisaris

“Hummm….. kita akan tahu setelah kau sudah menjadi guru disana”

To be continue

Fanfiction : Sal-In - Part 4



Author : Ayuna Kusuma

Maincast :
IU : Hyemi
Kai Exo K : Ryu
Yoona SNSD : Lee Ji-eun
TIGER JK : Hyung / ChangJun
5ZIC : JaeBo

Genre : Romance, Action


11 Februari 2013 15:08, Gudang Arrin Apartmen.Daemyeong, Nam-Gu, Daegu,

“Ah~~~~~~~!!” petugas kebersihan berteriak sekeras-kerasnya ketika menemukan tubuh Ji-eun yang tergeletak di dalam lemari penyimpanan. Celana Ji-eun sobek-sobek, beberapa pecahan botol kaca masih menancap di lutut dan telapak kakinya.

Berkali-kali wanita paruh baya itu berteriak meminta tolong, tak ada yang menanggapinya, petugas kebersihan itu kehilangan akal, entah karena terlalu panic atau memang sifatnya yang bodoh. Ia menyiram wajah Ji-eun dengan air bekas bercampur detergen.

Ji-eun terbangun, sadar tubuhnya sudah terlalu basah, ia bangkit, dan segera menutup pintu gudang apartemen, gadis petugas kebersihan itu hanya terdiam melihat tingkah Ji-eun.

“Ahjumma,.. terima kasih telah membuatku sadar, aku hampir mati, tadi…” bisik Ji-eun, ia duduk bersandar pada pintu gudang, sambil mencoba mencabut pecahan kaca di lututnya yang masih menancap.

“Aigo… Aigoo…” Kata ahjumma ketika Ji-eun berhasil melepas pecahan kaca.

“Ahjumma… di lantai dua, kamar no 8 apakah ada orang disana?” Tanya Ji-eun, dia merobek celana jeansnya dan merubahnya menjadi hot pants.

“Aigoo.. apakah kau perlu ke rumah sakit? Hah…?Ayo kuantarkan ke rumah sakit… kakimu parah.. apa yang terjadi denganmu eoh… aigoo…” kata Ahjumma sambil menutup matanya dengan lengannya

“Ahjumma, jawab pertanyaanku, apakah diatas masih ada tiga pria memakai setelan hitam?” kata Ji-eun, diambilnya tas ranselnya yang basah.

“Anni… disana kosong, dan sangat berantakan… apa kau yang tinggal di kamar no 8?” Tanya Ahjumma, kali ini dia sudah tak takut lagi melihat keadaan Ji-eun, walaupun kakinya penuh luka, gadis itu tetap bisa berdiri tegap.

“Ahjumma… aku hampir saja di bunuh, jadi mohon kerjasamanya, bisakah kau mengecek ke atas, apakah disana masih ada orang?” kata Ji-eun, Ahjumma yang menolongnya itu langsung berlari, keluar gudang, Ji-eun hanya menunggunya di balik pintu gudang.
Beberapa menit kemudian, Ahjumma petugas kebersihan itu datang, nafasnya menderu “tak ada siapa-siapa disana…”

Ji-eun bangkit dari istirahatnya, ia memberikan Ahjumma kalungnya yang berbentuk bintang.

“Ahjumma… tolonglah aku, kalau ada orang yang mencariku, bilang saja aku sudah tidak ada disini lagi, arra? Ini untukmu, terima kasih telah menolongku Ahjumma” kata Ji-eun, Ahjumma petegas kebersihan itu menggenggam kalung yang diberikan Ji-eun dan melihat gadis itu berjalan dengan begitu pelan.

Sesekali, Ji-eun melihat ke kiri dan kekanan, melihat parkiran mobil yang ada di depan apartemen, tak ada mobil hitam disana. Merasa aman Ji-eun lalu berlari menuju lantai dua menggunakan tangga darurat, sesekali ia menyeret kakinya yang kram.

Sampai di kamarnya, Ji-eun memilih dan memilah baju yang harus ia bawa, tas yang basah karena air bekas pel ia buang begitu saja, ia mengambil tas ranselnya yang lain, dan mengisinya dengan baju juga senjata yang pernah diberikan ayahnya. Pistol caliber 22.

Ayahnya sering bilang, kalau Ji-eun harus bisa menjaga dirinya sendiri, karena sebagai polisi Ayahnya memiliki banyak musuh, baik dari mafia atau aparatur Negara yang korup. Banyak yang ingin membunuh ayahnya, polisi yang jujur. Ayahnya berkali-kali berhasil membunuh mafia yang sering membuat ulah di kawasan Pohang.

Itulah sebabnya, mengapa Ji-eun harus tinggal di kota yang berbeda. Ayah Ji-eun tak mau anaknya terlibat dengan pekerjaannya, menjaga anaknya satu-satunya adalah keinginan utama Ayahnya. Setiap kali ada hari libur, ayahnya pasti mengunjungi Ji-eun, tapi sepertinya kali ini tidak bisa. Ji-eun memutuskan pergi ke Pohang.

Sebuah keputusan yang salah kaprah. Padahal musuh utamanya, otak pembunuhan yang punya keinginan besar menyiksa Ji-eun sekarang berada di Pohang. Mereka ayah dan ibu Pyo, mafia terbesar di Pohang.

Setelah selesai mengganti pakaiannya dengan cepat. Ji-eun melangkah keluar dari kamarnya.

“bye bye…” kata perpisahannya pada semua barang miliknya yang ia tinggal. Ji-eun harus lebih hati-hati lagi saat ini. Gadis hebat itu berlari menuju halte bis.

Topi dan kacamata, jaket hitam akan membuatnya tampak seperti orang lain. Jangan sampai ada orang yang melihatnya. Kalau tidak, nyawanya akan hilang dan tak bisa lagi bertemu ayah yang dicintainya.

***

11 Februari 2013 16:21 Intercity Bus Terminal, Daemyeong 11(sibil)-dong, Nam-gu, Daegu

Ryu turun dari taxi bersama seorang gadis. Tangan mereka saling menggenggam, sesekali Ryu melihat ke sekelilingnya, apakah ada orang suruhan ChangJun yang mengikutinya. Memastikan tak ada yang mencurigakan, Ryu akhirnya masuk ke dalam terminal, gadis yang bersamanya itu tak melepaskan genggaman tangannya.

“Oppa… apa kau yakin, kita akan pindah ke Gumi?” Tanya gadis itu sedikit ketakutan. “Oppa… apakah Hyung akan mengejarmu? Mengapa kau tak kembali saja padanya, lalu meminta maaf padanya Oppa…” kata gadis itu.

Ryu menatap wajah gadis itu lalu memberinya senyuman yang menenangkan. “Tidak… aku tidak akan kesana lagi, aku akan membawamu ke Gumi, kita akan menikah disana, aku tak mau kau tinggal di rumah keluarga Hyung, dia sudah membenciku, kalau seperti itu, kau pasti menjadi sasaran berikutnya. Hyemi… apakah kau tak ingin bersamaku? Tak ingin menikah denganku?” Tanya Ryu sambil mencium tangan kekasihnya.

“Oppa… aku ingin sekali… tapi…”

“Ssstt… “ Ryu membungkam bibir manis Hyemi dengan tangannya.
Setelah membeli tiket bus, mereka duduk di ruang tunggu bersama penumpang lainnya, malam itu banyak sekali orang yang ingin bepergian, mengingat sebentar lagi perayaan valentine, jadi banyak pria yang bekerja di Daegu pulang ke kota mereka masing-masing.

“Hyemi… apakah kau sudah menyiapkan coklat untukku?” Tanya Ryu sedikit menetralisir ketegangan Hyemi. Sedari tadi gadis itu memeluk lengan Ryu, sambil melihat kekiri dan kekanan.

“Oppa… jangan memikirkan hal itu sekarang… lihatlah wajahmu… apakah Hyung benar-benar melakukan ini?”

“Hyemi… kalau kita menikah nanti… aku ingin kita membuka stand makanan, aku akan bekerja keras untuk membahagiakanmu Hyemi… tapi kau juga harus membahagiakanku, buatkan aku anak yang banyaaaaaaaaaak.. hehehe”

“lalu kau melatihnya menjadi mafia?”
“bukan… aku akan melatih mereka untuk bisa membunuh semua mafia di korea ini” kata Ryu sambil memeluk Hyemi.

“hehehe itu sama saja mafia…”

“Hahahaha” mereka tertawa, tampak begitu bahagia. Padahal di belakangnya ada tiga orang yang mengintai. Jaebo dan kedua anak buahnya.

“Hyung… pakai ini” kata anak buah Jaebo sambil memberikan peredam shotgun. Mereka duduk di pojok ruangan, selisih 3 deretan bangku, tapi komplotan mafia sadis itu bisa melihat Ryu.

“Hei.. apakah kau yakin itu gadis yang harus kita bunuh?” kata Jaebo, sambil memasang peredam suara di selonsong shotgun miliknya.

“Yakin… aku yakin itu Ji-eun… cepat Hyung, tembak gadis itu sekarang, sebelum mereka pindah posisi” kata anak buah Jaebo.
Jaebo berpindah posisi, ia duduk di balik bangku, “Hei. Cepat duduklah didepanku” anak buahnya bergeser menutupi Jaebo, pria itu membuka jaketnya dan menyelipkan selongsong shotgun, ia membuka jaketnya lagi, memberikan ruang kepada Jaebo untuk membidik targetnya.

“Siap… huh… mati kau Ji-eun, ibuku akan menyukai mayatmu…” kata Jaebo membanggakan tindakannya.

TAZZZZZZZZZZ….. tubuh Hyemi jatuh ke pelukan Ryu.

Syok kekasihnya meninggal seketika di pelukannya. Ryu berteriak-teriak memanggil Hyemi, ia mengguncang-guncang tubuh kekasihnya yang berlumuran darah, beberapa polisi yang menjaga stasiun bis melihat Ryu sedang memeluk Naemi, mereka langsung mengetahui dari banyak pengunjung ada yang membawa pistol.

“HYEEEEEEEEEEEEEEEEMIIIIIIIIIIIIIIIIII~~~~~~!! Bangun Hyemi……… Bangun….. Hyemmi… Jangan tinggalkan aku Hyemi………..” Ryu menangis, sambil memeluk kekasihnya yang sudah lemas tak bernyawa.

“DIAM~~~~~!! JANGAN BERGERAK~!! Jangan ada yang bergerak~~~~!! Atau kutembak kalian semuanya~~!!” kata polisi itu sambil menunjukkan senjatanya. Semua pengunjung yang berdiri terdiam, termasuk kedua anak buah Jaebo. Dan Ji-eun yang baru datang ke stasiun.

Ji-eun melihat Ryu, mafia yang telah menolongnya tadi pagi sedang memeluk seorang gadis, dan menangis sekeras-kerasnya. Ji-eun hanya bisa bersembunyi di balik tong sampah besar didepannya. Ia berpikir pasti mafia yang ingin membunuhnya mengira gadis yang bersama Ryu itu adalah dirinya.

