- - - - . - - | Facebook | Twitter | GPlus |
Tampilkan postingan dengan label BTS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BTS. Tampilkan semua postingan

FF Oneshot : Are you really waiting me?


Oneshoot Fiction : Are you really waiting me?

"Sebelum/Sesudah membaca Fanfiction ini, budayakan share, Like, dan komentar. Terima kasih atas dukungannya"

Author : Ayuna Kusuma

Maincast : V and You

Genre : Randomly

***

Aku jenuh dengan semua rutinitasku, yang tak pernah bisa dihentikan, setiap hari aku harus pergi ke sekolah, siangnya aku harus pergi ke berbagai tempat untuk mengantarkan Kimbap untuk makan siang beberapa pekerja. Malamnya, aku hanya bisa tidur 3 jam, setelah itu aku harus kembali mengerjakan semua tugas, sekaligus pekerjaan sampingan sebagai editor sebuah majalah remaja di Seoul.

Terkadang, saat tengah malam aku sering tak tidur, waktu yang tersisah hanya 3 jam, dan itu cukup sedikit untuk tidur, aku lebih memilih berkeliling kompleks, hingga aku tertidur di taman mawar di taman dekat rumah, seperti biasa.

Malam ini, Ibu tak memasak, aku hanya sendirian di rumah, Ibu meninggalkan sepuluh ribu won diatas lemari es, dengan catatan "belilah makanan di luar, ibu pulang besok pagi, nenekmu minta di temani seharian"

Aku tahu pasti, ketika ibu mengatakan besok, berarti belum pasti besok ia akan pulang. Kurapikan semua pekerjaanku malam ini, lalu dengan jaket dan payung segera kunikmati jalan-jalan malam hari. Seperti biasa.

Malam ini, aku ingin sekali makan sosis balut keju yang dijual di kompleks perumahan sebelah. Kulangkahkan kakiku, berjalan mengitari rumah-rumah yang sudah mulai dimatikan lampunya. Tentu saja mereka sudah mulai tidur, jarum jam di jamtanganku, menunjukkan pukul 10 malam.

Segera kupercepat langkah kakiku, karena perutku yang kelaparan ini tak bisa diajak kompromi lagi. Ditengah jalan, ada seorang pria yang tergeletak ditengah jalan.

Kuhentikan langkahku, pria itu sepertinya tertidur di tengah jalan, atau, ia salah satu korban tabrak lari?, tapi tubuh dan wajahnya sama sekali tak ada luka yang serius.

"Hei..." kataku sambil menggerakkan tangannya. Pria itu tak bergerak sama sekali, kulihat rambutnya yang berwarna pink campur pirang, wajahnya yang berbentuk v sempurna, bibirnya yang seksi, ah... apakah pria ini sedang mabuk?

"Hei...." kucoba lagi menggerakkan bibirnya yang seksi dengan ranting kecil yang kuambil dari pinggir jalan. bibirnya yang tampak lembut tak bergerak sama sekali. Aku takut ia sudah menjadi mayat, dengan penuh rasa takut, akupun menunduk dan melihat apakah ia masih bernafas atau tidak. Leganya perasaanku, ketika kulihat dadanya yang bidang bergerak turun naik.

"hmmmppptt... Hei...Bangun... Kau siapa?" kataku sambil menggerakkan, rambutnya dengan ranting, lalu kumainkan pipinya yang terlihat lembut.

"Hei.... nanti ada mobil yang lewat... kau bisa mati... kajja bangun... apa kau perlu bantuan?" tanyaku lagi dengan nada yang lebih keras.

Pria itu pun membuka matanya yang indah, ia menatapku, detak jantungku tiba-tiba menjadi tak beraturan, tatapannya yang sinis membuatku salah tingkah, keringat tiba-tiba mengucur di dahiku.

"Bisakah kau tak mengganggu orang tidur?" tanya pria itu dengan suaranya yang sungguh istimewa. Baru kali ini aku mendengar pria yang memiliki suara gentle.

"Ah.... Hmmm..." Gumamku, aku tak tahu apa yang bisa kukatakan padanya, dan aku tak berani mengatakan apapun pada pria istimewa yang ada didepanku.

"Aku hanya mencoba tidur di jalan... tak akan ada mobil yang lewat... ini sudah pukul sepuluh lebih, semua jalan ke kompleks ini sudah di tutup. Tak ada mobil yang bisa keluar masuk.."

"hmmm.... " gumamku.

"Apa kau ingin duduk disitu sambil melihatku tidur?..." sindir pria itu, aku langsung berdiri dan membersihkan kaosku yang berdebu.

"Mianhae... mengganggu tidurmu..."

"Aku tidak ingin memaafkanmu begitu saja... Kenalkan..aku Kim Taehyung... aku baru pindah malam ini, kau bisa lihat rumah kecil di atas apartemen itu... itu rumahku..... tolong!!" katanya sambil mengulurkan tangannya padaku. Akupun menariknya hingga ia berdiri tepat di depanku.

"hmmm...."

"Ahhhh!!... rupanya... tidur di jalan kompleks ini lumayan..." kata Taehyung sambil membersihkan punggungnya dari debu.

"Lumayan?"

"Ya... Lumayan menyakitkan hahahahahahahaha" Ia pun tertawa dan memperlihatkan giginya yang tertata rapi padaku.

"Hehe... tentu saja... senang berkenalan denganmu..." kataku sambil berlalu darinya.

Berjalan sebentar mengitari blok, tak kusangka ternyata Taehyung mengikutiku dari belakang.

"Kau mengikutiku?" tanyaku sambil menunggu Taehyung.

"Tentu saja... hobiku jalan-jalan di malam hari... kau masih punya hutang denganku... membangunkan orang tidur adalah kesalahan yang tak bisa dimaafkan... tapi aku akan memaafkanmu kalau kau mau menemaniku jalan-jalan" kata Taehyung mendahuluiku

"Tapi aku harus beli makan malam dulu... bagaimana?"

"Oh!!! Benar-benar sebuah kebetulan... aku juga belum makan malam... Kajja... kita berangkat..." kata Taehyung sambil memimpin lebih dulu.

"Mianhae... tapi kau salah... bukan belok kiri... tapi belok kanan!" teriakku,

"Oh... hahahahahahahahaha" Taehyung pun tertawa lagi, memperlihatkan giginya yang manis padaku.

