- - - - . - - | Facebook | Twitter | GPlus |
Tampilkan postingan dengan label Series. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Series. Tampilkan semua postingan

Fanfiction PI-HAE - Part 1 - The Series



"Sebelum membaca klik BAGIKAN / SHARE ya..... supaya banyak yang baca dan menikmati cerita ini..."

Author : Ayuna Kusuma

Genre : Crime, Romance,

Location : 터널나이트클럽
495-50 Duryu 3(sam)-dong, Dalseo-gu, Daegu, South Korea

Maincast :

Jinyoung B1A4 : Young
Kai Exo : Ryu. Leader The Shadowman
Lay Exo : Lay

***

495-47 Duryu 3(sam)-dong, Dalseo-gu, Daegu, South Korea 19.54

Seorang pria berlari menghindari polisi yang mengejarnya jauh di belakang, beberapa kali ia menabrak tiang listrik, kotak pos, bahkan menabrak beberapa orang yang berjalan berlawanan arah dengannya. Pria jangkung yang berlari itu dengan cepat mengeluarkan pistol caliber 22 dari sakunya, ia memasukkan beberapa peluru di dalamnya, lalu bersiap berpaling, menembak polisi yang berani-beraninya mengejarnya.

DAZZZZZZZZZZZZ

DAZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZ

DRAAAAAAAAKKK

Pistol caliber 22 yang sudah dipasang peredam suara itu berhasil menembus dada kedua polisi, dan melubangi kaca salah satu mobil yang terparkir di jalan.

“HAIISSSS!!!” Pria itu membuang pistolnya yang sudah kosong dan tak berguna, ia tak sempat menaruh pistolnya di saku, karna terlalu tergopoh-gopoh, salah satu polisi berlari ke arahnya.

“HYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA HYUUUUUUUUUUUNGGGGGG dowa jwo!!!!!!!!!!!!!!!!!!” Teriaknya sambil memepercepat larinya.
Polisi yang ada di belakangnya pun masih mengejarnya, tak putus asa, ia menghubungi beberapa kru kepolisian yang lainnya agar membantunya menangkap pria tadi.

Salah seorang pria yang berdiri di sebelah bar, menghampiri pria yang lari di kejar polisi itu.

“LAY!! Lay!!!” Panggil pria yang baru saja bertemu dengan temannya yang berlari bebas menghindari polisi.

“HYAAAAAAAAKK BABOYAAA!!!!! JANGAN IKUTI AKU!!!!!” Teriak Pria yang bernama Lay, pria yang berhasil membunuh dua polisi dalam dua kali tembakan. Lay terus saja mendorong temannya agar tak
ikut lari bersamanya.

“JANGAN IKUTI AKU!!! naleul ttalahaji maseyo!!!!!!! YAK ASSSSSS!!!” Lay kembali mendorong pria yang berlari disampingnya, tapi pria itu masih berlari menyamai posisi Lay.

“Apa Polisi ada dibelakang kita???”

“YOUNG!!!! naleul ttalahaji maseyo!!!! EOOOOOOH!!!” Lay menendang Young hingga terjatuh, tapi pria itu berhasil bangkit lagi, ia pun mengeluarkan pistol dari saku jaketnya. Tak lama polisi pun berhasil menyusul Lay, Young yang bersembunyi di balik tong sampah, berhasil menembak tepat di kepala sang polisi yang mengejar temannya.

“YES!!” Gumamnya, ia pun mengeluarkan peluru dari pistolnya, lalu meletakkan pistolnya di saku jaketnya. Ia berlari lagi mengejar Lay yang terus berlari di depannya. Meninggalkan mayat Polisi yang sudah di kerubungi remaja-remaja labil.

“HAHAHAHAHA LAY!!!!!!!!!!!!!!!! geuman!!! Geuman!!!!!! LAY!!!” teriak Young sambil meraih bahu Lay yang terus berlari, dengan kekuatannya, ia pun bisa menghentikan Lay yang berusaha menghindar.

“ geuneun jug-eossdaaa… aku sudah membunuhnya… gominhaji anhneunda… eoh… hehehee” bisik Young sambil mengatur nafasnya.

Lay pun memeluknya selayaknya pria sejati. “GOMAWO Eoh…!! Gomawo!!” kata Lay, ia pun melepas pelukannya lalu menunduk memijat kaki yang sudah lelah berlari sedari tadi.

“Huufff…. Aku hampir saja…. Tertangkap… Polisi akan menjebak Hyung dengan seorang wanita… aku harus cepat-cepat melaporkan padanya… Kau tahu… aku baru saja mendapatkan berita itu langsung dari kantor polisi….” Lay pun berpindah posisi, ia memasukkan koin ke dalam mesin minuman kaleng.
DAKK!! DAKK!! Ia tendang dua kali, dan dua minuman kaleng pun keluar dari mesin. Ia memberi salah satu minuman pada Young.