“Hyemi…….. Hyemi……. Mengapa kau meninggalkan aku sendirian Hyemi…” tangis Ryu yang menyayat hati terdengar begitu menggema, membuat beberapa calon penumpang menangis juga melihat peristiwa itu. “HYAAAAAK~~~~~!! JAEBO~~~~~!! Aku tahu kau ada di ruangan ini HAH~~~~~!! Keluarlah kau,

KELUAR~~~~~~!! BUNUH AKU~~~~~!! Bunuh sekarang juga~!! cepat~~~~~!!” Ryu berdiri berjalan kesana kemari mencari orang yang dituduhnya telah membunuh Hyemi.

“Hey~! Kau diamlah… jangan bertind…” Polisi yang mencoba melarang Ryu itu terkapar, peluru menembus punggung sampai jantungnya. Semua calon penumpang seketika berdesakan keluar, mereka tak mau menjadi korban berikutnya. Petugas stasiun pun berlari keluar menyusul para penumpang

“JAEBOOO~~~~~~!! Keluarlah~~!! HAH~~~~~!! BUNUH AKU~~~~~~~!! HA……” Ryu masih berdiri, nafasnya tak teratur, emosinya meninggi, kemarahannya telah membuatnya lupa akan Hyemi untuk sementara.

Ji-eun merubah posisinya, ia tak mau terlihat oleh mafia yang sedang mengincarnya. Sekarang ia berada di luar ruang tunggu, bersandar di pintu sebelah kanan, ia melihat Ryu. Ingin sekali ia menolongnya, tapi Apa yang bisa ia lakukan. Akhirnya ia menyiapkan pistol caliber 22 yang ia miliki.

Jaebo bangkit dari persembunyiannya, ia menyeka keringatnya, lalu mendekati Ryu yang menahan marahnya.

“Oh… ternyata bukan targetku… miannatta…heehee” kata Jaebo meremehkan, ia berlalu begitu sambil tersenyum mengejek. Tak menunggu lama, Ryu meloncat kearahnya dan menghantam wajah Jaebo dengan pukulan andalannya.

Ryu memukul wajah, lalu menendang ulu hati Jaebo. Hingga pria yang membunuh kekasihnya itu terlempar ke belakang. Ryu kembali memukul Jaebo dan menendangnya berkali-kali, pria kekar yang dikatakan bisa membunuh 17 orang dalam pertarungan itu tak bisa mengelak pukulan Ryu, sama sekali tak bisa.

Kedua anak buah Jaebo berniat menembak Ryu, tapi mereka tak pernah tahu kalau Ji-eun sudah bersiap menembak mereka dari balik pintu. Ji-eun tak bodoh, ia juga menggunakan peredam untuk aksinya menolong Ryu.

Sekali, dua kali tembakan mampu membunuh kedua bawahan Jaebo. Ji-eun sudah terbiasa menggunakan senjata. Di sekolah kepolisian Pohang, ayahnya sering melatihnya menembak dengan kecepatan tinggi.

Jaebo yang tak sadar anak buahnya telah mati. Masih saja mencoba
menghajar Ryu. Tapi Ryu kali ini sanggup melawan pria kekar itu. Dengan emosi yang meletup-letup, dan air mata yang masih mengalir, ia berhasil melumpuhkan Jaebo.

Dicengkramnya kemeja Jaebo. “Jaebo… hidupkan lagi HYEMI~!!! CEPAT~~~~!! RIGHT NOW~~~~~!!” Teriak Ryu, ia menangis menyesali kematian kekasihnya. Jaebo yang sudah babak belur masih sempat tertawa mengejek Ryu, tak peduli lagi, Ryu kembali menghantamkan Shotgun milik Jaebo ke wajah musuhnya.
Ia mencengkram lagi kemeja Jaebo, Jaebo terlalu lemas, akhirnya Ryu mencengkram leher Jaebo dan mendorongnya ke dinding. Jaebo tercekik dan mengeluarkan lidahnya, ia terlalu susah untuk bernafas kali ini.

“Apakah ChangJun yang menyuruhmu membunuh Hyemi??? … hummm” Tanya Ryu mencoba menahan emosinya.
Jaebo tak menjawab, ia terlalu sibuk mengatur nafasnya yang terasa tercekat.

“HYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA JAEBO~~~~~!! APAKAH CHANGJUN yang menyuruhmu membunuh HYEMI??? HAH?” Ryu berteriak di depan wajah Jaebo, sesekali ia menghantam kepala musuhnya dengan shotgun ditangannya.

“Aaa… aku kir a… di… dia… Ji…Eun…. Maa…afkan… aku Ryu… aku salah… sa..saran…” kata Jaebo.

TAZZZZZ… Jaebo lemas seketika, ada peluru yang bersarang di lengannya.

“Maaf Ryu..tembakanku meleset, peluruku juga sudah habis ” kata Ji-eun, ia berdiri di belakang Ryu.

“APA YANG KAU LAKUKAN HAH~~~~~!! Mengapa kau membunuhnya HAH??” tak pernah di duga, Ryu berbalik dan menampar Ji-eun, sampai gadis itu terjatuh ke samping. “Apakah kau tak tahu hah? Ada seorang mafia di Pohang yang ingin
membunuhmu untuk membalaskan dendamnya, karena ayahmu telah membunuh mereka, hah… kenapa kau malah membunuh anak mereka yang lainnya hah?? Kau tahu… mereka telah membunuh kekasihku… semua itu karna kau… Hyemi… bangunlah Hyemi… aku tak bisa hidup tanpamu… Hyemi….” Tangis Ryu, ia kembali memeluk kekasihnya dan menciumi wajah Hyemi yang sudah mendingin

“a…apa…?”

“Ji-eun.. Selama ini kau menjadi sasaran para mafia di Pohang, mereka ingin menghabisimu, dan mengirim mayatmu untuk dijadikan permainan disana… tadi pagi kau sudah kuperingatkan untuk keluar negeri… pergilah… menjauhlah dari Korea… tapi kau tak mau bekerja sama… dan tadi… mereka membunuh Hyemi…” Ryu menguncang-guncang kekasihnya yang telah meninggal.

Ji-eun menangis melihat Ryu seperti itu, ia menjatuhnya pistolnya, dan membungkam mulutnya, menahan tangisnya, Ji-eun merasakan apa yang telah di rasakan Ryu.

“Ryu… dia… dia sudah meninggal… jangan mengguncangnya seperti itu Ryu…” kata Ji-eun disela tangisannya.

“DIAM KAU~!! HYEMI… tak akan pernah mati, dia akan hidup untukku selamanya, iya kan Hyemi…? Bangunlah Hyemi…” Ryu memeluk Hyemi lebih erat.

“Ryu… maafkan aku… aku tak mempercayaimu… Ryu…”

“STOP~!! Jangan pernah lagi menggangguku, urus saja urusanmu sendiri Ji-eun, kau sudah membunuh Jaebo, kakak dari korban yang dibunuh ayahmu… sekarang lindungilah dirimu sendiri, dua mafia terbesar di Pohang dan Daegu, akan memburumu kalau mereka tahu kau yang membunuh Jaebo… Aku akan tetap disini bersama Hyemi… iya kan Hyemi… hummm” Ryu membelai wajah kekasihnya dan menyeka darah yang keluar dari hidung Hyemi.

“Ryu… polisi akan datang kemari, ayo… kita pergi… tinggalkan Hyemi disini, pasti pihak Polisi akan mengurusnya… Ryu… cepatlah…” Ji-eun memberanikan diri melepaskan tangan Ryu yang sedari tadi memeluk kekasihnya.

Dengaan mudah Ryu melemparkan tangan Ji-eun. “Pergilah sendiri.
Gara-gara kau, Hyemi menjadi seperti ini, aku juga sudah keluar dari mafia, jadi kita sudah tak ada urusan lagi,… anggap saja kau tak pernah mengenalku…” kata Ryu, sambil membopong kekasihnya yang sudah menjadi mayat.

Ryu keluar dari ruang tunggu, ia berjalan di malam yang begitu menyedihkan, sambil membawa kekasihnya dalam pelukannya. Banyak pejalan kaki yang melihatnya, menganggap Ryu hanya pria gila, mereka tak tahu kalau Ryu memang sedang gila mengatasi perasaannya sendiri, berpisah dengan kekasih yang sudah menemaninya selama 3 tahun.

“Hyemi… apakah kita harus berpisah sekarang?” kata Ryu pada kekasihnya, sesekali ia mencium pipi mayat kekasihnya itu.

Ji-eun berjalan di belakangnya, menjaga jarak, agar Ryu, tak merasa sedang di ikuti. Gadis itu tak bisa menahan tangisnya, air matanya menetes begitu deras membasahi pipinya.

“Ryu…. jebal ... naleul yongseo… hmm… aku tak tahu kalau seperti ini jadinya…” kata Ji-eun, sayang sekali Ryu tak mendengarnya. Ia terlalu jauh berjalan di depan.

“Hyemi… kau ingin hanbok warna ungu kan?... aku akan membelikanmu malam, ini… aku akan membuatmu semakin cantik…”

***

11 Februari 2013 18:21 Daemyeong 10(sip)-dong, Nam-gu, Daegu

Ryu membawa kekasihnya ke pemakaman, ia memesankan pemakaman untuk kekasihnya, Hyemi bertambah cantik ketika Ryu memakaikannya hanbok berwarna ungu.

“Ahjumma… tolong urus kekasihku dengan baik, ini uang pemakamannya, aku tak tega melihatnya seperti ini, terima kasih, kau mau menolongku, ini data Hyemi, aku harap kau mau menyimpankan abunya untukku Ahjumma” Ryu menangis di hadapan pengurus pemakaman.

Wanita paruh baya yang ada didepannya hanya berkata “Pulanglah… dia sudah tenang di alamnya sendiri… jangan pernah bersedih seperti ini, kalau kau bersedih, dia akan lebih bersedih, kalau kau merasa kehilangannya, ia akan lebih kehilanganmu… Terima kasih Ryu… ini lebih dari cukup… apakah ada keluarga yang lainnya?”

“tidak… Ahjumma, hanya aku keluarganya” jawab Ryu sambil keluar dari tempat pemakaman. Ia menghapus air matanya, ketika melihat ke samping, ia menemukan Ji-eun bersandar di dinding gedung pemakaman.

Ryu hanya berjalan melewati gadis itu, ia seakan tak peduli lagi dengan apa yang terjadi pada Ji-eun.

“Ryu… Ryu…” Ji-eun berhasil meraih tangan Ryu yang terasa dingin. Ryu kembali menghempaskan tangan Ji-eun, tapi gadis itu terlalu kuat keinginannya. Ia kembali lagi mengulangi tindakannya. “Ryu… jebal ... naleul yongseo…… hmmm… jebal ... naleul yongseo…Ryu… jebal ... naleul yongseo…” Ji-eun berlutut di samping Ryu.

“jebal ... naleul yongseo……Ryu… aku tak tahu lagi harus bagaimana… kau sudah menolongku… tapi aku sama sekali tak bisa menolongmu… jebal ... naleul yongseo…” kata Ji-eun di sela tangisnya.

“kau bisa membantuku, menjauh dariku, jangan libatkan aku lagi…hmmm… apakah permintaanku belum jelas HAH?? KAU BISA MEMBANTUKU JI-EUN!! MENJAUH DARIKU!!” Ryu berlari menjauh dari Ji-eun yang tetap berlutut dan menangisi nasibnya sendiri.