***

Malam itu, kami menikmati okonomiyaki bersaama, lalu berjalan sampai tengah malam. Banyak yang kami ceritakan, Taehyung banyak menceritakan tentang keluarganya, ia hanya tinggal dengan kakeknya semenjak kecil, Orangtuanya yang tinggal di Jepang, telah menitipkan Taehyung pada kakeknya, dengan alasan tak ingin direpotkan. Taehyung terlihat begitu kesepian dan hanya ada satu keinginan dalam benaknya. Ia ingin bertemu dengan kedua orang tuanya di Jepang.

Malam itu, menjadi permulaan pertemanan kami. Setiap malam aku selalu menunggu Taehyung di seberang apartement, tepat pukul 10 malam, aku selalu tidur di jalan kompleks, merasakan dinginnya malam, dan menatap indahnya bintang gemintang.

Terkadang Taehyung yang menungguku, ketika tugasku belum selesai juga, aku terpaksa datang pada pukul 12 malam. Taehyung tetap tidur di jalan kompleks, hingga suatu hari ia terserang flu karena kebiasaannya itu.

***

Malam ini, tugas sekolah dan kantor sudah kukerjakan dengan cepat, aku ingin mengatakan kalau bulan depan aku akan kuliah di tempat Taehyung, dan kita bisa bertemu di pagi hari, bukan hanya ditengah malam.

Dengan jaket dan sepatu boots, aku berlari menuju jalan kompleks tempat dimana Taehyung menghabiskan malamnya. Tepat sekali, pria istimewa yang sudah menjadi teman baruku itu masih tak lelah tidur di tengah jalan kompleks.

"Taehyung!!! Hehehehe" kataku sambil tidur di sebelahnya,

"Heehehehehehe... sudah makan? Aku membawakan kimbap... berjaga-jaga kalau kau belum makan" kata Taehyung sambil menaruh kotak yang hangat diatas perutku.

"Gomawoyoo...hehehee"

"Hummm hehehe....Bagaimana hari mu?"

"Menyenangkan... ah... Taehyung... aku punya kabar baik untukmu..."

"Aku juga punya kabar baik untukmu..." kata V sambil melirikku.

"Aku diterima di kampusmu... hehehehehe... setiap hari kita bisa bertemu Taehyung.... apa kau senang??"

"Ahmm.... Aku senang akhirnya kau bisa diterima di kampusku... Selamat.... hehehehehe"

"Apa kabar baik darimu Taehyung... cepat katakan padaku...."

"Tidak... itu bukan berita baik..." kata Taehyung tiba-tiba membuat suasana menjadi aneh, ia memandangi langit dengan penuh makna.

"Ada apa Taehyung? Apa ada masalah denganku? atau dirmu?"

"Ibu dan Ayahku...menyuruhku dan kakek untuk pindah ke Jepang, mereka mengatakan kalau sudah mendapatkan rumah yang lebih besar untuk kami berempat. dan Ayahku sudah menjadi komisaris di sebuah perusahaan, Ibuku sudah menjadi koki utama di sebuah hotel... penghasilan mereka sudah lumayan besar... maka dari itu... mereka menyuruhku pindah... Mereka sudah menyiapkan semuanya ternyata..."

"Lalu...."

"Besok pagi... aku harus pindah... ke Jepang... tapi setidaknya aku masih pindah ke Jepang, kita bisa saling berhubungan melalui telephone atau email, atau chat... iya kan?"

"Tapi... aku sudah berhasil masuk ke kampusmu Taehyung... bagaimana denganku?" tanyaku, tak terasa airmataku mengalir begitu deras, dadaku yang sesak menuntutku untuk menangis melepaskan semua rasa khawatir.

"Kau bisa mencari teman yang lain kan? ghehehehehe... yang lebih gila dariku... bagaimana?"

"Tidak akan sama... Taehyung... tidak akan sama...." kataku mulai histeris.

"Ada temanku yang suka tidur di tengah jalan seperti ku... nanti kukenalkan kau dengannya.... bagaimana?"

"Taehyung......Babo.... semua tak akan sama... apa kau tak bisa mengerti hal itu??"

"Sudah... hapus airmatamu... kalau ibumu tahu... aku bisa terkena masalah..." Kata Taehyung sambil menyeka airmataku, lalu mencubit pipiku. "Aku juga tahu semuanya tak akan pernah sama... akupun bingung saat ini... bagaimana aku bisa hidup tanpamu... teman yang selama ini memenuhi pikiranku..."

Kupikirkan lagi, Taehyung sudah lama menunggu saat-saat ini, bisa berkumpul dengan ibu dan ayahnya di Jepang. Aku tak bisa melarangnya begitu saja, mereka terlalu berharga dibanding dengan diriku.

"Taehyung...."

"Hmmm...."

"Pergilah... aku akan menunggumu... disini... asal suatu hari nanti... kau kembali untukku... kita tidur lagi di tengah jalan seperti ini... kita menikmati bintang seperti ini lagi... dan jalan-jalan di tengah malam lagi... dan kau harus berjanji... walaupun banyak gadis yang kau temui... ingatlah aku... arrasseo?"

"Kau yakin mau menungguku?" tanya Taehyung penuh keseriusan.

"Aku yakin bisa melakukannya..."

"Baiklah... kau boleh menungguku... tapi jangan pernah menangisiku... aku akan tinggal di jepang selama 4 tahun... Selama itu... kau harus menungguku... bagaimana? kau masih mau menungguku?"

"Aku akan menunggumu... sampai kau kembali kepadaku" kami pun saling bertatapan, Taehyung kembali memperlihatkan giginya yang indah.

"Hehehehehehe.... kau memang gadis yang pemberani... mau menunggu pria yang tak jelas sepertiku..." kata Taehyung lagi-lagi sambil mencubit pipiku.

"Untuk Taehyung... aku akan menunggu... walaupun hal itu sungguh menyebalkan..." kataku sambil mempermainkan bintang yang ada di hadapanku. Langit begitu indah dimalam yang menyakitkan yang seperti ini.

"Dan... untuk gadis yang selama ini memenuhi pikiranku... untuk gadis yang mau menungguku sampai aku kembali padanya... Aku berjanji... tak akan pernah membiarkan siapapun merebut tempatmu di pikiranku dan hatiku... Gomawoyo...nan jeongmal salang haeyo" gumam Taehyung sambil mencium pipiku yang semakin memerah dibuatnya.

The end

Fanfiction RUHAPPY? Part 1 BTS


Fanfiction : R U Happy Now? Part 2

Author : Ayuna Kusuma

Maincast : Jin and You

Genre : Flash Love

Pria bernama Suga yang memiliki suara paling istimewa yang pernah kudengar, masih tertidur lelap di pundakku. Pelan-pelan kuseka darahnya yang masih mengalir di dahinya. ada beberapa luka pukulan di kepalanya yang membuat pendarahan.

