- - - - . - - | Facebook | Twitter | GPlus |
Tampilkan postingan dengan label VIXX. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label VIXX. Tampilkan semua postingan

Fanfiction Somun Part 14 VIXX



Fanfiction : Somun ( 소문 )

"Budayakan setelah dan sebelum membaca klik SHARE/Bagikan, Arraseo? Gomawoyo"

Author : Ayuna Kusuma

Genre : ---

Maincast :
Leo (VIXX)
Da Yeon ( You)
Hongbin (VIXX)


Part 14 :

"Dayeon...... bangunlah... Choco menangis terus sedari tadi..." Hongbin membisik dengan pelan di telingaku. Sayapnya yang berwarna keemasan mengepak tanpa suara.

"Bangunlah...sampai jumpa nanti... Dayeon..." bisik Leo, setelah itu ia pergi meninggalkanku.

"Dayeon... sudah siang... bangunlah..." Hongbin mengecup bibirku, dan akhirnya akupun tersadar dari mimpi.

"Hummmm... ya...!! Hongbin... lepaskan...!" kataku sambil melepaskan pelukan Hongbin yang begitu berat. "Bagaimana kalau choco melihat kita eoh?"

"Hehehehe...Choco... akan senang melihat Eomma dan Appa nya sedang bermesraan seperti ini hihihihi" Hongbin ganti menggelitiki perutku.

"Yaaaa Hongbin!! hehehe...Hehehehe.."

"Choco terbangun... ia sekarang bisa mengucapkan kata...Appa.. Eomma.. dan baegopeuda... hihihi kau berhasil mengajarinya Daeyeon..."

"Jiinjja!!!"

"Hum!! baru saja ia membangunkanku.. appa... baegopeuda... baegopeuda appa... hihihi Kajja... masakkan sesuatu untukku dan untuk Choco"

Hongbin menarik tubuhku hingga bangun dari tidur yang begitu nyenyak. Kami sudah menikah selama 2 tahun, dan kami sudah memiliki buah hati yang begitu cantik. Choco Bin. Ia lahir setelah satu tahun kami menjalani hidup bersama sebagai suami istri.

Choco terlihat sibuk bermain di kasurnya yang penuh mainan. Hongbin meninggalkanku sendirian di dapur, ia menemani Choco yang begitu ia cintai.

Aku berterima kasih padamu Tuhan, kau telah memberikan seseorang yang sebaik Hongbin sebagai suamiku, yang mencintaiku tanpa syarat, yang mau memaafkan diriku, walaupun dulu aku pernah meninggalkannya demi pria lain.

Leo, ia seakan tak mau meninggalkanku, setiap aku memejamkan mata, ia selalu ada dalam mimpiku. Tak ada yang ingin ia lakukan denganku kecuali hanya berbincang. Walaupun dalam mimpi aku masih ingat apa yang kubicarakan dengannya.

"Dayeon! coba dengarkan... hehehe cepat kemari...!! dengarkan apa yang diucapkan Choco!" Hongbin membuyarkan lamunanku.

Kuletakkan sayuran, berhenti sejenak untuk menghampiri Choco.

"Eoooommma..." Choco memanggilku dengan suaranya yang renyah, "Eomma... baegopeuda..."

"Ommo... ommo... nae gwiyeoun ttal... ya...baegopeuda?? hmm? jinjja?" tanyaku sambil menggendongnya.

"ye... eomma..! baegopeuda!" kata Choco sambil tersenyum padaku.

"Choco nae gwiyeoun ttal.... kajja... main dengan Appa... Eomma akan membuatkan kita makanan yang... yumm yummm" Hongbin merebut Choco dari tanganku dengan lembut.

"Oppa... kali ini... aku akan memanggilmu Oppa..." bisikku, lalu kucium pipi Hongbin yang begitu lembut.

"hmm?" tanya Hongbin yang tampak terkejut.

"Ye... Oppa... Jjamkanmannyoo... yee... aku akan buatkan makanan yang enak untukmu..."

"Hehehe... gomawo..."

Akupun kembali ke dapur, memotong sayuran, mencampur bumbu, mengaduk sup, sambil melihat suami dan anakku yang sedang bahagia bermain bersama.

Inilah hidup yang kuinginkan selama ini, aku memiliki mereka berdua dalam hidupku. Dan sepertinya Leo pun memilikiku walau dalam mimpi. Aku bahagia disini Leo... Kuharap kau juga bahagia disana.

Dangsin-i hananim kke gamsaleuldeulibnida.

THE END

Fanfiction Somun Part 3 VIXX

Fanfiction : Somun ( 소문 )

"Budayakan setelah dan sebelum membaca klik SHARE/Bagikan"

Author : Ayuna Kusuma

Genre : ---

Maincast :
Leo (VIXX)
Da Yeon ( You)

Part 3 :


Kasurku yang empuk terasa begitu dingin, walaupun jendela sudah kututup rapat, penghangat ruangan sudah kunyalakan, udara dingin menyengat tulangku. Lukaku yang disebabkan Leo pria pembunuh bayaran itu, kini sudah mengering. Untung saja Hongbin tak tahu kalau aku sedang terluka, kalau sampai ia tahu, aku akan menjadi dua kali lebih repot, karna harus menjawab pertanyaannya dan bertanggung jawab atas tindakan konyol yang nantinya ia lakukan dengan alasan untuk melindungiku.

Dua bedcover melindungi tubuhku dari dinginnya malam ini, aku masih tak bisa tidur nyenyak, kuingat-ingat lagi. Pintu depan sudah kukunci dengan benar, alarm keamanan sudah kupasang, masakan Haru sudah kumakan, apalagi yang belum kulakukan.

Aku sudah melakukan semuanya, Hongbin, mungkin sudah pulang sekarang, saat aku pamit untuk pulang lebih dulu, ia mengatakan akan tinggal sebentar di kantor untuk mengerjakan tugasnya yang lain. Pria itu 2 tahun lebih muda dariku, tapi kedewasaannya melebihi pria lainnya yang bekerjasama denganku.

Liputan yang ia pilih tak lepas dari kemasyarakatan, dan matanya itu, aku masih ingat betul, bagaimana ia menatapku, seakan mencoba menghipnotisku. Apapun yang ia inginkan akan kuturuti walaupun aku tak suka, bila aku menatap matanya itu.

Drrrrt... Drrrrrrrtt.. Drrrrrrttt.. handphoneku yang kuletakkan di meja kamar, bergetar, menandakan ada pesan baru. Bergegas kulihat siapa yang mengirim pesan di malam yang dingin seperti ini.