To be continue

Fanfiction : Sal-In - Part 3



Author : - Kusuma

Maincast :
Kai Exo K : Ryu
Yoona SNSD : Lee Ji-eun
TIGER JK : Hyung / ChangJun
5ZIC : JaeBo

Genre : Romance, Action


Daemyeong, Nam-Gu, Daegu, 11 Februari 2013 13:08

Lee Ji-Eun berlari menuju kamar sewaannya di lantai dua, ia melihat ke sekililing, tak ada siapapun yang bergerak-gerik mencurigakan, dibukanya pintu kamar. Ia bergegas masuk, berlari menuju lemari pakaian, semua baju ia kemasi dengan cepat.

Satu kesempatan dia ragu, apakah hanya membawa tas ransel saja? Atau semua barang harus ia bawa, kalau membawa semua barangnya, ia tak bisa cepat melarikan diri. Akhirnya Ji-eun hanya membawa satu setel pakaian, dua jaket, dan slayer tebal.

Rrriing… Rriing… handphonenya bordering. Dengan cepat ia membuka sambungan.

“Yoboseyo….. Ah… Appa… kabarku?... baik saja Appa… wae… appa, tak perlu mengunjungiku, saat ini aku akan ke Pohang secepatnya, tunggu aku disana Appa… andwae.. sekolah sedang libur, jadi aku ingin pulang ke Pohang.ye… ah… aku sudah membeli tiketnya… ye Appa… bye..” Ji-eun menutup semua jendelanya, mematikan semua aliran listrik di kamarnya.

Saat berkemas, Ji-eun mendengar suara langkah kaki yang mencurigakan, Ji-eun melihat beberapa orang berdiri di depan pintu kamarnya, segera ia mengambil tas ranselnya, dan meloncat dari jendela, ia tutup jendelanya dengan sangat hati-hati, jangan sampai ada yang mengetahui kalau ada orang di kamar itu.

Ji-eun, masih bisa berdiri di sisi balkonnya yang sempit. Ji-eun mencoba melihat siapa sebenarnya yang ingin masuk ke dalam kamarnya, ia terlalu takut saat ini untuk menerima tamu, tak menunggu lama, suara tembakan terdengar, pintu kamar Ji-eun rusak karena tembakan yang beruntun, tiga pria masuk ke dalam kamar, dan memeriksa setiap ruang kosong, di bawah tempat tidur, di lemari, mereka menembaknya terlebih dahulu. Lalu melihat apakah disana ada orang yang mereka cari.

Merasa tak menemukan apapun, salah satu mafia yang mencari Ji-eun, pria berambut pirang, memukul temannya sendiri.

“HYAAAAAAAAAAAAAAAAAAk~~~~!! RYU~~~~~!! Beraninya kau menipu kami…” pria berambut pirang segera mengambil handphone dari saku jasnya.

“Hyung… wanita itu tak ada dirumahnya… Hyung… Ye… aku akan tetap mencarinya… atau Ryu memang benar-benar membunuhnya?... ah yee… mayatnya tidak ada dimanapun… ah.. mollayo Hyung… ye.. ye… kalau kau percaya wanita itu masih hidup,
aku akan membunuhnya. Ye..” kata pria berambut pirang.

“Woooah… Hyung Hyung… lihat ini” kata pria berjas hitam lainnya, sambil membuka-buka album foto yang ada ditangannya. “Ahss… pantas saja Ryu tidak membunuhnya, wanita ini begitu cantik, kalau aku jadi Ryu aku akan menikahinya bukan membunuhnya hahahahaha Auh…Auh… Hyung… mianhae… Hyung…” pria berambut pirang tadi rupanya begitu emosi ketika mendengar anak buatnya mengoceh tentang kecantikan target pembunuhan. Dia memukuli anak buahnya sampai berdarah dikepalanya.

“terima ini… hmm.. terima ini… bisa-bisanya kau bermain disaat bekerja HAH???” pria berambut pirang itu masih saja memukuli anak buahnya. Ji-eun melihat kekerasan itu secara langsung, tangannya bergetar dan mengeluarkan keringat berlebih. Hampir saja ia jatuh, ia masih bertahan berdiri di balkon. Belakang jendelanya.

Mafia yang ketiga, bersandar di lemari Ji-eun yang menghadap jendela, ia menyiapkan pistol dengan cepat “Hyung… kau melupakan memeriksa jendela” kata pria itu, pandangan Ji-eun dan pria itu saling bertemu.

DRRRRRRRRRRRRRRRttttttttttttttttttt……..

Tembakan dari machine gun beruntun menghancurkan jendela Ji-eun yang terbuat dari kayu. Sebelum tembakan itu Ji-eun sudah meloncat dari lantai dua, wanita itu mendarat dengan kakinya di tumpukan sampah yang ada dibawahnya. Pecahan kaca botol menembus celananya dan menusuk lututnya. Ji-eun segera berpindah posisi, ia berjalan dengan cepat menjauh dari tong sampah, sambil menahan sakitnya, Gudang apartemen terbuka, Ji-eun masuk lalu menutup pintunya, bersembunyi di gudang apartemen mungkin keputusan yang bagus saat ini.

Ketiga pria itu tertawa terbahak-bahak di dalam kamar Ji-eun. “Hyak… apakah kau dengar ada yang jatuh?. Apakah kita berhasil membunuh target kita? hahahaha” kata pria berambut pirang itu sambil menghancurkan jendela dan melihat ke bawah. Tak ada siapapun disana, tak ada mayat yang tergeletak, hanya ada tong sampah yang berjejer di garasi.

“Haisss… kita kehilangannya lagi…” kata pria itu sedikit kecewa, ia meremas rambutnya sendiri sambil menyandarkan tangannyaa ke balkon.

“Hyung… mungkin saja tadi yang jatuh hanya pot bunga, itu… lihatlah… hanya pot bunga yang hancur di sebelah tong sampah… aku percaya wanita itu sekarang bersama Ryu” kata salah satu mafia yang kepalanya sudah dihajar habis-habisan tadi.

“SHUT UP. Atau kau yang kubunuh sekarang hah?” kata pria berambut pirang sambil menodongkan shotgun caliber 9 pas di dada bawahannya.

“Hyung… sudahlah… ayo kembali, biarkan wanita itu lari, aku tahu pasti, dia sekarang sedang terluka. Biarkan saja, kita bunuh wanita itu secara pelan… kita balaskan dendam Pyo. Ayah wanita itu telah menghancurkan adikmu, aku yang orang lain saja merasakan marah, apalagi kau… Ayo Hyung, kita kembali saja, suatu saat nanti kau akan bisa menyiksa wanita itu. Aku akan mendukungmu”

Ketiga anggota mafia The ShadowMan, akhirnya keluar dan pergi dari apartemen Ji-Eun, mereka tak membawa kabar baik untuk atasan mereka. Sedangkan Ji-eun masih duduk di gudang apartement sambil memeluk tas ranselnya.

Setelah merasa aman, ia mencabut satu persatu kaca yang menancap di kakinya.

***

Daemyeong, Nam-Gu, Daegu, GyoJong Bar. 11 Februari 2013 15:08

Gyojong Bar, terlihat ramai dipenuhi pria yang mabuk di sana sini, mereka menari sesukanya, seakan dunia tak akan berakhir bila mereka menari, beberapa dari mereka ada yang berdebat, bertengkar, berciuman, bahkan saling menodong pisau.

Ryu berjalan dengan santai, tapi mungkin pikirannya tak sesantai tingkahnya. Ryu sedikit ketakutan, bagaimana kalau Hyung tahu dia belum membunuh targetnya, malah melepaskannya begitu saja. Ketika Ryu berjalan, banyak wanita yang melepaskan pasangan mereka dan menyentuh Ryu, tapi pria itu sadar kalau semua wanita di bar itu milik banyak orang. Ia pun sebisanya menghindari semua wanita yang ada di bar.

Ryu masuk ke dalam ruangan karaoke VIP. Didalamnya sudah ada Hyung dan Chongbong yang sedang menikmati beberapa lagu dengan wanita di samping mereka.

“Hyung…” sapa Ryu ragu-ragu. Ditangan kirinya ia membawa tas
plastic. “ Aku sudah membunuh targetku” kata Ryu sambil melemparkan tas plastic hitam itu ke meja.

“oh… Ryu… duduklah…” kata Hyung “kalian bertiga, keluarlah…” Hyung menyuruh kedua wanita yang ada di sisinya dan Chongbong keluar dari ruangan.

Ryu masih berdiri menatap atasannya.

“Ada apa dengan tanganmu? apakah wanita itu melukaimu? Hehehe… tak biasanya kau terluka kalau membunuh targetmu… jangan berdiri saja… duduklah disini… “ kata Hyung sambil menyiapkan tempat untuk Ryu disampingnya.

“hmmm, ini…” Ryu melihat lukanya sekilas lalu kembali menatap atasannya dengan pandangan mantab “benar.. wanita itu melukaiku… saat aku ingin membunuhnya”

“Apa ini hah?” Hyung mulai membuka tas plastic hitam yang dilemparkan Ryu. “Hah… hanya baju? Darah?... apakah hanya ini bukti yang kau berikan untukku? Mana mayatnya? Kakakku ingin mayatnya… dia ingin membelah-belah mayat gadis itu… hmmm… bisakah kau membawa mayatnya kemari?”

“mayatnya… sudah kubuang..”

“Heh… apa kau sedang bermain-main denganku? HAH???” Hyung menendang meja, meja terlempar sampai menghantam dinding ruang karaoke.

Braaakkk.. Pria yang di sebut-sebut kepala mafia The ShadowMan itu memecahkan botol vodka dengan tangan kanannya, dia mendekati Ryu dan menunjukkan pecahan botol itu tepat di depan wajah Ryu.

“Apa kau sedang bermain denganku?” Wajah Hyung terlihat menahan emosi yang sudah memuncak, matanya hampir terlihat keluar ketika melihat Ryu yang ada dihadapannya.

“Anni…” jawab Ryu simple.

Dengan membabi buta, Hyung memukuli Ryu, ia melempar pecahan botol ke belakangnya, lalu menghajar anak buahnya dengan pukulan bertubi-tubi.

“Tega-teganya kau mempermainkanku hah????” Ryu sama sekali tak menolak pukulan dari atasannya. Hyung memukul perut, wajah, dada dan terakhir ia menghantam ulu hati Ryu, hingga pria tampan itu tersungkur ke lantai.

“Hyung… Aku sudah membunuhnya…hmpp huk… huk…” Ryu mengatakan hal yang sama, ia mempertahankan kebohongan demi menolong wanita itu, darah yang menghitam keluar dari mulutnya berkali-kali.

“Kau masih berbohong padaku Hah??” Hyung menendang kepala Ryu berkali-kali dengan sepatu kulitnya.