Dengkuran Suga yang halus membuatku tak sanggup membangunkannya. Padahal malam sudah mulai larut. Jarum jam dinding menunjukkan pukul 11 malam. Kereta terakhir sudah lewat. Bodohnya aku yang terus mempertahankan Suga yang tetap tidur di pundakku, daripada mengejar kereta yang terakhir.

Kalau saja kulepaskan pundakku, Suga akan terbangun, dan ia akan membenciku, tapi apa masalahnya kalau dia membenciku?, toh dia juga bukan temanku, dia hanya seorang murid yang berubah menjadi ganas ketika bersama gangnya.

Pikiranku bertempur seperti pertempuran Jin dan Suga tiga jam yang lalu. Jin dan Manji, bisakah mereka mengenaliku?. Kuharap mereka tak pernah mengenaliku. Lagipula aku hanya murid biasa, yang tak pernah punya masalah atau punya prestasi yang menonjol. Sehingga mencariku, mereka tak mungkin bisa.

"Uhmmm...." gumam Suga, ketika aku tak sengaja menyeka luka di kepalanya.

"mian..." gumamku. Akupun kembali duduk diam membatu. Memandangi stasiun yang sudah mulai sepi. Lampu di lorong stasiun sudah banyak yang mati. Hanya lampu di atas ku dan di seberang yang masih bertahan menyala.

"Ahhhmmmm...." Suga mengangkat kepalanya dari pundakku, ia memutar badannya ke kiri dan kekanan. Mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Bisa kudengar retakan tulang tangan dan punggung Suga. Ia berpaling kearahku. Melihatku yang sedang sibuk memijat pundakku yang mulai matirasa.

"Gomawo... Ahmmm... pukul berapa sekarang?" Suga kembali duduk di sampingku.

"11 malam... dan kereta terakhir sudah lewat beberapa menit yang lalu..." kataku yang hampir mirip sebuah keluhan.

"Kebetulan sekali... sebagai rasa terima kasihku... kuantarkan kau pulang..."

"Tapi..."

"Hmm??"

"Rumahku... jauh... sekali... hampir 15 km dari sini... kalau kau mengantarku menemaniku sampai ke rumah dengan jalan kaki... kita akan sampai besok pagi..." Kekhawatiran mulai mampir di kepalaku. Mengapa tak terpikir dari tadi?.

"Siapa yang bilang mengantarmu pakai jalan kaki? aku akan mengantarmu pakai itu..." kata Suga sambil menunjuk sebuah mobil Chevrolet terbaru berwarna merah.

"Oh!! benarkah?"

"Tentu saja... kita akan cepat sampai dengan yang satu itu... Kajja... cepat... sebelum kuantar kau pulang... ada yang ingin kubicarakan denganmu" kata Suga sambil menyeretku.

***

Di DomoIce Cafe. Suga membelikan banana split ice cream yang ukurannya lebih besar dari yang kuperkirakan. Suga mengatakan kalau ia akan menemaniku memakan ice creamnya.

Entah mengapa, sepertinya sedari tadi, ia selalu membuatku dag dig dug. Apa sebenarnya yang ingin ia katakan?. Aku masih menunggunya sambil memakan ice cream. Suga mengganti pakaiannya yang penuh dengan darah dengan kaos yang dibelinya di toko seberang cafe.

Tak perlu lama menunggu, Suga muncul di hadapanku, Ia terlihat lebih tampan dengan kaos hitam dan topi yang dikenakannya.

"Okey... to the point... Apa alasanmu berteriak menyelamatkanku tadi?"

"Hmmm?" kebingungan, itulah keadaanku saat ini, dengan sendok ice cream dimulut aku mencoba memikirkan apa alasanku sebenarnya.

"Jangan memakan sendok... menjijikkan" kata Suga sambil melepas sendok dari mulutku. Sungguh memalukan aku hanya bisa menjawabnya dengan "Ye..."

"Jadi sekarang jelaskan padaku... apa maksudmu sebenarnya? apakah Jin menyuruhmu untuk menyelamatkanku? lalu dekat denganku? buktinya aku ingin tidur di pundakmu kau sama sekali tak menolak... apa itu rencana mereka? menjadikanmu mata-mata ? lalu mencari kelemahanku??" Pertanyaan Suga semakin membuatku bingung.

"Eh...?" akupun kembali bertanya padanya "bisa kau ulangi lagi pertanyaannya?"

"hassshhh... intinya... apakah Jin menyuruhmu menyelamatkanku, lalu mendekatiku? lalu mencari kelemahanku? begitukah?"

"Hmmm aku tak tahu..."

"Kau kenal dengan Jin? Manji?"

"Aku tahu Manji... dia murid yang bermasalah di sekolahku... kalau Jin... aku tak pernah tahu... mungkin dia murid baru yang tadi siang masuk ke kelas A"

"Hmmm... Apa kau tahu nama Gang mereka?"

"Anioo.." jawabku sambil menggeleng karna kebingungan.

"Ahhh.... Untung saja... hehehe... kau bukan anggota mereka... hehehe... Kajja... makanlah... ini ice cream kesukaanku.." kata Suga sambil memasukkan satu scup ice cream ke mulutnya.

"Sebenarnya...."

"Mwooo???" Suga membuka mulutnya, hingga ice creamnya meleleh keluar dari mulutnya. "Ada apa? kau anggota Jin dan Manji?" kata Suga sambil menyeka mulutnya.

"Anniya... Sebenarnya... aku lapar... kalau makan ice cream saja... perutku akan sakit... bisakah aku pesan burger?" mendengar pertanyaanku, Suga tertawa lega, hingga matanya yang berbinar itu tenggelam tak nampak lagi.

"Hahahahaha.... kau ini... mengangetkanku saja... HAHAHAHAHA"

"Hehe.... bagaimana? bisakah kau belikan aku burger...? atau aku berhutang dulu padamu...Uang saku hari ini sudah habis hehe.."

"Untuk penyelamatku... apapun akan kubelikan... tunggu sebentar..." kata Suga, ia membawa menu makanan dan meninggalkan aku di meja makan.

Suga, untukku yang kau katakan penyelamatmu, apapun bisa kau belikan. Tapi bisakah kau berikan kesempatan padaku untuk lebih dekat denganmu?. Bibirku hanya tersenyum setelah pikiran itu lewat dikepalaku.

Tok Tok Tok....

Seorang pria memakai jaket hoodie hitam mengetok jendela disampingku. Ia menunjukku dan menyuruhku keluar. Aku sama sekali tak bisa melihat siapa pria itu. Karena diluar begitu gelap.