"Nuna... Have a wonderful dream... Besok aku jemput kau pukul 6 pagi.. kita akan pergi ke Busan, ada liputan khusus, Annyeong" pesan dari Hongbin membuatku semakin pusing.

"Ahhhsss.... Jinjja!!!!!!........ Ah...... Da yeon... cobalah untuk tidur eoh...!!" Kupaksa diriku untuk tidur, tapi dinginnya malam ini seakan membuatku harus berjaga-jaga, apalagi setelah menyadari tetanggaku adalah pria pembunuh yang kapan saja bisa menghabisi nyawa penghuni apartement ini, ketika ia tak mau terima.

"Ahhhhhhhhsssss... betapa sialnya diriku eoh!!" Aku bangun memutuskan untuk mengisi perutku dengan tteokbokki instan, mungkin saja setelah kenyang aku bisa terlelap.

Tak kusadari syal merah buatan Hongbin masih melingkar dileherku, membuatku nyaman. Lantai apartement terasa begitu dingin, walaupun aku sudah memakai kaus kaki lapis dua dan sandal rumahan dari karet tebal.

"tteokbokki... tteokbokki.... humm... do you love me? tteokbokki..." nyanyianku menggema di dapur, aku biasa mendendangkan apa saja yang melintas di otakku, menyingkirkan rasa takut yang kini membuat bulu kudukku sedikit berdiri, apalagi setelah kulihat lampu di depan pintu apartementku menyala, menandakan ada orang di luar apartementku yang sedang menunggu.

Kuambil pisau dapur, dan meninggalkan tteokbokki yang menari-nari di dalam air panas. Melangkah tanpa suara, kudekati pintu apartement, dari celah bundar di pintu, kulihat siapa yang sedang menunggu di luar apartementku.

Tak ada siapapun di luar, ini membuatku semakin ketakutan, apakah hantu sedang ingin bermain denganku! Tak mungkin, pasti ada seseorang yang ingin mempermainkanku saat ini.

Satu menit aku tunggu sambil mengintip siapa sebenarnya yang ingin bertamu tengah malam seperti ini. Tak lama kemudian, kulihat pria brengsek itu lewat di depan apartementku, ia menyeret dua karung sampah, tak lama kemudian ia kembali. tepat di hadapanku.

Kami terhalang pintu baja yang begitu keras, kalaupun ia ingin menembakku dengan shotgun, pelurunya tak akan pernah bisa menembus pintu. dan aku bersyukur masih ada pintu baja yang melindungiku.

Leo terlihat membenarkan rambutnya, membenarkan krah bajunya, merapatkan jaketnya, lalu menekan bel apartementku.

TING TONG! TING TONG! TING TONG!

Baru kali ini, aku merasakan bel apartementku terdengar mengerikan, mungkin karena pembunuh bayaran yang menekannya.

Blurrppp.... Blurppp... Blurppp... suara tteokbokki yang matang, aku segera berlari ke dapur, mematikan kompor, dan membiarkan tteokbokki ku semakin hancur dalam air mendidih.

Suara bel masih terdengar berkali-kali, aku hanya diam di sudut dapur, bingung memikirkan apa yang harus kulakukan, dan menebak-nebak sebenarnya apa yang pria itu inginkan dariku. Apakah ia tahu aku menyembunyikan suratnya?.

BRAKKK BRAKK BRAKKK!!

Kini suara bel berubah, pria itu semakin tak sabar, dengan pisau ditangan kiri, kuberanikan diri melihat lagi apa yang dilakukan Leo di depan apartementku.

Ia menendang pintu apartementku, seakan ingin merusaknya, dari wajahnya aku tahu ia sedang marah besar. Akhirnya keputusanku sudah bulat, kuputuskan membuka pintu dan menghadapinya sendirian, lagipula aku punya pisau yang bisa melindungiku.

BRAKK!!

Ia menendang pintuku hingga engselnya rusak.

"STOP!! Aku akan melaporkanmu dengan pasal perusakan dan pen!" kuhentikan kata-kataku, ketika melihat Leo yang mencoba menahan amarahnya, nafasnya yang berat begitu jelas kudengar.

"Mana suratku?... hmmmm... KAU SEMBUNYIKAN DIMANA SURATKU!!" bentak Leo yang mencoba masuk ke dalam apartementku, tapi aku tak bisa mengalah begitu saja, kutahan pintu dengan sekuat tenaga.

"Aku tak tahu!! Tadi sore sudah kuberikan semua padamu! Aku tak tahu tentang suratmu!"

"DASAR PEMBOHONG!!! APAKAH WANITA SELALU INGIN MENGURUSI URUSAN ORANG LAIN HAH!!! BERIKAN SURATKU!!!"

"ANDWAE!! AKU TAK TAHU!!" Kataku sambil menahan pintu yang hampir saja terbuka. Leo menjulurkan dadanya dan akhirnya ia bisa masuk ke apartementku, kubiarkan ia menggeledah setiap jengkal apartementku, toh suratnya ada di mobilku, rupanya ia tahu kalau 999xx999 mengirimkan surat untuknya. Atau, mungkinkah 999xx999 menanyakan tentang suratnya?.

"MANA!! KAU SIMPAN DIMANA SURATKU!!" teriak Leo sambil menghempaskan lemari kecilku yang berisi berkas-berkas berita.

"Aku tak tahu... Surat apa yang kau maksud HAH!! Bukankah aku sudah memberikannya tadi HAH!! YAAAAA SEKKIYAAAAAAAA!!!!! JANGAN SENTUH BARANGKU!!" teriakku tak terima, ketika ia menghancurkan foto ayahku yang tergantung di ruang tamu.

Leo berlari ke arahku, menyudutkanku di dinding, tangannya yang kekar dihempaskannya di dinding.

"Kau... Kalau aku sampai tahu... ternyata kau yang menyimpan suratku... aku tak segan-segan membuatmu menderita!" ancamnya, bau busuk dari tubuhnya membuatku mual.

"Kau.... aku bisa melaporkan kau ke kepolisian atas tindak pengancaman... dan pengerusakan..."

"Haha!!... laporkan saja...... Yaa... Yeoja...!! Katakan padaku... dimana kau menyimpan suratku!! HAHHH!!" teriak Leo tepat di depan wajahku.

"Aku... tak tahu..."

"Okey... kuanggap kau tak tahu... terima kasih telah menerimaku sebagai tamu malam ini... lanjutkan acara memasakmu... ingat!... kalau aku sampai tahu kau mencampuri urusanku lagi... aku tak segan-segan... menghancurkanmu!" itulah ancaman Leo yang terakhir kali, sebelum ia pergi, ia sempat menendang lemari sepatu milikku, hingga semua sepatu berserakan.