“Hyung… baiklah… kalau kau tak mau percaya…”
Pria yang berhasil menghajar Ryu, berjongkok sambil menjambak rambut anak buahnya dan melihat wajah anak buahnya yang hampir hancur. “Jangan melemah seperti ini, kau tau… kau pembunuh bayaran yang paling kubanggakan, jangan karena wanita seperti dia, kau mengurungkan niat untuk membunuh. Bangunlah… aku sudah puas menghajarmu, bangun ayo banguuuuuuuuun” Hyung membantu Ryu untuk bangkit.

Ia menyeret Ryu agar duduk di sebelahnya, ia bersihkan jasnya dari debu, lalu duduk seperti semula. Ryu masih setengah sadar, darah membasahi wajahnya, beberapa kali ia terbatuk dan mengeluarkan darah berkali-kali.

“Maafkan aku Ryu, kalau terlalu keras denganmu, tapi kau memang harus mendapatkan itu, kau tak bisa coba mempermainkanku… Chang JUN…. tak ada yang bisa mempermainkan CHANG JUN hahahahahaha” pria bernama ChangJun itu tertawa, ia memukul pundak Ryu dengan halus. “Sudahlah… jangan berbohong lagi. Kau sudah lepas dari pekerjaan ini, aku memang salah, memberimu tugas membunuh wanita cantik seperti dia, hehehe… padahal kau sama sekali belum pernah bertemu dengan wanita iya kan? Hahahahaha… ya… sebagai orang yang pernah menjadi orang tua angkatmu, aku paham bagaimana perasaanmu saat ini. Hmmm” ChangJun membuka botol minuman keras yang masih utuh di sampingnya.

“Ryu… sudah… jangan membunuh wanita itu lagi, aku sudah mengutus JAEBO. Untuk membunuhnya” kata Chang Jun sambil mulai meneguk minumannya.
Mendengar penjelasan ChangJun, Ryu sedikit sadar, ia menegakkan tubuhnya, “Mwoo… Moraguyo?” Tanya Ryu dengan suara tertahan.

“Hmm… ah….. enak sekali minuman ini… apa Ryu?” ChangJun memandang Ryu dengan senyumannya yang aneh.

“Moorraguyo??... kau mengutus siapa untuk membunuh ji-Eun?” Tanya Ryu

“Jae…Bo.. kakak, Pyo, kau mengenalnya kan? Pria yang sanggup membunuh 17 orang dalam satu kali pertempuran... Dia... Dendamnya begitu besar kepada polisi yang membunuh adiknya.. hehehe… dia bilang padaku, akan memotong-motong tubuh wanita itu dan memberikan pada Ayahnya dalam bentuk daging panggang HAHAHAHAHA……. Ternyata masih ada yang lebih sadis darimu Ryu hahaha” ChangJun tertawa sambil mengangkat kakinya ke sofa, ia terlihat begitu bahagia dengan fakta yang didapatnya.

“Hyung… apakah harus membunuh wanita itu? dia hanya wanita biasa… tak ada sangkut pautnya dengan urusan kakak iparmu dan polisi itu, dia hanya guru sekolah dasar, wanita biasa yang lemah, dan apakah harus kau membunuh wanita itu? kenapa tak kau bunuh saja polisi yang telah membunuh Pyo?? Hah??” Ryu berdiri gontai menghadap ChangJun, ia terlihat marah setelah mengetahui apa yang akan dilakukan para mafia pada wanita yang ditemuinya tadi pagi.

“Wooooooi…wooooooii… apakah kau marah padaku? Ryu… apakah kau jatuh cinta pada wanita itu hahahaha. Sudah lupakan, aku akan membawakanmu wanita yang lebih cantik daripada dia”

“HYUNG~~~~~!!! Apakah kau setega ini? Hah? Selama ini kita hanya membunuh pejabat korup, penjahat, selama ini kita membantu kepolisian, tapi mengapa kau mengikuti kakak iparmu hah??? Mengapa kau mau membunuh wanita yang tak bersalah itu hah??? Persetan dengan cinta, aku sama sekali tak memikirkan itu HYUNG~!!
Tapi… apakah tak ada cara lain untuk membalas dendam?? Aku tak akan mau menodai tanganku dengan membunuh wanita itu atau wanita lainnya” Ryu kembali menghempaskan tubuhnya di atas sofa, ia membersihkan wajahnya yang penuh darah dengan saputangan hitam miliknya.

“hahahahaha… apa kau marah padaku?.... Ryu…. Kau harus mengerti… sebagai pembunuh bayaran, kita harus bisa membunuh siapa saja… siapapun target kita, harus dibunuh, kau sudah mendapatkan separuh uang dariku, seharusnya kau membunuhnya, atau setidaknya, memotong tangan atau kaki wanita itu sebagai hadiah untuku…”

“HYUNG~!!” Ryu melemparkan amplop tebal ke lantai, “Aku keluar dari pekerjaan ini, ini uangmu, aku tak memakainya sama sekali. Aku sudah muak bekerja menjadi pembunuh bayaran”

Ryu keluar dari ruangan karaoke vip, ia meninggalkan Hyung nya yang sedari dulu sudah menghidupinya sebagai ayah angkatnya. Apa lagi yang akan ia lakukan kali ini.

Di dalam ruang karaoke yang berantakan, Changjun masih sibuk meneguk minumannya, setelah habis, ia menghempaskan botol itu ke dinding hingga pecah berantakan. “Ryu…. Mengapa kau begitu tega denganku, demi wanita kau meninggalkanku… aku tak akan membiarkanmu dan wanita itu hidup… lihat saja… kau tak mau menganggapku sebagai ayahmu, tidak masalah, tapi kalau kau seperti ini, aku tak bisa menahan kemarahanku”

ChangJun membuka smartphonenya dan menunggu panggilan menyambung.

“JAEBO… targetmu ada dua sekarang, Anakku Ryu, dan Lee Ji-eun Anak polisi brengsek itu… cepat bunuh mereka berdua, dan berikan aku mayat Ryu… aku akan mengawetkannya untuk pajangan di rumahku.. Hahahahaha…….. Hahahahahahahahahaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa……… RYUUUUUU~~~~~~~~~~!!! HYAAAAAAAAAAAAAAAAK~~~~~!! AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA” Changjun menghempaskan smartphonenya, ia merusak semua barang yang ada didalam ruangan itu.

Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Nantikan Part selanjutnya

To Be Continue

Fanfiction : Sal-In - Part 5



Author : - Kusuma

Maincast :

Kai Exo K : Ryu
Yoona SNSD : Lee Ji-eun
TIGER JK : Hyung / ChangJun
BaekHyun EXO K: Yokji
Park Eun Ji 9MUSE : Chunghyang


Genre : Romance, Action


11 Februari 2013 18:45 Daemyeong, Nam-Gu, Daegu, GyoJong Bar

ChangJun masih berada di café, kali ini dia pindah ruangan, karena ruangan sebelumnya sudah ia hancurkan dengan tangannya sendiri. Pemilik café tak berani menangih kerugiannya pada ketua mafia

TheShadowMan. Dia lebih memilih untuk diam dan terus melayani permintaan ChangJun. Kalaupun dia melaporkan ChangJun ke polisi, keluarganya akan menjadi target pembunuhan selanjutnya.

ChangJun pernah di tahan berkali-kali. Tapi karena bantuan dari kolega sesame mafia di Korea, dia berhasil bebas. ChangJun dikenal banyak kalangan mafia sebagai pria yang rajin membunuh. Siapapun orang yang membayarnya, ChangJun akan patuh sepenuhnya pada orang tersebut.

Chongbong masuk ke dalam bar karaoke, dengan tergesa-gesa ia duduk di sebelah Changjun.

“Waee…..” gumam ChangJun sambil meneguk minumannya.
“Hyung… Jaebo dan kedua anak buahnya dinyatakan meninggal di bus. Mereka meninggal saat bertarung dengan Ryu” mendengar berita itu ChangJun kembali meluap-luap amarahnya. Ia melempar gelas kacanya kea rah televise layal lebar yang ada didepannya. Beberapa wanita panggilan langsung berlari keluar, ketakutan dengan aksi ChangJun.

“Panggil YokJi dan ChungHyang sekarang… bawa mereka menghadapku” kata ChangJun sambil mencekik leher Chongbong, dan melemparnya ke samping, sampai tubuh pria itu memecahkan meja kaca didepan Changjun. Pria yang bekerja sebagai tangan kanan bos mafia itu berlari keluar. Lalu berlari ke luar bar.
Berlari begitu cepat di trotoar, menembus banyak pejalan kaki, walaupun kepalanya terus mengeluarkan darah ia tetap saja berlari, lalu berhenti di depan sebuah pusat game. Chongbong masuk
kedalam pusat game. Dia mencari ke sana kemari, dan.

“Yokji… Hyung memanggilmu” Chongbong menepuk bahu seorang pria yang sedang asyik bermain game shotgun, pria itu tetap saja bermain tak mempedulikan yang dikatakan orang di belakangnya.

“HYAK~!! YOKJI~!! HYUNG MEMANGGILMU” teriak Chongbong, lalu ia mengatur nafasnya yang hampir berhenti. Tiba-tiba Pria yang bernama Yokji menancapkan shotgun mainan ke kepala Chongbong.

“Aku… sudah mendengarnya… kalau saja ini shotgun asli, aku akan hancurkan kepalamu…” Yokji kembali bermain, “Ada apa dia mencariku? Hum? Bukankah dia sudah memiliki Ryu?”

“Chunghyang… kau juga dicari Hyung” kata Chongbong sambil menghentikan seorang gadis yang berjalan membawa kantong koin.

“waeee… aku? Ada apa dengan Hyung sampai dia mencariku?” kata gadis itu sambil mulai memasukkan koin di sebelah Yokji.

“Kalian berdua… aigoo… nafasku berat sekali… Yokji… Chunghyang. Cepat ke bar, Hyung mencarimu, dia pasti ingin kau berdua memburu Ryu…” kata Chongbong sambil duduk di belakang Yokji.

“Really? Ryu menjadi target ayahnya sendiri?” Tanya ChungHyang, ia mulai tertarik dengan pembicaraan, ditinggalkannya permainannya.

“Ya… cepatlah… kalian ke sana… aku akan dibunuh Hyung kalau dia menunggu lama”

“Hyung… apakah dia sudah bosan dengan anaknya yang tampan? HAHAHAHAHAHAHA” Yokji meletakkan mainannya,

“Apa kau tak tahu kabarnya? Ryu tak mau membunuh targetnya, ia membiarkan targetnya lari, lalu malam, ini dia membunuh Jaebo dan kedua anak buahnya, Hyung sangat ingin kalian berdua membunuh Ryu”

“heh… Chunghyang… apa kau percaya ini?” Tanya Yokji sambil melihat Chunghyang.

“hmmppt… hahahahaha… Ayo Yokji… aku sudah menunggu saat ini begitu lama”

***

11 Februari 2013 19:09 Daemyeong, Nam-Gu, Daegu, GyoJong Bar

Yokji dan Chunghyang masuk ke dalam bar karaoke, dimana Changjun menunggu. Chongbong hanya menunggu didepan. Ia tak mau menjadi sasaran kemarahan bosnya.

“Hyung… kau mencari kami?” sapa Chunghyang sambil duduk di samping bosnya. Yokji, tak banyak berkata-kata, Ia hanya duduk disamping Changjun, sambil mengotak-atik smartphonenya.