Pria diluar cafe semakin mendekatkan wajahnya, betapa terkejutnya aku, ketika kusadari pria itu ternyata Jin, anak baru yang pindah ke sekolahku, dan pria yang sama, yang bertempur dengan Suga tiga jam yang lalu.

"Keluarlah... Kemarilah sebentar..." katanya tanpa suara. Lalu senyum sadis itu membuatku semakin ketakutan. bagaimana ini?

To be continue

Fanfiction RUHAPPY? Part 2 BTS


Fanfiction : R U Happy Now? Part 2

Author : Ayuna Kusuma

Maincast : Jin and You

Genre : Flash Love

Pria bernama Suga yang memiliki suara paling istimewa yang pernah kudengar, masih tertidur lelap di pundakku. Pelan-pelan kuseka darahnya yang masih mengalir di dahinya. ada beberapa luka pukulan di kepalanya yang membuat pendarahan.

Dengkuran Suga yang halus membuatku tak sanggup membangunkannya. Padahal malam sudah mulai larut. Jarum jam dinding menunjukkan pukul 11 malam. Kereta terakhir sudah lewat. Bodohnya aku yang terus mempertahankan Suga yang tetap tidur di pundakku, daripada mengejar kereta yang terakhir.

Kalau saja kulepaskan pundakku, Suga akan terbangun, dan ia akan membenciku, tapi apa masalahnya kalau dia membenciku?, toh dia juga bukan temanku, dia hanya seorang murid yang berubah menjadi ganas ketika bersama gangnya.

Pikiranku bertempur seperti pertempuran Jin dan Suga tiga jam yang lalu. Jin dan Manji, bisakah mereka mengenaliku?. Kuharap mereka tak pernah mengenaliku. Lagipula aku hanya murid biasa, yang tak pernah punya masalah atau punya prestasi yang menonjol. Sehingga mencariku, mereka tak mungkin bisa.

"Uhmmm...." gumam Suga, ketika aku tak sengaja menyeka luka di kepalanya.

"mian..." gumamku. Akupun kembali duduk diam membatu. Memandangi stasiun yang sudah mulai sepi. Lampu di lorong stasiun sudah banyak yang mati. Hanya lampu di atas ku dan di seberang yang masih bertahan menyala.

"Ahhhmmmm...." Suga mengangkat kepalanya dari pundakku, ia memutar badannya ke kiri dan kekanan. Mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Bisa kudengar retakan tulang tangan dan punggung Suga. Ia berpaling kearahku. Melihatku yang sedang sibuk memijat pundakku yang mulai matirasa.

"Gomawo... Ahmmm... pukul berapa sekarang?" Suga kembali duduk di sampingku.

"11 malam... dan kereta terakhir sudah lewat beberapa menit yang lalu..." kataku yang hampir mirip sebuah keluhan.

"Kebetulan sekali... sebagai rasa terima kasihku... kuantarkan kau pulang..."

"Tapi..."

"Hmm??"

"Rumahku... jauh... sekali... hampir 15 km dari sini... kalau kau mengantarku menemaniku sampai ke rumah dengan jalan kaki... kita akan sampai besok pagi..." Kekhawatiran mulai mampir di kepalaku. Mengapa tak terpikir dari tadi?.

"Siapa yang bilang mengantarmu pakai jalan kaki? aku akan mengantarmu pakai itu..." kata Suga sambil menunjuk sebuah mobil Chevrolet terbaru berwarna merah.

"Oh!! benarkah?"

"Tentu saja... kita akan cepat sampai dengan yang satu itu... Kajja... cepat... sebelum kuantar kau pulang... ada yang ingin kubicarakan denganmu" kata Suga sambil menyeretku.

***

Di DomoIce Cafe. Suga membelikan banana split ice cream yang ukurannya lebih besar dari yang kuperkirakan. Suga mengatakan kalau ia akan menemaniku memakan ice creamnya.

Entah mengapa, sepertinya sedari tadi, ia selalu membuatku dag dig dug. Apa sebenarnya yang ingin ia katakan?. Aku masih menunggunya sambil memakan ice cream. Suga mengganti pakaiannya yang penuh dengan darah dengan kaos yang dibelinya di toko seberang cafe.

Tak perlu lama menunggu, Suga muncul di hadapanku, Ia terlihat lebih tampan dengan kaos hitam dan topi yang dikenakannya.

"Okey... to the point... Apa alasanmu berteriak menyelamatkanku tadi?"

"Hmmm?" kebingungan, itulah keadaanku saat ini, dengan sendok ice cream dimulut aku mencoba memikirkan apa alasanku sebenarnya.

"Jangan memakan sendok... menjijikkan" kata Suga sambil melepas sendok dari mulutku. Sungguh memalukan aku hanya bisa menjawabnya dengan "Ye..."

"Jadi sekarang jelaskan padaku... apa maksudmu sebenarnya? apakah Jin menyuruhmu untuk menyelamatkanku? lalu dekat denganku? buktinya aku ingin tidur di pundakmu kau sama sekali tak menolak... apa itu rencana mereka? menjadikanmu mata-mata ? lalu mencari kelemahanku??" Pertanyaan Suga semakin membuatku bingung.

"Eh...?" akupun kembali bertanya padanya "bisa kau ulangi lagi pertanyaannya?"

"hassshhh... intinya... apakah Jin menyuruhmu menyelamatkanku, lalu mendekatiku? lalu mencari kelemahanku? begitukah?"

"Hmmm aku tak tahu..."

"Kau kenal dengan Jin? Manji?"

"Aku tahu Manji... dia murid yang bermasalah di sekolahku... kalau Jin... aku tak pernah tahu... mungkin dia murid baru yang tadi siang masuk ke kelas A"

"Hmmm... Apa kau tahu nama Gang mereka?"

"Anioo.." jawabku sambil menggeleng karna kebingungan.

"Ahhh.... Untung saja... hehehe... kau bukan anggota mereka... hehehe... Kajja... makanlah... ini ice cream kesukaanku.." kata Suga sambil memasukkan satu scup ice cream ke mulutnya.

"Sebenarnya...."

"Mwooo???" Suga membuka mulutnya, hingga ice creamnya meleleh keluar dari mulutnya. "Ada apa? kau anggota Jin dan Manji?" kata Suga sambil menyeka mulutnya.

"Anniya... Sebenarnya... aku lapar... kalau makan ice cream saja... perutku akan sakit... bisakah aku pesan burger?" mendengar pertanyaanku, Suga tertawa lega, hingga matanya yang berbinar itu tenggelam tak nampak lagi.