Brakk!! Pintu tertutup. batinku pun sudah menderita saat ini.

"AHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!!!!!!! SSEEEEEKKIIYAAAAAAAAAA!!!" teriakku, apa yang harus kulakukan sekarang? apakah aku harus diam saja, setelah mengetahui ada rencana pembunuhan? apakah aku harus melaporkan Leo ke polisi tanpa bukti yang kuat?.

"AHHHHHHHHHSSSSSS!!" aku hanya menangis sendiri, sambil mencoba menghilangkan aroma busuk yang ditinggalkan Leo.

to be continue


Fanfiction Somun Part 4 VIXX

Fanfiction : Somun ( 소문 )

"Budayakan setelah dan sebelum membaca klik SHARE/Bagikan, Arraseo? Gomawoyo"

Author : Ayuna Kusuma

Genre : ---

Maincast :
Leo (VIXX)
Da Yeon ( You)
Hongbin (VIXX)



Part 4 :


"NUNAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!" suara itu, rasa hangat ini, seakan aku begitu mengenalinya, suara yang membuat semua masalahku seakan sirna ketika aku mendengarnya, dan rasa hangat yang bisa membiaskan rasa dinginku seketika.

"NUNA!! Apa yang terjadi padamu eoh!! Aigooo.... Nuna...!! Jawablah aku!! Aigoo... Nuna... jangan membuatku khawatir seperti ini... Nuna...!! NUNNAAA!!" dengan cermat kudengarkan suara yang menenangkan dan menyerahkan tubuhku ia peluk begitu erat.

Hongbin, aku senang akhirnya kau datang juga, rasa takutku hilang seketika karena adanya dirimu.

"NUNAAAAAAAAAAA!!!!!!!" ia berteriak lagi sambil menggoyang-goyang tubuhku, kali ini aku mulai tak terima dengan tingkahnya yang konyol, Hongbin, cukuplah peluk aku.

"Ya... Jangan berteriak di telingaku eoh..." kataku sambil melepaskan pelukannya.

"Nunaaa... Ah... akhirnya kau sadar juga... apa yang terjadi Nuna? rumahmu berantakan sekali! Apa! ada rampok semalam??" Hongbin kembali menungguku menjawabnya, sambil menatapku seperti biasa, seakan menuntut jawaban secepatnya.

"Hongbin... kau menangis?" tanyaku menghindari pertanyaannya.

"ha?" tanya Hongbin kebingungan, ia langsung menyeka air matanya yang masih tersisa di pipi.

"Ya... Hongbin.. apa yang membuatmu menangis hum?" tanyaku, kucoba menatapnya dengan tatapan yang sama seperti yang ia lakukan padaku.

"Nuna... kumohon... jangan mencoba mengalihkan perhatianku... Siapa yang melakukan ini semalam? dan siapa yang melukai perutmu hah??"

"Bukan urusanmu..." jawabku, rasa pusing itu menghilang, akhirnya aku bisa bangkit dari tempat dudukku semalam, dan merapikan apartementku, Hongbin masih menungguku menjawab semua pertanyaan yang tak seharusnya kujawab.

Ia merebut semua yang sedang kulakukan.

"Nuna!.. duduklah... aku bisa membersihkannya... istirahatlah... serahkan padaku..."

"tapi... Hongbin..."

"Duduklah disini.. " kata Hongbin memaksaku duduk di sofa yang ia siapkan "duduklah... atau tidurlah lagi... aku akan membereskan apartementmu... kau sudah makan Nuna?"

entah mengapa aku hanya menggeleng, padahal aku tak mau menjawab pertanyaannya yang akhirnya akan merepotkannya lagi.

"Arraseo... aku akan memasakkan untukmu... kau istirahat saja disini Nuna... dan pikirkan tentang jawaban untukku..."

"Hongbin... tak semua pertanyaanmu harus kujawab... semalam... ada gempa... itu yang membuat apartementku berantakan"

"Huh... Hahahahahahahaha....!! Gempa!?! Ya... Nuna... sampai kapanpun kau tak akan bisa membohongiku... sudahlah... baiklah kalau kau tak mau menjawab pertanyaanku... aku akan tahu cepat atau lambat... siapa yang melakukan ini padamu..." Hongbin meninggalkan aku yang mulai khawatir lagi, jangan sampai Hongbin tahu apa yang terjadi sebenarnya, aku tak ingin membuatnya ikut campur dalam masalahku dengan Leo.

Hongbin terlalu baik untuk kuikutsertakan dalam investigasi target Leo selanjutnya. Tapi kalau aku sendirian investigasi, aku tak bisa mendapatkan apapun. Lalu kubiarkan saja Hongbin sibuk membersihkan apartementku, dan aku melanglangbuana di alam mimpi, lagi.

***

"Nuna... bangun..." suara itu kudengar lagi di alam mimpiku, tubuhku sedikit lebih ringan, setelah aku terjaga, aku tahu apa yang terjadi sesungguhnya, Hongbin menggendongku, seperti seorang Ayah menggendong anaknya, ia dudukkan aku di kursi, merebahkan kepalaku di meja makan.

"Nuna... aku tahu kau pura-pura tidur.. kajja... bangun... aku sudah membuatkanmu sup tofu pedas..."

"hehehee... gomawoo.." gumamku, sambil membuka mataku, Hongbin berlutut di depanku, wajahnya yang begitu dekat denganku, terlihat memerah, dan mungkin wajahku sama merahnya seperti wajahnya.

"Kajja..... Nuna.... kita makan bersama" kata Hongbin mencoba menghindar, ia memilih duduk di hadapanku, meja makan sudah penuh dengan mangkuk nasi, sup tofu, kimchi, daging oseng, dan beberapa sayuran tumis lainnya.

"Kau yang memasak ini semua.?? Ommo! kau juga mengepel lantaiku? hihihi gomawoyo... apa yang harus kuberikan sebagai tanda terima kasih eoh?" Hongbin tersenyum simpul saat mendengar kata-kataku. Ia memberikan daging oseng diatas mangkuk nasiku.

"Jawab saja pertanyaanku yang tadi... itu cukup membuatku tenang..." Lirikan Hongbin kembali menghipnotisku, hampir saja aku membeberkan semuanya.

"Semalam ada pria mabuk yang masuk ke rumah... dia salah masuk apartement. hanya itu saja..."