“Aigooo… aku lelah sekali… minumlah….” Gumam Lay sambil merebahkan diri ke dinding sebuah bar.

CAZZZZZZZZZZ suara kaleng minuman segar yang baru saja di buka. Lay meneguknya dengan rakus, sedangkan Young hanya menunggu temannya minum dan menjelaskan apa yang terjadi.

“hhuuumm AHHH….. segar sekali….hehee… kau hebat sekali Young… apa yang kau tembak tadi?” Tanya Lay sambil menepuk punggung Young yang ada di sebelahnya.

“Kepalanya… kuhancurkan kepalanya dengan sekali tembak… hehehehe… Lay… katakan padaku… apa yang terjadi?” Young pun meminum soda yang ada di tangannya. Pandangannya tak lepas dari Lay yang mencoba menceritakan kejadian apa yang di saksikannya tadi.

“Kau tahu kan… The Madman begitu membenci The Shadowman… saat Hyung menjadi pemimpinnya… Penghasilan The Madman menjadi lebih kecil dari sebelumnya… Kau tahukan bagaimana Hyung mengelola The Shadowman hingga menjadi besar sekarang ini… Hyung tak pernah lagi bekerjasama dengan The Madman, semua hubungan keluarga dengan The Madman ia putus, hingga beberapa Bandar uang yang dulu di miliki The Madman kini merugi……”

“Anni… aku tak tahu masalah itu… makanya aku Tanya padamu.. lalu apa hubungannya dengan polisi?”

“haiss.. babo” Lay memukul kepala Young sambil tertawa. “The Madman bekerjasama dengan kepolisian Daegu untuk menangkap Hyung… mereka membongkar semua operasi The Shadowman. Kemungkinan peristiwa penangkapan itu akan terjadi dua kali… dulu ketika Changjun dan sekarang mereka akan menghabisi The shadowman terutama kita berdua… Young… kita harus segera menjelaskan ini pada Hyung…”

“Lalu… Lay… kau bilang tadi… seorang wanita? Apa hubungannya dengan Hyung??”

“Ah……. Molla…… aku tak tahu apa yang direncanakan mereka… salah satu anak buah The Madman yang datang ke kepolisian mengenaliku, saat aku berlatih menembak disana… mereka mengejarku…”

“MWOOAHAHAHAHAHA….. jadi kau berlari selama itu? sekarang pukul 8 malam… kau tadi pamit padaku pukul 6 sore hahahahaha”

“HYAAAAAKSSS BABOYA!!! Tega sekali kau mentertawaiku HAH!! HAH!!” Lay memukul pantat Young berkali-kali, tapi sepertinya temannya itu menikmati ketika Lay bercanda dengan cara yang tak normal.

“Hahaha…. Lay Moron… Kajja… aku akan mengantarkanmu ke Hyung… kulihat tadi ia bersama beberapa klien ke Tunnel Nightclub” Kata Young sambil berlari menjauh dari Lay.

“Young!!!!! GOMAWO EOH!!!!!!!! HAHAHAHA… Aigooya… dia sudah menyelamatkan hidupku lagi kali ini…” Lay mengikuti Young berlari dibelakangnya, ia sesekali melihat beberapa mobil polisi datang menghampiri mayat polisi yang sudah dikerubungi banyak remaja penikmat dunia malam.

***

495-50 Duryu 3(sam)-dong, Dalseo-gu, Daegu, South Korea Tunnel Nightclub 20.00

Seorang pria memakai setelan hitam, masuk ke dalam sebuah ruangan VIP yang disediakan Nightclub. Ia menyapa tiga orang yang sudah menunggunya di ruang VIP.

“annyeonghaseyo… sudah lama menungguku?” Tanya pria tampan itu, sambil berjabat tangan dengan ketiga pria yang menunggunya sedari tadi.

“Ye… Mr. Ryu . Kami harus memberitahukan pada anda mengenai Madman yang mengancam Shadowman akhir-akhir ini… anda harus waspada… kami tak ingin anda terluka… apa yang telah anda lakukan selama ini sudah membuat kami mendapatkan keuntungan luar biasa… kami tak ingin Madman ikut campur dalam bisnis kami di Daegu… biarlah mereka merusak bisnis kami di Pohang… asal bukan di Daegu… Ini beberapa oleh-oleh untuk anda” kata seorang pria berperawakan seperti orang barat. Ia memberikan satu box besar berisi gold beef merek terkenal yang mahal.