"Hahahahaha.... kau ini... mengangetkanku saja... HAHAHAHAHA"

"Hehe.... bagaimana? bisakah kau belikan aku burger...? atau aku berhutang dulu padamu...Uang saku hari ini sudah habis hehe.."

"Untuk penyelamatku... apapun akan kubelikan... tunggu sebentar..." kata Suga, ia membawa menu makanan dan meninggalkan aku di meja makan.

Suga, untukku yang kau katakan penyelamatmu, apapun bisa kau belikan. Tapi bisakah kau berikan kesempatan padaku untuk lebih dekat denganmu?. Bibirku hanya tersenyum setelah pikiran itu lewat dikepalaku.

Tok Tok Tok....

Seorang pria memakai jaket hoodie hitam mengetok jendela disampingku. Ia menunjukku dan menyuruhku keluar. Aku sama sekali tak bisa melihat siapa pria itu. Karena diluar begitu gelap.

Pria diluar cafe semakin mendekatkan wajahnya, betapa terkejutnya aku, ketika kusadari pria itu ternyata Jin, anak baru yang pindah ke sekolahku, dan pria yang sama, yang bertempur dengan Suga tiga jam yang lalu.

"Keluarlah... Kemarilah sebentar..." katanya tanpa suara. Lalu senyum sadis itu membuatku semakin ketakutan. bagaimana ini?

To be continue

Fanfiction RUHAPPY? PART 3 BTS



Fanfiction : R U Happy Now? Part 3

Author : Ayuna Kusuma

Maincast : Suga, Jin and You

Genre : Flash Love

"Kau.. kemarilah... aku tak akan menyakitimu..." itulah apa yang ia katakan, aku bisa membaca gerakan bibirnya.

Aku ketakutan. dan hanyaa bisa menggelengkan kepala. Tapi sepertinya Jin tak mau mengalah, ia berlari menuju pintu masuk. Akupun tak mau mengalah, kutahan pintu cafe, agar ia tak bisa masuk.

"Keluar Kau!!!" bentaknya. Suaranya menggelegar, mampu membuatku ketakutan setengah mati.

"Andwae.... andwae...." kataku sambil mempertahankan posisi pintu agar tetap tertutup.

Jin menyerah juga akhirnya, ia menggoreskan pisau kecilnya ke lehernya sendiri, seakan-akan ia sedang mengancam akan melukaiku.

Jin menghilang dalam kegelapan malam. Sedangkan tanganku yang masih bergetar, mempertahankan pintu cafe agar tak bisa terbuka. Aku takut ia akan kembali menerobos masuk ke cafe, lalu pertengkaran antara Jin dan Suga akan terjadi lagi.

"Hei... aku sudah belikan kau burger... kau ingin pulang?" aku meloncat ketika suga menyentuh bahuku.

"AIGO!!... fuuuh...." aku lega Suga sudah bersamaku lagi, mungkin Jin menghindariku karena melihat suga di belakangku, syukurlah kalau begitu keadaannya. Aku tak ingin masalah ini menjadi berlarut-larut, besok aku akan meminta maaf pada Manji dan Jin.

"Kau kenapa?" tanya Suga sambil membantuku yang masih gemetaran untuk duduk di sofa cafe.

"Andwae... aku hanya demam... gomawo... sudah mau membelikanku burger..."

"Hmmm.. ye... jeonhyeo munje eobs-seubnida... makanlah... aku juga sepertinya kelaparan sekarang..." Suga mulai melahap burger king nya yang super besar.

Sedangkan aku masih tak bisa mengakhiri rasa takutku, Jin, jangan sampai pria itu masuk ke cafe dan membuat keributan semakin rumit. Kalau saja aku terkait dengan pertengkaran lebih jauh, aku akan mendapat blacklist dari sekolah. Dan ayahku terpaksa mengembalikan aku pada ibu yang sudah tak bisa kupercaya.

"Hmm... enak sekali huhuhumm" gumam Suga sambil mengunyah burgernya.

Kriiing.... Suara pintu terbuka. Ingin sekali aku membalikkan badan dan melihat siapa yang masuk cafe. Tapi ketakutan itu melarangku.

Seorang pria memakai hoodie hitam yang sama seperti milik Jin, duduk di seberangku. Saat Suga asyik dengan makanannya, Pria yang duduk diseberangku membuka hoodienya, ternyata memang benar dia Jin.

Pria yang mengancamku beberapa menit yang lalu. Berani sekali ia masuk ke cafe, apakah dendamnya padaku begitu besar?.

Kurapatkan tanganku dan kucoba meminta maaf padanya dari jauh, seperti seorang gadis thailand yang memberikan salam bagi semua orang yang ditemunya.

Tapi Jin malah memberikanku sebuah kepalan tangan dan tatapan penuh emosi.

"Suga... setelah ini... maukah kau antarkan aku pulang?"

"Tentu saja..."

"Bagaimana kalau kita pulang sekarang saja?"

"Hum??... ice cream kita belum habis... burgermu belum kau makan... nanti saja... habiskan semua dulu... baru kuantar kau pulang... arraseo?"

"Tapi kau sudah bayar semua kan?"

"tentu saja... hehehe"

Aku memasukkan burgerku ke tas, dan melahap ice cream yang masih tersisa dengan kecepatan penuh.

"Hhoho.. kau suka ice cream ternyata..." gumam Suga.

Di belakang Suga, Jin masih saja menatapku, entah apa yang dia pikirkan. Apakah ia sedang memeriksa apa saja yang nanti bisa ia lakukan untuk menyakitiku?. Asal tahu saja, aku tak akan pernah membiarkan dia menyakitiku. Tak akan bisa.

"Suga... Kajja... antarkan aku sekarang..." kataku sambil menyeret tangan Suga.

"Ommo!!" hampir saja kubuat Suga tersedak burger. Suga sepertinya tahu posisiku saat ini, ia langsung meminum cola miliknya dan mengikutiku.

"Apa kau sudah mengantuk? ah... tentu saja... aku lupa... kau hanya anak regular... iya kan?" tanya Suga sambil membukakan aku pintu mobilnya.

"Iya... hmm kau benar... aku sangat mengantuk... bisakah kau cepat bergerak... hmm? aku mengantuk sekali... aku ingin segera pulang" kataku setelah melihat Jin juga keluar mengikuti kami.

Suga berlari masuk ke dalam mobil melalui pintu yang lain, beberapa detik kemudian chevrolet merah sudah membawa kami menjauh dari kejaran Jin.