"LALU SIAPA YANG TEGA MELUKAIMU SELEBAR ITU HAH!!"

"Aigooo... kau marah padaku?"

"Hee... karna tak ada lagi yang bisa kumarahi... kajja! Nuna... katakan padaku yang sebenarnya..."

"Iya... pemabuk itu menggoreskan pisaunya ke perutku... tapi aku sudah berhasil mengusirnya..."

"Ahss... kriminalitas sudah mulai marak sekarang... bahkan masuk apartement... AH! Nuna... ini bahan berita yang sangat segar... bagaimana kalau kita tulis saja? eoh?"

"Heh... makan saja dulu... bukankah hari ini kita libur?" kataku mencoba menghentikan ide Hongbin yang semakin liar.

"Andwae... Nuna.. hari ini kita harus segera ke Busan.. ada liputan disana... dan aku ingin mempertemukanmu dengan ibuku... Ia pasti senang bisa bertemu denganmu..."

"Ibu? Ibumu? ada apa denganku? sampai ia harus senang bertemu denganku?"

"Karena ia tahu... kau wanita yang akan menikah denganku suatu hari nanti hehehehehe" Apa ini?, Hongbin terlihat tersenyum malu, wajahnya begitu memerah. Ia mengeluarkan sesuatu dari jaketnya, lalu di serahkannya padaku, kotak bludru hitam dengan pita perak.

"Nuna maukah kau menikah denganku?"

"MWOOOOO!!!!"

to be continue

Fanfiction Somun Part 5 VIXX



Fanfiction : Somun ( 소문 )

"Budayakan setelah dan sebelum membaca klik SHARE/Bagikan"

Author : Ayuna Kusuma

Genre : ---

Maincast :
Leo (VIXX)
Da Yeon ( You)
Hongbin (VIXX)


Part 5

"Karena ia tahu... kau wanita yang akan menikah denganku suatu hari nanti hehehehehe" Apa ini?, Hongbin terlihat tersenyum malu, wajahnya begitu memerah. Ia mengeluarkan sesuatu dari jaketnya, lalu di serahkannya padaku, kotak bludru hitam dengan pita perak.

"Nuna maukah kau menikah denganku?"

"MWOOOOO!!!!" tofu pedas yang kukulum akhirnya keluar pasrah dari mulutku, betapa terkejutnya aku ketika Hongbin tertawa terpingkal-pingkal setelah melihat reaksiku. "HONG!!! Yang benar saja !!"

"andwae... andwae... hahahahaha.... aku hanya bercanda... heehehe... ini cincin pernikahan yang dipesan kakakku... hahahahaha....... lihatlah wajahmu Dayeon!! mengerikan sekali hahahahahahaha" Aku bersyukur Hongbin tak melamarku, ia sedang memepermainkanku, tapi itu lebih baik daripada ia terus menanyakan banyak hal padaku.

"Oh.. kakakmu akan menikah?" tanyaku sambil menyeka daguku yang kotor, juga membersihkan meja makan yang terkena muntahanku.

"Hahahahaha.... Nuna... tertawalah sedikit saja untukku... huhuhuhumm" Hongbin mengambil kotak bludru milik kakaknya, lalu memasukkannya lagi ke jaket. "Hmmm... kau tak lucu nuna... padahal aku mencoba membuatmu tertawa... hahahaha... aigoo... kau sama sekali tak lucu" Hongbin kembali meneruskan makan, akupun begitu.

"Kapan kakakmu akan menikah?" tanyaku.

"Minggu depan, tepat tanggal 28 November Hyuk akan menikah... ia memesan cincinnya di toko dekat apartementku... ah... Nuna.... apa kau pikir aku benar-benar sedang melamarmu? hmmm?"

"andwae... aku tak pernah ingin menikah denganmu" jawabku.

"Kau bohong Nuna!... aku tahu dari matamu... bagaimana kau bohong padaku... aku tahu. Tentang pemabuk yang kau jelaskan tadi... aku juga sudah tahu kau berbohong padaku... tapi aku diam saja... mungkin kau tak ingin aku tahu tentang urusanmu"

"Nah... barusan kau sudah tahu... Tak semua urusanku harus kau ketahui Hong... Kajja.. kita berangkat sekarang?"

"Hum...."

"Hong... bisakah kau antarkan aku ke 541 Suyeong-dong
Suyeong-gu, Busan ? setelah acara kita selesai?"

"ada apa disana?"

"Seorang pembunuh bayaran... tinggal disana... dan aku ingin menyelidikinya lebih lanjut..."

"Ah......... jadi...." Hong mulai paham apa yang terjadi denganku sebenarnya, ia juga sepertinya sudah bisa menebak, siapa orang yang menghancurkan apartementku semalam.

"Nuna... biarkan aku membantumu... aku tak ingin mereka menyakitimu seperti semalam lagi... arraseo??"

"Hum... okey.. asal kau berjanji... tak pernah melakukan tindakan tanpa sepengetahuanku... ARRA!!"

"Okey.... kita berangkat!" Hongbin berlari ke lemari di sebelah pintu, ia mengambilkan jaket ungu kesukaanku. Dengan penuh perhatian kubiarkan ia memakaikan jaket dan syal merahnya untukku.

"Nuna... biarkan aku selalu menjagamu... kajja... kita berangkat"

"Hongbin... aku tak sakit... jangan perlakukan aku seperti orang lemah hihihihi..." Kami berdua keluar dari apartement, kupalingkan pandanganku ke apartement milik Leo, yang penuh dengan aura negatif.

Ada dua paket pizza dan cola terletak di depan pintu apartementnya, dengan gerak cepat, kuambil pizza dan selusin cola yang terlantar di depan apartement Leo.

"Nuna!" Hongbin merasa aneh melihat tingkahku.

"Kajja!!" Aku berlari melewatinya, dan sepertinya Hongbin pun mengikutiku, ia berlari dan menekan tombol lift lebih dulu dari aku.

Lift terbuka, Kami pun masuk, aku tertawa sebisaku, akhirnya aku bisa membalas pria brengsek itu. Siapa suruh semalam merusak barang-barangku?. Pagi ini, aku yakin ia akan kelaparan.

"Nuna?"

"Hummm? wae?"

"Tak kusangka... kau senang mencuri milik tetanggamu"

"Ssssttt... aku tak mencuri. kemarin pemilik apartement itu bilang padaku... bila ada paket atau surat, buang saja ke tong sampah... sekarang ada pizza dan cola... kalau kau jadi aku,... kau akan membuangnya atau memakannya?"