“Chongbong… ambil dan berikan pada anak-anak” Pria tua pendek yang berdiri di samping Ryu langsung maju dan mengambil box daging gold beef, ia pun menghilang keluar dari ruangan VIP meninggalkan bosnya sendirian di antara ketiga tamunya.

“Terima kasih… telah mengkhawatirkanku… The Shadowman… tak akan pernah lemah… biarkan The Madman mengancam kami… tapi kami akan tetap hidup di tengah kalian semua… apakah kedatangan kalian hanya mengatakan masalah ini? Apakah ada anak buahku yang merepotkan kalian?” Ryu membuka kantongnya lalu membuka cookie coklat kemasan lalu memakannya.

“Ah… Ye.. Mr Ryu… kami harus kembali.. semoga anda bisa menikmati hadiah dari kami” kata Pria lainnya, mereka berjabat tangan pada Ryu dan keluar dari ruangan VIP.
Ryu duduk bersandar di sofa yang lembut, sambil menikmati cookies coklat yang ada di tangannya.

“Hmmm… menjadi mafia… memang menyusahkan… Ji Eun… kalau aku banyak di buru… banyak orang ingin membunuhku… mungkinkah itu takdirku?... mungkinkah… itu yang harus kuterima? Karna aku telah membunuhmu… tanpa memikirkannya lagi…. Ji Eun… mianhae…. Kalaupun kau masih hidup… kau tak akan pernah bisa bahagia bersamaku… kau tak akan bisa bahagia… huh… cookie ini… apakah kau masih ingat Ji-eun… hari itu pertama kalinya aku memakan cookies seperti ini… dan… hari itu… pertama kalinya… aku jatuh cinta padamu… wanita yang harus kubunuh….”

“Mianhae… Ryu… kita harus segera ke pertuman Tuan Juseok malam ini” Kata-kata Chongbong membuyarkan semua bayangan Ryu. Ia pun menghapus noda coklat di bibirnya, merapikan jas hitamnya. Lalu berdiri layaknya sang perkasa.

Ryu tak pernah tahu, the Madman sudah merencanakan pembunuhannya dengan begitu detail, Lalu bagaimana dengan Lay, juga Young. Apakah mereka berhasil bertemu Ryu dan memberitahukan rencana Polisi yang akan menjebak Ryu dengan seorang wanita?.

To be continue

***

Bahasa Korea:
naleul ttalahaji maseyo! : Jangan ikuti aku!
dowa jwo!! : HELP ME!!
geuneun jug-eossdaaa… aku sudah membunuhnya… gominhaji anhneunda : Dia sudah mati, aku sudah membunuhnya, jangan khawatir.

Fanfiction : New Life Part 25



"Sebelum membaca klik BAGIKAN / SHARE ya..... supaya banyak yang baca dan menikmati cerita ini... hehehe"

Author : Ayuna Kusuma

Genre : Romance.

Maincast :

Leemi : You
Hyorin : Bora SISTAR
Hoya : Hoya Infinite
SungYeol : SungYeol Infinite
Joo Park/JP : Woohyun Infinite
Shin Eunji : Lim Soo Jung


***

Hoya masih menemani Sungyeol di kamar inapnya, sedangkan aku sedang berusaha mencari makanan untuk mereka berdua. Harusnya calon suamiku yang melakukan ini, tapi aku ingat kembali, aku masih berstatus sebagai pekerjanya, sekertaris pribadinya. Jadi aku tak bisa menolak apapun yang ia perintahkan, kecuali itu di luar batas kewajaran.

Sungyeol. Aku tak pernah menyangka orang setampan dia bisa mengalami hal yang tak menyenangkan seperti itu. Hyorin… dia berani-beraninya bilang kalau Sungyeol akan memperkosanya. Awas saja kau kalau bertemu denganku… Aku tak bisa sabar lagi menahan kemarahanku.

Jauh berjalan, akupun menemukan kantin rumah sakit yang ramai pelanggan. Aku mengambil tiga roti isi, tiga sosis bakar, dan tiga kimbab isi telur.

“Ahjumma… aku pesan tiga kopi dan ini semua” kataku pada pelayan kantin rumah sakit. Ia pun segera membuatkan kopi untukku. Menunggu Ahjumma melayani pesananku, aku membuka handphone dan melihat banyak sekali pesan dari Leemi.
Merasa tak enak hati karna lama membalas pesannya, akupun langsung menghubunginya.

“SUBOK!!!!!! WHERE ARE YOU!!!!!!??” Leemi berteriak begitu keras hingga panggilan yang tak ter loudspeaker masih bisa terdengar banyak orang.