Melalui kaca spion aku bisa melihat Jin mengejar mobil Suga. tapi ia menyerah ditengah jalan. Kecepatannya tak bisa mengalahkan kecepatan chevrolet yang sudah teruji.

Suga menyanyi sambil menikmati perjalanan menuju rumahku. Dengan GPRS dia bisa mendapatkan alamatku dengan cepat, tanpa harus bertanya apa-apa padaku.

Selama di mobil Suga yang mewah, aku hanya bisa pura-pura tidur. Yang kupikirkan saat ini, bagaimana caranya menghadapi Minji dan Jin keesokan hari, aku satu sekolah dengannya. Bagaimana kalau Jin benar-benar balas dendam denganku?. Bagaimana kalau ia tega menyakitiku? Ahss.... babo... kenapa aku harus berteriak tadi..? Tapi kalau aku diam saja. Suga, Pria yang sudah ditakdirkan menjadi jodohku, akan mati sebelum kami dekat dan mengenal satu sama lain.

Kulirik Suga yang masih menyanyi sambil menyetir. Ia menghentikan mobilnya ditengah pinggir jalan. Tersirat sebuah pemikiran kotor di otakku. Jangan-jangan Suga ingin melakukan tindakan asusila padaku? BAGAIMANA INI!!!!.

Suga mengambil sesuatu di jok belakang, dan ternyata hanya selimut yang ia ambil. dengan hati-hati, ia menyelimutiku dengan selimut bulu miliknya.

"Ssssttt... tidurlah... aku akan mengantarkanmu pulang... jangan khawatir... bidadari penyelamatku..." gumamnya lembut.

'Bidadari?? Dia menyebutku Bidadari??? Hahahahahaaaaaaaa' tak bisa berteriak kegirangan, aku hanya bisa berteriak dalam hati. Tapi bayangan kemarahan Jin menghapuskan kebahagiaanku seketika. Apa gunanya menjadi bidadari, kalau besok ia akan menjadikanku daging panggang??. Ahsss.... nae insaeng geuleohge wiheom

To be continue

Fanfiction RUHAPPY? Part 4 BTS


Fanfiction : R U Happy Now? Part 4

Author : Ayuna Kusuma

Maincast : Suga, Jin and You

Genre : Flash Love


Konser Hip hop di mimpiku bubar seketika, saat angin besar menerpa tubuhku, dan gempa membuat tubuhku berguncang.

"Hei... Nuna...sudah sampai... Ayo bangun..." kubuka kelopak mataku yang masih menempel karena kotoran mata, nyaman sekali rasanya tidur di mobil Suga dengan selimut bulunya. Suga tepat di sampingku, mencoba membangunkanku, dan setengah kepalaku keluar dari jendela. Pantas saja aku merasa kedinginan. Angin malam rupanya telah meniup rambutku.

"Uhmm..." segera kuangkat kepalaku dan melihat kesekitar. Ternyata Suga berhasil menemukan rumahku. Rumah kecil dengan kebun bunga dan peternakan madu, diantara permukiman yang sudah padat meninggi.

"Itu rumahmu kan?"

"ye... gomawo..."

"Aku akan selalu mengingat jalannya... sekarang... pulanglah... sampai bertemu besok.." kata Suga sambil melipat selimut bulunya lalu menyimpannya di jok belakang.

"Eh?" tanyaku kebingungan.

"Besok kau akan kujemput... sekolah kita hanya berselisih satu blok... rumahku juga tak jauh dari sini. hanya selisih 4 km"

"Eh? jangan... merepotkanmu saja... Jangan... terima kasih..." kataku, Suga tak tahu betapa bahagianya aku ketika ia menawarkan untuk menjemputku besok.

"Anak baru yang bernama Jin, besok ia akan mengikutimu lagi... dan aku khawatir... baiklah.. pulanglah... aku juga akan segera pulang. Bila denganku, dia tak akan pernah bisa menyakitimu..."

"Suga...."

"Hehe jangan menatapku seperti itu... aku bisa malu..."

"Apa kau tak ingin tahu namaku?" bodoh sekali, mengapa aku menanyakan hal konyol itu.

"Aku tak perlu namamu... bagiku... kau hanyalah satu... penyelamatku... kajja... keluarlah... sampai jumpa besok.." Akupun keluar dari mobil, karna Suga sudah mengusirku, padahal aku masih ingin menatap wajahnya yang aneh, tapi menghangatkan hatiku. Matanya selalu hilang ketika ia tersenyum.

Suga melambaikan tangannya, lalu melaju, menghilang ditengah gelapnya malam. Melihat sekitar yang sudah gelap, aku mulai ketakutan lagi, jangan sampai Jin muncul lagi. Pria yang seperti hantu itu berhasil membuatku sedikit paranoid.

Berlari kedalam rumah tanpa melepas sepatu, aku langsung menuju kamar, Ayah rupanya masih sibuk melihat pertandingan baseball yang sedang digemarinya seminggu ini.

Ia sama sekali tak peduli padaku semenjak, seminggu yang lalu bertemu dengan atlit baseball idolanya. Menurutku tak masalah ia tak mempedulikanku, asal ia tak mengganti posisi ibu dengan wanita lain, seperti yang dilakukan ibu. Teganya ia mengganti posisi lama ayah dengan pria sok tampan yang bernama Seok Jung. Hasssh... ingat masalah itu, ingin sekali ku robek mulut ahjussi yang banyak bicara itu.

Akupun tertidur dengan bayangan tiga pria, Suga, jodohku yang baru kutemukan hari ini, Jin pria yang hampir saja membunuhku, dan Ahjussi yang hampir saja merebut ibuku dari pengaruhku.

***

Teriakan Ayah, berhasil membangunkanku dengan meninggalkan sakit kepala akut.

"ARMY!!!!!!!!!!!!!!!! TURUN!!!!!!! MAKANANMU SUDAH SIAP!!!!!!!!!!" Ayah meneriakkan kalimat itu berkali-kali, hingga kepalaku terasa pening.

Setelah mandi dan mengganti pakaianku, aku tertarik melihat di depan rumah dari jendela kamar. Ada sesuatu yang sepertinya menyuruhku untuk melihat ke bawah. Dan ternyata Suga bersama mobil chevrolet merahnya sudah berada dibawah. Ia melambaikan tangannya padaku.

Kusambar tas dan beberapa jurnal yang harus kubawa kesekolah. Secepatnya pergi ke dapur dan mengambil bekal yang sudah disiapkan ayah.

"Appa... aku berangkat... salanghaeyoo" kataku sambil mencium pipinya yang berbulu.