"HAHAHAHAHAHAHA...........!! Nuna... tetanggamu gila? aku? tentu saja akan memakannya... auh... kupikir kau... hihihi sudahlah... aku juga ingin makan pizza untuk makan siang nanti..."

Kami tertawa bersama di dalam lift, tak bisa kubayangkan, betapa marahnya Leo, ketika sadar pizzanya hilang. Semoga saja Haru dan Halabeoji tak mendapat akibat yang buruk gara-gara ulahku ini.

***

Hong, memutuskan untuk memakai mobilnya yang sudah layak pakai, setelah seminggu menginap di bengkel. Busan cukup cerah hari ini, walaupun salju masih deras turun dari langit.

Acara liputan berlangsung cepat, beberapa pejabat negara yang menghadiri pentas seni di Busan Center, Mobil Hongbin menuju kawasan Busan yang lain, kemungkinan ia akan menuju rumah ibu dan kakaknya.

Kulihat arah peta di mobil, Hongbin sedang menuju kawasan Suyeong-gu, Hongbin yang masih terus menyanyi sambil menyetir, membelokkan mobilnya. Kuambil surat dari 999xx999, saat ini Hongbin mungkin menuju alamat yang kuberikan padanya tadi pagi.

"Sebentar lagi kau akan bertemu dengan keluargaku... mereka akan senang bertemu dengan temanku... hehee"

"Oh? Ibumu tinggal di Suyeong-gu?" tanyaku penasaran.

"Humm... keluargaku tinggal di apartement 541 Suyeong-dong
Suyeong-gu, Busan" tiba-tiba darahku naik, ada rasa takut yang menyerang seluruh nadiku, ketika kulihat senyuman Hongbin yang sedikit aneh.

"Hongbin.... benarkah itu? kau lupa dengan permintaanku tadi?"

"Ha?" tanya Hongbin pura-pura tak mengerti

"Tentang alamat pembunuh bayaran yang ingin kukunjungi... kau lupa?"

"AH!!!" Hongbin menghentikan mobilnya seketika. membuatku tersentak dan ketakutan. "Aku lupa... mana alamatnya Nuna? kita kesana sekarang? atau nanti setelah kau bertemu ibu dan kakakku?"

"Kau.... benar-benar lupa? atau?"

"Mana alamatnya nuna? aku benar-benar lupa hehehe mianhae..."

"Ah... lupakan saja..."

"Benarkah? kau tak ingin menyelidiki pembunuh bayaran itu?" aku hanya menggelengkan kepala.

"Arraseo... kita lanjutkan perjalanan heehee...." Lalu mobil Hongbin menyala lagi, otakku juga mulai mengolah semua teka teki ini, apakah Hongbin sedang mempermainkanku? dengan pura-pura lupa? atau memang keluarga Hongbin tinggal di apartement, satu apartement dengan pembunuh bayaran itu? atau jangan-jangan Hongbin ada kaitannya dengan Leo? atau...

"Nuna... kita sudah sampai.... kajja... keluarkan pizzanya... dengan menghangatkan di oven... kita bisa makan pizza salmon siang ini..." kata Hongbin yang membukakan pintu mobilnya untukku.

"Eh... ye...."

Kami pun berjalan masuk ke apartement kembar yang luas nya melebihi apartementku. Hongbin berjalan lebih dulu dariku, ia menceritakan banyak hal tentang ibunya, dan kakaknya yang bekerja sebagai pembisnis internet. Hyuk memilik server sendiri, sehingga ia bebas melakukan apa saja untuk bisnisnya.

Lift terbuka, Hongbin menjadi guide bagiku hari ini, dari wajahnya terlihat kebahagiaan seorang anak ketika ingin bertemu dengan ibunya.

"Yup! ini apartement ibuku... sebentar... sepertinya aku ingat kodenya..." kata Hongbin. Ia memasukkan kode keamanan apartement ibunya.

Klark! pintu pun terbuka.

"Annyeonghaseyooo EOMMA!!!!!!" Teriak Hongbin pada wanita tua yang sibuk merajut sambil menonton tv.

"OH!! HONGBIN!!!!!" wanita itu berlari, dan memeluk Hongbin, aku pun turut merasakan kerinduan yang kini berganti menjadi suka cita.

Salah satu pintu yang bertuliskan. 999 Hyuk 999 terbuka, seorang pria yang mengenakan jaket kuning, dan topi rusa muncul, ia pun bergantian memeluk Hongbin.

"Hyung.... bagaimana kabarmu? eoh!!"

"Aku merindukanmu tentunya...!!" kata pria bertopi rusa.

"Lihatlah... aku sudah membelikan cincinnya untukmu dan Min hum hum... kau sudah siap untuk menikah? hihihihi" goda Hongbin, tapi mata Hyuk tak lepas dari sosokku, ia melihatku sepertinya ingin menelanku saja.

"Siapa itu Hong?" tanya Hyuk.

"Hyung! kenalkan! dia Da Yeon... partner kerjaku di redaksi Seoul... Nuna... kenalkan dia... kakakku... Hyuk... tapi sering dipanggil XX oleh banyak orang hehehe begitu kan ?"

"Heehe... senang berkenalan denganmu..." XX, dan tanda di pintu itu, tanganku mulai mendingin, kujatuhkan pizza yang kubawa, tanganku begitu lemas, rupanya aku sudah bertemu lebih dulu dengan 999xx999 yang bekerjasama dengan Leo dalam pembunuhan berencana, dan 999xx999 rupanya kakak Hongbin, yang selama ini bekerjasama denganku. Lalu... bagaimana ini??

"AAHHHHHHHHHHH!!!!!!!!!!!!!!!!" aku berteriak dan lari secepatnya, menghindari kejaran Hongbin dan Hyuk.

"NUNAAAAAAAAA!!!!!!! ADA APA!!! MENGAPA KAU LARI!!!!!!!! NUNAAAAAA!!!!!!!" Teriak Hongbin dan kulihat Hyuk juga ikut mengejarku.

"ANDWAEEEEEEE!!!!!!" ketakutan yang berlapis-lapis, membuatku memilih lari daripada bertahan disana dengan keluarga pembunuh bayaran. "ANDWAEEEEEEEEEE!!!!!!"

"NUNAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!"

To be continue

Fanfiction Somun Part 6 VIXX

Fanfiction : Somun ( 소문 )

"Budayakan setelah dan sebelum membaca klik SHARE/Bagikan"

Author : Ayuna Kusuma

Genre : ---

Maincast :
Leo (VIXX)
Da Yeon ( You)
Hongbin (VIXX)



Part 6 :

"Andwae!!!!!!!!!!" aku berteriak sebisa mungkin ketika Hongbin mencoba meraih syal merahnya yang sedang kupakai.