“Ssssttt… Aku sekarang sedang di Rumah Sakit Eonnie… menemani Hoya menemui Sungyeol… Ah… Eonnie… bisakah kau pelan-pelan saja kalau bicara? Telingaku sakit sekali… hum…”

“Ye Ahjumma gomawo… ini uangnya” Setelah semua pesananku kubayar, aku melanjutkan obrolan melalui telephone dengan Leemi, ia mengatakan kalau sekarang di butiknya banyak wartawan yang menunggu Hoya kembali.

“ye ye ye…. Aku masih disini… wae Eonnie? Hmmm… Ommo!!! Kau akan ke rumah sakit? Ah….. yeye… baiklah… tempatnya di dekat Seoul Center. Hmm… okey… dangsin-eul gidaligo iss-eoyo……. Hum.. ye.. Annyeong…”

“Fuuuh…” gumamku, Leemi mengatakan kalau ia punya ide brilliant untuk mengatasi masalah ini semua. Baiklah… setidaknya ada yang membantu Hoya selain diriku.

***

“Mwoo!!!! Nuna akan kemari??” Hoya hampir saja melepas matanya karna melotot padaku.

“Ye…. Mianhae… aku tak mengatakannya sedari tadi…” Hoya bukan lagi berpura-pura melempar cangkir kosong padaku, tapi ia sudah melemparnya dan melukai kepalaku.

“Auw…!! Nappeun… Aku tadi kan sudah minta maaf eoh… apa kau tak dengar???” bentakku.

“Leemi!! Dia tak tahu apa-apa tentang Sungyeol dan masalahku!!. Bagaimana bisa ia ingin ikut campur… Haissss Subok!!! Kalau ada apa-apa langsung bicara padaku!!... kau tak tahu Leemi sering membuat ide-ide yang aneh… semua yang berantakan akan hancur kalau ia ikut campur… ah… jam berapa sekarang?? Aihsss… kapan ia datang… SUBOK!!! Kau harus tanggung jawab!!”

“Mwoooo” keluhku sambil memijat dahiku yang memerah, kulihat Sungyeol hanya tertawa melihat pertengkaran kami berdua.

“Hahahaha… kalian ini mau menikah… tapi tetap saja seperti anjing dan kucing… apa kalian tak lelah bertengkar seperti itu? aigoo…” ujar Sungyeol sambil memasukkan kimbab di mulutnya.

“Subok… ingat… kalau ada masalah… kau harus bertanggung jawab!!” bentak Hoya lagi.

“Ye… arraseoo arraseooo…” kataku, aku terpaksa memberikan senyuman pada Sungyeol, menandakan kalau apa yang dilakukan Hoya padaku bukan sebuah masalah. Aku masih bisa bertahan dengan pria dual life seperti Hoya.

BRAK!! Pintu kamar inap Sungyeol di banting Leemi, ia masuk dengan wajah yang sebelumnya tak pernah kubayangkan, matanya sama membelalaknya seperti adiknya. Leemi berbalik lalu bicara dengan orang-orang yang ada di depan.

“Manager Song.. suruh semua wartawan keluar dari sini. Aku akan bicara dengan mereka terlebih dulu. ARRA!!” Suara Leemi yang lantang mengingatkanku pada Hoya yang sekarang diam tak bisa berbuat apa-apa. Sedangkan Sungyeol masih bingung, sama sepertiku. Mencari tahu dan menebak apakah yang akan terjadi selanjutnya.

Leemi datang kembali, Ia menutup pintu dan mengkuncinya, juga
menutup semua korden.

“Owh…. Jadi kau pria bernama Sungyeol yang berhasil membuat adikku menderita HAH!!!” Leemi langsung menyambar krah baju Sungyeol, ia menghentak-hentakkan pria itu dengan begitu keras.

“KAU TAHU APA YANG KAU LAKUKAN PADA HOYA HAH!!!!!!! TEGA SEKALI KAU!!!”

“Nuna… kau salah paham…” Hoya mencoba melarang Leemi, tapi sepertinya ia kalah galak dengan kakaknya.

“DIAM KAU!! AKU SEDANG MEMBELAMU!! HAISS… SUNG…YEOL!!! Apa yang kau inginkan dari adikku HAH!! APA KAU INGIN TERKENAL HAH!!! Arraseo….. Arraseo…. Aku sudah mengundang banyak pers agar kau terkenal… Ayo… Ayooo… Kajjja……. Kau harus mengaku semua rekaman itu palsu dan kau tersangka utamanya…” Leemi menyeret Sungyeol hingga ia terjatuh dari tempat tidur.

“geuman … Nuna… kau salah sangka.. lepaskan dia… dia tak bersalah…” Hoya kembali melarang Leemi dengan menarik lengannya, tapi Leemi cukup emosional kali ini.

“HOYA!!! Apa kau tak mau menghargaiku?? Kapan lagi aku bisa menyelamatkanmu HAH??”