"Yaaaaaa!! Kuantarkan kau... tunggu sebentar..."

"AnDWAE!!! Andwae ... Appa... Tak perlu...hehehe... Aku akan berangkat dengan seorang teman... hehe... Annyeong... Appa... Salanghaeeeeyooooo" teriakku.

Kubuka pintu dan berlari ke tempat Suga memarkirkan mobilnya. Tak banyak bicara, kami pun masuk ke dalam mobil dan mulai perjalanan ke sekolah.

"Bagaimana?" tanya Suga. mengejutkanku, yang sedari tadi sibuk memandangi kulitnya yang bersinar, lebih bersinar dari kulitku, dan bibirnya yang tak ada yang bisa mengalahkan.

"Eh...?"

"Bagaimana...? Kau sudah makan burger yang kubelikan semalam?"

"Ah.... burger... aku simpan di frezzer hehee..."

"Ommo!!... Jinjja?? HAHAHAHA Waeyoo?"

"Hmm...makan ice cream yang kau belikan saja sudah membuatku kenyang... mungkin burgernya akan kumakan lain kali..."

"Ah....ye..." jawab Suga.

"Suga... apa yang membuatmu ingin menjemputku? selain ingin melindungiku dari Gang Manji?"

"Oh..."

"Ah!!... Lupakan... heehehe... lupakan apa yang kutanyakan tadi..." Suga berpaling ke arahku, ia tersenyum dan entah mengapa, mobil langsung dihentikannya.

Ia mengambil sebuah majalah dari balik jok yang didudukinya. Sambil memandangiku, ia membolak balik majalah, seperti hafal dimana halaman yang akan dicarinya.

"Ini..." kata Suga sambil memperlihatkan majalahnya padaku. "Ramalan ini... aku selalu mempercayainya... disini dikatakan... kalau kemarin aku akan bertemu dengan seorang gadis yang memakai baju kuning... gadis itu akan menyelamatkanku dari marabahaya. dan angka keberuntunganku adalah 4 dan 8. Kemarin kau memakai hoodie warna kuning... dan kau menyelamatkanku dengan teriakanmu .. lalu kau duduk di bangku deretan empat baris ke empat. dan aku tidur di pundakmu tepat pukul 8 malam... Hey... kau adalah jodohku..." kata Suga, ia memandangku dengan penuh keseriusan, suasana diantara kami semakin memanas. Aku hanya menganga... tak percaya, mengapa Suga juga bisa mempercayai ramalan di majalah itu.

"A...aku.. aku juga mempercayai ramalan itu... Kau... dimajalah itu... kau adalah Jodohku... Suga..."

"hehehe... tapi kita perlu membuktikan... apakah benar kita berdua adalah cinta sejati..." kata Suga sambil kembali menyetir.

"Tapi ada yang aneh..."

"Oh!!" Suga sepertinya terkejut mendengar prasangkaku.

"Mengapa seorang gangster sepertimu suka majalah seperti itu hahahaha"

"Ahss... aku juga remaja normal... yang perlu update mengenai duniaku.. hehehe..."

"Hmmm... benar juga.... kau juga remaja... sama sepertiku" kataku sambil memandangi langit cerah yang sepertinya ingin mendekatiku, ketika mobil dilajukan secepat mungkin oleh Suga. Jodoh yang sudah diramalkan untukku. "Tapi Suga... apa kau tak mau menanyakan siapa namaku?"

"Haruskah seperti itu?"

"Hmmm mollayo..."

"Sebelumnya... aku banyak mengenal nama gadis yang dekat denganku... dan mereka mengecewakanku... kali ini... aku tak ingin tahu namamu... sampai aku tahu pasti... kau bisa mencintaiku... dan sampai aku tahu pasti... kau bisa menjadi bagian hidupku suatu hari nanti..."

Mobil chevrolet pun melaju cepat, seperti jantungku yang berdegub bak roket yang ingin meluncur ke luar angkasa. Pagi ini, Suga berhasil membuatku merasa begitu istimewa.

To be continue

Fanfiction RUHAPPY? Part 5 BTS

Fanfiction : R U Happy Now? Part 5

Author : Ayuna Kusuma

Maincast : Suga, Jin and You

Genre : Flash Love


"Annyeong Nuna...." kata suga sambil melambaikan tangannya. Pagi ini, ia berhasil membuatku melambung tinggi layaknya seorang bidadari yang ingin kembali kekayangan. Dengan kata-katanya itu dia berhasil membuatku melayang. Berpisah dengannya membuatku kembali berpikir mengenai Jin dan Manji.

Sesegera mungkin aku masuk ke dalam sekolah, untung saja banyak guru yang berjaga di depan gerbang sekolah. Setidaknya mereka bisa menghalangi murid berotak kriminal bertindak seenaknya sendiri di sekolah.

"Nuna!!......" sepertinya aku kenal suara itu, tapi aku tak berani berpaling ke belakang. Kupercepat langkahku

"Hei... kau dipanggil temanmu..." kata seorang guru yang berpapasan denganku.

"Ye..." gumamku, aku terus saja berjalan, tak peduli dengan orang yang memanggil-manggilku sedari tadi.

"NUNAAAAAAAA!!!!!! YAAAAAA!!! Apa kau tuli HAH!!" seseorang menarikku ke belakang, hampir saja aku terjatuh, tapi pria yang ternyata Jin, malaikat mautku itu menahanku agar tak terjatuh.

"Apa kau tuli HAH!! Berhenti membuatku seperti pabo... Hass..." kata Jin, ia melemparkan tanganku begitu keras hingga aku terjatuh ke belakang. Dasar pria aneh, semenit yang lalu ia menahanku agar tak jatuh, sekarang ia menjatuhkanku.

"AuWWW...." keluhku, telapak tanganku tergores batu taman yang ditata rapi disebelah jalan setapak.

"Auww... auwww... Huh... Jangan berpura-pura... jatuh seperti itu saja kau sudah mengeluh..." Jin berjongkok, dan mendekatkan wajahnya yang seram padaku. Tatapannya yang penuh ancaman, bisa membuatku menangis ketakutan saat ini. Tapi aku tak mau menunjukkan kalau sebenarnya aku lemah.

"YAAAA!! Nuna Ya..... Semalam... kau benar-benar membuatku marah... haaah... Bukannya kau membela teman yang satu sekolah denganmu... tapi kau malah membela Suga dan para pecundang itu... Kau tau... Suga dan teman-temannya tiga hari yang lalu sudah membuat Bunchong teman sekelasmu masuk rumah sakit... apa kau tahu itu?? APA KAU TAK PUNYA HATI HAH!!!"