"NUNA!! Jangan lari lagi!!! EOH!!... Aigooo!!" Kulihat Hongbin menabrak sesuatu dan terjatuh, Hyuk tak meneruskan aksinya mengejarku, ia lebih memilih menolong adiknya. Aku tak ingin jauh-jauh dari mereka, akupun juga tak ingin dekat dengan mereka. Nyawaku akan terancam bila aku dekat dengan mereka. Leo mungkin sudah mengabarkan tentang dataku pada Hyuk, pria yang memakai initial 999xx999.

"Aigooo... Hauuuuhh... lelah sekali... Hong! Apa temanmu sudah gila hah!! Larinya cepat sekali... apa yang sebenarnya terjadi padanya?" tanya Hyuk sambil membantu adiknya bangkit, Hongbin masih memegangi kakinya, aku yakin ia tak akan menemukanku yang sedang bersembunyi dibalik kotak pos.

"YAAAAAAAAAAA!! Nunaa!!!!" Teriak Hongbin, sambil melihat ke segala arah, berharap menemukan sosokku. "Aku juga tak tahu Hyung... aku takut ia tak sabar menungguku, lalu melakukan investigasi sendirian... saat ini kami sedang berhubungan dengan pembunuh bayaran... aku takut ada apa-apa pada Da Yeon... aku tak bisa kehilangannya Hyung..."

Entah harus tertawa, atau takut setelah mengetahui kalau Hongbin tak ingin aku terluka sama sekali, tapi! HONGBIN! Mengapa kakakmu seorang pembunuh bayaran eoh!. Sepertinya Hongbin tak tahu mengenai pekerjaan kakaknya, buktinya ia tak membahas mengenai cara menjebakku.

"Pembunuh bayaran? YANG BENAR SAJA!! Hong! Kau harus mencarinya sampai dapat! aku akan kembali... ibu pasti mencariku... kutunggu 2 jam lagi... kalau kau tak menemukan temanmu... hubungi aku... aku akan menghubungi temanku yang bekerja di kepolisian.."

"HUM!! Okey!" Hongbin pun berlari melewatiku, ia tak tahu aku sudah di belakangnya, masih bersembunyi dengan hati-hati di balik kotak pos yang ukurannya lebih besar dariku. Kulihat ke arah yang lain Hyuk, terlihat kembali ke apartement.

Aku berpikir lagi, mengapa Hyuk tak memperlihatkan rasa takutnya pada polisi?, mengapa Hyuk mengatakan pada Hongbin akan membantu mencariku? mengapa Hyuk tak bereaksi ketakutan ketika adiknya menyinggung mengenai pembunuh bayaran?. Apakah dia hanya berakting.

Aku pun diam membeku, salju yang turun begitu lebat mengotori syal merah pemberian dari Hong. Tiga pria itu, Hingbin, Leo, Hyuk, mengapa sepertinya ada sebuah tali yang menghubungkan mereka.

"NUNA!!!" Aku meloncat ke belakang dan akhirnya kepalaku membentur kotak pos besi yang dingin membeku. Hong terengah-engah di depanku. Dari wajahnya aku sama sekali tak melihat sosok yang mengerikan. Maka kupastikan, Hong sama sekali tak tahu apa pekerjaan kakaknya. Hong tak tahu kalau sebenarnya Hyuk, sedang bekerjasama dengan Leo pembunuh bayaran di Seoul, untuk membunuh profesor ternama yang tinggal di Seoul.

"Nunaaaa.. YAaaaaaak! Apa yang membuatmu lari begitu cepat eoh!! Apa kau harus investigasi sekarang?"

"Ah! Andwae!" kataku sambil mengelak tangannya.

"Nuna! kau menjatuhkan sarung tanganmu... auh... bagaimana kalau tanganmu membeku hah?" Hongbin memaksaku, ia menarik tanganku dan memasangkan sarung tangan miliku.

"Hong.... ada yang ingin kukatakan padamu... tapi janji jangan marah padaku... yagsog?" tanyaku.

"Hum... Yagsoge... asal kau tak lari lagi... aku akan menurutimu... NUNA!! BAGAIMANA KALAU KAU HILANG EOH!! Ahss... kau membuatku bingung saja..." setelah memasang sarung tangan di tanganku, Hong duduk di sampingku.

"Hong... kau sendiri sudah tahu,.. aku ingin menginvestigasi pembunuh bayaran yang tinggal di Busan... Jadi ceritanya... Sebulan yang lalu, ada seorang pria yang pindah ke samping apartementku..."

"lalu?"

"Sebelum ada pria itu... apartementku, aman-aman saja... tapi setelah ada pria itu... suasana di apartementku menjadi begitu kelam, beberapa orang menyatakan pernah melihat sosok-sosok aneh yang berjalan di tengah malam, lalu Haru, dan temannya yang satu apartement mengaku kehilangan anjing mereka. Dan beberapa orang mengatakan semua ini adalah ulah pria yang tinggal di samping apartementku... Dua hari yang lalu... kuberanikan diri memperingatkan dia, tapi aku mendapatkan tendangan di perut, dan luka ini... dia yang membuatnya... karena sepatu boot pria itu... perutku tergores seperti ini... dan semalam... bukan pemabuk.. yang masuk ke dalam apartementku, melainkan pria gila itu!!"

"JINJJAAA!!! Nuna... benar kan kataku... kau bohong padaku tentang hal itu... ceritakan lagi..."

"Pria bernama Leo, yang brengsek!! itu... mencari suratnya yang kuambil darinya. Tapi ia tak berhasil mendapatkannya, karena suratnya kuletakkan di mobil... Ini suratnya... kau tahu... surat ini dari 999xx999 dan alamatnya sama dengan alamat kakakmu... didalamnya ada peta buta dan kartunama seorang profesor Seoul. Kau tahu yang kupikirkan??? EOH!! Saat kau masuk... saat aku bertemu dengan kakakmu... aku juga begitu terkejut!. KAKAKMU!! HYUK!! DIA... PEMBUNUH BAYARAN YANG HARUS KUINVESTIGASI!! KAU TAHU APA YANG KUPIKIRKAN TADI!! KAU TAHU BETAPA TAKUTNYA AKU!!! HAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA" Hongbin diam sebentar, ia periksa surat yang kucuri dari Leo. Ada seulas senyum yang terpampang jelas di wajah Hongbin.