“HYAAAAAAAAAAAAAAAAAAKKSSSSSS geuman hae! geuman hae! geuman hae! geuman hae! GEUMAN HAE!!!!!!!” Hoya berteriak hingga telingaku terasa sakit. Leemi pun melepaskan cengkramannya di krah baju Sungyeol.

“Ommo…?? Apakah aku salah?” Tanya Leemi sambil memandangiku, aku hanya bisa menganggukkan kepala, tak berani berkata apa-apa.

“Ah… Apakah aku salah Hoya?” Hoya hanya melotot pada kakaknya.

“YE!! dangsin-eun teullyeossdagoidaaaa!!” Keluh Hoya sambil mengembalikan Sungyeol yang masih lemas ke tempat semula.

“Ah… ah… Ah.. Mianhae… Sungyeol… Jeongmal Jeongmal Jeongmal mianhae….” Kata Leemi sambil menggenggam tangan Sungyeol yang gemetaran karna takut dengannya.

“Anni... amu munje eobs-eum… hehee…” kata Sungyeol mencoba melepas genggaman tangan Leemi.

“Eonnie… kau membawa pers ke sini?” tanyaku tiba-tiba, aku tak bisa membendung lagi, ad aide menarik yang bagus untuk di coba. Agar semua masalah selesai hari ini juga.

“ye… aku sudah membawa mereka kesini… tapi… bagaimana sekarang? Hehe… aku tak tahu lagi…” keluh Leemi langsung lemas duduk di sebelah Sungyeol yang kali ini tertarik untuk menatap Leemi begitu lekat.

“Eonnie… Yang melakukan ini semua bukan Sungyeol, dia juga korban. Kau bisa menebaknya kan… siapa yang melakukan ini semua”

“HYORIN!!??!” Leemi tiba-tiba lari ke arahku. Ia menyingkirkan semua makanan yang ada di meja, lalu ia pun duduk berhadapan denganku, aku agak ketakutan ketika ia memandangiku seperti itu.

“Apakah Hyorin yang melakukan ini semua? Katakan padaku subok…” Leemi memohon sambil mengguncang bahuku.

“Haisss… Dasar wanita…!!” Hoya membentak kami berdua dari belakang. “YA!! Hyorin lah yang melakukan ini semua… lalu apa yang akan kau lakukan sekarang dengan pers yang sudah kau persiapkan didepan HAH??? Aku tahu… semuanya akan jadi seperti ini…. Pulanglah ke Butik… buatlah baju yang bagus… itu saja yang bisa kau kerjakan.. jangan urusi urusan orang lain…”

“HOYA!!!!!” Aku dan Leemi bersamaan membentak Hoya, ketidak sengajaan yang membuat Hoya tak tertarik berdebat dengan kami berdua.

“Eonnie… Hyorin adalah ibu tiri Sungyeol, ia menikah dengan ayah Sungyeol dan ingin merebut hartanya saja. Sungyeol pernah mengatakan pada aku dan Hoya kalau ia memergoki Hyorin yang selalu mencampurkan racun ke minuman ayahnya. Dan berita tentang rekaman itu bukan apa-apa bagi kami. Sungyeol lebih menderita. Hyorin mengaku pada Ayahnya Sungyeol kalau anaknya akan memperkosanya, tepat ketika wanita itu di kamar Sungyeol dan ingin merebut rekaman Sungyeol. Ayahnya TAGG… Langsung meninggal di tempat karena serangan jantung… Eonnie… Sungyeol tak bersalah… ia korban… seperti Hoya” Mendengar penjelasanku, bisa kulihat di mata Leemi yang bulat, sebuah kilasan airmata.
Leemi langsung bangkit dan berlari ke arah Sungyeol. Tak pernah kuduga, ia pun memeluk Sungyeol hingga pria itu tersentak.

“Sungyeoooool….. Mianhae…….. Aku tak tahu kalau kau juga korban dari wanita brengsek itu… mianhae… uhm… uhmmm…. Huks huks huks… mianhae…” Hoya geli melihat kakaknya yang bersikap seperti itu, ia pun beranjak mendekati Leemi dan melepaskan pelukan Leemi.

“Haiss… kau membuatku malu saja…”

“Hoya… aku merasa sedih sekali…. Sungyeol… jangan bersedih umm… aku akan selalu ada untukmu…” gumam Leemi hampir saja membuatku tertawa.

“Mwoo??” Hoya mendudukkan Leemi di sampingku. “Sungyeol… lupakan apa yang dikatakan Nuna… hehehe”

“Nuna… gomawo… aku akan selalu bahagia… kalau banyak orang yang ingin membantuku” kata Sungyeol.