“Kalian berdua… ini, dua juta won, untuk kalian, bawalah Ryu kehadapanku, dan wanita yang bernama Ji-eun bunuh dia, lalu kirim mayatnya ke Pohang” kata Changjun sambil melempar satu amplop penuh uang.

“Apa kau yakin? Menyuruh kami membunuh anakmu?” Tanya Yokji, sambil meneruskan bermain smartphone.

“Dia bukan anakku sekarang… Yokji, bisakah kau menghormati atasanmu? Letakkan mainanmu. Seriuslah sedikit… aku hanya memilikimu dan Chunghyang sekarang. Jaebo sudah mati tertembak, dan kakak iparku, sangat ingin melihat mereka berdua disiksa, kehilangan dua anak memang sangat menyakitkan”

“Baik.. Hyung…” Yokji menyimpan smartphone di kantong kemejanya. “Apakah kita mulai sekarang?” Tanya Yokji, Chunghyang hanya tersenyum saja mendengar kekasihnya di sindir.

“Tentu saja… aku akan menambah uangnya, kalau kalian membawa Ryu padaku”

Tanpa aba-aba Yokji dan Chunghyang keluar dari bar, meninggalkan bosnya sendirian.

“Chunghyang… kau mencari mereka kearah barat, aku akan mencarinya ke timur. Okey?” kata Yokji, ia memberikan kalungnya pada Chunghyang, sebaliknya Chunghyang memberi Yokji topi yang tadi ia pakai.

“Okey Dokey Oppa…”

“Ryu, tak pernah mengenalmu, dia tak pernah bertemu denganmu, jadi targetmu Ryu, Wanita ini…” kata Yokji “Wanita ini… dia tak pernah tahu diriku, jadi dia targetku… berhati-hatilah, kemungkinan mereka berdua memiliki senjata…”

“Ye.. Oppa.. Bawalah Topiku, dengan itu, kau akan merasa selalu bersamaku” kata Chunghyang sambil membenarkan topi miliknya
di kepala Yokji.

“Humm… kalung keberuntunganku, akan melindungimu… ayo kita mulai sekarang” kata Yokji. mereka berpisah. Mencari target mereka masing-masing.

***   

11 Februari 2013 20:00 Daegu Station. Chilseong 1(il)-ga, Buk-gu, Daegu

Daegu Station. Terlihat Ryu berjalan mendekati loket tiket, di belakangnya Ji-eun masih tetap saja mengikuti. Ia sesekali bersembunyi, ketika Ryu menoleh kebelakang. Ji-eun ternyata gadis yang tak pernah menyerah. Setelah Ryu membeli tiket lalu duduk di ruang tunggu, ia juga mendatangi loket tiket.

“Ahjussi… pria tadi, yang memakai kaos hitam, dia beli tiket kereta tujuan mana?” Tanya Ji-eun, ditutupnya kepala Ji-eun dengan hoodie. Agar Ryu tak melihatnya sedang membeli tiket.

“Ah… pria yang duduk disana?” Tanya penjual tiket sambil menunjuk Ryu.

“Haiss.. jangan keluarkan tanganmu, nanti dia tahu… dia mau kemana? Ahjussi?” kata Ji-eun

“Dia.. akan ke Gumi… kau mau beli tiket atau bertanya saja hah?” Ahjussi penjual tiket membentaknya.
“Satu tiket ke Gumi” jawab Ji-eun sebal.

“Okey… ini tiketnya, selamat berlibur nona…” kata petugas tiket sambil tersenyum pada Ji-eun.

“Kalau sudah kuberi uang, kau bisa tersenyum sekarang, huh” keluh Ji-eun sambil berlalu.

Ryu tak ada lagi di tempatnya semula, merasa kebingungan, Ji-eun berlari mengelilingi ruangan tunggu yang begitu besar. Ryu tak ada disana.

“Ryu… kau kemana hah… aigoo… aku takut sekali…” kata Ji-eun sambil berjalan, melihat kekiri dan kekanan. Ia tak tahu kalau Ryu berada di belakangnya, bergantian mengikutinya.

Dengan hati-hati, Ryu mengikuti gadis itu, ia ingin tahu, apa sebenarnya yang di inginkan Ji-eun. Mengapa ia terus saja mengikutinya. Padahal sedari tadi, Ryu selalu memarahinya, mendorongnya, bahkan sempat berpikiran akan membunuhnya.

“Ryu… kau kemana eoh… aigoo… banyak sekali orang disini…” kata Ji-eun, sekarang ia berjalan jauh sekali dari stasiun, mencari orang yang sebenarnya ada dibelakangnya. Di seberang stasiun banyak sekali pedagang makanan. Ji-eun membeli sosis panggang dan melahapnya. Lalu berjalan lagi mencari Ryu.

“HYAAAAAAAAAAAAAA~~~~~~!! RYUUUUU~~~~~!! Kau kemana HAH~~~~!! Aigoo.. kakiku…” kata Ji-eun sambil berjongkok memijat kakinya.

Ryu yang sedari tadi mengikuti gadis itu, mendorong pantat Ji-eun
ke depan, hingga gadis itu tersungkur.

“Hya… mengapa kau mengikutiku hah?” Kata Ryu, sambil memakan sosis panggang yang sama seperti milik Ji-eun.

“Ryu…..!! ah… aku? Aku tidak mengikutimu… hehehe” Ji-eun mencoba menyembunyikan apa yang telah ia lakukan. sambil bangkit berdiri, lalu membersihkan bajunya.

“Aigoo… bisakah kau sekali saja menjauh dariku?, semenjak aku mendapat tugas membunuhmu, aku selalu sial, Hyemi meninggal gara-gara dirimu, apakah kau tak punya malu hah? Hah? Hah? Hah?” Tanya Ryu sambil memukul dahi Ji-eun.

Gadis itu diam saja, melihat tingkah Ryu, ia membiarkan dahinya dipukul pria itu berkali-kali.

“Ryuuuuu…… pukullah aku…eoh… pukullah… aku…aku sangat berduka cita atas kematian kekasihmu... aku... tak punya siapa-siapa saat ini Ryu… Kolegaku di Pohang, mengatakan kalau Ayahku terbunuh saat tugas, Ryu… aku tak punya siapa-siapa saat ini… dan hanya kau yang bisa menyelamatkanku ryu……” gadis itu menatap Ryu sambil menangis.

Tak sadar, Ryu menjatuhkan sosisnya, ia terlalu terkejut dengan kabar yang disampaikan Ji-eun.

“Benarkah? Ayahmu?... “

“huu umm…. Ryu….. hanya kau yang bisa melindungiku…” Ji-eun masih menangis, ia terlalu lemas untuk menyeka air mataanya. Kenyataan hidup yang sangat pahit menerpa mereka berdua.

“TheMadMan, mereka pasti dibalik kematian ayahmu… Ji-eun.. sudah jangan menangis… aku turut berduka cita atas kematian Ayahmu…”

“Ryu… aku akan ikut kemanapun kau pergi… aku sudah membeli tiket ke Gumi… aku akan ikut denganmu… kemanapun kau pergi… selamatkan nyawaku Ryu…” kata Ji-eun sambil memperlihatkan tiket yang dibelinya.

“Ji-eun…” Ryu tak bisa berkata apa-apa lagi melihat gadis yang dibencinya ternyata menaruh harapan besar padanya.

“Ryu….” Ji-eun mendekati pria bekas pembunuh bayaran itu, dan menggenggam tangannya “Aku berjanji… aku akan menyelamatkanmu… dan berjanjilah… selamatkan diriku… hum…?”

“Ji-eun?...” kata Ryu, dia menatap wajah gadis itu yang basah karena air mata.

“Ryu… berjanjilah padaku… dengan berdua, kita akan menjadi lebih kuat”

“Ya… aku berjanji akan melindungimu…” Ryu memeluk Ji-eun yang tetap menangis. Ia menenangkan gadis itu dengan pelukannya yang erat.

“Sudah… jangan menangis… kita harus lari sekarang juga… aku yakin ChangJun, akan mengutus banyak anak buahnya untuk mencarimu… kalau kau tetap menangis, kau akan mudah untuk dikalahkan” kata Ryu sambil melepaskan pelukannya, lalu menghapus air mata Ji-eun dengan saputangan hitam miliknya.

Ryu dan Ji-eun tak sadar, kalau di belakang dan didepan mereka sudah ada Chunghyang dan Yokji yang mengintai. Chunghyang mengintai dari belakang Ryu, dibalik tumpukkan kardus-kardus. Dan Yokji mengintai dari lantai dua sebuah motel.

Drrrrrrt Drrrrrt.

Yokji membuka smartphonenya

“hummm… itu mereka… jangan Chunghyang… biarkan mereka menikmati waktu mereka terlebih dulu, apa kataku… Ryu akan ke Gumi, aku sudah membelikan tiket untuk kita berdua, jangan bertindak gegabah, kita buat mereka terkecoh, dan membunuh keduanya bersamaan… hum… love you too” Yokji menutup smartphonenya, dan terus mengintai Ryu juga Ji-eun yang mulai beranjak pergi ke Stasiun.

To be continue

Fanfiction : Sal-In - Part 2

Author : - Kusuma

Maincast :
Kai Exo K : Ryu
Yoona SNSD : Lee Ji-eun

Genre : Romance

Daemyeong, Nam-Gu, Daegu, 11 Februari 2013  10:15

Ryu berhasil mengecoh targetnya, wanita bernama Ji-Eun itu percaya begitu saja pada pria tampan yang akan membunuhnya suatu saat nanti. Mereka berjalan lagi ke arah bukit yang letaknya sekitar dua kilometer dari Daeduk Elementary School

“hey… jangan jauh-jauh dariku… hey… siapa namamu ? kemarilah… katanya kau mau melindungiku” teriak Ji-Eun sambil menunggu Ryu berjalan mendekatinya.

Padahal sebelum wanita itu memanggilnya, Ryu bersiap-siap untuk menembaknya dengan shotgun yang sudah dipasang peredam. Sepertinya berurusan dengan wanita yang satu itu sangat sulit bagi Ryu. Ia mendatangi wanita itu dengan malas.

“Ye… Seonsaengnim… ada apa?” Tanya Ryu sambil sibuk menyembunyikan shotgun miliknya di saku belakang, terlihat di balik jas tebalnya, ia menyiapkan tiga senjata untuk menghabisi Ji-Eun.

“Panggil aku Ji-Eun, ah.. bukankah kau ikut denganku untuk melindungiku?, jangan berjalan terlalu lambat, kalau penjahat itu menembakku, bagaimana? Kau akan mendapatkan hukuman dari atasanmu, lalai menjalankan tugas, lalu kau di penjara karena sudah membuat wanita secantik diriku, anak detektif ternama, dibunuh dengan mudah, hum… berjalanlah di dekatku… Anak-anak… teruskan berjalan” wanita itu terlalu banyak bicara, Ryu menyeka keringat yang deras membasahi wajahnya. Kini mereka berjalan berdampingan, tak ada satupun kesempatan yang pas untuk membunuh Ji-eun saat itu.

“Ah… aku belum tahu namamu…” kata wanita itu sambil berjalan mengikuti murid-muridnya menuju bukit.