"Hongbin?" tanyaku, ketakutan itu kembali menyergapku, jangan-jangan Hongbin sudah tahu kalau kakaknya Pembunuh bayaran? Oh tidak...

"Nuna.... HAHAHAHAHAHAHAAAAAAAA... Ya.... NUnaaaaa harusnya kau cerita padaku lebih dulu... Aigiooo... Nuna... ini memang kakakku yang mengirimkannya ke Seoul, ke seorang Wedding Orginizer ternama, Leo. Hahahahahahaha kau ini aneh-aneh saja Nuna"

"Mo... Moraguyo?"

"999xx999 itu memang nama lain dari Hyuk, ia seorang developer game ternama di Busan, Hyuk terlalu pasaran untuk nama developer, maka dari itu ia memilih nama 999xx999 hahaha..."

"lalu?" akupun mendekat ke Hongbin, karena dingin tiba-tiba menusuk tulangku.

"Dan lihat ini... Min Gyu... dia adalah Ayah Min Ah yang akan menikah dengan Hyuk... dan ini.. Leo... orang ini... dia adalah wedding orginizer yang disewa Hyuk untuk mengatur baju pengantin Min Ah dan Ayahnya. HAHAHAHAHAHA NUNA!! Kau terlalu banyak membaca kasus bulan ini eoh!!... Kajja... kembali... Ibuku pasti mencari kita..."

"Hongbin... jinjja??"

"Nuna... kapan aku pernah berbohong padamu? kapan?" tanya Hongbin, matanya kembali membius batinku.

"Tak pernah..."

"Percayalah padaku... tak ada pembunuh bayaran... Leo atau Hyuk... bukan pembunuh bayaran..."

"Ah... Hongbin... bagaimana kalau aku pulang saja?" kataku sambil bangkit mencoba menghindari Hongbin, aku tak mau ia melihat wajahku yang memerah seperti ini.

"Nuna!" Hongbin menghalangiku, tangannya yang hangat menggenggam tanganku, dan ia pun berdiri menghalangi jalanku. "Kau sudah lari terlalu jauh... dan aku sudah terlalu lelah mengejarmu... maukah kali ini saja turuti kataku... Kembalilah ke rumahku... ibuku akan senang berkenalan denganmu..."

"Tapi... hehe... sepertinya aku sudah mengacaukan semuanya... hmmmm"

Hongbin mendekatkan wajahnya, kucoba untuk menghindarinya, tapi tangannya sudah menghalangi punggungku.

"Nuna... kali ini... jangan lari dariku... jangan khawatirkan apapun... ada aku disini..." tak pernah kubayangkan sebelumnya, seperti sambaran petir di cuaca bersalju, ia mengecup bibirku dengan lembut, lalu menenggelamkan wajahku yang memanas ke dadanya.

"Nuna... tenanglah... di dunia ini tak ada yang menakutkan, karna aku selalu mencoba melindungimu... bila ada yang membuatmu gelisah... katakan saja padaku... hmmm"

"Hmmm..." jawabku, dalam pikiranku aku begitu bahagia ada Hongbin yang memang terbukti selalu ada untukku, dan ada perasaan tak enak hati, setelah menyangka yang bukan-bukan terhadap Leo, pria aneh yang ternyata bekerja sebagai wedding organizer, aku terlalu cepat memutuskan rupanya, hal ini, detik ini, aku belajar satu hal. Bahwa jangan pernah memikirkan hal yang negatif sebelum mendapatkan informasi dari pihak lain.

Kami pun kembali ke apartement ibu Hongbin, kuharap ia tak membeberkan semua cerita konyol tentangku pada Hyuk. Kuharap begitu...

to be continue

Fanfiction Somun Part 7 VIXX


Fanfiction : Somun ( 소문 )

"Budayakan setelah dan sebelum membaca klik SHARE/Bagikan"

Author : Ayuna Kusuma

Genre : ---

Maincast :
Leo (VIXX)
Da Yeon ( You)
Hongbin (VIXX)


Part 7 :

Aku terbaring lagi di kasurku yang membeku, seharian ini jauh seperti yang kukira, hari ini begitu menyenangkan, kami berempat menghabiskan pizza milik Leo yang sudah dipanaskan. Honbin juga tak pernah membahas tentang betapa konyolnya aku, yang langsung berlari meninggalkan rumah Hongbin sambil berteriak ketakutan.

Ketika ibunya bertanya apa sebenarnya yang terjadi, Hongbin menjawab sesuai dengan yang kuinginkan. Pria itu, Hongbin, dan ciumannya seakan sudah melekat di dalam benakku.

Sejenak aku melupakan perbedaan usia kami yang selisih 5 tahun, walaupun ia lebih muda dariku 5 tahun, kedewasaannya melebihi kedewasaanku. Benar rupanya, sebuah penelitian dari luar negeri yang mengatakan kalau kedewasaan seorang pria tak pernah terpaut umur. Ada anak laki-laki yang berumur 12 tahun yang dinilai lebih dewasa daripada seorang pria berumur 21 tahun.

Dan Hongbin salah satunya.

Drrrttt... Drrrrttt... handphone ku bergetar, kulihat siapa yang malam begini mengirimkan pesan padaku.

"Nuna... jangan lupa kembalikan suratnya pada Leo, atau pernikahan kakakku akan gagal... gomawo... have a nice dream... Nuna"

pesan dari Hongbin, bagaimana aku membalasnya?.

Kutarik bedcover dan menutupi wajahku yang memanas. Saat ini dalam bayanganku hanya ada wajah Hongbin, suara yang kuingat hanya suara tawanya yang renyah.

"jeongmal baegopa!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! OOOOOOOOOOOH!!!!!!!!"

BRAKKK!! BRAKKKK!!

Teriakan itu kudengar begitu jelas, tentunya dari arah apartement Leo, bayanganku tentang Hongbin buyar seketika. Penasaran dengan apa yang dilakukan Leo, kuputuskan untuk mendekati dinding dan mendengarkan suara pria itu lebih jelas.

"jeongmal baegopa..... huaaaaaaaaaaaa...... naneun pijaleul meoggo sip-eo huaaaaaaaaa" kudengar ia melempar barang-barangnya ke dinding.

BRAKK!!! aku meloncat ke belakang, ketika ada benda yang menghantam dinding di depanku.

Sedetik aku merasa begitu bersalah, telah mencuri pizza milik Leo, ia pasti sedang kelaparan sekarang. Mengetahui ia hanya pria yang berprofesi sebagai wedding organizer, aku pun memberanikan diri mendatanginya.