“Hoya… bagaimana dengan pers di depan? Oh Eonnie… apakah manager Hoya juga ada di depan? Bagaimana kalau kita membuat konfrensi pers dadakan saja? Sungyeol harus menceritakan semuanya pada pers… kurasa itu lebih baik daripada kita melapor ke kepolisan sekarang… issue akan muncul dan bukti saksi pun sudah ada… kita akan bisa menjerat Hyorin dengan mudah… euhmm? eotteohge ?”

“WOAAAAAAAAAAAAAAH!!!!!!” Hoya berteriak, membuat kita bertiga yang ada di dekatnya meloncat shock. “SUBOK!!! dangsin-eun cheonjae!! EOH!!! HAHAHAHHAHA!!!!! Ye… kita akan menggelar konsfrensi pers sekarang….!!!”

"Yeah... Subok... kau memang Genius hahaha" Sungyeol pun menyetujui kalau aku genius hahaha. Seumur hidupku baru kali ini dua pria mengatakan aku genius. Sedangkan Leemi hanya bisa memelukku sambil tersenyum melihatku.

"Subok... kau memang calon adik iparku yang hebat hihihi" gumam Leemi.

"Hyaaaaaaaaaaaakkkkkkkkk!!!!!! DIAM KALIAN SEMUA!!!!! Hanya Aku yang boleh memanggilnya SUBOK!!!!!" Tiba-tiba Hoya berteriak, masih mempermasalahkan hal yang sama.

To be continue

Fanfiction PI-HAE - Part 2 - The Series





Author : Ayuna Kusuma

Genre : Crime, Romance,

Location : 터널나이트클럽
495-50 Duryu 3(sam)-dong, Dalseo-gu, Daegu, South Korea

Maincast :

Jinyoung B1A4 : Young
Kai Exo : Ryu. Leader The Shadowman
Lay Exo : Lay
Krystal F(x) : Amy Jung / Krystal


***

495-57 Duryu 3(sam)-dong, Dalseo-gu, Daegu, South Korea 20.24

Lay dan Young berjalan berdua di trotoar yang sudah berganti fungsi, beberapa orang menggunakannya sebagai tempat konser kecil, yang lainnya menjajakan dagangannya di trotoar. Malam ini walaupun panas dan pengap tapi banyak orang terlihat bersemangat menikmati hari mereka.

“Lay.. hahaha… lihatlah ada sosis bakar.. maukah kau membelikannya untukku?” Young berlari mendekati sosis bakar yang baru saja di beri bumbu. Matanya terpejam ketika ia menikmati aroma sosis yang menyengat. Tak tega melihat temannya kelaparan Lay membeli dua sosis, satu untuk dirinya dan satu untuk Young.

“Makanlah… hitung-hitung kau sudah menyelamatkanku lagi hari ini hehehe… nom nom nom… hummm… sosis yang enak Ahjussi!!” puji Lay pada penjual sosis, pria separuh baya yang sedang mengolah sosis dengan tangannya langsung tersenyum setelah mendengar pujian Lay.

“Lay… kurasa Hyung sekarang sudah berganti posisi. Kudengar dari salah satu anak buahnya ia ada acara di Homleongayo… Hyung harus bertemu dengan Tuan Juseok dari Gumi untuk membicarakan cabang bisnisnya di Gumi” Lay tersentak ketika Young memberi tahukan kabar mengenai acara yang harus di hadiri Ryu.

“Katakan lagi! Hyung harus bertemu dengan siapa malam ini?”

“Juseok. Gun Juseok”

“Oh Em Gi…. Young!! Ayo ikut denganku… kau harus mengantarku ke Homleongayo…!!” Lay langsung berlari ke salah satu café.

“Mwo?... apa ada yang salah dengan Juseok ?” gumam Young sambil menghabiskan sosisnya. Lay yang tadi berlari ke dalam café, keluar sambil tertawa. Ia melempar kunci mobil ke arah Young.

“Yap!! Aku mendapat pinjaman mobil… hmmm ah… itu mobilnya…!! Kau saja yang menyetir. Kartuku sudah habis masa” Kata Lay sambil
berlari ke mobil yang bercat merah darah.

“Lay!! Mobil siapa yang kau pinjam?” Young memencet tombol, dan pintu Chevrolet keluaran terbaru itu terbuka. Mereka berdua masuk ke dalamnya, menggunakan sabuk pengaman dan mulai meluncur di jalanan yang penuh oleh pejalan kaki.

“Aku… lupa namanya. Tapi dulu kami pernah berkencan” kata Lay sambil melihat GPS di mobil.