“apakah itu perlu? Saat ini aku dalam tugas untuk melindungimu, jadi tak perlu memperkenalkan diri kalau menurutku” kata Ryu dengan nada datar, kedua tangannya dalam posisi di belakang tubuhnya, ia sedang menyiapkan suntikan racun yang bisa membuat target mati di tempat. Dan polisi akan kehilangan bukti forensic karena suntikan racun itu begitu kecil seperti bekas gigitan serangga.

“tentu saja perlu…….. hehhehe… kau sekarang penyelamatku.. aku berterima kasih padamu, jarang sekali ada polisi yang mau melindungi target pembunuhan seorang diri… hmmm jadi aku berterima kasih padamu” tanpa disangka sebelumnya, ji-eun meraih kedua lengan Ryu dan mengayun-ayunkannya. Senjata biologis yang disiapkan Ryu, terjatuh, dan ia tak bisa mengambilnya lagi. Karna Ji-eun sudah mengajaknya berlari ke depan barisan murid-muridnya.

Tampak sekali kekecewaan yang di wajah Ryu, ia tak tahu lagi dengan cara yang bagaimana untuk membunuh wanita cantik dan cerdik bernama Lee Ji-eun.

“Stoopp….. hehehehe” Ji-Eun berdiri didepan barisan murid-muridnya, ia masih menggenggam tangan kiri Ryu. “Anak-anak…. Kita sudah sampai, apakah kalian siap mendaki gunung?” teriak Ji-Eun dengan ekspresi ceria nya yang unik.

“Yeeee…….!! Seonsaengnim ~~~!!” Murid-murid Ji-eun bubar seketika, ada yang duduk, ada yang berlari-lari mengelilingi taman bermain di dekat bukit, ada yang masih berdiri di tempat semula.

“Anak-anak…..!!!!!! Berbaris Lagi~~~~!! CEPAT~~~~!!” Dengan satu teriakan, semua muridnya mengikuti perintah Ji-Eun, mereka berbaris lagi, walaupun tak teratur.

“Siapa yang menyuruh kalian bubar hah?” teriak Ji-Eun, Ryu terlihat mentertawakan tingkah murid Ji-eun.

“Mereka lucu sekali… hihihihi” bisik Ryu pada Ji-eun, sambil menahan tawa. “Nuna… bisakah kau melepas tanganku?” Tanya Ryu

“oh…” Ji-eun pun melepas tangan Ryu yang sedari tadi tak sadar ia genggam. “Mianhae.. hehehe, aku pelupa” Ji-Eun beralasan, wanita itu mengatur semua barisan murid-muridnya begitu cepat.

“Ya…. Berbaris seperti tadi, kita akan naik bukit bersama-sama, saling berpegangan tangan ya, dan… Kenalkan… Dia adalah Ahjussi yang bekerja sebagai Polisi, dia bertugas melindungi kita semua dari penjahat,  Ayo sapan Ahjussi”  perintah Ji-eun pada muridnya.

“Annyeonghaseyo… Ahjussi……….” Semua muridnya berteriak seketika.

“Sssst… perkenalkan namamu… sapa mereka” bisik Ji-Eun. Ryu curiga saat itu, jangan-jangan Ji-Eun sudah mengetahui apa sebenarnya tujuan Ryu mengikutinya. Jangan-jangan ji-eun sudah tahu sedari tadi Ryu sibuk menyiapkan racun biologis khusus untuknya.
Diam, tak ada suara yang keluar dari bibir Ryu, dia hanya memandangi Ji-Eun.

“Hmmm??” Ji-Eun menggoyang-goyangkan tangannya di depan mata Ryu, “Hei.. Ssstt…” Ji-Eun menggoyang-goyang bahu Ryu,

“Hei… perkenalkan dirimu pada mereka, baru kali ini mereka bertemu dengan polisi sepertimu” kata Ji-Eun dengan suara yang lembut.
Itu mampu membangunkan Ryu dari lamunannya yang lama. Ia menghadap semua murid Ji-Eun, berdiri tegap, memberi hormat seperti polisi biasanya, dan berkata dengan lantang

“Annyeonghaseyo. Aku Ryu, Aku akan melindungi kalian semua hari ini. Senang berkenalan dengan kalian semua” Bodohnya Ryu, ia memberikan identitasnya yang asli pada targetnya sendiri.

“Baiklah……. Semuanya…….. Ayo kita mendaki gunung sekarang~~~!!”
“Hey… yang benar saja, itu hanya bukit” kata Ryu

“Kalau kau memandangnya bukit, tapi anak-anak memandangnya sebagai gunung. Hehehe” kata Ji-eun sambil berlalu dari hadapan Ryu. Semua murid mengikuti wanita itu, berjalan dan mendaki.
Ryu tetap berdiri di tempatnya semula, kali ini ia mengisi pistol caliber 32, memenuhi semua dengan peluru yang masih baru.

“aku akan membunuhnya Hyung… aku pasti membunuhnya…” Di selipkannya pistol caliber 32, di saku jasnya.  Lalu dia mengikuti targetnya menuju puncak bukit.

***
Daemyeong, Nam-Gu, Daegu, 11 Februari 2013  11:15

Ryu duduk di atas bukit, sambil mengawasi targetnya, seperti serigala yang mengawasi domba di ladang rumput.

“Ahss… haruskah aku membunuhnya sekarang?...” ia bertanya pada dirinya sendiri. Lalu direbahkan tubuhnya diatas rumput, “Ah… aku lebih suka tidur daripada membunuh wanita itu.. Hyung… mengapa kau menyuruhku membunuh wanita seperti dia… lebih mudah kalau aku membunuh ayahnya…hmmm” kata Ryu, sambil menutupi wajahnya dari sinar matahari yang terlalu menyengat.

Drrrrt… Drrrt…

Ryu dengan cepat membuka jasnya dan melihat layar handphonenya. Ternyata Hyung ketua gang mafia menelponnya. Tak tahu apa yang harus dia katakan, Ryu hanya membiarkan telp itu mati sendiri.

Drrtt… Drrrrrrtt…

Akhirnya Ryu mengangkat sambungan telp itu.

“RYU~!!! Apa yang kau lakukan disana HAH?” suara teriakan Hyung terdengar sangat keras.
“Hyung… aku ? aku sekarang ada di Daemyeong, menjalankan perintahmu” jawab Ryu dengan gugup
“bagaimana kau bisa membunuh wanita itu, kalau kau hanya tidur di atas bukit hah?...”
“Hyung… kau mengawasiku?”
“Hummm… lihatlah di balik pohon, dekat family market, kau bisa melihat mobilku?”
“Haisss…”
“Bunuh dia sekarang, atau kau yang kubunuh”
“tapi hyung… HYUNG~!!” sambungan telp telah terputus, mobil yang terparkir di balik pohon itupun sudah tidak ada lagi.

“Haissssss…. Ssssibbalyoo..!!” kata Ryu, ia meletakkan handphone nya di saku celana, dan ia mulai turun bukit mendatangi wanita itu.

“Aku harus bisa membunuhnya sekarang… haisss..” kata Ryu sambil menyiapkan pistol caliber 32 di tangan kirinya.
Ji-eun masih terlalu asyik bermain dengan murid-muridnya. Wanita itu sedikit takut ketika Ryu mendatanginya dengan pistol di tangan kiri.

“Ada apa?” Tanya Ji-Eun dengan ekspresi ketakutan.

“Kita harus bicara, biarkan anak-anak disini, kau ikut denganku” kata Ryu sambil menyeret Ji-Eun menuju café didepan taman.

“Tapi.. tapi… mereka… apakah tidak berbahaya membiar…” kata Ji-Eun sedikit cemas, ia berpaling melihat murid-muridnya yang sedang bermain di taman.

“Sssstt… ikut saja denganku, mereka akan baik-baik saja” Ryu tetap saja menyeret Ji-Eun, mereka tidak masuk ke dalam café, melainkan berjalan terus menuju belakang café dan berbelok ke gang sempit, Ryu sibuk mencari tempat yang paling aman untuk menghabisi targetnya.

“Ada apa ini? Bisakah kau melepaskan lenganku? Kita terlalu jauh, muridku akan mencariku, Ryu… hei..” dihempaskannya tubuh Ji-Eun ke dinding, di sana tak ada siapapun yang bisa melihat mereka berdua, di gang sempit itu, tempat yang pas untuk membunuh Ji-Eun.

Ia pertahankan tubuh Ji-Eun dengan tangan kanannya yang kekar, agar tak bergerak dari tempat semula.

“Hyaaaakkk… apa yang akan kau lakukan hah? Ryu??” Sekuat tenaga Ji-Eun memukuli Ryu agar bisa melepaskannya

“Sssttt… sekali lagi kau berteriak, aku akan menembak kepalamu” Ryu kembali mengawasi sekelilingnya, ia tak mau membunuh wanita itu ditempat yang tidak aman,
Setelah merasa aman, dia kembali kepada Ji-Eun, di tatapnya wanita itu.

“Lee… Ji..Eun… sebenarnya aku bukan polisi, aku bukan mengikutimu untuk melindungimu, aku adalah orang yang akan membunuhmu” Ryu menyiapkan pistolnya, ia letakkan pistol pas di kepala Ji-Eun.

“Apa… mengapa kau membunuhku?, kita tak pernah bertemu sebelumnya” kata Ji-Eun, dari matanya terlihat sekali ketakutan, ia menatap Ryu, dan mulai dengan aksinya, ditendangnya perut Ryu. Tapi pria itu tak bergerak sama sekali.

“Tendanglah terus, sampai kau lelah… aku sudah terbiasa… Nuna… apakah aku harus bertemu denganmu dulu, lalu ada alasan untukku membunuhmu?... aku hanya pembunuh bayaran, kali ini aku akan membebaskanmu… aku tak tega bila membunuh wanita tak bersalah sepertimu, aku akan membebaskanmu, tapi dengan syarat, pergilah dari Korea, kalau kau tetap ada di Korea, aku akan cepat mengetahuinya, dan keputusanku yang terakhir adalah membunuhmu… jadi… bekerjasamalah denganku. Eoh…?”

“Apa… maksudmu HAH????!!” Teriak Ji-Eun. Ryu menampar wajahnya yang cantik, wanita itupun menangis sambil menahan suaranya.

“Sudah kubilang, jangan berteriak, mengapa kau tak mau bekerjasama denganku hah?.. aku ingin membebaskanmu… pikirkan hal itu, aku tak ingin membunuhku, tapi kau… terus berteriak, diluar sana… banyak orang yang sedang mengincarmu, mereka semua akan membunuhmu… aku sudah membebaskanmu, bagaimana kalau mereka mendengarmu, lalu datang kemari dan membunuhmu hah?”

“Andwae…. Kau sedang bercanda kan? Hah?” Tanya Ji-Eun, ia menatap pria yang akan membunuhnya dengan seksama.
“Lihat peluru ini, apakah ini palsu?” kata Ryu sambil menjatuhkan beberapa peluru yang ada disaku jasnya. Peluru itu berdenting ketika
menyentuh lantai kramik.