"Andwae.... aku tak tahu masalah itu... Mianhae... Tapi kalian akan membunuh Suga... kalian akan mendapatkan hukuman yang..."

"YANG APA!! HAH!!! Kau pikir kau selalu benar HAH!!... haisss.... kalau saja waktu itu... aku bisa menusuk Suga... dan membuatnya masuk rumah sakit... semuanya akan impas..."

"Tapi bagaimana kalau dia mati hah?!!" bentakku penuh emosi, tak akan kubiarkan Jin melukai Suga yang sudah menjadi bagian dari ceritaku.

"MWOO!! AKU TAK MUNGKIN MAU membunuhnya.... hass....kau memang bodoh Nuna... kau satu tahun diatasku... tapi kau lebih bodoh dariku...Aku sudah bilang pada Manji kalau aku yang akan memberikanmu hukuman..."

"WAE!!!! gangster pabo.. kalian bisanya menghukum yang lemah... apa sebenarnya dasarnya menghukumku hah??" Jin yang semula sudah mereda, mendengar kata-kataku ia kembali meluapkan emosinya.

Tangannya mencengkram pipiku, sakit sekali rasanya, pipiku semakin memerah, dan Jin pun tertawa melihat wajahku yang dia mainkan.

"Heehe... Nuna... kau harusnya berterima kasih aku tak bersikap buruk padamu... Ah... aku ingat sekarang... semalam... apa saja yang kau bicarakan dengan Suga?"

"Ahmmmdwe..."

"Hah?"

"hyaaaaaa... leepassskan..." kataku sambil mencoba mencubit lengan Jin. merasa kesakitan ia pun melepaskan cengkramannya di pipiku.

"Aigooo... tega sekali kau... aigoo... pipiku sakit... Yaaa... Jin... Apa urusanmu ingin tahu apa yang kubicarakan dengan Suga hah?? Ha?? HAAAAAA?? Dasar pria penyiksa!!" tak mau kalah, akupun memukuli jin dengan tasku yang penuh dengan buku.

"YAAAAAAAAAA!!!!!!!! PABO NUNA!!!!!!!... KAU INGIN MATI HAH!!!" bentak Jin. Tangannya sudah mecengkram tanganku, kucoba memukul wajahnya, tapi tangannya yang satu lagi menghalangi tanganku.

"Nuna... aku juga merasa aneh... sebenarnya apa yang kau inginkan dengan memukulku seperti tadi??"

"Kau!!... berani-beraninya melukai pipiku!!.. dan kau berani mengancam akan melukai Suga!!... aku tak akan biarkan itu!!"

"Nuna... apa Suga sudah membuatmu tertarik dengannya? Kalau kau tertarik dengannya... kau salah orang Nuna... Suga jauh dari apa yang kau pikirkan... Aku akan tetap mengawasimu... kalau kau tetap membela pria brengsek itu... siapkan dirimu untuk terluka karenanya" Jin melepaskan cengkramannya, dan berlalu meninggalkanku yang masih terluka, baik pipiku, juga hatiku.

***

Pelajaran terakhir hari ini adalah melukis. sepuluh menit lagi sekolah akan berakhir. Hari ini tak ada kelas malam, guru kami terkena flu akut, jadi kami bebas setengah hari. Tidak seperti biasanya, murid-murid di kelas sebelah berteriak-teriak histeris.

"OMMOOONAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!" Teriak Boojung yang duduk di samping jendela. "YAAAAAAAA SIAPA DIA!! EOH!! tampan sekaliiiiiiiiii!!" teriaknya sekali lagi. Beberapa murid mencoba mendekati Boojung dan mereka saling berteriak-teriak.

"YAAAAAAA... NUNA!!! Dia memanggil NUNA!!! Yaaaaaaaa Siapa yang kenal dengan pria itu EOH!!!"

"OMMOOOOOO!!! NUNA SALANGHAE!!???? YAAAAAA Boojung kau kenal dengannya??"

"Annioo... aku belum pernah melihat pria setampan itu.

Penasaran dengan pembicaraan mereka, aku mencoba mendekati jendela. Suga, sudah berada di taman pasir. Ia menuliskan NUNA SALANGHAE. dan melambaikan tangan ke seluruh penjuru.

Kata-kata Jin ada benarnya juga, Suga tak ingin tahu namaku, karena ia tak ingin hanya mengingat satu nama, ia tak ingin tahu namaku, karena takut salah memanggilku, karena itu ia memanggilku Nuna.

Tingggg Tooong Tinggg Tooonggg.... suara bel berbunyi berkali-kali menandakan sekolah sudah berakhir. Semua murid bergegas keluar dari ruangan. murid perempuan rupa-rupanya berlomba berlari menuju halaman pasir mendatangi suga yang berteriak-teriak tak jelas.

Kubuka jendela kelas, dan kuamati apa yang ia inginkan.

"nuna jib-e gat-i gaja .!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! NUNA!!!!! nuna jib-e gat-i gaja .!!!!!!!!!" Teriaknya sambil tertawa. Dari kejauhan aku bisa melihat senyumnya yang semanis coklat. Tapi mengingat kata-kata Jin, aku tak ingin terlalu merasakan bahagia.

Suga memang sepertinya ada bibit pria brengsek. Buktinya kemarin, mengapa secepat itu memepercayakan kepalanya tidur dipundakku?, dan mengapa secepat itu mau mengantarkanku ke sekolah, menjemputku. Hasss... pikiranku semakin kacau.

Murid perempuan sudah mengelilingi Suga yang berteriak-teriak, pria tampan itu mengelilingi lingkaran murid perempuan, dan sepertinya ia sedang mencariku. Tapi ia tak menemukanku.

"NUNAAAAAAAA!!! DIMANA KAU!!!!!! nuna jib-e gat-i gaja .!!!! EOH!!"

"YAAAAAAAA!!! KAU!!! Berani sekali kau berteriak di sekolahku HAH!!!" Teriak Jin dari seberang halaman. Kulihat ia bersama Manji dan beberapa temannya menghampiri suga.

Kilauan cahaya yang dipantulkan pisau Manji, menyadarkanku kalau Suga sedang dalam masalah besar. Lalu siapa kini yang bisa kupercaya? Suga atau Jin? Tapi Suga... aku tak ingin ia terluka seperti kemarin. Bisakah seorang pria menghentikan hasratnya untuk berkelahi?.

To be continue
 
Layanan untuk Anda: x Cerita dari Kusuma | - | dari - | Lihat dalam Versi Seluler