“Hahahaha… kau sungguh Bad Boy… sampai lupa nama gadis itu… hati-hati… kau akan kecewa kalau banyak mengecewakan wanita”

“Hum… Young bisakah kau fokus ? kita harus segera menemui Ryu. Gun Juseok adalah salah satu anak buah dari The Madman yang datang ke kepolisian tadi sore. Ia mengatakan akan menjebak Hyung… Aigooo… Apakah Mereka akan membunuh Hyung? Aigooo… aku tak sanggup menerima ini… Hyung sudah banyak membantu keluargaku”

“Lay… aku tahu… lihatlah!! Sekarang aku sedang menuju ke lokasi.. Hyung… tak ada mafia yang sebaik dia. Aku akan menyerahkan nyawaku hanya untuk menyelamatkannya…”

***

Homleongayojujeom 377-2 Bolli-dong, Dalseo-gu, Daegu, 21.12

“Selamat datang tuan. Tamu anda sudah menunggu di ruang VIP yang kami sediakan” kata seorang pelayan yang membukakan pintu untuk Ryu dan Chongbong yang berjalan di belakangnya.
Ketika Ryu berjalan banyak wanita yang memandanginya, memang, pria tampan tak jauh dari pandangan wanita. Pesona Ryu hampir saja membuat seorang pelayan menumpahkan bir di baju pengunjung bar.

Chongbong berlari mendahului Ryu, ia membukakan pintu untuk
bosnya.

“Silahkan Ryu…”

“Humm…” Gumam Ryu, Chongbong sangat di larang oleh Ryu bila memanggilnya dengan sebutan Hyung, karna Ryu memang lebih muda dari Chongbong. Dan kini Chongbong sudah ia anggap sebagai ayah yang menggantikan Changjun.

Di dalam ruang karaoke VIP, duduk seorang wanita cantik ditemani pria paruh baya. Rambutnya yang panjang hampir menutupi wajahnya. Melihat Ryu datang ia pun menghempaskan rambutnya. Ryu sedikit terhenyak setelah melihat wanita itu. Ia teringat seseorang yang dulu pernah ia kenal.

“Mr. Ryu!!... Selamat datang… aku sudang menunggumu dari tadi” sapa pria paruh baya sambil berjabat tangan dengan Ryu.

“Oh… mianhada. Kota ini hidup saat malam, jadi aku sempat terjebak macet tadi… Bagaimana kabar Gumi Mr Juseok? Apakah bisnis anda lancar? Apakah anak buahku membuat masalah disana?” Tanya Ryu sambil duduk di hadapan Juseok.

“Baik….. kenalkan… dia adikku. Krystal Lim” Juseok menyuruh adiknya menyapa Ryu, tapi gadis itu hanya menunduk tak menghiraukan.

“Oh… baiklah… apa tujuan anda datang ke Daegu? Apakah ingin menambah basis pengawalan untuk bisnis anda?” Tanya Ryu sambil mengeluarkan cookies lalu membuka bungkusnya, dan memakannya sedikit demi sedikit.

“Hmm…. Sebenarnya”

DRRRRRRRRRRRRRRRRRRTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT!!!!!

Suara tembakkan terdengar dari luar, teriakan-teriakan pun mulai bermunculan.

“Chongbong!!!” Ryu membuang cookiesnya ketika melihat tangan kanannya yang setia masuk dengan susah payah, di dadanya menancap banyak peluru.

“Ryu… selamatkan dirimu… Polisi sudah mengepung kita…” kata Chongbong untuk terakhir kalinya. Tubuhnya roboh dalam pelukan Ryu.

“CHONGBONG!!!!!! BANGUNLAH!!!!! GRRRRRAAAAAAAH!!!!” Ryu berteriak sekeras-kerasnya.

Juseok dan Krystal hanya tersenyum melihat peristiwa itu, mereka menunggu giliran bermain peran. Lima polisi masuk ke dalam ruangan, ia menangkap Ryu dengan begitu mudah. Krystal dan Juseok pun ikut di tangkap.

“Sekarang… tak ada lagi yang bisa menjagamu… Ryu!!HAhahaha… ternyata mudah menangkapnya” kata Salah seorang polisi.
Tapi Ryu tak tinggal diam, dengan Taekwondonya yang sudah terlatih, ia membanting polisi yang menangkapnya, begitu keras hingga meja yang terbuat dari kayu terbelah.

Polisi lainnya bergegas menembak. Tapi Ryu sudah lebih dulu mengambil pistol yang ada di sakunya. Dengan cepat ia memberondong tembakan hingga ketiga polisi yang dihadapinya terkapar tak berdaya. Mereka hanya terluka di bagian lengan dan kaki. Ryu sengaja tak membunuh mereka.

Semenjak ia membunuh Ji-eun. Ryu berjanji pada dirinya sendiri kalau ia tak akan mau membunuh lagi. Walaupun pekerjaannya menjadi mafia, ia tak akan pernah menghilangkan nyawa orang lain lagi. Karna kehilangan orang yang Ia cintai begitu menyakitkan.