“Lalu… apa maumu sekarang.?... membunuhku?” tanya Ji-Eun

“Sudah kujelaskan sebelumnya Nuna… Aku tak akan melakukan itu, aku tak mau membunuh wanita yang tak bersalah sepertimu, Nuna… bisakah kau pergi dari sini? Aku akan berpura-pura telah membunuhmu, pakailah baju yang telah kubawakan untukmu… aku minta bajumu, aku akan melumuri bajumu dengan darahku, agar mereka tahu kalau aku telah membunuhmu. Cepatt……..”

“tapi…”
“Haisss… apa kau tak sayang dengan nyawamu sendiri hah?”
“bagaimana dengan muridku? Mereka akan mencariku…”

“Tenang saja, aku akan mengantarkan mereka kembali ke sekolah, cepat lakukan… sekarang….sebelum pembunuh yang lain mencarimu” kata Ryu, ia masih menahan Ji-Eun agar tetap bersandar di dinding.

“tapi….”

“Haissssss…. Ssssibbalyoo..!! cepat ganti.” Kata Ryu, ia melepaskan tangan kanannya yang sedari tadi menahan bahu Ji-Eun. Ji-Eun membuka tas yang di berikan Ryu, dan mengambil baju yang telah disiapkan pembunuh bayaran itu untuknya.

“Haruskah… aku mengganti pakaianku disini? didepanmu?”
“Hum…” kata Ryu datar, sambil menodongkan pistol kearah Ji-Eun.
“Bisakah… kau menutup matamu…” pinta Ji-Eun, ia masih sempat-sempatnya memperagakan Aegyo disaat genting seperti ini.

“Hyak… lakukan sekarang, atau haruskan aku membunuhmu saja Nuna?”

“Ryu… aku akan bekerjasama denganmu… tapi tutup matamu… juseyoo… Ryu…”

“hum baiklah” kata Ryu. Ia tetap menodongkan pistol kea rah Ji-Eun yang sedang sibuk berganti pakaian.

“Ryu… buka matamu… aku sudah menganti pakaianku, apa lagi yang harus kulakukan eoh?”

“Pakai kacamata ini” kata Ryu sambil memakaikan kacamata ke wajah Ji-Eun, “Dengan begini, tak ada yang tahu kalau kau Ji-Eun.
Pulanglah, aku sudah menolongmu, kau juga harus menolongku Nuna, jangan mengatakan pada siapapun kalau ada orang yang menjadikanmu target pembunuhan. Jangan mengatakan pada siapapun kalau aku akan membunuhmu, dan jangan membongkar identitasku. Aku tak membunuhmu, tapi banyak anggota mafia yang akan mengejarmu, jangan bekerja di sekolah itu lagi, pindahlah ke luar negeri, jangan tinggal di korea lagi kalau kau masih sayang dengan nyawamu, mengerti Nuna” kata Ryu, kali ini ia tak lagi menodong pistol keaarah targetnya, mereka berdua mulai bisa saling mempercayai. Ryu menggores lengannya sendiri dengan pisau, dan menumpahkan darah di baju milik Ji-Eun.

Wanita itu berdiri di hadapannya, matanya tak lagi mengeluarkan air mata, ia hanya tersenyum melihat Ryu yang sibuk menyiapkan barang bukti. 

“Ryu… terima kasih… kau memang penyelamatku”

“Nuna… pergilah sekarang, pulanglah, jangan kembali ke sekolah, kemungkinan beberapa pembunuh sudah mengintaimu di sekolah” kata Ryu sambil mengemasi barang bukti.

“Ryu…”

“Larilah… jeppallii…” JI-Eun pun berlari meninggalkan Ryu, tapi sesekali ia berpaling dan melihat pria yang telah menyelamatkan hidupnya.

“Aiiigooo… susah sekali bekerjasama dengan wanita itu… Hyung…. Sekarang aku akan menelponmu hahahaha… Aku sudah membunuhnya Hyung~~~!!” kata Ryu sambil mengotak-atik handphonenya.

Tak menunggu lama sambungan itu diterima “RYU~!! Kau dimana? Hah?” suara Hyung menggelegar hampir saja membuat Ryu gugup.
“Hyung~!! Aku sudah membunuhnya~!! Hahahahaha…”
“Yaaaaaa… Itu baru adikku… temui aku di bar”

“Baik Hyung” Ryu sang pembunuh bayaran yang melepaskan targetnya, tertawa lepas, akhirnya ia bisa menyelesaikan masalah tanpa membunuh wanita tak bersalah. Ia melangkah pergi meninggalkan gang sempit, bukti kematian Ji-Eun sudah ada di tangannya, sekarang dia bebas dari tugas yang mengusik hatinya itu.

Murid-murid Ji-Eun masih ada di taman, mereka seperti malaikat kecil yang belum mengerti bahwa dunia ini penuh dengan kejahatan, hampir saja guru mereka yang cantik itu dibunuh oleh Ryu.
Pria itu menghampiri murid Ji-Eun dan menyuruh mereka segera berbaris.

“Ya…. Berkumpul semuanya~!!! Ayo… Ayo… Ahjussi akan mengantarkan kalian pulang ke sekolah. Ibu guru kalian sudah pulang ke sekolah, karena sakit perut, jadi kalian pulang bersama Ahjussi yaaa”

“YEEEEEE AHJUSSI~~~~~!!” Anak-anak itu terlalu polos, mereka mengikuti Ryu dengan riang gembira, tanpa mencari tahu dimanakah sebenarnya guru mereka yang cantik berada saat ini.
Bisakah Lee Ji-Eun lolos dari percobaan pembunuhan yang akan dilakukan oleh pembunuh bayaran lainnya? Bagaimana reaksi Hyung setelah tahu kalau Ryu tak pernah membunuh targetnya?

To Be Continue 

Fanfiction : Sal-In - Part 1



Author : - Kusuma

Maincast :
Kai Exo K : Ryu
Yoona SNSD : Lee Ji-eun

Genre : Romance

8 Mei 2013 – Daegu

Seorang pria berlari menembus banyak pejalan kaki, menghindari mobil yang hampir saja menabraknya. Tak banyak orang yang tahu, di tangan kiri pria itu menggenggam pistol berkaliber 32. Ia berlari begitu cepat, mengejar waktu.

Sampai di depan sebuah rumah sakit, ia membuka handphone dan berbicara pada orang yang dihubunginya “Jangan… Jangan kau bunuh dia… aku saja yang membunuhnya.. tahan tembakanmu…” Pria itu berlari menuju lift, tapi banyak orang yang bisa mendengar pembicaraannya yang begitu privat dan rahasia.

Tangga darurat adalah pilihan utama, “DIAM~!!! Sudah kukatakan aku lah yang pantas membunuhnya, kalau kau membunuhnya, aku akan menghabisi semua anak buahmu” Pria itu menutup handphone nya dan melanjutkan larinya.

Nafasnya begitu memburu ketika ia berhenti di depan sebuah kamar inap. Di lihatnya papan nama pasien yang ada dihadapannya. Lee Ji-Eun. Pria itu mengatur nafasnya sebentar, setelah nafasnya kembali normal, ia sembunyikan pistol yang digenggamnya tadi.

“Ryu…. Kemana saja kau…? Aku menunggumu… “ Wanita yang bernama Lee Ji-Eun tersenyum pada Ryu, pelari terhebat hari itu.
“Ji-Eun… aku juga menunggumu…” kata Ryu sambil mengarahkan pistol berkaliber 32 pada Lee Ji-Eun. Sontak wanita itu melihat Ryu dengan tatapan heran dan terkejut.

“A…Apa yang akan kau lakukan Ryu?...Jangan bermain dengan itu… kau akan menyesal kalau kau…”

“Ssssst…. Ssst…” kata pria bernama Ryu, air matanya mengalir begitu deras, tangannya bergetar ketika menggenggam pistol, “Sssstt… aku… menunggumu terlalu lama, Ji-Eun… aku akan buat kau lebih bahagia… aku menunggu untuk bisa membunuhmu… saat inilah waktu yang tepat untuk kita berpisah Ji-Eun… maafkan aku” pria itu mencoba untuk fokus dengan sasarannya.

“Ryu….”

***

10 Februari 2013

Langit Daegu hari itu begitu kelam, tiga mobil Chevrolet berwarna hitam berjejer memasuki parkir bawah tanah sebuah apartemen. Orang-orang yang berada di kawasan apartemen itupun merasa ketakutan, pemilik ketiga mobil itu adalah komplotan mafia yang terkenal di daerah Daegu, mereka menyebut diri mereka The ShadowMan. Mungkin karena mereka semua memakai setelan jas serba hitam.

Gerombolan The ShadowMan masuk ke dalam apartemen, kali ini mereka tak menjarah tapi hanya menghampiri sebuah kamar yang letaknya paling atas di pojok kiri.

“Ryu~!! Buka pintunya~!!! Hyung mengunjungimu~!! CEPAT BUKA atau kuhancurkan pintumu” seorang pria yang lebih pendek dari temannya maju dan menggedor pintu.

“ChongBong… pelanlah sedikit… kita sedang mengunjungi teman, bukan merampok, hmmm? Bagaimana kalau ada tetangga Ryu yang melaporkan kita?” kata pria tinggi besar yang bersandar di balkon apartemen.

“Ye.. Hyung. Jeongmal Mianhae..” pria yang dipanggil ChongBong itu menunduk begitu rendah pada atasannya.
Tak menunggu lama, pintu kamar apartemen yang letaknya paling atas itu dibuka, seorang pria tampan muncul dari balik pintu, ia masih memakai piyama hitam dan selop hitam. Wajahnya yang layu menandakan kalau ia masih tak bisa melupakan tidurnya.

“Wae…” kata pria itu sambil mengusap matanya, dan mencoba melihat dengan jelas siapa yang ada didepannya. “Oh! Hyung… silahkan… masuk. Masuk…” kata pria itu sambil membuka lebar-lebar pintu kamarnya.

Segerombolan The ShadowMan masuk satu persatu ke dalam kamar pria tampan itu. hanya pria yang dipanggil Hyung saja yang duduk di sofa, sedangkan yang lainnya berdiri di belakangnya. Layaknya sang raja, ada yang menyalakan cerutu untuknya, dan menuangkan vodka ke gelas yang di bawah salah satu anggotanya.

“Hyung, apa yang membuatmu mendatangiku seperti ini, kalau aku ada perlu denganku, kau bisa menelponku” kata pria pemilik kamar itu sambil duduk di atas tumpukkan buku yang ia tata rapi sebagai bangku.

“Apakah kau tak suka kalau aku ke rumahmu?”
“Bukan seperti itu Hyung… hanya saja, aku…”
“Sudahlah… aku kemari hanya ingin memberikanmu tugas yang bisa membuat hidupmu berubah” kata Hyung sambil melempar satu amplop tebal keatas meja.

Pria pemilik kamar tanpa aba-aba langsung membuka amplop yang ada didepannya. Wajahnya tampat berkerut ketika membolak balik kertas yang ada didalam amplop.

“Siapa dia?” Tanya pria pemilik kamar sambil mengacak rambutnya.
“Dia targetmu, tugasnya mudah saja, kau harus mencari dimana dia berada, dan membunuhnya” kata Hyung sambil menghembuskan asap cerutunya.