Sebelum itu tak lupa aku membawa dua pak tteokbokki instan dan dua telur, lalu surat dari Hyuk untuk Leo. lorong apartement sudah sepi, hanya ada suara hantaman benda berat ke dinding yang dilakukan Leo berulang kali.

TING TONG... TING TONG... bel apartement Leo berbunyi begitu nyaring di tengah malam.

Lama tak ada balasan.

"Leo...... Buka pintunya......." teriakku.

Pintu pun terbuka dengan kasar, Leo menatapku dengan tatapan sinisnya.

"eotteohge?" tanya Leo dengan nada sinis.

"Ah... kudengar kau lapar... aku hanya ingin membantumu... lihatlah aku punya dua tteokbokki... humm kau mau aku memasakkan untukmu?"

"Huh! kau sudah gila? kemarin kau mengusirku! kemarin kau mencuri suratku! lalu sekarang kau mau memasakkan untukku?"

"mianhae... sepertinya kita perlu bicara... agar kesalahpahaman ini tak berlarut-larut. LAGIPULA!! kau sudah membuat perutku luka dengan sepatumu kemarin lusa... kita impas kan?"

"Okey.... berarti kau mengaku telah mencuri suratku.. iya kan? begini saja... serahkan saja surat itu... kau boleh menyingkir dariku! dan aku akan pindah dari apartement ini!"

"Ah... jeongmal jeongmal jeongmal jeongmal jeongmal mianhae... Leo... aku telah..." Leo merebut surat yang ingin kuberikan padanya.

"Jangan kau ulangi lagi! gara-gara kau! Aku tak dapat setoran hari ini! Dasar gadis paranoid!" bentak Leo, ia pun membuka suratnya dan membacanya dengan seksama di dalam apartementnya yang remang. Aku masih berada di luar apartementnya, kalau aku memaksa masuk, ia akan semakin membenciku.

"hmmm itu peta Dongjak-gu... Seoul Technical High School iya kan?" tanyaku.

"Ahssss!!! Jangan mengurusi urusan orang lain!"

Brak! Leo menutup pintunya, tapi aku berhasil mengganjalnya dengan sepatuku.

"Leo... apa kau tak lapar? biarkan aku membuatkan kau tteokbokki... kalau kau tak mau aku masuk ke dalam... kajja.. datanglah ke apartementku..."

"ANDWAE!" bentak Leo sambil melotot padaku.

"baiklah... padahal di rumah aku juga punya sisah pizza yang kubeli tadi siang... bukan kah kau mau pizza?" aku tak berani mengaku kalau pizza itu yang kucuri darinya.

"benarkah?" Leo rupanya mudah sekali di rayu, ia pun membuka pintunya, lalu menguncinya lagi. "Ok. aku ikut denganmu... buatkan aku makanan yang enak.. setelah itu kumaafkan kau!"

"Okey... here we go...!" kami pun masuk ke dalam apartementku, aku muai memasak di dapur, sedangkan Leo sedang sibuk dengan handphonenya, ia menghubungi beberapa orang, lalu mengetik sesuatu di smartphonenya yang lain.

"Leo... maaf sebelumnya..." kataku.

"Moraguyo?" tanya Leo kebingungan.

"Ada apa sebenarnya di apartementmu?"

"Bukan urusanmu..." jawab Leo singkat tapi begitu menusuk.

"Leo.. apa kau tak pernah mandi? baumu busuk seperti isi tong sampah" balasku, kuharap ia juga tertusuk hatinya karena kata-kataku.

"Ya........ aku tak mandi dua bulan, dua tahun, bahkan dua abad itu bukan urusanmu..!! Kajja! kau mau memasakkan aku atau mau investigasi?? HAH!!"

"Ah... mianhae...karena tingkahmu yang menakutkan... aku sempat mengira kau seorang pembunuh bayaran hehehehehe" aku mencoba tersenyum membuat suasana lebih hangat.

BRAKK!! Leo lagi-lagi melempar vas bunga yang baru saja dibelikan Hongbin sebagai pengganti vas bunga yang dilempar Leo kemarin.

"Ah...... jangan lepar barangku... jeongmal jeongmal jeongmal jeongmal mianhae... aku akan menjaga kata-kataku.... mianhae" aku pejamkan mata ketika Leo menghampiriku.

"Kau... ingin memasakkan aku tteokbokki.... atau SEMAKIN MEMBUATKU MARAH HAH!!!" Bentakkan Leo membuat dadaku begitu sesak, nafasnya yang bau juga sempat membuatku ingin muntah "Aku... kalau aku katakan semua tentangku... MAUKAH KAU MEMBANTUKU HAH!!! ATAU KAU SEPERTI YANG LAINNYA !! MENJAUHIKU HAH!!"

aku mengangguk dan menggelengkan kepala, Leo pun menjauh dan duduk lagi di tempatnya semula, sepertinya ia merasa bersalah dengan pot bunga yang ia hancurkan. Dengan kakinya, ia menendang pecahan pot bunga hingga terkumpul jadi satu di bawah meja.

"Kulitku akan melepuh bila terkena sabun... aku juga takut air... dua kali Ayah tiriku menenggelamkanku di kolam renang. dua kali percobaan pembunuhan itu... membuatku membenci air... aku sempat mencoba untuk mandi, tapi itu membuatku sangat ketakutan..."

Kupandangi Leo yang tetap sibuk dengan smartphonenya, matanya sedikit berair, entah mengapa sepertinya hidupnya begitu menderita.

"Saat usiaku 16 tahun... kuputuskan untuk lari dari rumah... dan hidup sendiri... Ayah tiriku bila ia mabuk... selalu menyekapku dan ibuku di lemari yang gelap... setelah ibuku meninggal ditangan Ayah tiriku... aku begitu merindukan ibuku... maka dari itu... aku suka kegelapan... aku tak pernah menyalakan lampu... dan... bisakah kau matikan lampu ruang tengah ini? mataku sangat sakit..." lanjut Leo.

"Ah ye...." aku berlari ke ruang tengah dan mematikan semua lampu kecuali dapur, "Bagaimana? kau sudah tenang? maafkan aku... kalau terlalu banyak menanyakan hal yang tak ingin kau ceritakan..."

"Hmmm... Justru... aku yang harus berterima kasih padamu... kau mau menanyakan itu padaku... sudah bertahun-tahun tak ada yang peduli padaku sepertimu..." dalam kegelapan bisa kulihat senyum Leo yang menawan.

to be continue
 
Layanan untuk Anda: x Cerita dari Kusuma | - | dari - | Lihat dalam Versi Seluler