“Oh… hoohohoho… tak kusangka kau memang Hebat Ryu!!!” Teriak Juseok “Tapi kau tak bisa mengelak peluruku ini… hahaha” Juseok menodongkan pistol tepat di leher Ryu.

“Apa maksudmu Juseok? Kau yang mengirim semua polisi ? untuk menangkapku? Apa masalahmu denganku HAH!!!” Tubuh Ryu bergetar, ia tak kuasa menahan marah yang sudah memuncak.

“Anni… Aku tak pernah menyuruh mereka… mungkin… orang lain… Ryu… sudah kubilang… kalau bagianmu hanya 20 persen dalam bisnis ini… tapi kau… kau mengancamku hah…. Kau memutuskan hubunganku dengan The Madman yang pernah menjadi partner setiaku… jadi aku tak bisa bekerjasama denganmu lagi Ryu… mianhae hahahaha” Ketika pria itu melepaskan tembakan. Dengan cepat Ryu mengangkat tangan Juseok. Hingga tembakan menyasar ke atap dan memecahkan lampu.

“HYAAAAAAAK!!!!!!!” Ryu dan Juseok bergelut dalam kegelapan, mereka saling menendang, melempar, memukul bahkan menyerang dengan begitu cepat.

“Aku akan membunuhmu RYU!!!. Aku Akan membunuhmu!! HAhAHAHAHA….!!!” Teriak Juseok.

CRAKKK!! Sebuah pisau menancap di punggung Juseok hingga menembus dadanya. Ryu bisa melihat Krystal menusuk Juseok dari belakang. Wajah gadis itu penuh ketakutan ketika ia melakukan aksinya.

Tanpa menunggu Lama, Juseok sudah kehabisan nyawa. Tubuhnya mendingin dan kaku, Ryu menyingkirkan tubuh Juseok yang mati ke samping kiri. Ia melihat Krystal menangis sambil duduk memeluk kakinya.

“Kau…? Kau membunuh kakakmu sendiri??” Tanya Ryu sambil membersihkan kaosnya dari darah Juseok.

“….” Krystal tak menjawab pertanyaan Ryu, ia hanya menangis sambil menundukkan kepalanya. Tangannya yang bersimbah darah lunglai dan bergetar.

“Jaga dirimu baik-baik…” kata Ryu sambil berlalu. Tapi Krystal berhasil menahan kaki Ryu untuk melangkah lebih jauh.

“Dia… huks… dia bukan kakakku…. Aku di bayar untuk menemaninya… aku hampir di perkosa oleh anak buahnya… kalau aku tak membunuhnya aku akan diperkosa malam ini secara bergiliran.. hukshuks huks… kumohon… selamatkan aku… aku harus kembali ke Gumi… bisakah kau mengantarkanku ke Gumi?” Krystal masih melanjutkan tangisannya.

Ryu yang sebelumnya tak tertarik dengan cerita Krystal, akhirnya mengangkat tubuh Krystal dan membantunya bediri.

“Ikut denganku… aku akan membawamu ke tempat aman untuk sementara.. Saat ini polisi sedang mengejarku.. dan kau sudah membunuh Juseok… Kalau keadaannya sudah aman.. akan kuantarkan kau ke Gumi”

“Benarkah? Oh terima kasih tuan…” gumam Krystal sambil mengikuti Ryu berjalan keluar nightclub.

Di luar Ryu membukakan pintu mobil untuk Krystal, gadis itu hanya tersenyum saja melihat caranya menipu Ryu telah berhasil seratus persen.

“Krystal.. Masuklah…” kata Ryu.

“Mianhae… Nama asliku bukan Krystal… tapi Amy Jung… panggil aku Amy..” kata Krystal sambil duduk di jok depan. Ryu hanya membanting pintunya, dan segera masuk ke mobil melalui pintu lainnya.

“Amy… pakai sabuk pengamanmu… aku akan mengemudikan mobil ini dengan kecepatan tinggi”

“Ye…” gumam Krystal.

Mobil Ryu lepas landas, melaju begitu cepat meninggalkan lokasi pembunuhan. Sedangkan mobil Lay dan Young baru saja sampai, mereka tak tahu kalau orang yang harusnya mereka selamatkan sudah kabur dari masalah. Di belakang Mobil Lay berderet mobil polisi mendekati nightclub. Lay dan Young tak tahu harus bersikap bagaimana lagi, ketika mereka turun dari mobil, Polisi sudah menodongkan senjatanya.

To Be Continue
 
Layanan untuk Anda: x Cerita dari Kusuma | - | dari - | Lihat dalam Versi Seluler