“Sepertinya dia gadis biasa, dan tidak ada hubungannya dengan bisnis kita” pria pemilik kamar itu masih tertarik membuka lembar demi lembar, mengulangi lagi, lagi dan lagi.

“Memang, tapi ayah gadis itu adalah musuh besar kakak iparku”
“Ayahnya seorang mafia?”

“Bukan, Ayahnya seorang polisi ternama, dan ayah gadis itu telah membunuh keponakanku, kau harus membunuh gadis itu untuk kakak iparku, bayaran yang akan kau dapatkan 5.000.000 won. Bagaimana? Deal?”

“Hmm…” pria pemilik kamar itupun berpikir sekali lagi. “Hyung… bukankah yang berurusan dengan kakak iparmu hanya ayah gadis
ini, mengapa kau tak menyuruhku membunuh ayahnya saja?”

“hmm..hehe.. hehehe… hahahahaa….” Pria yang dipanggil Hyung itu tertawa lalu di ikuti semua pengawalnya “apakah kau mulai menyukai gadis itu?... hmmm… CongDong berikan uang nya pada Ryu”
ChongDong, pria pendek berjas hitam itu memberikan satu amplop berisi uang pada Ryu, pria tampan pemilik kamar.

“Jangan pernah tertarik apalagi jatuh cinta pada target yang harus kau bunuh, atau kau bisa kehilangan pekerjaanmu, bahkan nyawamu. Hmmm… ternyata rumahmu begitu nyaman… “ kata Hyung sambil menjulurkan kakinya diatas meja. Semua kertas dan uang yang ada diatas meja terjatuh begitu saja ditendangnya.

“Ryu… kakakku, ingin membuat polisi itu merasakan bagaimana bila kehilangan anak yang dicintainya. Hmmm.. kau tahu maksudku kan? Balas dendam memang begitu aneh, tapi kita harus bersyukur banyak orang yang ingin membalas dendam hahaha… dengan begitu kita masih punya pekerjaan… Ryu… uang itu hanya setengahnya, kabari aku kalau kau sudah membunuh gadis itu, aku akan melunasi pembayarannya”

“Baik Hyung… akan ku usahakan” kata Ryu

“Okey… pekerjaanku sudah selesai, ayo… semuanya, kita bekerja lagi.. Ryu, aku senang istirahat di rumahmu, kapan-kapan aku akan kemari lagi, untuk tidur di sofamu hahahaha” kata Hyung sambil tertawa, ia keluar rumah diikuti oleh semua pengawalnya termasuk pria kecil ChongDong.

“Ah.. Hyung… terima kasih sudah memberiku pekerjaan…” Ryu mengantarkan bossnya sampai di lift.

“bye bye… Ryu… ingat kata-kataku, membunuh pakai otak, jangan pakai hati hahahahahaha” pintu lift pun tertutup. Ryu masih di balkon apartemen, ia melihat bosnya yang terus tertawa walaupun sudah masuk ke dalam mobil.

Ryu melangkah dengan gontai, ia masih terlalu mengantuk untuk mengurusi pekerjaannya sebagai pembunuh bayaran. Setelah duduk lagi di tempat semula, ia membuka salah satu foto targetnya.

“hmmm…Lee Ji-Eun…” Ryu juga membuka beberapa kertas yang ada dihadapannya. “oh… kau bekerja sebagai guru? Ah… usiamu 8 tahun lebih tua dariku… Hey… Lee Ji-Eun, apakah aku harus membunuhmu?” kata Ryu sambil mengguncang-guncang foto targetnya.

Ryu berlari ke dalam kamarnya dan meloncat lalu menghempaskan tubuhnya keatas ranjang.

“Ahh…. Lee… Ji.. Eun… kau tinggal di dekat sini, tapi mengapa aku tak pernah melihatmu… hmmm… Hyung~~~~~~~!! Mengapa kau tega sekali denganku. Haruskan aku membunuh gadis secantik ini…. Ah~~~~~!! Molla…” Dilanjutkannya tidur yang sempat terputus.

***

11 Februari 2013

“Anak-anak…… Ayo… siapkan perlengkapan kalian, hari ini kita akan naik gunung bersama~~~~!!” kata seorang wanita yang berdiri tegap di depan kelas, ia memakai baju berwarna hijau dan topi piknik, 

“Ye….. seonsaengnim” semua murid nya serentak menjawab dengan semangat.
Wanita itu memandu semua muridnya keluar dari kelas, berbaris dan berjalan meninggalkan sekolah.

“Ayo…… kita bernyanyi one two three…”
“ye……. Seonsaengnim”

“hana , dul, ses , naneun wol-yoil joh-a
hana , dul, ses , naega yeonguleul joh-a
hana , dul, ses , naega haggyo leul joh-ahanda. nananana ..” mereka pun bernyanyi bersama, sambil berjalan menuju gunung di belakang sekolah.

Wanita itu tak menyadari ada seorang pria yang sedari tadi mengikutinya dari belakang, bersembunyi di balik pohon, ketika dia berbalik melihat muridnya, pria itu kembali mengikuti rombongan guru dan murid dengan penuh hati-hati.

“Anak-anak… ayo istirahat sebentar… “ kata wanita itu sambil mengatur murid-muridnya duduk di trotoar, ia pun membagikan cookies dan susu kotak kepada muridnya. “Ini untukmu…”

“terima kasih seonsaengnim…” kata semua murid,
“seonsaengnim~~!! Ada YAKUZA~~~~!! Dari tadi kulihat dia mengikuti kita..” salah satu murid menunjuk pria yang bersembunyi dibalik tiang listrik di ujung jalan, wanita itupun melihat apa yang di
tunjuk muridnya.

“Mwwoo… Yakuza? Hehehe… hanya halusinasi saja… ayo makan kuenya… sebelum terkena debu” kata wanita itu dengan lembut.

“Ah.. Andweeee seonsaengnim… aku melihat seorang pria membawa pistol… dia ingin membunuhmu seonsaengnim… apa kau tak takut?” kata anak itu jujur.

“hehehe… okey… aku akan memeriksanya” Wanita itupun tertarik untuk memeriksa siapa sebenarnya yang dilihat muridnya.
Pria yang berdiri dibalik tiang listrik merasa gelisah saat itu, ia segera menyembunyikan pistolnya di saku jas.

“Mellong…” tiba-tiba wanita itu mengejutkannya dengan kata dan reaksi yang menggemaskan. “Ah… maaf, aku kira tidak ada siapa-siapa disini, hehehe… apa yang kau lakukan disini? Apakah kau mengikuti kami? Ah….. apakah kau berniat buruk pada kami?” Tanya wanita itu sambil memasang kuda-kuda.

“Ah… hehehe… aku… tidak… tidak… aku hanya berdiri disini saja” kata pria yang ternyata Ryu sang pembunuh bayaran itu.
“hmmm… kau mencurigakan, siapa kau sebenarnya? Apa maksudmu mengikuti kami semua? Apa kau membawa pistol?” wanita itu masih menyiapkan kuda-kudanya bersiap untuk menendang Ryu.

“ya… Ah… tidak.. tidak…” tiba-tiba pistol yang di selipkan di saku jas pria itu terjatuh, Cling… pistol itu terjatuh, Ryu dengan sigap mengambil pistolnya dan bersiap melepas pelatuknya.

“Nuna… aku… aku anggota polisi, aku mengejar penjahat yang tadi mengikutimu, jadi aku harus melindungimu” kata Ryu, wajahnya penuh dengan keringat.

“Ah……. Kau suruhan ayahku?... ah….. aku mengerti sekarang.. sebentar…” wanita itu pun berbalik “Hey…. Anak-anak dia bukan Yakuza… dia temanku hehehe, ayo… habiskan susu dan kue kalian, 5 menit lagi kita akan berjalan ke Gunung~~~~~~!!” teriak wanita itu dengan nada ceria.

“Yeeeeeee~~!! Seonsaengnim” Balas semua muridnya.
“hehehe… muridku tadi mengira kau seorang Yakuza, hehehe ternyata kau suruhan Ayahku” kata wanita itu sambil memukul dengan halus dada Ryu.

“Ya..Yakuza? ah… aku bukan pria seperti itu…” kata Ryu sedikit gugup.

“Kau mau susu dan kue?” tawar wanita itu pada Ryu

“No.. thanks..” tolak Ryu, ia menyimpan pistolnya dengan baik di saku celananya, sepertinya Ryu tak bisa membunuh wanita itu saat ini, terlalu bahaya, banyak anak-anak yang sudah melihat wajahnya. Banyak yang bisa menjadi saksi.

“Kau polisi baru?”
“hmmm ya.. sepertinya begitu”

“hehehehe… kau lucu sekali… baiklah, sampai bertemu lagi di kantor ayahku, tak usah lagi mengawalku, aku baik-baik saja” kata wanita itu sambil berlalu dari hadapan Ryu.

Dengan cepat Ryu meraih tangan Lee Ji-Eun. “Nuna… Lee Ji-Eun, aku harus tetap bersamamu, ada orang yang akan membunuhmu, kepolisian pusat menyuruhku untuk melindungimu Nuna. aku harus melindungimu… ssssttt… jangan sampai ada yang tahu, apalagi ayahmu, aku akan melindungimu, sebenarnya aku bukan utusan dari ayahmu, tapi dari kepolisian pusat, kau sedang menjadi target pembunuhan sekarang, jadi ikuti kata-kataku, aku akan melindungimu…. Arra?” bisik Ryu.

“Benarkah?” Tanya Ji-eun sambil mengedipkan matanya tak percaya

“Ya… ada tiga pria yang mengintaimu dari tadi, aku harus bersamamu, melindungimu dan murid-muridmu, tolong bekerjasamalah… kali ini saja…”

“Benarkah?” Tanya Ji-eun lagi seakan dia masih tak percaya.

“hum aku jujur padamu…” kata Ryu sambil menepuk dadanya

“Mana mereka? Aku bisa mengatasi mereka dengan sekali dua kali tendangan, bilang padaku mana mereka?”

“Sssssssssssttttt……. Mereka pembunuh yang paling berbahaya di korea” kata Ryu sambil membungkam mulut Ji-eun

“haisss… lalu apa untungnya mereka membunuhku hah?” Ji-eun berhasil melepaskan bungkaman tangan Ryu.

“Kau…. Ahss… aku juga tak tahu, turuti semua kata-kataku ini demi kebaikanmu Nuna…” kata Ryu sambil berpura-pura melihat ke segala arah. “Aku harus ikut denganmu, mereka akan selalu mengintaimu, apa kau tak sayang dengan nyawamu Nuna?”

“Baiklah, kau boleh ikut bersamaku, kalau kau tak bisa menjagaku, jagalah murid-muridku, dia tanggung jawabmu sekarang” kata Ji-eun sambil melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Ryu.

Ryu akhirnya bisa memperbaiki keadaan, apakah ia akan berhasil membunuh Lee Ji-eun di gunung tanpa sepengetahuan murid-murid Lee Ji-eun??

To be CONTINUE

Please. Penilaiannya ya...... komentar, like jangan lupa share........
 
Layanan untuk Anda: x Cerita dari Kusuma | - | dari - | Lihat dalam Versi Seluler